September 18, 2010

THYROID PADA KEHAMILAN

THYROID PADA KEHAMILAN

ANATOMI FISIOLGI
Ada 4 macam control terhadap faal kelenjar tiroid:
1. TRH (Throtrophin releasing hormone); hormone ini di sintesa dan dibuat di hipotalamus. TRH ini dikeluarkan lewat system hipotalamohipofiseal ke sel tirotrop hipofisis.
2. TSH (Thyroid stimulating hormone); suatu glikoprotein yang terbentuk oleh sub unit (alfa dan beta). Sub unit alfa sama seperti hormone glikoprotein (TSH, LH, FSH, dan human chronic gonadotropin/hCG) dan penting untuk kerja hormone secara aktif. Tetapi sub unit beta adalah khusus untuk setiap hormone. TSH yang masuk dalam sirkulasi akan mengikat reseptor dipermukaan sel thyroid TSH-reseptor (TSH-r) dan terjadilah efek hormonal sebagai kenaikan trapping, peningkatan yodinasi, coupling, proteolisis sehingga hasilnya adalah produksi hormone meningkat.
3. Umpan balik sekresi hormone. Kedua ini merupakan efek umpan balik ditingkat hipofisis. Khususnya hormone bebaslah yang berperan dan bukannya hormone yang terikat. T3 disamping berefek pada hipofisis juga pada tingkat hipotalamus. Sedangkan T4 akan mengurangi kepekaan hipofisis terhadap rangsangan TRH.
4. Pengaturan tingkat kelenjar thyroid sendiri. Gangguan yodinasi tirosin dengan pemberian yodium banyak disebut fenomena Wolf-Chaikoff escape, yang terjadi karena mengurangnya afinitas trap yodium sehingga kadar intrathyroid akan mengurang. Escape ini terganggu pada penyakit thyroid autoimun.

Fungsi hormon tiroksin dalam tubuh yaitu :
1. Meningkatkan kecepatan metabolisme kecepatan metabolisme secara menyeluruh.
2. Pada anak-anak untuk merangsang pertumbuhan.
Pembentukan, penyimpanan dan sekresi hormon tiroid terdiri dari langkah-langkah berikut:
1. Tiroglobulin (TGB) mengandung tirosin yang dihaskan didalam sel folikel tiroid dipindahkan kedalam koloid melalui proses eksositosis.
2. Tiroid menangkap yodium dari darah dan memindahkannya ke dalam koloid oleh sel folikel melalui suatu pompa yodium (iodine trapping mechanism) yang sangat aktif.
3. Didalam koloid, yodium dengan cepat melekat ke sebuah tirosin didalam molekul tiroglobulin. Pengikatan satu yodium ke tirosin didalam molekul TGB menghasilkan monoiodotirosin (MIT) sedangkan perlekatan dua iodium menghasilkan diiodotirosin (DIT).
4. Penggabungan 2 diiodotirosin menghasilkan T4 dan penggabungan 1 monoiodotirasin dan 1 diiodotirosin menghasilkan T3.
5. Pada stimulasi yang sesuai sel foikel tiroid memakan sebagian tiroid yang mengandung tiroglobulin melalui proses fagositosis. Lisosom menyerang vesikel yang dimakan tersebut dan memisahkan produk beryodium dari tiroglobulin. T3 dan T4 bebas berdifusi didalam darah baik secara langsung maupun melalui limfe.
6. Hormon-hormon tiroid tetap disimpan dikoloid sampai saatnya dipecah dan disekresikan.
Bagaimana cara mendeteksi thyroid desease?
American Thyroid Association merekomendasikan skrining fungsi thyroid seperti kadar serum thyroid-stimulating hormone (TSH) pada usia 35 tahun da dilakukan tiap 5 tahun. Walaupun skrining masih kontroversi, namun uji laboratorium adalah diagnosis standar. Skrining juga direkomendasikan pada wanita yang mengalami infertilitas atau mengalami gangguan menstruasi.

Mekanisme pengaturan hormon tiroid oleh hipotalamus-hipofisis-tiroid.
TSH (thyroid Stimulating Hormone) mempertahankan struktur kelenjar tiroid. Jika kekurangan hormon ini akan terjadi atrofi tiroid dan hanya sedikit hormon yang dihasilkan.apabila banyak sekresi hormon (hipertiroidisme) akan terjadi pertambahan ukuran sel folikular. TSH disekresi oleh hipofisis anterior.
TRH (Thyrotropin Relaxing Hormone) berfungsi untuk merangsang sekresi TSH oleh hipofisis anterior. TRH dihasilkan oleh hipotalamus. Pertambahan hormon tiroxin akan merangsang umpan balik negatif pada hipotalamus dan menginhibisi sekresi TRH.

Thyroid pada kehamilan
Diawal kehamilan terjadi peningkatan hormone thyroxine (T4) dan penurunan kadar thyroid-stimulating hormone (TSH). Perubahan kedua hormon tersebut diikuti dengan peningkatan hCG sehingga terjadi mual muntah. TSH sedikit menurun pada trimester pertama dan kemudian kembali normal sepanjang masa kehamilan. Estrogen meningkatkan jumlah protein dalam serum, yang meningkatkan jumlah protein pengikat hormone thyroid total dalam darah. Thyroid berfungsi normal jika TSH, Free T4 dan Free T3 normal sepanjang kehamilan. T4 meningkat pada 6 – 12 minggu postpartum. Peningkatan serum protein-bound iodine (PBI) sampai pada level 9-16 g/dL dari level 5-12 g/dL sebelum hamil. Kelenjar thyroid akan berfungsi pada 10-11 minggu dan mencapai kadar T4 darah dewasa pada saat 18-20 minggu. Selama kehamilan terjadi peningkatan basal metabolik rate (BMR) 20-25%, dimulai 4 bulan kehamilan. Sehingga terjadi peningkatan konsumsi oksigen oleh aktifitas metabolik janin.
Kelenjar tiroid secara moderat membesar dikarenakan terjadinya hiperplasia jaringan glandular dan peningkatan vaskularisasi. Hipertropi jaringan tiroid tidak berhubungan dengan peningkatan aktivitas tiroid sendiri melainkan oleh karena peningkatan basal metabolismerate selama hamil. Bagaiman pun juga kehamilan normal tidak menyebabkan tiromegali yang signifikan, dan terjadinya goiter yang terjadi pada kehamlan sebaiknya dipertimbangkan sebagai keadaan yang patologik.
Dalam beberapa penelitian menyatakan bahwa ibu yang memiliki tingkat hormon thyroid yang rendah memiliki bayi dengan perkembangan fisik maupun mental yang jauh lebih lambat dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan oleh ibu yang memiliki tingkat hormon thyroid normal. Penelitian tersebut juga memperlihatkan adanya kaitan antara umur kehamilan (kurang dari 12 minggu) pada ibu yang memiliki tingkat hormon thyroid yang rendah dengan perkembangan fisik maupun mental bayi mereka, namun hal tersebut tidak memperlihatkan hasil yang sama pada usia kehamilan lebih dari 12 minggu. Komplikasi penyakit tiroid dalam kehamilan lebih dari 3 %. Walaupun insidennya rendah namun cepat dikenali dan perawatan dibutuhkan untuk memastikan hasil yang optimal pada maternal fetal.
Kehamilan dihubungkan dengan defisiensi yodium dipengaruhi beberapa faktor seperti:
1. Kebutuhan yodium meningkat pada saat ibu hamil, karena yodium dihantarkan melalui plasenta pada janin.
2. Terjadi peningkatan ekskresi yodium 2x lipat, karena adanya peningkatan aliran filtrasi glomerular dan penurunan reabsorbsi tubular ginjal.
3. Kelenjar thyroid meningkatkan ambilan yodium sampai 3x lipat akibat turunnya yodium dalam plasma.










T4 bebas







10mgg



hCG










20mgg









30mgg TBG
T4 total






Tirotropin





40mgg










10mgg









20mgg TBG



T4 total

Tirotropin

T4 bebas


30mgg




T3 total

T3 bebas
40mgg
Janin
Ibu















Hormon Tidak hamil Hamil Perubahan saat kehamilan
T4 (Total) 5-12,5 g/dl 6-15 g/dl Meningkat
T3 (Total) 50-175 ng/dl 125-275 ng/dl Meningkat
T4 (Bebas) 2,5 ng/dl 2,5 ng/dl Tidak ada perubahan
T3 (Bebas) 0,3 ng/dl 0,3 ng/dl Tidak ada perubahan
TSH 1,9-5,9 g/ml 2,5 ng/dl Tidak ada perubahan
FTI 4,5-12 0,3 ng/dl Tidak ada perubahan
R3TU 25-35% 15-25 % Meningkat





Tabel Prenatal High-Risk Factor

Factor Maternal Implication Fetal/Neonatal Implication
Thyroid disorder
Hypothyroidism infertility spontaneous abortion
BMR, goiter, myxedema risk congenital goiter
Mental retardation cretinism
Inciden cecongenital anomalies
Hyperthyroidism risk postpartum hemorhage incidence preterm birth
Risk preeclamsia tendency to thyrotoxicosis
Danger of thyroid storm
HORMON 1st
TRIMESTER 2nd TRIMESTER 3rd TRIMESTER

TSH Normal/decreased Normal normal
Free T4 Normal Normal normal
Free T3 Normal Normal normal
Total T4 Hight Hight Hight
Total T3 Hight Hight Hight
T3 resin uptake Low Low Low
(inverse measure of protein binding)
Free T4 index (FT4, FTI) Normal Normal Normal


Sumber : www.thyroid.org


HIPERTIROIDISME

a. Etiologi
• Grave’s desease: suatu kelainan thyroid yang bersifat auto-imun, artinya ada zat-zat tertentu dalam darah (TSI) yang merangsang thyroid sehingga membesar dan menghasilkan hormone yang berlebihan.
• Peradangan kelenjar thyroid (thyroiditis): misalnya Quervarin thyroiditis atau hashimoto thyroiditis. Peningkatan produksi hormone akibat reaksi peradangan (inflamasi).
• Tumor kelenjar hipofise (pituitary adenoma): tumor ini menyebabkan peningkatan TSH sehingga menyebabkan hiperstimulasi thyroid.
• Hyperthyroid akibat obat-obatan (drug induce): sering disebabkan oleh obat jantung yang dinamakan amiodarone (cordarone).

b. Patofisiologi
Pada penyakit Grave, antibodi merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan. Antibodi ini bisa menyeberangi palsenta dan merangsang kelenjar tiroid pada janin. Akibatnya, janin bisa mengalami detak jantung yang cepat dan tidak bisa bertumbuh seperti yang diharapkan. Kelenjar tiroid bayi bisa membesar, membentuk gondok.
Patofisiologi dibalik manifestasi klinis penyakit hipertiroid Graves akibat rangsangan berlebih system saraf adrenergik dan yang merupakan akibat tingginya kadar TH yang bersirkulasi. Hipertiroidisme ditandai oleh kehilangan pengontrolan normal sekresi hormon tiroid. Karena kerja dari TH pada tubuh adalah merangsang, maka terjadi hipermetabolisme yang meningkatkan aktivitas system saraf simpatis. Jumlah TH yang berlebihan menstimulasi system kardiak dan meningkatkan jumlah reseptor beta-adrenergik. Keadaan ini mengarah pada takikardia dan peningkatan curah jantung, volume sekuncup, kepekaan adrenergik dan aliran darah perifer. Metabolisme sangat meningkat,mengarah pada keseimbangan nitrogen negatif, penipisan lemak, dan hasil akhir defisiensi nutrisi.

c. Manifestasi Klinis
Eksoftalmus
Tremor
Hiperkinesis
Takikardia
Kenaikan BMR dan tiroksin dalam darah sampai 25%.
Sulit berkonsentrasi
Gugup dan emosi labil
Hiperdefekasi
Kelemahan otot proksimal
Leher tampak membesar

Gejala yang sering pada ibu hamil dengan hyperthyroid seperti:
• Takikardi
• Exopthalmus
• Inroleransi panas
• Gugup
• Palpitasi
• Penurunan berat badan

d. Komplikasi
Hiperthyroidism yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi.
Komplikasi maternal meliputi:
 Keguguran
 Infeksi
 Preeklamsia
 Persalinan premature
 Congestive heart failure (CHF)
 Placental abtruption
 Perinatal death
 Postpartum hemorrhage
Komplikasi pada janin dan janin baru lahir meliputi:
 Prematuritas
 Kematian janin intrauteri
 Goiter janin (tirotoksikosis)
Pengobatan yang berlebihan bisa menyebabkan hipothyrodism pada janin.

e. Pemeriksaan Diagnostik
o Khasnya terjadi penurunan serum TSH dan peningkatan T3, T4 dan fT4.
o Peningkatan serum kalsium.
o Peningkatan jumlah sel darah merah dan penurunan sel darah putih.
o Radioaktif iodine uptake test.

f. Penatalaksanaan
Dalam penanganan hipertiroidisme selama kehamilan, harus diingat bahwa ada 2 klien yang ditangani yaitu ibu dan janinnya. Wanita hamil dengan hipertiroid, harus dirawat inapkan untuk mengontrol kadar hormone tiroid yang berlebihan. Tirah baring dianjurkan untuk mengurangi aktifitas yang berlebihan dan ketidakstabilan emosi. Lakukan diet yang proporsional untuk mengembalikan defisit kalori akibat metabolisme yang berlebihan dan keperluan pertumbuhan buah kehamilan.
Terapi lini pertama untuk penyakit graves pada kehamilan, meliputi obat-obatan antitiroid. Pengobatan pada hipertiroid dengan pemberian thioamides (methimazole atau propylthiouracil) yang berfungsi untuk mengurangi aktifitas kelenjar thyroid.
Tindakan operasi memiliki resiko buruk terhadap kehamilan dan janin. Tapi bisa dipertimbangkan dilakukan atas dasar demi kesehatan ibu. Operasi dilakukan pada trimester kedua.
Terapi seperti:
 Thionamida
 Propiltiourasil (PTU)
o Mulai dengan dosis 300-450 mg per hari, yang dibagi dalam 3 dosis.
o Bila kadar T4 dan T3 bebas mencapai batas normal, diberikan dosis pemeliharaan 50-300 mg (tergantung hasil pengobatan) per hari, dalam dosis terbagi.
 Iodine atau Yodium
o Preparat Iodin (missal larutan lugol) dapat menekan pelepasan tiroid dalam kelenjar dan mengurangi vaskularisasi dan memadatkan kelenjar tiroid.
o Preparat ini, dapat melalui sawar uri dan mempengaruhi kelenjar tiroid janin.
o Larutan lugol diberikan sebanyak 3 tetes dalam segelas air putih dan diminumkan sekali sehari selama 1-2 minggu.
 Penghambat beta andreganik (beta blocker)
o Obat ini digunakan untuk mengurangi manifestasi simpatetik (tremor, palpitasi, dan takhikardia) sebelum dikontrol PTU.
o Gunakan propanolol dengan dosis 40-80 mg per hari, yang dibagi dalam 3-4 dosis.
o Tidak dapat digunakan pada kehamilan dengan hipertiroid yang disertai penyakit paru obstruktif, blockade jantung, dekoimpensasio kordis dan diabetes mellitus tipe insulin dependen.
 Tiroidektomi
Bila terjadi badai tiroid (strom), keselamatan ibu menjadi perhatian utama. Di samping penanganan gawat darurat lain, gunakan PTU 400 mg untuk setiap 8 jam. Berikan pula Natrium Iodida melalui infuse sejumlah 1 g per hari dan propanolol (jika diindikasikan) 40 mg dosis awal, dilanjutkan dengan dosis penyesuaian setiap 8 jam.










HIPOTIROIDISME

Pada umumnya, hipotiroid pada ibu hamil terjadi karena kekurangan iodium. Selain itu, sekitar 10% dari ibu hamil memproduksi antibodi atau zat anti yang menyerang kelenjar tiroidnya sendiri yang disebut Anti TPO-Ab (Anti Thyroid Peroxidase Antibody) pada awal kehamilannya. Sebagian dari ibu hamil yang positif memproduksi anti TPO akan mengalami hipotiroid tetapi bersifat subklinik atau tidak bergejala, namun bila diperiksa di laboratorium akan didapatkan kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone) yang tinggi. Hipotiroid pada ibu hamil dapat berakibat buruk bagi ibu maupun perkembangan janin atau bayinya, terutama bila hipotiroid terjadi pada trimester pertama karena pada periode tersebut janin hanya dapat memperoleh hormon tiroid dari ibunya.

a. Etiologi
• Kehilangan jaringan thyroid: akibat operasi atau rusak akibat radiasi
• Antibodi antitiroid: bisa terjadi pada penderita diabetes atau lupus, rheumatoid arthritis, hepatitis kronik, atau Sjogren syndrome
• Bawaan lahir
• Gangguan produksi: hashimoto thyroiditis
• Obat-obatan: beberapa obat bias menyebabkan hypothyroid misalnya Lithium (eskalith, lithobid).

b. Patofisiologi
Hipothyroid dapat disebabkan oleh gangguan sintesis hormone thyroid atau gangguan pada respon jaringan terhadap hormone thyroid.
Sintesis hormone thyroid diatur sebagai berikut:
a. Hipotalamus membuat thyrotropin releasing hormone (TRH) yang merangsang hipofisis anterior
b. Hipofisi anterior mensintesis thyrotropin yang merangsang kelenjar thyroid.
c. Kelenjar thyroid mensintesis hormone thyroid (triiodothyronin= T3 dan tetraodothyronin= T4) yang merangsang metabolism jaringan yang meliputi; konsumsi oksigen, produksi panas tubuh, fungsi syaraf, metabolisme protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin, serta kerja daripada hormone-hormon lain.
Pada hipotiroidisme, hormon tiroxin tidak dihasilkan oleh kelenjar tiroid maka tidak terjadi umpan balik negatif dan hal ini menyebabkan hipersekresi TRH yang akhirnya kan menyebabkan kelenjar tiroid membesar. Jika produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar tiroid akan berkompensasi untuk meningkatkan sekresinya sebagai respon terhadap rangsangan hormon TSH. Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid akan menurunkan laju metabolisme basal yang akan mempengaruhi semua sistem tubuh. Proses metabolik yang dipengaruhi adalah penurunan produksi asam lambung, penurunan motilitas usus, penurunan datak jantung, gangguan fungsi neurologik, penurunan produksi panas.
Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme lemak dimana akan terjadi peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida sehingga klien berpotensi mengalami atherosclerosis.akumulasi proteoglican hidrophilik di rongga interstitial seperti rongga pleura, cardiac dan abdominal sebagai tanda dari menurunnya hormon tiroid memungkinkan klien mengalami anemi.

c. Manifestasi Klinis
Cebol (kretinismus)
Edema kulit lembut
Kulit kering
Lekas letih, fatigue
Edema pada kelopak mata
Kenaikan berat badan
Depresi
Lidah besar
Suara serak
Intoleransi terhadap dingin
Konstipasi
Rambut kasar
Kaku, keram otot

d. Hasil laboratorium
Hormon Hasil

T4 Rendah
FT1 Rendah
FT4 Rendah
TSH Meningkat
Adanya peningkatan Ab Antimikrosomal
dan Ab anti thyroglobulin


e. Pemeriksaan Diagnostik
Untuk memastikan apakah ibu hamil mengalami hipotiorid atau tidak maka perlu dilakukan skrining laboratorium yaitu dengan melakukan pemeriksaan TSHs dan anti TPO.
Pengukuran antibody seperti menilai TRAbs pada ibu hamil dengan melakukan pemeriksaan TSH-binding inhibitory immunoglobulin (TBII). Antibodi berpotensi menghambat stimulasi TSH endogen. Efek ini muncul pada wanita dengan Hashimoto’s hipotiroidism. Pemeriksaan yang ada saat ini adalah thyroid-stimulating immunoglobulin (TSI). TRAbs dapat dideteksi pada trimester pertama, tetapi nilainya sering menurun pada trimester kedua dan ketiga, dan bisa terdeteksi sebelum meningkat lagi setelah persalinan.
f. Komplikasi
 Abortus habitualis
 Cacat bawaan dan kritinismus janin
 Partus dengan tindakan seksio sesarea
 Anemia
 Hipergestasional
 Abrupsi plasenta
 Persalinan premature
 Perdarahan post partum
Komplikasi terhadap ibu meliputi:
 Microcytic anemia
 Preeklamsia
 Placental abtruption
 Postpartum hemorrhage
 Disfungsi jantung
 Keguguran
 Thyrotoxicasi (lebih sering terjadi pada trimester 2 dan trimester 3)
Komplikasi terhadap janin meliputi:
 Prematurity
 Low birth weight
 Congenital anomalies
 Stillbirth
 Perkembangan neuropsikologi

g. Managemen
Sebelum kehamilan
Mempertimbangkan adanya penyakit hipotirodisme pada diagnosis lain yang berhubungan dengan infertilitas dan atau kelainan menstruasi, atau menunda kehamilan
Masa kehamilan
Melanjutkan pemberian pengganti hormon thyroid
Pada tiap semester harus dikaji tentang fungsi thyroid
Memantau adanya tanda-tanda myxedema
Persalinan
Tidak ada tindakan yang spesifik
Setelah kelahiran
Pantau apakah terjadi pemburukan penyakit tiroid
Terapi meliputi:
1. Tiroksin. Tablet yang tersedia antara lain dalam dosis 50 dan 100 mg, terapi dimulai dari dosis rendah lalu dinaikkan perlahan.
50mg/hr 100mg/hr 150mg/hr periksa darah
3-4 minggu 3-4 minggu
Tujuan terapi : Untuk memperbaiaki kadar T4 dan TSH menjadi normal. Pasien akan menjadi lebih baik dalam 2-3 minggu.
2. Pemberian 300-400 L-T intravena (Levotyroxine/Synthroid)
3. Diit rendah kalori, suplemen hormon thyroid
4. Meningkatkan hormon tiroid harus sedikit demi sedikit dan TSH dimonitor tiap bulan.
5. Prosedur pembedahan untuk mengangkat goiter yang membahayakan struktur leher.
















ASUHAN KEPERAWATAN


HYPERTHYROID

A. PENGKAJIAN
1. Pemeriksaan Fisik:
a. Kulit
• Panas, lembab, banyak keringat, halus, licin, mengkilat, kemerahan
• Eritema, pigmentasi, mixedema local
• Kuku: terjadi onyholosis (terlepas, rusak)
• Ujung kuku/jari; terjadi aerophacy yaitu perubahan ujung jari 
Tabuh/clubbing finger atau yang sering disebut PLUMER NAIL.
• Kalau ada peningkatan suhu  > 37,8ÂșC  indikasi krisis thyroid
b. Mata
• Retraksi kelopak mata
• Eksoptalmus
• Iritasi conjunction dan hemosis
• Laktrimasi
• Ortalmoplegia
c. Cardio vascular
• Peningkatan tekanan darah
• Takikardi
• Tekanan nadi meningkat
• Aritmia
• Berdebar-debar
• Gagal jantung
d. Respirasi
• Perubahan pola nafas
• Dyspnea
• Pernafasan dalam

e. Gastrointestinal
• Poliphagia  nafsu makan meningkat
• Diare  bising usus hyperaktif
• Berat badan menurun
f. Otot
• Kekuatan otot menurun
• Kurus
• Atrofi
• Tremor
• Cepat lelah
• Hyperaktif reflex tendon
g. Sistem persyarafan
• Iritabilitas  gelisah
• Tidak dapat berkonsentrasi
• Pelupa
• Insomnia
h. Status mental dan emosional
• Emosi labil  lekas marah, menangis tanpa sebab
• Iritabilitas
• Perubahan penampilan
i. Status ginjal
• Polyuri (banyak dan sering kencing)
• Polidipsi (rasa haus berlebihan  banyak minum)
j. Leher
• Teraba adanya pembesaran thyroid
• Briut (+)

2. Pemeriksaan Diagnostik
• Serum T3 dan T4 meningkat (Normal: T3 8-16gr, T4 4-11gr)
• TSH serum menurun
• Thyroid  radioaktif iodine up take meningkat (Normal: 10-35%)
• BMR meningkat

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare, mual, nyeri abdomen, peningkatan BMR ditandai dengan BB turun, diaphoresis.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan peningkatan metabolisme
3. Cemas berhubungan dengan faktor psikologi; hipermetabolik, efek hormone thyroid seperti pseudocholamin ditandai dengan ketakutan, perasaan bimbang, panic, lepas control.
4. Hipertermia berhubungan dengan status hipermetabolik ditandai dengan panas atau peningkatan suhu tubuh > 37°C, takikardi
5. Diare berhubungan dengan cemas, peningkatan peristaltic usus
6. Resiko injuri berhubungan dengan faktor fisik; tremor
7. Gangguan proses pikir berhubungan dengan proses penyakit; peningkatan rangsangan system saraf simpatis akibat tingginya kadar hormone thyroid ditandai dengan memory deficit, tidak dapat berkonsentrasi.
8. Resiko ketidakseimbangan pertumbuhan janin ditandai dengan status nutrisi ibu yang buruk.


C. INTERVENSI
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare, mual, nyeri abdomen, peningkatan BMR ditandai dengan BB turun, diaphoresis.
Kriteria hasil: Nutrisi adekuat
NOC:
• Berat badan meningkat sampai batas normal bagi klien
• Memakan diet yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen.
• Tidak mengalami diare
• Intake dan output seimbang





NIC:
• Pantau masukan diet tinggi kalori, tinggi protein, tinggi karbohidrat, tinggi vitamin B.
• Tawarkan makanan dalam jumlah kecil tapi sering dan tambahan diantara waktu makan
• Konsulkan klien untuk makanan yang disukai
• Hindari stimulasi: kopi, teh, makanan lain yang mengandung kafein atau teobromin yang meningkatkan perasaan kenyang dan peristaltic
• Dukung klien untuk memperbanyak minum
• Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama
• Pantau input dan output setiap 8 jam
• Kaji efektifitas pengobatan untuk mengatasi mual dan nyeri abdomen

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan peningkatan metabolisme
Kriteria hasil:
• Aktifitas dapat dilakukan sesuai toleransi
• Meminta bantuan hanya ketika dibutuhkan
• Menyelesaikan aktifitas yang direncanakan tanpa menunjukkan bukti-bukti intoleransi.

NOC:
• Menyelesaikan aktifitas yang direncanakan tanpa bukti-bukti intoleransi

NIC:
• Kaji tanda vital dan tingkat aktifitas sebelumnya
• Batasi aktifitas sampai tingkat toleransi dengan melakukan pengkajian respon
• Biarkan klien membuat prioritas dalam perawatan didalam keterbatasannya
• Berikan jarak waktu antara prosedur untuk memungkinkan waktu istirahat yang cukup
• Berikan peralatan yang dibutuhkan, kebutuhan lain untuk mencegah penggunaan energy yang berlebihan
• Hentikan aktifitas pada awal timbulnya gejala intoleransi: dispnea, takipnea, takikardi, keletihan
• Bantu klien saat melakukan aktifitas yang tidak mampu dilakukan karena kelemahan atau tremor
• Rencanakan aktifitas setiap hari dan pola istirahat yang dapat memudahkan meningkatkan toleransi untuk perawatan diri.

3. Cemas berhubungan dengan faktor psikologi; hipermetabolik, efek hormone thyroid seperti pseudocholamin ditandai dengan ketakutan, perasaan bimbang, panic, lepas control.
Kriteria hasil:
• Perubahan koqnitif
• Tidak menunjukkan adanya gelisah, tremor.
NOC:
• Mampu menunjukkan sikap relaksasi
• Catat adanya penurunan cemas untuk menentukan tingkatan pengendalian
• Kaji tingkat kesehatan seperti pengungkapan perasaannya
NIC:
• Observasi perilaku untuk mengidentifikasi ada tidaknya cemas
• Damping klien saat cemas, buat suasana atau sikap tenang
• Jelaskan prosedur suatu tindakan yang membuat lingkungan sekitar menjadi ribut
• Gunakan penggunaan bahasa yang sederhana karena konsentrasi klien mudah tidak fokus
• Diskusikan pada klien dan keluarga tentang penyebab emosi yang labil/reaksi psikologi
• Yakinkan klien dan keluarga bahwa dengan penggunaan obat yang di anjurkan dapat mengontrol emosional klien
• Kolaborasi untuk pemberian obat anti cemas atau sedative dan monitor efeknya
• Menyediakan pelayanan supportif sesuai kebutuha seperti konseling, pelayanan sosial, keagamaan.

4. Hipertermia berhubungan dengan status hipermetabolik ditandai dengan panas atau peningkatan suhu tubuh > 37°C, takikardi
Kriteri hasil:
• Tanda-tanda vital dalam batas normal
NOC:
• Suhu 36°C-37°C
• Nadi dalam batas normal, irama reguler
• Tensi darah dalam batas normal
• Respirasi dalam batas normal
• Tidak ada takikardi
NIC:
• Monitor TTV
• Catat ada tidaknya peningkatan tensi darah yang sangat fluktuasi
• Monitor tensi, nadi setelah minum obat
• Monitor TTV sebelum, selama dan sesudah beraktifitas
• Monitor tanda-tanda takikardi
• Monitor irama dan suara jantung
• Monitor suara nafas
• Identifikasi penyebab pasti perubahan vital sign
• Tingkatkan asupan cairan sampai 2500cc/hari

5. Diare berhubungan dengan cemas, peningkatan peristaltic usus
Kriteria hasil:
• Stool soft and formed
• Pola eliminasi yang baik
NOC:
• Keseimbangan elektrolit, asam dan basa
• Hidrasi
• Eliminasi bowel
• Anxiety self-control


NIC:
• Monitor keseimbangan elektrolit
• Rehidrasi
• Pantau output dan input cairan
• Beri diet yang banyak mengandung elektrolit (ex: kaya potassium, rendah sodium, rendah karbohidrat
• Monitor tingkat stress klien
• Kolaborasi untuk pemberian cairan infus
• Observasi turgor kulit
• Identifikasi factor-faktor yang dapat menyebabkan diare

6. Resiko injuri berhubungan dengan faktor fisik; tremor
Kriteria hasil:
• Mampu menjaga keseimbangan badan saat berdiri
• Mampu menjaga keseimbangan saat duduk tanpa sandaran
• Mampu menjaga keseimbangan saat berjalan

NOC:
• Fall prevention behavior
• Exercise therapy; muscle contol
• Balance
NIC:
• Identifikasi perilaku dan faktorfaktor yang dapat menyebabkan cedera
• Monitor keseimbangan, gaya berjalan dan cemas untuk ambulatory
• Assist unsteady individual with ambulation
• Anjurkan klien untuk meminta bantuan untuk bergerak
• Ajarkan klien untuk meminimalkan resiko jatuh
• Modifikasi situasional (penempatan barang, sarana dan prasarana) untuk mencegah cedera
• Assist with toileting at frequent, scheduled interval
• Bantu klien untuk berdiri/duduk
• Use motor activities that require attention to and use of both sides of the body
• Collaborate with home caregivers regarding exercise and physical activity

7. Gangguan proses pikir berhubungan dengan proses penyakit; peningkatan rangsangan system saraf simpatis akibat tingginya kadar hormone thyroid ditandai dengan memory deficit, tidak dapat berkonsentrasi.
Kriteria hasil:
• Mampu berkonsentrasi
• Daya ingat yang bagus
• Mengeti akan informasi yang disampaikan

NOC:
• Mampu memfokuskan atau mempertahankan perhatian
• Mampu mengulang kembali informasi yang baru disampaikan maupun informasi yang lama dengan tepat
• Mampu mengambil keputusan yang tepat
NIC:
• Gunakan bahasa yang sederhana, singkat dan jelas dan penyampaian yang tidak terlalu cepat
• Kaji tingkat kesadaran, orientasi, afek dan persepsi setiap 4jam-8 jam; laporkan adanya perubahan negatif
• Libatkan keluarga dalam perencanaan, menyediakan dan mengevaluasi perawatan klien
• Cegah situasi yang menimbulkan kemarahan emosional
• Beri lingkungan yang stabil, tenang, tanpa stress dan atasi lingkungan yang terlalu berisik
• Konsisten dalm ucapan, waktu saat melakukan suatu aktifitas atau prosedur
• Hindari pergantian caregiver yang sering
• Antisipasi kebutuhan akan pencegahan reaksi hiperaktif
• Berikan aktifitas yang menghibur
• Orientasikan kembali klien pada lingkungan sesuai dengan yang dibutuhkan dan berikan petunjuk yang mengorientasikan (ex: jam, kalender, dll).
• Pantau reaksi pengobatan yang diberikan

8. Resiko ketidakseimbangan pertumbuhan janin ditandai dengan status nutrisi ibu yang buruk.
Kriteria hasil:
• Pertahankan status nutrisi yang adekuat
• Perilaku terhadap prenatal care
• Pengetahuan; kehamilan
NOC:
• Mampu melakukan prenatal care
• Menjaga keseimbangan kesehatan sejak prekonseptual kehamilan
NIC:
• Anjurkan untuk makan sering dalam porsi yang sedikit
• Pantau masukan diet tinggi kalori, tinggi protein, tinggi karbohidrat, tinggi vitamin B.
• Beritahu ibu/suami/keluarga akan pentingnya melakukan ANC secara teratur
• Monitor status nutrisi ibu
• Monitor berat badan selama kehamilan
• Monitor kadar hormone thyroid selama kehamilan
• Bantu klien/suami/keluarga untuk mempertahankan atau untuk terminasi janin
• Monitor DJJ
• Monitor TTV
• Anjurkan ibu untuk memonitor aktifitas janin
• Jelaskan efek pada janin terhadap program pengobatan yang sedang dijalani
• Persiapkan fisik dan psikologis ibu untuk resiko terminasi janin


HYPOTHYROID
A. PENGKAJIAN
• Pemeriksaan fisik
• Riwayat adanya faktor-faktor penyebab
• Riwayat radiasi pada kepala atau leher serta pembedahan.
• Nyeri pada lehar dan pembengkakan, kanker leher.
• Adanya peningkatan BB, anoreksia, toleransi terhadap dingin, rambut kering dan menipis, fatigue.
• Penurunan libido, menstruasi yangtidak teratur, konstipasi.
• Pemeriksaan diagnostic


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakcukupan oksigen.
2. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic.
3. Inefektif termoregulasi berhubungan dengan metabolisme yang melambat
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema dan kekeringan.
5. Resiko ketidakseimbangan pertumbuhan janin ditandai dengan lahir prematur

C. INTERVENSI
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakcukupan oksigen ditandai dengan lekas letih, fatique
NOC:
• Toleransi terhadap aktivitas
• Konservasi energi
NIC:
• Kaji aktivitas yang dapat dilakukan oleh pasien
• Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energi yang adekuat
• Tentukan penyebab fatigue (perawatan, nyeri, dan pengobatan).
• Monitor dan catat pola tidur pasien dan lamanya tidur.
• Batasi stimulasi lingkungan (cahaya, suara), untuk memfasilitasi relaksasi.

2. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic.
NOC:
• Manajemen impaksi
• Training BAB

NIC:
• Monitor tanda dan gejala adanya konstipasi.
• Monitor bising usus.
• Identifikasi factor-faktor yang menyebabkan konstipasi.
• Jelaskan penyebab masalah konstipasi dan rasionalisasi tindakan yang akan dilakukan.
• Berikan enema atau irigasi bila diperlukan.

3. Inefektif termoregulasi berhubungan dengan metabolisme yang melambat
NOC:
• Termoregulasi
• Status tanda-tanda vital
NIC:
• Monitor temperature setiap 2 jam, bila diperlukan
• Monitor tanda-tanda vital
• Monitor gejala yang berhubungan dengan hipotermi
• Monitor kseimbangan elektrolit
• Monitor intake dan output
• Monitor status nutrisi
• Ajarkan pada asien mengenai mencegah terjadinya hipotermia
• Selimuti pasien dengan selimut hangat bila diperlukan

4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema dan kekeringan.
NOC:
• Integritas kulit
• Keseimbangan cairan
NIC:
• Observasi ekstremitas terhadapwarna, kehangatan, pembengkakan, nadi, tekstur, edema, dan ulserasi.
• Monitor kulit pada area yang kemerahan dan tekanan
• Monitor temperatur kulit
• Catat perubahan pada kulit atau membrane mukosa
• Monitor infeksi terutama pada daerah yang edema

5. Resiko ketidakseimbangan pertumbuhan janin ditandai dengan lahir prematur

Kriteria hasil:
• Stabilisasi respirasi, heart rate
• Thermoregulation
NOC:
• Vital sign dalam batas normal
• Termoregulasi stabil
• Peningkatan suhu kulit bayi

NIC:
• Monitor tinggi dan berat badan bayi
• Monitor suhu, pernafasan, heart rate bayi
• Monitor intake dan output bayi
• Monitor safety of infant’s environment
• Jelaskan rasional pengobatan, prosedur yang dilakukan
• Restrain infant during procedures
• Maintain infant’s daily rutine during hospitalization











DAFTAR PUSTAKA

Dorland. 2002. Kamus Kedokteran edisi 29. Jakarta; EGC.
Guyton, Arthur. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta; EGC.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri; Obstetri fisiologi, Obstetri Patologi. Jakarta; EGC.
Reeder S., Martin., Griffin., K. 1997. Maternity Nursing Family, Newborn and Women’s Health Care Edition 18th. Lippincott ; Philadelphia.
Syaifuddin. 1997. Anatomi Fisiologi untuk Siswa perawat. Jakarta; EGC
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta; EGC.
Olds, Sally B., 1996, Maternal-newborn nursing: a family centered approach 5th ed, London, Ladewig.
Noname, Ethical Digest No. 54 Thn. VI Aguatus 2008, semijurnal farmasi & kedokteran,
Pillitteri A., 2007Maternal & Child Health Nursing Care of the Childbearing & Childrearing Family 5th ed, Lippincott; Philadelphia.
Herdman, T. H., 2007, Nursing Diagnoses: Defenition & Classification 2007-2008, Philadelphia; NANDA International.
Morhead S, et al., 2004, Nursing Outcome Classifikation 3th ed, Mosby; USA.
Dochterman J.M & Bulechek G.M., 2004, Nursing Interventions Classification 4th ed, Mosby, USA.
http://endocrine.niddk.nih.gov/pubs/prenancy/
Cunningham F. G, et al., obstertri Williams vol 1 ed 21, Jakarta; EGC
Schorge O, et al., 2008, Williams Gynecology, Mc Graw Hill Medical; New York
http://www.depkes.go.id/popops/articleswindow.phd. diunduh pada tanggal 1 September 2009
http://pediatrics-undip.com/journal/outcome_bayi_ibu_hipo_atau_hipertiroidisme.pdf diunduh pada 2 September 2009.
www.mediaindo.co.id ,2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar