November 22, 2010

PROSES PENUAAN / PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA (MENUJU LANSIA)

LANDASAN TEORI PENUAAN (MENUJU LANSIA)

1. DEFINISI LANJUT USIA
Lanjut usia adalah seorang laki-laki atau perempuan yang berusia 60 tahun atau lebih, baik yang secara fisik masih mampu maupun tidak lagi mampu berperan secara aktif dalam pembangunan (Depkes RI, 2001.

2. BATASAN LANJUT USIA
Penentuan seseorang dikatakan sebagai lanjut usia sulit dijawab, sehingga ada beberapa pendapat mengenai batasan umur usia lanjut, yaitu :
a. Batasan usia menurut WHO meliputi : usia pertengahan (middle age) yaitu usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) yaitu usia 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old) yaitu usia 75 sampai 90 tahun dan usia sangat tua (very old) yaitu diatas 90 tahun.
b. Menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1965 pasal 1, seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai dan tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain.
c. Menurut Sumiati Ahmad (Wahyudi, 2000), membagi periodisasi biologis perkembangan manusia sebagai berikut : 0 – 1 tahun merupakan masa bayi, 1 – 6 tahun adalah masa pra sekolah, 6 – 10 tahun adalah masa sekolah, 10 – 20 tahun merupakan masa pubertas, 20 – 40 tahun adalah masa dewasa, 40 – 65 tahun adalah masa setengah umur (presenium) dan 65 tahun keatas merupakan masa lanjut usia (senium)

3. PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA
Beberapa perubahan yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka (Zainudin, 2002) yaitu :
a. Penurunan kondisi fisik, setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yangbersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulangmakin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguanatau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosia, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan pada orang lain. Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidakmauharus ada usaha untukmengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
b. Perubahan aspek psikososial, pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan prilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (kognitif) meliputi hal-hal yang berhungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
1) Fungsi kognitif meliputi:
a) Kemampuan belajar (learning), lanjut usia yang sehat dalam arti tidak mengalami demensia atau Alzheimer masih memiliki kemampuan belajar yang baik. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar seumur hidup bahwa manusia memiliki kemampuan untuk belajar dari lahir sampai akhir hayat sehingga mereka tetap diberikan kesempatan untuk hal tersebut. Implikasi praktis adalah bersifat promotif, preventif, kuratif, rehabilitative yang sesuai dengan kondisi lansia;
b) Kemampuan pemahaman (compherension), pada lansia kemampuan memahami/ menangkap pengertian dipengaruhi oleh fungsi pendengaran, sehingga dalam pelayanan perlu kontak mata, sehingga jika ada kelainan fungsi pendengaran, meraka dapat membaca dari gerak bibir. Selain itu perlu sikap hangat dalam komunikasi sehingga menimbulkan rasa aman, tenang, diterima dan dihormati;
c) Kinerja (performance) Pada lansia tua terjadi penurunan kinerja kerja baik secara kualitatif/kuantitatif. Penurunan itu bersifat wajar sesuai perubahan organ-organ biologis/pathologis. Perlu diberikan latihan keterampilan untuk tetap mempertahankan kinerja;
d) Pemecahan masalah (problem solving), masalah yang dulu mudah terpecahkan menjadi sulit karena penurunan fungsi indra pada lansia, selain itu juga bisa disebabkan penurunan daya ingat pemahaman. Sehingga perlu perhatian dari ratio petugas kesehatan dan pasien lansia;
e) Motivasi, sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku demi mencapai sesuatu yang diinginkan/dituntut oleh lingkungan dapat berasal dari kognitif/afektif. Kognitif lebih menekankan pada kebutuahn akan informasi, sedangkan afektif penekanan pada perasaan;
f) Pengambilan keputusan, pada lansia terjadi perlambatan keputusan sehingga kadang-kadang mereka tidak diikutkan sehingga menimbulkan kekecewaan dan memperburuk kondisi sehingga kadang kala kita perlu mengikut sertakan mereka.
2) Fungsi afektif, emosi suatu perasaan merupakan fenomena kejiwaan yang dihayati secara subjektif sebagai suatu yang menimbulkan kesenangan dan kesedihan. Afektif dapat dibedakan:
a) Biologis: panca indra (panas, dingin, pahit), perasaan vital (lapar, haus, kenyang), perasaan hialwiah (sayang, cinta, takut);
b) Psikologis : perasaan diri, perasaan social, perasaan etis, estetis, religious. Pada lansia umumnya afeknya tetap baru dan jika ada kelainan afeksi bilobis menyebabkan perburukkan fungsi organ tubuh. Penurunan afektif pada lansia sangat tua disertai regresi.
3) Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua, namun dalam kenyataan sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada poin tiga di atas.
Menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental setelah lansia sangat tergantung pada sikap mental individu dalam menghadapi masa pensiun. Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing individu, baik positif maupun negatif.
Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan dampak negative akan mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh gaji penuh. Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan terarah bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan assessment untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan yang jelas dan positif.
Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta, cara membuka usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya. Model pelatihan hendaknya bersifat praktis dan langsung terlihat hasilnya sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping pekerjaan yang selama ini ditekuninya, masih ada alternative lain yang cukup menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak membahayakan bahwa setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna, menganggur, penghasilan berkurang dan sebagiannya.
4) Perubahan dalam peran sosial di masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak bergunaserta merengek-rengek dan menangis bila bertemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.


4. PROSES MENUA
Menurut Nugroho (2000), proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses menua merupakan proses yang berlanjut secara ilmiah, dimulai sejak lahir dan umumnya dialami oleh semua mahluk hidup. Sedangkan menurut Depkes RI (2000), penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindarkan, yang hidup terbatas oleh suatu peraturan alam, maksimal sekitar 6 kali masa bayi sampai dewasa atau 6x20 tahun, yang disebabkan oleh faktor biologik yang terdiri adri 3 fase yaitu : fase progresif, fase stabil dan fase regresif.
Stanley (2006), mendefinisikan bahwa penuaan adalah proses yang normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Ini merupakan suatu fenomena yang kompleks dan multidimensional yang dapat diobservasi didalam satu sel dan berkembang sampai pada keseluruhan sistem, yang terjadi pada tingkat kecepatan yang berbeda, di dalam parameter yang cukup sempit, proses tersebut tidak tertandingi.

5. TEORI-TEORI PROSES MENUA
Teori-teori proses menua menurut Stanley (2006), antara lain:
a. Teori biologi
1) Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul-molekul/DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional sel).
2) Pemakaian dan rusak
Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah (rusak)
3) Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)
Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
4) Teori immunologi slow virus (immunology slow virus theory)
Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan organ tubuh.
5) Teori stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
6) Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
7) Teori rantai silang
Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.
8) Teori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.
b. Teori kejiwaan sosial
a) Aktivitas atau kegiatan (activity theory)
Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia
b) Kepribadian berlanjut (continuity theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.
c) Teori pembebasan (disengagement theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss), yakni : kehilangan peran, hambatan kontak sosial dan berkurangnya kontak komitmen.
6. PERMASALAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA
Menurut Hardiwinito dan Setiabudi (2005), berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia, antara lain:
a. Permasalahan umum
1) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan
2) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati
3) Lahirnya kelompok masyarakat industri
4) Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia
5) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia
b. Permasalahan khusus
1) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik, mental maupun sosial
2) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia
3) Rendahnya produktifitas kerja lansia
4) Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat
5) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik
6) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar