GLOMERULUS NEFRITIS AKUT.
1. Pengertian.
Glomerulus Nefritis Akut adalah suatu reaksi imunologis pada ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu yang sering adalah Streptococcus beta hemolitik Group A,dan lebih banyak menyerang anak-anak usia 3 - 7 tahun.
2. Etiologi.
Penyebabnya tidak jelas, akan tetapi secara umum memberikan gambaran Histo - pathologie tertentu pada Glomerulus yaitu :
Terbentuknya komplex antigen - antibibodi yang melekat pada membran basalis Glomerulus dan kemudian akan rusak.
Streptococcus nefrinogen dan membran basalis Glomerulus mempunyai komponen antigen yang sama sehingga dibentuk zat yaitu yang langsung merusak membran basalis ginjal.
3. Pathofisiologi dan Pathway.
Kerusakan Glomerulus terjadi akibat reaksi radang oleh karena adanya endapan komplex imun. Pada nefritis komplek imun dan anti-– Glomerulus Membran Basalis, cenderung terdapat endapan komplemen bersama imuno - globulin. Peran komplemen terhadap kerusakan Glomerulus dapat terjadi melalui berbagai cara. Komplemen meningkatkan permeabilitas vaskuler melaui aktivits anaflaktoksin.Dengan demikian pengendapan komplex imun lebih mudah terjadi. Kemudian komplemen juga mempunyai aktivitas chemotaktik sehingga terjadi akumulasi neutrofil macrofag yang mengelurkan ensym proteolitik yang dapat merusak jaringan. Pada anak-anak lebih sering dijumpai GNA oleh karena paskah infeksi Streptococus.
4. Manifestasi Klinik.
Haematoria (kencing berwarna merah seperti air daging).
Oedema ringan disekitar mata atau dapat juga diseluruh tubuh.
BAK sedikit - sedikit.
Tekanan darah meningkat.
Mual - mual dan muntah.
Tidak ada nafsu makan.
Suhu tubuh meningkat.
Kadang-kadang diare.
Badan lemah .
5. Komplikasi
Hipertensi ringan samoai berat.
Payah jantung karena hypertensi dan hypervolemia.
Gagal ginjal.
6. Studi Diagnostic.
Laju Endap Darah meninggi.
Kadar Hb menurun.
Jumlah urine meningkat.
Berat jenis meninggi.
Albumin (+), Erytrosit (+), Leucosit (+), Cylinder Eritrosit, Eritrosit dan Hialin.
Albumin serum sedikit menurun.
Ureum dan Kreatinin meningkat.
Protein uria terutama albumin (85 - 95 %). Sebanyak 10 - 15 gram/hari dapat ditentukan dengan pemeriksaan Espach (urine 1 x 24 jam) seandainya oedema masih banyak.
7. Managemen Medik.
Pemberian terapi medik Antibiotic penisilin untuk mengurangi penyebab infeksi streptococcus.
Bila ada anuria atau muntah diberikan IVFD dengan larutan Glukosa 10 %.
Hipertensi diberikan sedative uantuk menenangkan klien.
Pemberian furosemid (lasix) secara 14 (1 mg/kg/hari dalam 5 - 10 menit).
Bila timbul gagal jantung diberikan digitasis, sedativ dan oxigen.
8. Management Keperawatan
Istirahat mutlak selama 3 - 4 minggu.
Diet rendah protein (1 gr/kg BB/hr) dan rendah garam (1 gr/hr).
Pengawasan tanda-tanda vital secara rutin
Jika terdapat suhu tubuh meningkat secara mendadak, perlu dilakukan pengukuran suhu extra dan kompres dingin.
Jikla terdapat gejala dipnue dan terlihat lemah segera diberi posisi fowler dan berikan oxigen.
BB klien perlu ditimbang setiap hari.
Anjurkan klien minum air putih sebanyak 1-2 liter/hari.
Apabilla urine < 300 ml dianjurkan untuk mencatat intake dan output selama 24 jam.
B. GLOMERULUS NEFRITIS KRONIK.
1. Pengertian.
GNK adalah Suatu refelex sindrom yang merupakan gejala berulang dari GNA dan gejala akhir dari penyakit inflamasi glomerulus nefritis akut
Tipe untuk glomerulus dan sindrom nefrotik tersebut ditemukan proteinuria dan hematuria yang perkembangannya lambat pada uremia sindrom itu. Sebagai hasil akhirnya terjadi renal failure dan terjadi uremia. GNK tersebut terjadi dalam waktu yang cukup lama 10 - 30 tahun.
2. Etiologi.
Penyebab dai GNK tersebut tidak diketahui dengan jelas karena tidak adanya jaringan untuk dibiopsi.
3. Manifestasi Klinik.
Manifestasi klinik ditemukan proteinuria dan hematuria yang menetap. Hal tersebut terjadi karena gejala berulang sehingga menyebabkan perkembangan ke uremia yang perlahan sebagai akibat fungsi ginjal menurun.
4. Pemeriksaan Diagnostik :
Pemeriksaan urine di temukan albumine +, selinder dan eritrosit, leukosit hilang timbul.
Pemeriksaan darah ditemukan : LED tetap tinggi, ureum darah meningkat, kalsium dan serum meningkat. Pada stadium akhir serum natrium dan klorida menurun sedangkan kalium meninggkat Anemia tetap ada.
Uji fungsi ginjal menunjukan kelainan ginjal yang progresif.
5. Management medik
Pengobatan ini ditujukan untuk mengastasi gejala klinik, gangguan elektrolit. Terapi Hipertensi, anemia diperiksa serta infeksi diobati dengan pemberian antibiotok. Pasien diperkenankan melakukan aktifitas kehidupan sehari - hari sebagaimana bisa dalam batas kamampuannya
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian.
Keluhan Utama : sakit kepala, demam, berat badan meningkat, vomiting, menggigil, dispneu, anoreksia, lemah, dapat lelah, pusing.
Pengkalian TTV, pemeriksaan darah, urine, pemeriksaan tes fungsi ginjal, untuk mengetahui perkembangan tes fungsi ginjal.
2. Diagnosa Keperawatan.
1. Kelebihan volume cairan b. d .retensi air,sodium dan disfungsi ginjal.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. d anoreksia, mual mentah.
3. Koping individu tidak efektif :depresi b. d penyakit saat ini, kurangnya dukungan sosial, kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatan.
4. Resiko tinggi infeksi b. d depresi status imun.
3. Perencanaan.
Diagnosa I
Goal : Klien akan mempertahankan keseimbangan cairan.
Objektif : Dalam jangka waktu 1x24 jam jumlah cairan yang dihasilkan 1200 ml.
Intervensi dan rasional :
Timbang BB tiap hari
R/ Mengetahui perkembangan BB pasien (berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diit)
Anjurkan klien agar membatasi intake sodium dan air
R/ Membatasi intake sodium dan air dapat mencegah komplikasi .
Diagnosa II.
Goal : Klien akan mempertahankan nutrisi yang adekuat
Objektif : Dalam jangka waktu 1 x 24 jam pasien dapat makan 3x/hari dan porsi yang diberikan dihabiskan.
Intervensi dan rasional :
Monitor intake makanan
R/ Unutk mengetahui keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat dibentuk tindakan dalam pemberian makanan yang adekuat.
Anjurkan pasien uantuk makan sedikit tapi sering.
R/ Dapat memperbaiki atau menambah BB pasien.
Diagnosa III.
Goal : Klien akan memperthankan koping yang efektif dan mendemonstrasikan kemapuan uantuk menanggulagi stres.
Objektif : Dalam jangka waktu 1 minggu pasien akan mengatakan cara koping yang lebih efektif dalam situasi stres
Intervensi dan rasional :
Bina hubungan saling percaya antara perawat dan pasien
R/ Hubungan teraupetik perawat dan pasien dibangun atas dasar saling percaya.
Melakukan pengkajian fisik dengan teliti
R/ Agar dapat memntukan perawatan spesifik yang dibutuhkan uantuk kondisi fisik pasien.
Diagnosa IV.
Goal : Klien akan terhindar dari infeksi.
Objektif : Dalam jangka waktu 1x24 jam nilai leukosit menurun.
Intervensi dan rasional :
Kaji infeksi urinarius.
R/ Pengkajian yang tepat tantang tanda-tanda penyebaran infeksi dapat membantu adanya penyembuhan.
Beri antibiotic.
R/ Antibiotik dapat menbunuh kuman.
4. Pelaksanaan.
Sesuai dengan intervensi yang ditetapkan.
5. Evaluasi.
1. Pasien akan mempertahankan fungsi ginjal normal.
2. Pasien akan mempertahankan keseimbangan caiaran
3. Pasien akan meningkatkan nutrisi yang adekuat
4. Pasien akan terhindar dari infeksi.
Pendidikan Pasien.
Anjurkan kepada orang tua kontrol apabila sakit.
Jelaskan tentang pengobatan.
Anjurkan tentang follow up care.
Anjurkan pasien dan keluarga setelah kembali kerumah diharapakan dalam memberi obat harus secara teratur dan sampai tuntas guna mengurangi resiko kekambuhan.
P E N U T U P
Glomerulus Nefrtis merupakan peradangan pada struktur ginjal (glomerulus ). Glomerulusa Nefritis dibagi menjadi dua bagian yaitu Glomerulus nefritis akut dan Glomerulus nefritis krionik. Penyebab Glomerulus nefritis adalah reaksi antigen antibody terhadap infeksi dari streptococcus beta haemolitik group A. Glomerulus nefritis akut merupakan suatu reaksi imunologis pada ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu yang sering adalah streptococcus dan lebih banyak menyerang anak-anak usia 3-7 tahun sedangkan glomerulus nefritis kronik meriupakan diagnosis klinik berdasarkan ditemukannya proteinuria yang menetap, hal inij terjadi karena eksaserbasi berulang dari GNA yang berlangsung dalam waktu beberapa bulan dan beberapa tahun. Karena eksaserbasi akan menimbulkan kerusakan pada ginjal yang berakibat gagal ginjal yang merupakan komplikasi dari Glomerulus nefrirtis
Pada penanganan secara medik terhadap penyakit glomerulus nefritik ini ditujukan untuk mengatasi gejala klinik, gangguan elektrolik sedangkan pada terapi hipertensi, anemia diperiksa serta infeksi diobati dengan pemberian antibiotik. Selain penaganan secara medik juga dilakukan asuhan keperawatan. Apabila muncul tanda dan gejala atau manifestasi klinik maka segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kim jarci, dkk,1985, “Diagnosa Keperawatan”, Edisi 5 , Jakarta penerbit Buku Kedokteran, EGC.
2. Price A. Sylvia, Wilson M, Lorrraine,1995, “Patofisiologi Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit”, Edisi IV.
3. Sacharin Rosa, 1996, “Prinsip perawatan pediatric”, Edisi 2, Jakarta, Penerbit buku kedokteran, EGC.
4. Lewis.M. Sharo, 1992, “Medical Surgical – Nursing”, Third edition, Penerbit Mosby year book.
5. Wilson,W.J. Kathleen, 1990, “Anatomi and Physiologi in Health and Illness”, Seventh edition.
November 23, 2010
PENYAKIT MALARIA
PERJALANAN INFEKSI PADA MALARIA
Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus plasmodium. Malaria pada manusia disebabkan oleh Plasmodium Malariae, Plasmodium Vivax, Plasmodium Falciparum dan Plasmodium Ovale. Penularannya melalui nyamuk betina dari tribus Anopheles. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat juga ditularkan secara langsung melalui transfuse darah atau jarum suntik yang tercemar darah serta dari ibu hamil kepada bayinya.
A. MASA INKUBASI
Masa inkubsi adalah waktu mulai terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala klinis. Masa inkubasi bervariasi antara 9 – 30 hari, tergantung pada spesies parasit. Paling pendek pada P. Falciparum dan paling panjang pada P. Malariae. Masa inkubasi juga tergantung pada intensitas infeksi, pengobatan yang pernah didapat sebelumnya dan derajat imunitas pejamu. Pada malaria akibat transfuse darah, masa inkubasi P. Falciparum adalah 10 hari, P. Vivax 16 hari, P. Malariae 40 hari atau lebih setelah transfuse. Masa inkubasi secara alamiahnya :
- Plasmodium Falciparum = 12 hari
- Plasmodium Vivax = 13 - 17 hari
- Plasmodium Ovale = 13 – 17 hari
- Plasmodium Malriae = 28 – 30 hari
B. MASA PREPATEN
Masa prepaten adalah waktu antara terjadinya infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah.
Plasmodium
Periode pre-paten (hari)
Falciparum 11
Vivax 12,2
Ovale 12
Malariae 32,7
C. SERANGAN KLINIS PERTAMA
Secara klinis, gejala malaria infeksi tunggal pada pasien non imun terdiri atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu (paroksisme), yang diselingi oleh suatu periode (periode laten) bebas demam. Sebelum demam pasien biasanya merasa lemah, nyeri kepala, tidak ada nafsu makan, mual atau muntah.
Periode paroksisme terdiri dari tiga stadium yang berurutan yakni : stadium dingin (cold stage), stadium demam (hot stage) dan stadium berkeringat (sweating stage).
Stadium Dingin
Stadium ini diawali dengan gejala mengigil dan perasaan yang sangat dingin, gigi gemeretak dan pasien biasa menutupi tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut. Nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat atau sianosis, kulit kering dan pucat, pasien mungkin muntah dan pada anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit – 1 jam.
Stadium Demam
Pada stadium ini pasien merasa kepanasan, muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, nyeri kepala, sering kali terjadi mual dan muntah, nadi menjadi kuat lagi. Biasanya pasien menjadi haus dan suhu badan dapat meningkat sampai 41° C atau lebih. Ini berlangsung antara 2 – 12 jam. Demam disebab kan oleh pecahnya skozon dalam sel darah merah yang telah matang dan masuknya morosit darah kedalam aliran darah. Pada P. Vivax dan P. Ovale skizon dari setiap generasi menjadi matang setiap 48 jam sekali sehingga timbul demam setiap hari ke-3 terhitung dari serangan demam sebelumnya. Pada P. Malriae, demam terjadi pada 72 jam setiap hari ke-4 sehingga disebut malaria kuartana. Pada P. Falciparum setiap 24 – 48 jam.
Stadium Berkeringan
Pada stadium ini pasien berkeringant banyak sekali, tempat tidurnya basah, suhu badan menurun dengan cepat kadang-kadang sampai dibawah normal. Gejala di atas tidak selalu samam pada setiap pasien tergantung pada spesies parasit, berat infeksi dan umur pasien. Gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofozoid & skizon) untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh tertentu seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah organ-organ tubuh tersebut.
D. PERIODE LATEN KLINIS
Periode ini adalah periode tanpa gejala dan tanpa parasitemia selama terjadi infeksi malaria. Biasanya terjadi antara dua keadaan paroksismal. Periode laten dapat terjadi sebelum serangan primer atau pun sesudah serangan primer dimana parasit sudah tidak ada diperedaran darah tapi infeksi masih berlangsung.
E. RECRUDESCENSE
Berulangnya gejala klinik dan parasitemia dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan primer. Recrudescense dapat terjadi sesudah periode laten dari serangan primer.
F. RECURRENCE
Yaitu berulangnya gejala klinikatau parasitemia setelah 24 minggu berakhirnya serangan primer. Keadaan ini juga menerangkan apakah gejala klinik disebabkan oleh kehidupan parasit berasal dari bentuk diluar eritrosit (hipnozoit) atau parasit dari bentuk eritrositik.
G. RELAPS PARASIT
Ialah berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang lebih lama dari waktu diantara serangan periodic dari infeksi primer. Istilah replase dipakai untuk menyatakan berulangnya gejal klinik setelah periode yang lama dari masa laten, sampai lima tahun, biasanya terjadi karena infeksi tidak sembuh atau oleh bentuk diluar eritrosit (hati) pada malaria vivax atau ovale.
H. GAMBARAN MIKROSKOPIS
1. Pemeriksan hematology
Kadar hemoglobin menunjukkan adanya anemia dari derajat ringan sampai berat ( pada malaria kronis ), jumlah lekosit normal atau lekopenia, laju endap darah meningkat dan jumlah trombosit biasanya normal.
2. Pemeriksaan mikroskopis/ parasitologis
Mikroskopis sediaan darah tabel dan sediaan tipis merupakan pemeriksaan yang terpenting. Interpretasi pemeriksaan mikroskopis yang terbaik adalah berdasarkan hitung parasit dengan identifikasi parasit yang tepat.
Hitung parasit pada tetes tebal : dihitung berdasarkan leukosit (eritrosis sudah lisis), yaitu per 200 leukosit. Secara kasar pada pemeriksaan tetes darah tebal sering dilaporkan dengan kode plus 1(+) satu sampai dengan plus 4 (++++), yang artinya ialah ;
+ : 1 – 10 parasit per 100 lapang pandang
++ : 11 – 100 parasit per 100 lapang pandang
+++ : 1 – 10 parasit per 1 lapang pandang
++++ : > 10 parasit per 1 lapang pandang
Pada keadaan hiperparasitemia sering sulit dibedakan pada penandaan ++++ sebab dapat diartikan dari perhitungan 11 parasit per lapang pandang sampai ratusan ribu per lapang pandang. Olek karenanya dianjurkan pada pemeriksaan di RS harus selalau dilakukan hitung parasit, khususnya kasus dengan pemacaan ++++. Pada parasitemia yang tinggi dapat dipakai dapat hitung parasit berdasarkan jumlah eritrosit. Pembacaan dilakukan pada sediaan tipis malaria dan parasit Plasmodium ddihitung per 1000 eri atau 10.000 eritrosit. Bila dijumpai 2 plasmodium dalam satu eritrosit dihitung sebagai satu.
Contoh : Bila dijumpai 50 parasit/1000 eri = 5 %
Bila jumlah eri 4.500.000, maka hitung parasit/µL :
4.500.000 x 50 = 225.000 parasit/µL.
1000
3. Pemeriksaan Imunoserologis.
Pemeriksaan ini dianjurkan untuk melengkapi pemeriksaan mikroskopis atau sebagai konfirmasi jika identifikasi spesies parasit dengan pemeriksaan mikroskopis memberikan hasil yang meragukan atau jika secara klinis dan pemeriksaan klinis menunjukan tanda infeksi malaria tapi pemeriksaan mikroskopis negative.
4. Pemeriksaan Biokomiawi/Kimia Klinis
Pemeriksaan ini bukanlah pemeriksaan yang menentukan diagnosis tetapi harus tetap dilakukan untuk menunjang pemeriksaan yang lain karena penting untuk memantau perkembangan penyakit dan mendeteksi sedini mungkin adanya komplikasi. Pemeriksaan kimia klinis yang dianjurkan antara lain bilirubun, kreatinin, ureum, glukosa darah, urinalisis termasuk adanya hemoglobinuria dan faal koagulasi.
I. GAMBARAN KLINIS
Periode Dingin
a. Menggigil
b. Kulit dingin dan kering
c. Gigi-gigi saling terantuk
d. Pucat sampai sianosis
Periode Panas
e. Muka memerah
f. Kulit panas dan kering
g. Nadi cepat
h. Panas badan tinggi sampai 40°C atau >
i. Respirasi meningkat
j. Nyeri kepala, nyeri retro-orbital
k. Muntah-muntah, dapat terjadi shock (hipotensi)
l. Kesadaran delirium sampai terjadi kejang (anak)
Periode Berkeringat
m. Penderita berkeringat mulai dari temporal diikuti seluruh tubuh sampai basah, temperature turun
n. Penderita merasa capek dan sering tertidur.
RATE & RATIO :
Ratio disebut juga sebagai proporsi, dipergunakan untuk membandingkan frekuensi suatu penyakit pada dua kelompok indiviodu atau lebih, misalnya proporsi frekuensi penyakit demam thypoid pada kelompok A & B. Sedangkan Rate dipergunakan untuk menyatakan frekuensi distribusi suatu penyakit atau suatu peristiwa yang terjadi pada msyarakat, misalnya jumlah kematian penduduk kota A disebabkan oleh Malaria adalah 20 orang per 1000 peduduk.
PENGUKURAN FREKUENSI PENYAKIT
1. Pengukuran Angka Kesakitan/Morbiditas
Pengukuran angka kesakitan lebih sulit dibandingkan dengan pengukuran angka kematian. Ada dua cara mengukur angka kesakitan pada masyarakat adalah :
a. Incidence Rate
Merupakan frekuensi baru yang berjangkit dimasyarakat disuatu tempat/wilayah/Negara pada waktu tertentu.
Jumlah orang yang menderita suatu
penyakit tertentu /kasus baru
Incidence Rate = x 1000
population tertular penyakit sama.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan perhitungan Incidence Rate suatu penyakit :
Time of onset
Yaitu hari /tanggal kejadian dari suatu kesakitan perlu diketahui dengan pasti, karena tidak semua jenis penyakit dapat mudah di diagnosis dengan cepat, seperti kanker baru dapat didiagnosis setelah pemriksaan cukup lama.
Periode of observation
Perhitungan dari Incidence Rate biasanya dilakukan dalam periode waktu satu tahun atau lebih, bila penyakit tejadi secara mendadak dan orang yang menderita dalam jumlah yang besr misalnya keracunan makanan, maka formula yang dipakai untuk menghitung angka kejadian penyakit tersebut adalah Attack Rate.
Jumlah orang yang sakit
Attack Rate = x 1000
Population at Risk
Penggunaan Denominator Person Year
Adalah jumlah orang yang mempunyai resiko yang diobservasi dalam bebrapa periode waktu tertentu, misalnya ten years study of the incidence of lung cancer, dimana ada 10 orang yang diobservasi setiap 3, 8 dan 10 tahun, maka denominatornya bukan 10 orang tetapi 21 orang.
Denominator
Jumlah populasi yang mempunyai resiko tidak selalu konstan dan tergantung dengan periode waktu observasi.
Numerator
Perlu diperhatikan apakah betul-betul kasus baru atua sebelumnya pernah menderita penyakit yang sama karena kejadian kesakitan dapat terjadi lebih dari satu kali pada orang yang sama dalam periode tertentu. Untuk membedakannya dapat dipakai formula :
Jumlah orang yang menderita penyakit (X)
Dalam periode waktu
population at risk 1 tahun
Jumlah seluruh kasus penyakit (X)
Dalam periode waktu
population at risk 1 tahun
b. Prevalence Rate
Merupakan frekuensi penyakit lama yang baru berjangkit dimasyarakat disuatu tempat pada waktu tertentu.
Jumlah orang yang menderita suatu penyakit
(kasus baru & lama pada suatu periode tertentu)
Prevalence Rate = x 1000
Population at Risk/penduduk yang mempunyai
resiko tertular penyakit sama
2. Pengukuran Angka Kematian/Mortalitas
1. Crude Death Rate
Merupakan angka kematian kasar atau jumlah seluruh kematian selama tahun berjalan dibagi jumlah penduduk pertengahan tahun atau midyear population disuatu tempat.
Angka CDR sangat tergantung dari sex dan umur. Bila lebih banyak usia lanjut, maka CDR akan lebih tinggi dan sebaliknya.
Total seluruh kematian selama tahun berjalan
CDR = x 1000
Total seluruh penduduk pertengahan tahun
2. Specific death Rate
Merupakan angka kematian yang ditujukan kepada penyebab kematian spesifik oleh penyakit tertentu dan biasanya dihubungkan dengan factor-faktor yang terdapat dimasyarakat seperti umur, sex, pekerjaan dan status social atau periode waktu seperti hari, minggu, bulan dan tahun.
Jumlah kematian(oleh sebab trtentu)
Dalam tahun berjalan
SDR(oleh sebab tertentu) = x 1000
Jumlah penduduk pertengahan tahun
KONSEP PENYAKIT MALARIA
1. PENGERTIAN
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk Malaria, dapat menyerang semua orang dari semua jenis umur, golongan dan jenis kelamin.
2. ETIOLOGI
Malaria pada manusia disebabkan oleh beberapa jenis Plasmodium yaitu Plasmodium Malariae, Plasmodium Vivax, Plasmodium Falciparum dan Plasmodium Ovale.
3. PATOFISIOLOGI
Seseorang dapat terkena malaria pada umumnya penularannya melalui gigitan nyamuk betina dari tribus Anopheles. Bila nyamuk anopheles menggigit penderita malaria, maka parasit akan ikut terhisap bersama darah penderita. Dalam tubuh nyamuk parasit tersebut akan berkembang dan bertambah banyak. Dalam beberapa hari bila nyamuk tersebut menggigit orang yang sehat, maka parasit tersebut akan ikut ditularkan ke orang tersebut. Parasit tersebut kemudian berkembang dan bertambah banyak dan menyerang Sel-Sel Darah Merah dan selang beberapa hari kemudian orang tersebut akan terkena malaria. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat juga ditularkan secara langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar darah yang mengandung malaria serta dari ibu hamil kepada bayinya.
4. GEJALA KLINIS
Secara klinis, gejala malaria infeksi tunggal pada pasien non imun terdiri atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu (paroksisme), yang diselingi oleh suatu periode (periode laten) bebas demam. Sebelum demam pasien biasanya merasa lemah, nyeri kepala, tidak ada nafsu makan, mual atau muntah.
Periode paroksisme terdiri dari tiga stadium yang berurutan yakni : stadium dingin (cold stage), stadium demam (hot stage) dan stadium berkeringat (sweating stage).
Stadium Dingin
Stadium ini diawali dengan gejala mengigil dan perasaan yang sangat dingin, gigi gemeretak dan pasien biasa menutupi tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut. Nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat atau sianosis, kulit kering dan pucat, pasien mungkin muntah dan pada anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit – 1 jam.
Stadium Demam
Pada stadium ini pasien merasa kepanasan, muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, nyeri kepala, sering kali terjadi mual dan muntah, nadi menjadi kuat lagi. Biasanya pasien menjadi haus dan suhu badan dapat meningkat sampai 41° C atau lebih. Ini berlangsung antara 2 – 12 jam. Demam disebab kan oleh pecahnya skozon dalam sel darah merah yang telah matang dan masuknya morosit darah kedalam aliran darah. Pada P. Vivax dan P. Ovale skizon dari setiap generasi menjadi matang setiap 48 jam sekali sehingga timbul demam setiap hari ke-3 terhitung dari serangan demam sebelumnya. Pada P. Malriae, demam terjadi pada 72 jam setiap hari ke-4 sehingga disebut malaria kuartana. Pada P. Falciparum setiap 24 – 48 jam.
Stadium Berkeringan
Pada stadium ini pasien berkeringant banyak sekali, tempat tidurnya basah, suhu badan menurun dengan cepat kadang-kadang sampai dibawah normal. Gejala di atas tidak selalu sama pada setiap pasien tergantung pada spesies parasit, berat infeksi dan umur pasien. Gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofozoid & skizon) untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh tertentu seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah organ-organ tubuh tersebut.
Pada penderita ,malaria berat masih ditambah lagi dengan gejala-gejala seperti : gangguan kesadaran, kejang-kejang, diare, bahkan sampai kehilangan kesadaran (coma).
5. PENATALAKSANAAN
Untuk pengobatan malaria dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu :
Pengobatan pencegahan untuk ibu hamil
Obat diminum selama kehamilan, seminggu sekali pada hari yang sama. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
Pengobatan penderita malaria klinis
Pengobatan diberikan satu kali pada setiap tersangka penderita setelah dibuat sediaan darahnya. Obat langsung diminum sesuai dosis. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
Pengobatan lanjutan
Pengobatan lanjutan diberikan kepada penderita yang ternyata sediaan darahnya positif dalam pemeriksaan. Obat diminum secara berturut-turut sesuai dosis. Tujuanpengobatan ini adalah untuk mengobati secara tuntas. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
Cara dan Takaran Pengobatan Malaria
Jenis Pengobatan Jenis Obat Jumlah tablet per hari/umur (thn)
0 – 1 1 – 4 5 – 9 10 –14 15 +
Pengobatan pencegahan Klorokuin untuk ibu hamil dosis tunggal seminggu sekali diminum pada hari yang sama mulai hamil 3 bulan sampai selesai
nifas.
Klorokuin untuk pencegahan perorangan diminum seminggu sekali mulai 1 minggu sebelum tiba didaerah malaria selama berada ditempat tersebut dan dilanjutkan selama 4 minggu setelah meninggalkan daerah malaria.
-
¼
-
½
-
1
-
1 ½
2
2
Pengobatan penderita malaria klinis
Klorokuin (Pf, Pv, Pm) dosis tunggal, 1 kali
Hari I :
Hari II :
Hari III :
½
½
¼
1
½
½
2
2
1
3
3
1½
3 – 4
3 – 4
1½ - 2
Pengobatan lanjutan
Klorokuin (Pf, Pv, Pm) dosis tunggal
Hari 1 dan 2 …………….
Hari 3 …………….
Primakuin, dosis tunggal
Hari 1 s/d 3
Untuk Pf ……………….
Hari 1 s/d 5
Untuk Pv dan Pm …….
½
¼
-
-
1
½
¼
¼
2
1
½
½
3
1½
¾
¾
3 – 4
2
1
1
Klorokuin tidak boleh diberikan dalam keadaan perut kosong
Pf : P.falciparum atau infeksi campuran.
Pv : P. vivax
Pm : P. malariae
1 tab. Klorokuin mengandung 150 mg basa; 1 tab. Primakuin mengandung 15 mg basa.
6. PENKES
Menganjurkan pada pasien/keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Menganjurkan pada pasien/keluarga agar tidur selalu memakai kelambu.
Menganjurkan pada pasien dan keluarga untuk melakukan penyemprotan secara rutin.
Menganjurkan pada pasien dan keluarga agar selalu menaburkan bubuk abate pada setiap bak penampung.
Memberitahukan pada pasien/keluarga untuk tidak mengecat tembok yang baru disemprot.
Menganjurkan pada pasien/keluarga untuk menghilangkan genangan air yang tidak perlu.
Menganjurkan pada pasien/keluarga agar segera memeriksakan darah bila habis bepergian ke daerah malaria dan bila ada tanda dan gejala.
Menganjurkan pada pasien/keluarga agar selalu menggunakan obat nyamuk oles pada siang hari.
Menganjurkan pada psien/keluarga untuk tidak memelihara ternak serumah dengan manusia.
Memberitahukan pada pasien/keluarga agar menghabiskan obat yang diberikan.
PELAKSANAAN SURVEILLANS EPIDEMIOLOGI
A. PENGUMPULAN DATA
B. SURVEILLANS EPIDEMIOLOGI
1. PENGERTIAN
Surveillans epidemiologi adalah pengamatan secara teratur dan terus menerus terhadap semua aspek penyakit tertentu, baik keadaan maupun penyebarannya dalam suatu kelompok penduduk tertentu untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangan.
2. TUJUAN
- Menggambarkan riwayat alamiah penyakit
- Sebagai deteksi untuk KLB
- Menggambarkan distribusi masalah kesehatan
3. MANFAAT
Memberikan kesempatan untuk mengenal kecenderungan penyakit menurut musim atau periode waktu tertentu, mengetahui daerah geografis dimana jumlah kasus/penularan meninggi atau menurun, serta berbagai kelompok resiko tinggi menurut umur, jenis kelamin, ras, agama, status social dan ekonomi serta pekerjaan (penyakit akibat kerja atua lingkungan kerja)
4. KOMPONEN SURVEILLANS EPIDEMIOLOGI
1. Pengumpulan data epidemiologi (secara terus menerus)
2. kompilasi, analisis dan interpretasi data.
3. penyebarluasan data hasil analisis interpretasi data..
PENUTUP
Dari uraian di atas ternyata bahwa penyakit malaria dapat merugikan kesehatan bahkan menimbulkan kematian. Namu demikian sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah dan ditanggulang.
Dalam upaya pencegahan dan pemberantasannya, perilaku masyarakat yang positif mempunyai peran yang sangat penting dan menentukan.
Oleh karena itu peran serta masyarakat dalam pemberantasan perlu dikembangkan terutama oleh masyarakat sendiri.
Mudah-mudahan dengan adanya makalah ini dapat terwujud masyarakat yang sehat, bebas dari ancaman malaria.
DAFTAR PUSTAKA
Tindakan Anti Larva, 5 ; Bakti Husada, 1991
Prof. Dr. Nur Nasry Noor, MPH. “pengantar epidemiologi penyakit menular”
Penerbit : Rineka Cipta, 1997.
Pedoman kegiatan kader, bakti Husada
Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus plasmodium. Malaria pada manusia disebabkan oleh Plasmodium Malariae, Plasmodium Vivax, Plasmodium Falciparum dan Plasmodium Ovale. Penularannya melalui nyamuk betina dari tribus Anopheles. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat juga ditularkan secara langsung melalui transfuse darah atau jarum suntik yang tercemar darah serta dari ibu hamil kepada bayinya.
A. MASA INKUBASI
Masa inkubsi adalah waktu mulai terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala klinis. Masa inkubasi bervariasi antara 9 – 30 hari, tergantung pada spesies parasit. Paling pendek pada P. Falciparum dan paling panjang pada P. Malariae. Masa inkubasi juga tergantung pada intensitas infeksi, pengobatan yang pernah didapat sebelumnya dan derajat imunitas pejamu. Pada malaria akibat transfuse darah, masa inkubasi P. Falciparum adalah 10 hari, P. Vivax 16 hari, P. Malariae 40 hari atau lebih setelah transfuse. Masa inkubasi secara alamiahnya :
- Plasmodium Falciparum = 12 hari
- Plasmodium Vivax = 13 - 17 hari
- Plasmodium Ovale = 13 – 17 hari
- Plasmodium Malriae = 28 – 30 hari
B. MASA PREPATEN
Masa prepaten adalah waktu antara terjadinya infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah.
Plasmodium
Periode pre-paten (hari)
Falciparum 11
Vivax 12,2
Ovale 12
Malariae 32,7
C. SERANGAN KLINIS PERTAMA
Secara klinis, gejala malaria infeksi tunggal pada pasien non imun terdiri atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu (paroksisme), yang diselingi oleh suatu periode (periode laten) bebas demam. Sebelum demam pasien biasanya merasa lemah, nyeri kepala, tidak ada nafsu makan, mual atau muntah.
Periode paroksisme terdiri dari tiga stadium yang berurutan yakni : stadium dingin (cold stage), stadium demam (hot stage) dan stadium berkeringat (sweating stage).
Stadium Dingin
Stadium ini diawali dengan gejala mengigil dan perasaan yang sangat dingin, gigi gemeretak dan pasien biasa menutupi tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut. Nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat atau sianosis, kulit kering dan pucat, pasien mungkin muntah dan pada anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit – 1 jam.
Stadium Demam
Pada stadium ini pasien merasa kepanasan, muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, nyeri kepala, sering kali terjadi mual dan muntah, nadi menjadi kuat lagi. Biasanya pasien menjadi haus dan suhu badan dapat meningkat sampai 41° C atau lebih. Ini berlangsung antara 2 – 12 jam. Demam disebab kan oleh pecahnya skozon dalam sel darah merah yang telah matang dan masuknya morosit darah kedalam aliran darah. Pada P. Vivax dan P. Ovale skizon dari setiap generasi menjadi matang setiap 48 jam sekali sehingga timbul demam setiap hari ke-3 terhitung dari serangan demam sebelumnya. Pada P. Malriae, demam terjadi pada 72 jam setiap hari ke-4 sehingga disebut malaria kuartana. Pada P. Falciparum setiap 24 – 48 jam.
Stadium Berkeringan
Pada stadium ini pasien berkeringant banyak sekali, tempat tidurnya basah, suhu badan menurun dengan cepat kadang-kadang sampai dibawah normal. Gejala di atas tidak selalu samam pada setiap pasien tergantung pada spesies parasit, berat infeksi dan umur pasien. Gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofozoid & skizon) untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh tertentu seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah organ-organ tubuh tersebut.
D. PERIODE LATEN KLINIS
Periode ini adalah periode tanpa gejala dan tanpa parasitemia selama terjadi infeksi malaria. Biasanya terjadi antara dua keadaan paroksismal. Periode laten dapat terjadi sebelum serangan primer atau pun sesudah serangan primer dimana parasit sudah tidak ada diperedaran darah tapi infeksi masih berlangsung.
E. RECRUDESCENSE
Berulangnya gejala klinik dan parasitemia dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan primer. Recrudescense dapat terjadi sesudah periode laten dari serangan primer.
F. RECURRENCE
Yaitu berulangnya gejala klinikatau parasitemia setelah 24 minggu berakhirnya serangan primer. Keadaan ini juga menerangkan apakah gejala klinik disebabkan oleh kehidupan parasit berasal dari bentuk diluar eritrosit (hipnozoit) atau parasit dari bentuk eritrositik.
G. RELAPS PARASIT
Ialah berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang lebih lama dari waktu diantara serangan periodic dari infeksi primer. Istilah replase dipakai untuk menyatakan berulangnya gejal klinik setelah periode yang lama dari masa laten, sampai lima tahun, biasanya terjadi karena infeksi tidak sembuh atau oleh bentuk diluar eritrosit (hati) pada malaria vivax atau ovale.
H. GAMBARAN MIKROSKOPIS
1. Pemeriksan hematology
Kadar hemoglobin menunjukkan adanya anemia dari derajat ringan sampai berat ( pada malaria kronis ), jumlah lekosit normal atau lekopenia, laju endap darah meningkat dan jumlah trombosit biasanya normal.
2. Pemeriksaan mikroskopis/ parasitologis
Mikroskopis sediaan darah tabel dan sediaan tipis merupakan pemeriksaan yang terpenting. Interpretasi pemeriksaan mikroskopis yang terbaik adalah berdasarkan hitung parasit dengan identifikasi parasit yang tepat.
Hitung parasit pada tetes tebal : dihitung berdasarkan leukosit (eritrosis sudah lisis), yaitu per 200 leukosit. Secara kasar pada pemeriksaan tetes darah tebal sering dilaporkan dengan kode plus 1(+) satu sampai dengan plus 4 (++++), yang artinya ialah ;
+ : 1 – 10 parasit per 100 lapang pandang
++ : 11 – 100 parasit per 100 lapang pandang
+++ : 1 – 10 parasit per 1 lapang pandang
++++ : > 10 parasit per 1 lapang pandang
Pada keadaan hiperparasitemia sering sulit dibedakan pada penandaan ++++ sebab dapat diartikan dari perhitungan 11 parasit per lapang pandang sampai ratusan ribu per lapang pandang. Olek karenanya dianjurkan pada pemeriksaan di RS harus selalau dilakukan hitung parasit, khususnya kasus dengan pemacaan ++++. Pada parasitemia yang tinggi dapat dipakai dapat hitung parasit berdasarkan jumlah eritrosit. Pembacaan dilakukan pada sediaan tipis malaria dan parasit Plasmodium ddihitung per 1000 eri atau 10.000 eritrosit. Bila dijumpai 2 plasmodium dalam satu eritrosit dihitung sebagai satu.
Contoh : Bila dijumpai 50 parasit/1000 eri = 5 %
Bila jumlah eri 4.500.000, maka hitung parasit/µL :
4.500.000 x 50 = 225.000 parasit/µL.
1000
3. Pemeriksaan Imunoserologis.
Pemeriksaan ini dianjurkan untuk melengkapi pemeriksaan mikroskopis atau sebagai konfirmasi jika identifikasi spesies parasit dengan pemeriksaan mikroskopis memberikan hasil yang meragukan atau jika secara klinis dan pemeriksaan klinis menunjukan tanda infeksi malaria tapi pemeriksaan mikroskopis negative.
4. Pemeriksaan Biokomiawi/Kimia Klinis
Pemeriksaan ini bukanlah pemeriksaan yang menentukan diagnosis tetapi harus tetap dilakukan untuk menunjang pemeriksaan yang lain karena penting untuk memantau perkembangan penyakit dan mendeteksi sedini mungkin adanya komplikasi. Pemeriksaan kimia klinis yang dianjurkan antara lain bilirubun, kreatinin, ureum, glukosa darah, urinalisis termasuk adanya hemoglobinuria dan faal koagulasi.
I. GAMBARAN KLINIS
Periode Dingin
a. Menggigil
b. Kulit dingin dan kering
c. Gigi-gigi saling terantuk
d. Pucat sampai sianosis
Periode Panas
e. Muka memerah
f. Kulit panas dan kering
g. Nadi cepat
h. Panas badan tinggi sampai 40°C atau >
i. Respirasi meningkat
j. Nyeri kepala, nyeri retro-orbital
k. Muntah-muntah, dapat terjadi shock (hipotensi)
l. Kesadaran delirium sampai terjadi kejang (anak)
Periode Berkeringat
m. Penderita berkeringat mulai dari temporal diikuti seluruh tubuh sampai basah, temperature turun
n. Penderita merasa capek dan sering tertidur.
RATE & RATIO :
Ratio disebut juga sebagai proporsi, dipergunakan untuk membandingkan frekuensi suatu penyakit pada dua kelompok indiviodu atau lebih, misalnya proporsi frekuensi penyakit demam thypoid pada kelompok A & B. Sedangkan Rate dipergunakan untuk menyatakan frekuensi distribusi suatu penyakit atau suatu peristiwa yang terjadi pada msyarakat, misalnya jumlah kematian penduduk kota A disebabkan oleh Malaria adalah 20 orang per 1000 peduduk.
PENGUKURAN FREKUENSI PENYAKIT
1. Pengukuran Angka Kesakitan/Morbiditas
Pengukuran angka kesakitan lebih sulit dibandingkan dengan pengukuran angka kematian. Ada dua cara mengukur angka kesakitan pada masyarakat adalah :
a. Incidence Rate
Merupakan frekuensi baru yang berjangkit dimasyarakat disuatu tempat/wilayah/Negara pada waktu tertentu.
Jumlah orang yang menderita suatu
penyakit tertentu /kasus baru
Incidence Rate = x 1000
population tertular penyakit sama.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan perhitungan Incidence Rate suatu penyakit :
Time of onset
Yaitu hari /tanggal kejadian dari suatu kesakitan perlu diketahui dengan pasti, karena tidak semua jenis penyakit dapat mudah di diagnosis dengan cepat, seperti kanker baru dapat didiagnosis setelah pemriksaan cukup lama.
Periode of observation
Perhitungan dari Incidence Rate biasanya dilakukan dalam periode waktu satu tahun atau lebih, bila penyakit tejadi secara mendadak dan orang yang menderita dalam jumlah yang besr misalnya keracunan makanan, maka formula yang dipakai untuk menghitung angka kejadian penyakit tersebut adalah Attack Rate.
Jumlah orang yang sakit
Attack Rate = x 1000
Population at Risk
Penggunaan Denominator Person Year
Adalah jumlah orang yang mempunyai resiko yang diobservasi dalam bebrapa periode waktu tertentu, misalnya ten years study of the incidence of lung cancer, dimana ada 10 orang yang diobservasi setiap 3, 8 dan 10 tahun, maka denominatornya bukan 10 orang tetapi 21 orang.
Denominator
Jumlah populasi yang mempunyai resiko tidak selalu konstan dan tergantung dengan periode waktu observasi.
Numerator
Perlu diperhatikan apakah betul-betul kasus baru atua sebelumnya pernah menderita penyakit yang sama karena kejadian kesakitan dapat terjadi lebih dari satu kali pada orang yang sama dalam periode tertentu. Untuk membedakannya dapat dipakai formula :
Jumlah orang yang menderita penyakit (X)
Dalam periode waktu
population at risk 1 tahun
Jumlah seluruh kasus penyakit (X)
Dalam periode waktu
population at risk 1 tahun
b. Prevalence Rate
Merupakan frekuensi penyakit lama yang baru berjangkit dimasyarakat disuatu tempat pada waktu tertentu.
Jumlah orang yang menderita suatu penyakit
(kasus baru & lama pada suatu periode tertentu)
Prevalence Rate = x 1000
Population at Risk/penduduk yang mempunyai
resiko tertular penyakit sama
2. Pengukuran Angka Kematian/Mortalitas
1. Crude Death Rate
Merupakan angka kematian kasar atau jumlah seluruh kematian selama tahun berjalan dibagi jumlah penduduk pertengahan tahun atau midyear population disuatu tempat.
Angka CDR sangat tergantung dari sex dan umur. Bila lebih banyak usia lanjut, maka CDR akan lebih tinggi dan sebaliknya.
Total seluruh kematian selama tahun berjalan
CDR = x 1000
Total seluruh penduduk pertengahan tahun
2. Specific death Rate
Merupakan angka kematian yang ditujukan kepada penyebab kematian spesifik oleh penyakit tertentu dan biasanya dihubungkan dengan factor-faktor yang terdapat dimasyarakat seperti umur, sex, pekerjaan dan status social atau periode waktu seperti hari, minggu, bulan dan tahun.
Jumlah kematian(oleh sebab trtentu)
Dalam tahun berjalan
SDR(oleh sebab tertentu) = x 1000
Jumlah penduduk pertengahan tahun
KONSEP PENYAKIT MALARIA
1. PENGERTIAN
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk Malaria, dapat menyerang semua orang dari semua jenis umur, golongan dan jenis kelamin.
2. ETIOLOGI
Malaria pada manusia disebabkan oleh beberapa jenis Plasmodium yaitu Plasmodium Malariae, Plasmodium Vivax, Plasmodium Falciparum dan Plasmodium Ovale.
3. PATOFISIOLOGI
Seseorang dapat terkena malaria pada umumnya penularannya melalui gigitan nyamuk betina dari tribus Anopheles. Bila nyamuk anopheles menggigit penderita malaria, maka parasit akan ikut terhisap bersama darah penderita. Dalam tubuh nyamuk parasit tersebut akan berkembang dan bertambah banyak. Dalam beberapa hari bila nyamuk tersebut menggigit orang yang sehat, maka parasit tersebut akan ikut ditularkan ke orang tersebut. Parasit tersebut kemudian berkembang dan bertambah banyak dan menyerang Sel-Sel Darah Merah dan selang beberapa hari kemudian orang tersebut akan terkena malaria. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat juga ditularkan secara langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar darah yang mengandung malaria serta dari ibu hamil kepada bayinya.
4. GEJALA KLINIS
Secara klinis, gejala malaria infeksi tunggal pada pasien non imun terdiri atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu (paroksisme), yang diselingi oleh suatu periode (periode laten) bebas demam. Sebelum demam pasien biasanya merasa lemah, nyeri kepala, tidak ada nafsu makan, mual atau muntah.
Periode paroksisme terdiri dari tiga stadium yang berurutan yakni : stadium dingin (cold stage), stadium demam (hot stage) dan stadium berkeringat (sweating stage).
Stadium Dingin
Stadium ini diawali dengan gejala mengigil dan perasaan yang sangat dingin, gigi gemeretak dan pasien biasa menutupi tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut. Nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat atau sianosis, kulit kering dan pucat, pasien mungkin muntah dan pada anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit – 1 jam.
Stadium Demam
Pada stadium ini pasien merasa kepanasan, muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, nyeri kepala, sering kali terjadi mual dan muntah, nadi menjadi kuat lagi. Biasanya pasien menjadi haus dan suhu badan dapat meningkat sampai 41° C atau lebih. Ini berlangsung antara 2 – 12 jam. Demam disebab kan oleh pecahnya skozon dalam sel darah merah yang telah matang dan masuknya morosit darah kedalam aliran darah. Pada P. Vivax dan P. Ovale skizon dari setiap generasi menjadi matang setiap 48 jam sekali sehingga timbul demam setiap hari ke-3 terhitung dari serangan demam sebelumnya. Pada P. Malriae, demam terjadi pada 72 jam setiap hari ke-4 sehingga disebut malaria kuartana. Pada P. Falciparum setiap 24 – 48 jam.
Stadium Berkeringan
Pada stadium ini pasien berkeringant banyak sekali, tempat tidurnya basah, suhu badan menurun dengan cepat kadang-kadang sampai dibawah normal. Gejala di atas tidak selalu sama pada setiap pasien tergantung pada spesies parasit, berat infeksi dan umur pasien. Gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofozoid & skizon) untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh tertentu seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah organ-organ tubuh tersebut.
Pada penderita ,malaria berat masih ditambah lagi dengan gejala-gejala seperti : gangguan kesadaran, kejang-kejang, diare, bahkan sampai kehilangan kesadaran (coma).
5. PENATALAKSANAAN
Untuk pengobatan malaria dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu :
Pengobatan pencegahan untuk ibu hamil
Obat diminum selama kehamilan, seminggu sekali pada hari yang sama. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
Pengobatan penderita malaria klinis
Pengobatan diberikan satu kali pada setiap tersangka penderita setelah dibuat sediaan darahnya. Obat langsung diminum sesuai dosis. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
Pengobatan lanjutan
Pengobatan lanjutan diberikan kepada penderita yang ternyata sediaan darahnya positif dalam pemeriksaan. Obat diminum secara berturut-turut sesuai dosis. Tujuanpengobatan ini adalah untuk mengobati secara tuntas. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
Cara dan Takaran Pengobatan Malaria
Jenis Pengobatan Jenis Obat Jumlah tablet per hari/umur (thn)
0 – 1 1 – 4 5 – 9 10 –14 15 +
Pengobatan pencegahan Klorokuin untuk ibu hamil dosis tunggal seminggu sekali diminum pada hari yang sama mulai hamil 3 bulan sampai selesai
nifas.
Klorokuin untuk pencegahan perorangan diminum seminggu sekali mulai 1 minggu sebelum tiba didaerah malaria selama berada ditempat tersebut dan dilanjutkan selama 4 minggu setelah meninggalkan daerah malaria.
-
¼
-
½
-
1
-
1 ½
2
2
Pengobatan penderita malaria klinis
Klorokuin (Pf, Pv, Pm) dosis tunggal, 1 kali
Hari I :
Hari II :
Hari III :
½
½
¼
1
½
½
2
2
1
3
3
1½
3 – 4
3 – 4
1½ - 2
Pengobatan lanjutan
Klorokuin (Pf, Pv, Pm) dosis tunggal
Hari 1 dan 2 …………….
Hari 3 …………….
Primakuin, dosis tunggal
Hari 1 s/d 3
Untuk Pf ……………….
Hari 1 s/d 5
Untuk Pv dan Pm …….
½
¼
-
-
1
½
¼
¼
2
1
½
½
3
1½
¾
¾
3 – 4
2
1
1
Klorokuin tidak boleh diberikan dalam keadaan perut kosong
Pf : P.falciparum atau infeksi campuran.
Pv : P. vivax
Pm : P. malariae
1 tab. Klorokuin mengandung 150 mg basa; 1 tab. Primakuin mengandung 15 mg basa.
6. PENKES
Menganjurkan pada pasien/keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Menganjurkan pada pasien/keluarga agar tidur selalu memakai kelambu.
Menganjurkan pada pasien dan keluarga untuk melakukan penyemprotan secara rutin.
Menganjurkan pada pasien dan keluarga agar selalu menaburkan bubuk abate pada setiap bak penampung.
Memberitahukan pada pasien/keluarga untuk tidak mengecat tembok yang baru disemprot.
Menganjurkan pada pasien/keluarga untuk menghilangkan genangan air yang tidak perlu.
Menganjurkan pada pasien/keluarga agar segera memeriksakan darah bila habis bepergian ke daerah malaria dan bila ada tanda dan gejala.
Menganjurkan pada pasien/keluarga agar selalu menggunakan obat nyamuk oles pada siang hari.
Menganjurkan pada psien/keluarga untuk tidak memelihara ternak serumah dengan manusia.
Memberitahukan pada pasien/keluarga agar menghabiskan obat yang diberikan.
PELAKSANAAN SURVEILLANS EPIDEMIOLOGI
A. PENGUMPULAN DATA
B. SURVEILLANS EPIDEMIOLOGI
1. PENGERTIAN
Surveillans epidemiologi adalah pengamatan secara teratur dan terus menerus terhadap semua aspek penyakit tertentu, baik keadaan maupun penyebarannya dalam suatu kelompok penduduk tertentu untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangan.
2. TUJUAN
- Menggambarkan riwayat alamiah penyakit
- Sebagai deteksi untuk KLB
- Menggambarkan distribusi masalah kesehatan
3. MANFAAT
Memberikan kesempatan untuk mengenal kecenderungan penyakit menurut musim atau periode waktu tertentu, mengetahui daerah geografis dimana jumlah kasus/penularan meninggi atau menurun, serta berbagai kelompok resiko tinggi menurut umur, jenis kelamin, ras, agama, status social dan ekonomi serta pekerjaan (penyakit akibat kerja atua lingkungan kerja)
4. KOMPONEN SURVEILLANS EPIDEMIOLOGI
1. Pengumpulan data epidemiologi (secara terus menerus)
2. kompilasi, analisis dan interpretasi data.
3. penyebarluasan data hasil analisis interpretasi data..
PENUTUP
Dari uraian di atas ternyata bahwa penyakit malaria dapat merugikan kesehatan bahkan menimbulkan kematian. Namu demikian sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah dan ditanggulang.
Dalam upaya pencegahan dan pemberantasannya, perilaku masyarakat yang positif mempunyai peran yang sangat penting dan menentukan.
Oleh karena itu peran serta masyarakat dalam pemberantasan perlu dikembangkan terutama oleh masyarakat sendiri.
Mudah-mudahan dengan adanya makalah ini dapat terwujud masyarakat yang sehat, bebas dari ancaman malaria.
DAFTAR PUSTAKA
Tindakan Anti Larva, 5 ; Bakti Husada, 1991
Prof. Dr. Nur Nasry Noor, MPH. “pengantar epidemiologi penyakit menular”
Penerbit : Rineka Cipta, 1997.
Pedoman kegiatan kader, bakti Husada
STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIPETIROIDISME
STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN HIPETIROIDISME
A. PENGERTIAN
Hipertiroidisme adalah suatu sindrom yang disebabkan oleh peningkatan produksi hormon tiroid yang disebabkan karena autoninun pada penyakit graves, virus, hiperplansia, genetik, neoplastik, atau karena penyakit sistim akut. Faktor pencetusnya adalah keadaan yang menegangkan seperti operasi, infeksi, trauma, atau penyakit akut kardiovaskuler.
B. PATOFISIOLOGI
Hiperplansia kelenjar tiroid disebabkan oleh meningkatnya produksi hormon tiroid, hormon tersebut merangsang mitokondria yang meningkatnya energi untuk aktifitas sel dan produksi panas. Hal ini menimbulkan terjadinya peningkatan metabolisme, peningkatan pemenuhan persediaan lemak dan meningkatnya nafsu makan serta pemasukan makanan, akibatnya curah jantung meningkat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan yang meningkat dan vasadilatasi perifer yang akan meningkatkan produksi panas. Dalam sistim neurovasculer keadaan fiperaktif ini, akan menekan reflkes, dan kondisi kecamasan akan meningkatkan aktifitas saluran pencernaan. Hipartiroid dapat disebabkan karena peradangan, penyinaran tiroid atau adanya kerusakan jaringan tiroid oleh tumor.
C. TANDA DAN GEJALA
Dalam keadaan ringan ditandai dengan sakit yang serius dan akan hilang dengan spontan dalam beberapa bulan / tahun. Bila tidak diobati pasien akan menjadi kurus, gelisa dan delirium, disorientasi dan akhirnya menjadi gagal jantung gejala yang paling sering timbul pada saat permulaan adalah : Gelisah, hiperaktif, lekas marah, kuatir, tak dapat duduk dengan tenang, denyut jantung cepat saat istirahat maupun beraktifitas, tidak tahan panas, banyak berkiringat dengan ciri kulit berwarna salun, hangat dan lembab, termor pada tangan serta eksoptalmus. Gejala lain yang timbul adalah meningkatnya nafsu makan, kehilangan berat badan secara dratis, otot lemah, amenorea, dan gangguan pola BAB, diare atau konstipasi.
D. ASUHAN KEPERAWATAN
I. Pengkajian
a. Data Subjektif
Neurologi : Ansomia, diplopia, sakit kepala, kelemahan otot, sangat lemah . Kardiovasculer : Palpitasi dan banyak keringat.
Saluran pencernaan : Kehilangan berat badan, peningkatan nafsu makan, diare, mual, sakit perut, tidak ada nafsu makan, sakit perut hebat.
Metabolik : Banyak keringat, peka terhadap panas, meningkatnya toleransi terhadap rasa dingin.
Seksual / Reproduksi : Oligomenorea, amenore libido menurun, menurunnya kesuburan.
b. Data Objektif
Neurologi : Aritable, tremo, emosi labil, kelemahan otot atropi, refkles tendon dalam dan cepat bingung atau disorientasi, apatis, stuporl delirium dan koma.
Mata : Mata besar dan menonjol keluar, edema periorbital, termo kelopa mata, lemah atau kelumpuhan otot ekstrakuler
Kardiovasculer : Nadi cepat dan tak teratur, tekanan nadi kuat, edema, mur mur sistolik jantung banyak keringat, tahikardiat atrial febrilasi, nadi lemah hipotensi.
Pernapasan : Dispnea, frekwensi pernapasan meningkat dan dalam, edema pulmonal.
Saluran pencernaan : Berat badan menurun diare, bising usus hiperaktif, muntah terus menerus hepatomegali.
Metabolik : Banyak keringat, kelenjar tiroid membesar, bruit arteri kalenjar tiroid.
Kulit : Kulit lembut, hangat dan lembab, berkeringat kemerahan, hiperpigmentasi, rambut tipis.
Seksual / Reproduksi : Ginekomastia.
c. Data Laboratorium
Peningkatan T3 dan T4, TSH menurun.
II. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan proses berpikir berhubungan dengan peningkatan stimulasi sistim sarat simpatetik oleh kadar hormon tiroid yang tinggi.
Hasil yang diharapkan :
Pasien dapat berorentasi penuh, dapat merespon dengan tepat terhadap situasi dan orang, dapat menggunakan tekni untuk mengurangi stres.
Intervensi :
• Kaji tingkat kesadaran, orentasi, efek dan persepsi tiap 4 – 8 jam, informasi perubahan perubahan yang negatif.
• Diskusikan perasaan dan respon terhadap situasi serta beri dukungan yang tepat.
• Ciptakan ketenangan lingkungan ( Tidak bising, batasi pengunjung mencegah situasi emosional ).
• Rencanakan dan jelaskan asuhan dengan jelas dan tepat.
• Antisipasi kebutuhan untuk mencegah reaksi heperaktif.
• Informasikan kepada pasien tentang aktifitas apa saja yang dibatasi.
• Anjurkan tekni mengurangi stres dan informasikan kapan penggunaannya.
• Orentasikan pasien terhadap lingkungan waktu dan orang ( Jam, kalender, gambar keluarga ).
2. Aktifitas intoleransi berhubungan dengan kurang suplai O2 akibat meningkatnya metabolisme.
Hasil Yang diharapkan :
Seluruh aktifitas dapat dilaksanakan sedikit / tampa bantuan.
Intervensi :
• Kaji tanda vital tanda fital dan tingkat aktifitas
• Batasi tingkat aktifitas pasien sesuai toleransi
• Atur waktu istirahan yang cukup.
• Jangan lanjutkan aktifitas bila ada tanda tidak toleransi misalnya dispnea takikardi atau kelelahan.
• Bantau pasien untuk beraktifitas bila tidak dapat melakukan sendiri karena tremor atau kelemahan.
• Rencanakan aktifitas sehari hari dan pola tidurnya.
3. Gangguan pola tidur berhubungan agitasi akibat peningkatan metabolisme.
Hasil yang diharapkan :
Pasien mempunyai pola tidur yang normal dan pasien mengungkapkan rasa puas beristirahat.
Intervensi :
• Kaji pola tidur dan aktifitas masa lalu dan saat ini
• Tanyakan bantuan yang dibutuhkan untuk pengantara tidur ( air hangat, gosok punggung dengar musik dll ).
• Diskusikan bantuan / pengantar tidur yang lain misalnya tekni relaksasi.
• Bantu pasien untuk menetapkan pola aktifitas fisik yang teratur, kurangi aktifitas yang merangsang sebelum tidur.
• Usahakan lingkungan yang mendukung untuk tidur, kurangi cahaya lampu, tutup pintu ruangan, pelihara ketenangan dan jaga privasi.
• Hindari gangguan selama tidur
• Bila mungkin rencanakan pengobatan dan pemberian obat obat pada siang dan sore hari.
• Kaji aktifitas tidur .
4. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare, mual, sakit perut.
Hasil yang diharapkan :
Pemasukan dan pengeluaran seimbang berat badan meningkat menjadi normal
Intervensi :
• Pantau pemasukan diet untum menambah kalori Karbohidrat dan Vit. B
• Makan porsi kecil dan sering sesuai kebutuhan kalori pasien.
• Konsultasi makanan yang dibutuhkan pasien.
• Hindari minuman yang merangsang seperti kopi, teh, cola atau yang dapat meningkatkan peristatik usus.
• Masukan cairan 2 – 3 liter / sehari, hindari juce yang menyebabkan diare.
• Timbang berat badan setiap hari.
• Kaji efektifitas pengobatan untuk mual dan sakit perut.
TIROIDEKTOMI
A. PENGERTIAN
Tiroidektomi adalh operasi mengangkat sebagian atau semua sel tiroid, tindakan ini dilakukan untuk merangsang kelenjar tiroid yang membesar dan menekan struktur jaringan disekitarnya. Biasanya dilakukan pada pasien yang tidak berespon terhadap antibiotika atau pasien yang alergi terhadap obat obatan anti tiroid dan pada pada wanita hamil.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
Sebelum Operasi :
a. Data subyektif :
• Kwalitas suara dan kemampuan menelan mengalami perubahan.
• Pengertian tentang penjelasan dokter mengenai prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan.
• Pengertian tentang bagaimana mencegah ketegangan luka sayatan.
• Penertian tentang tidak boleh berbicara pada periode sesudah operasi untuk mencegah edema.
• Pengertian tentang cara berkomunikasi sesudah operasi ( Sediakan buku catatatan pasien )
• Penertian tentang cara mengatasi rasa sakit dan penggunaan ukuran skala sakit.
b. Data Objektif :
• Tanda vital
• Perubahan kwalitas suara dan kemampuan menelan
Sesudah operasi
a. Data subjektif
• Gejala hipokalsemia : Mati rasa, perasaan geli, kekakuan otot, spasme dan tetanus
• Luka sayatan sakit dan bengkak, perdarahan.
• Jalan napas merasa sesak susah menelan dan otot leher terasa tertarik.
b. Data objektif
• Suara parau.
• Perubahan pada tekanan dan puncak suara.
• Hipokalsemia.
• Luka sayatan waran kemarahan, tanda tanda peradangan, bengkak, perdarahan.
• Jalan napas : Pernapasan stedor, retroksi otot lehen dan sianosis.
Diagnosa Keperawatan.
Sebelum Operasi :
1. Potensial perubahan pengurangan cardiak output berhubungan dengan peningkatan metabolisme dan peningkatan kerja jantung.
Hasil yang diharapkan :
• Kerbutuhan cardiak output terpenuhi sesuai kebuthan tubuh.
• Kerja jantung normal.
Intervensi
• Memberikan ketenangan lingkungan dan mengurangi terjadinya kegelisahan / stres.
• Terapi : ketegangan dari luar dapat meningkatkan metabolisme dan kerja jantung.
• Meningkatkan intake makanan dengan memberi makanan sesering mungkin walaupun sedikit sedikit.
• Terapi : untuk memenuhi kebutuhan kalori dan mencegah kekurangan glycogen.
• Membatasi makanan atau minuman yang mengandung kafein.
• Terapi : efek dari kafein menyebabkan peningkatan metabolisme.
Sesudah Operasi.
1. Potensial tidak efektifnya pembersihan jalan napas berhubungan dengan perdarahan dan edema laring.
Hasil yang diharapkan :
• Pernapasan dan suara napas dalan batas normal.
• Tidak ada perdaran pada luka operasi.
Intervensi
• Monitor irama pernapasan kedalan dan kerja penapasan.
Terapi pernapasan terlihat cepat menyebabkan susah napas karena terjadi obstruksi.
• Auskultasi bunyi napas apakah tidak terjadi ronchi.
• Terapi ronchi merupakan indikasi obstruksi jalan napas.
• Perkirakan adanya dyspnea, stridor, crowing dan syanosis.
Terapi indikasi obstruksi trakhea / spasme laring, diperlukan interfensi dan efaluasi yang cepat.
• Mengatur posisi tidur 30 – 40 derjat.
Terapi fasilitas pernapasan batas edema area pembedahan dan kemungkinan pengumpulan sekret kembali tenggorokan.
• Mengatur posisi latihan napas dalam bila adanya batuk.
Terapi mengatur membersihkan jalan napas dan fentilasi, walaupun batuk tampak timbulnya nyeri tetapi mengeluarkan sekret.
• Section mulut dan trakhea indikasi kareteristik sputum.
Terapi melancarkan jalan napas.
• Menyakan kesulitan menelan dan mengeluarkan air liur dalam mulut
Terapi indikasi adanya edema / perdarahan pada jaringan tempat operasi.
• Menyiapkan uap air untuk membantu pernapasan .
Terapi membantu mengeluarkan sekret dan melegahkan tenggorokan.
• Bantu dengan membuat tracheatomy
Terapi untuk membantu pernapasan bila ada obstraksi karena edema atau perdarahan.
2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan pita suara / saraf laring, odema jaringan dan nyeri.
Hasil yang diharapkan :
• Menggunakan cara berkomunikasi alternatif selama 48 jam operasi
• Dapat berkomunikasi verbal tampa perubahan suara
Intervensi :
• Kaji kemampuan berbicara anjurkan untuk istirahat berbicara.
Terapi Parau dan luka pada tenggorokan menyebabkan pembekakan jaringan atau kerusakan area operasi yang menyebabkan kerusakan saraf laring.
• Menjaga komunikasi singkat dengan jawaban atas pertanyaan ya / tidak
Terapi mengurangi tuntutan terhadap respon jangan terlalu mengeluarkan suara
• Antisipasi diperlukan mungkin frekwensi bertemu pasien.
Terapi mengurangi keinginan atau kebutuhan pasien untuk
berbicara
• Anjurkan pasien untuk membatasi bersuara bila ingin memanggil dengan menekan bel.
Terapi mencegah ketegangan suara.
• Memelihara keadaan lingkungan.
Terapi lingkungan yang tenang mempelancar komunikasi tampa mengeluarkan suara yang keras.
3. Nyeri akut berhubungan dengan adanya luka operasi
Hasil yang diharapkan.
• Mengungkapkan perasaan nyaman dan tidak nyeri.
• Expresi wajah dan tubuh tampak rileks.
Intervensi
• Kaji keluhan verbal / non verbal dari nyeri dengan skala ( 1 – 10 ) kehebatan dan lamanya.
Terapi memudahkan evaluasi nyeri dan menentukan intervensi dan pengobatan yang efektif.
• Mengatur posisi semi fowler, suprot kepala / leher dengan bantal.
Terapi cegah hyperekstensi leher dan melindungi keutuhan luka operasi.
• Memberikan cairan dingin lewat mulut dan memberikan makan lunak seperti es crim.
Terapi menyejukan luka ditenggorokan dan mengurangi rasa
sakit.
• Anjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi.
Terapi membantu mengurangi nyeri.
• Kolaborasi untuk pemerian analgesik sesuai dosis terapi.
Terapi memblok nyeri yang timbul
PASIEN DENGAN HIPETIROIDISME
A. PENGERTIAN
Hipertiroidisme adalah suatu sindrom yang disebabkan oleh peningkatan produksi hormon tiroid yang disebabkan karena autoninun pada penyakit graves, virus, hiperplansia, genetik, neoplastik, atau karena penyakit sistim akut. Faktor pencetusnya adalah keadaan yang menegangkan seperti operasi, infeksi, trauma, atau penyakit akut kardiovaskuler.
B. PATOFISIOLOGI
Hiperplansia kelenjar tiroid disebabkan oleh meningkatnya produksi hormon tiroid, hormon tersebut merangsang mitokondria yang meningkatnya energi untuk aktifitas sel dan produksi panas. Hal ini menimbulkan terjadinya peningkatan metabolisme, peningkatan pemenuhan persediaan lemak dan meningkatnya nafsu makan serta pemasukan makanan, akibatnya curah jantung meningkat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan yang meningkat dan vasadilatasi perifer yang akan meningkatkan produksi panas. Dalam sistim neurovasculer keadaan fiperaktif ini, akan menekan reflkes, dan kondisi kecamasan akan meningkatkan aktifitas saluran pencernaan. Hipartiroid dapat disebabkan karena peradangan, penyinaran tiroid atau adanya kerusakan jaringan tiroid oleh tumor.
C. TANDA DAN GEJALA
Dalam keadaan ringan ditandai dengan sakit yang serius dan akan hilang dengan spontan dalam beberapa bulan / tahun. Bila tidak diobati pasien akan menjadi kurus, gelisa dan delirium, disorientasi dan akhirnya menjadi gagal jantung gejala yang paling sering timbul pada saat permulaan adalah : Gelisah, hiperaktif, lekas marah, kuatir, tak dapat duduk dengan tenang, denyut jantung cepat saat istirahat maupun beraktifitas, tidak tahan panas, banyak berkiringat dengan ciri kulit berwarna salun, hangat dan lembab, termor pada tangan serta eksoptalmus. Gejala lain yang timbul adalah meningkatnya nafsu makan, kehilangan berat badan secara dratis, otot lemah, amenorea, dan gangguan pola BAB, diare atau konstipasi.
D. ASUHAN KEPERAWATAN
I. Pengkajian
a. Data Subjektif
Neurologi : Ansomia, diplopia, sakit kepala, kelemahan otot, sangat lemah . Kardiovasculer : Palpitasi dan banyak keringat.
Saluran pencernaan : Kehilangan berat badan, peningkatan nafsu makan, diare, mual, sakit perut, tidak ada nafsu makan, sakit perut hebat.
Metabolik : Banyak keringat, peka terhadap panas, meningkatnya toleransi terhadap rasa dingin.
Seksual / Reproduksi : Oligomenorea, amenore libido menurun, menurunnya kesuburan.
b. Data Objektif
Neurologi : Aritable, tremo, emosi labil, kelemahan otot atropi, refkles tendon dalam dan cepat bingung atau disorientasi, apatis, stuporl delirium dan koma.
Mata : Mata besar dan menonjol keluar, edema periorbital, termo kelopa mata, lemah atau kelumpuhan otot ekstrakuler
Kardiovasculer : Nadi cepat dan tak teratur, tekanan nadi kuat, edema, mur mur sistolik jantung banyak keringat, tahikardiat atrial febrilasi, nadi lemah hipotensi.
Pernapasan : Dispnea, frekwensi pernapasan meningkat dan dalam, edema pulmonal.
Saluran pencernaan : Berat badan menurun diare, bising usus hiperaktif, muntah terus menerus hepatomegali.
Metabolik : Banyak keringat, kelenjar tiroid membesar, bruit arteri kalenjar tiroid.
Kulit : Kulit lembut, hangat dan lembab, berkeringat kemerahan, hiperpigmentasi, rambut tipis.
Seksual / Reproduksi : Ginekomastia.
c. Data Laboratorium
Peningkatan T3 dan T4, TSH menurun.
II. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan proses berpikir berhubungan dengan peningkatan stimulasi sistim sarat simpatetik oleh kadar hormon tiroid yang tinggi.
Hasil yang diharapkan :
Pasien dapat berorentasi penuh, dapat merespon dengan tepat terhadap situasi dan orang, dapat menggunakan tekni untuk mengurangi stres.
Intervensi :
• Kaji tingkat kesadaran, orentasi, efek dan persepsi tiap 4 – 8 jam, informasi perubahan perubahan yang negatif.
• Diskusikan perasaan dan respon terhadap situasi serta beri dukungan yang tepat.
• Ciptakan ketenangan lingkungan ( Tidak bising, batasi pengunjung mencegah situasi emosional ).
• Rencanakan dan jelaskan asuhan dengan jelas dan tepat.
• Antisipasi kebutuhan untuk mencegah reaksi heperaktif.
• Informasikan kepada pasien tentang aktifitas apa saja yang dibatasi.
• Anjurkan tekni mengurangi stres dan informasikan kapan penggunaannya.
• Orentasikan pasien terhadap lingkungan waktu dan orang ( Jam, kalender, gambar keluarga ).
2. Aktifitas intoleransi berhubungan dengan kurang suplai O2 akibat meningkatnya metabolisme.
Hasil Yang diharapkan :
Seluruh aktifitas dapat dilaksanakan sedikit / tampa bantuan.
Intervensi :
• Kaji tanda vital tanda fital dan tingkat aktifitas
• Batasi tingkat aktifitas pasien sesuai toleransi
• Atur waktu istirahan yang cukup.
• Jangan lanjutkan aktifitas bila ada tanda tidak toleransi misalnya dispnea takikardi atau kelelahan.
• Bantau pasien untuk beraktifitas bila tidak dapat melakukan sendiri karena tremor atau kelemahan.
• Rencanakan aktifitas sehari hari dan pola tidurnya.
3. Gangguan pola tidur berhubungan agitasi akibat peningkatan metabolisme.
Hasil yang diharapkan :
Pasien mempunyai pola tidur yang normal dan pasien mengungkapkan rasa puas beristirahat.
Intervensi :
• Kaji pola tidur dan aktifitas masa lalu dan saat ini
• Tanyakan bantuan yang dibutuhkan untuk pengantara tidur ( air hangat, gosok punggung dengar musik dll ).
• Diskusikan bantuan / pengantar tidur yang lain misalnya tekni relaksasi.
• Bantu pasien untuk menetapkan pola aktifitas fisik yang teratur, kurangi aktifitas yang merangsang sebelum tidur.
• Usahakan lingkungan yang mendukung untuk tidur, kurangi cahaya lampu, tutup pintu ruangan, pelihara ketenangan dan jaga privasi.
• Hindari gangguan selama tidur
• Bila mungkin rencanakan pengobatan dan pemberian obat obat pada siang dan sore hari.
• Kaji aktifitas tidur .
4. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare, mual, sakit perut.
Hasil yang diharapkan :
Pemasukan dan pengeluaran seimbang berat badan meningkat menjadi normal
Intervensi :
• Pantau pemasukan diet untum menambah kalori Karbohidrat dan Vit. B
• Makan porsi kecil dan sering sesuai kebutuhan kalori pasien.
• Konsultasi makanan yang dibutuhkan pasien.
• Hindari minuman yang merangsang seperti kopi, teh, cola atau yang dapat meningkatkan peristatik usus.
• Masukan cairan 2 – 3 liter / sehari, hindari juce yang menyebabkan diare.
• Timbang berat badan setiap hari.
• Kaji efektifitas pengobatan untuk mual dan sakit perut.
TIROIDEKTOMI
A. PENGERTIAN
Tiroidektomi adalh operasi mengangkat sebagian atau semua sel tiroid, tindakan ini dilakukan untuk merangsang kelenjar tiroid yang membesar dan menekan struktur jaringan disekitarnya. Biasanya dilakukan pada pasien yang tidak berespon terhadap antibiotika atau pasien yang alergi terhadap obat obatan anti tiroid dan pada pada wanita hamil.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
Sebelum Operasi :
a. Data subyektif :
• Kwalitas suara dan kemampuan menelan mengalami perubahan.
• Pengertian tentang penjelasan dokter mengenai prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan.
• Pengertian tentang bagaimana mencegah ketegangan luka sayatan.
• Penertian tentang tidak boleh berbicara pada periode sesudah operasi untuk mencegah edema.
• Pengertian tentang cara berkomunikasi sesudah operasi ( Sediakan buku catatatan pasien )
• Penertian tentang cara mengatasi rasa sakit dan penggunaan ukuran skala sakit.
b. Data Objektif :
• Tanda vital
• Perubahan kwalitas suara dan kemampuan menelan
Sesudah operasi
a. Data subjektif
• Gejala hipokalsemia : Mati rasa, perasaan geli, kekakuan otot, spasme dan tetanus
• Luka sayatan sakit dan bengkak, perdarahan.
• Jalan napas merasa sesak susah menelan dan otot leher terasa tertarik.
b. Data objektif
• Suara parau.
• Perubahan pada tekanan dan puncak suara.
• Hipokalsemia.
• Luka sayatan waran kemarahan, tanda tanda peradangan, bengkak, perdarahan.
• Jalan napas : Pernapasan stedor, retroksi otot lehen dan sianosis.
Diagnosa Keperawatan.
Sebelum Operasi :
1. Potensial perubahan pengurangan cardiak output berhubungan dengan peningkatan metabolisme dan peningkatan kerja jantung.
Hasil yang diharapkan :
• Kerbutuhan cardiak output terpenuhi sesuai kebuthan tubuh.
• Kerja jantung normal.
Intervensi
• Memberikan ketenangan lingkungan dan mengurangi terjadinya kegelisahan / stres.
• Terapi : ketegangan dari luar dapat meningkatkan metabolisme dan kerja jantung.
• Meningkatkan intake makanan dengan memberi makanan sesering mungkin walaupun sedikit sedikit.
• Terapi : untuk memenuhi kebutuhan kalori dan mencegah kekurangan glycogen.
• Membatasi makanan atau minuman yang mengandung kafein.
• Terapi : efek dari kafein menyebabkan peningkatan metabolisme.
Sesudah Operasi.
1. Potensial tidak efektifnya pembersihan jalan napas berhubungan dengan perdarahan dan edema laring.
Hasil yang diharapkan :
• Pernapasan dan suara napas dalan batas normal.
• Tidak ada perdaran pada luka operasi.
Intervensi
• Monitor irama pernapasan kedalan dan kerja penapasan.
Terapi pernapasan terlihat cepat menyebabkan susah napas karena terjadi obstruksi.
• Auskultasi bunyi napas apakah tidak terjadi ronchi.
• Terapi ronchi merupakan indikasi obstruksi jalan napas.
• Perkirakan adanya dyspnea, stridor, crowing dan syanosis.
Terapi indikasi obstruksi trakhea / spasme laring, diperlukan interfensi dan efaluasi yang cepat.
• Mengatur posisi tidur 30 – 40 derjat.
Terapi fasilitas pernapasan batas edema area pembedahan dan kemungkinan pengumpulan sekret kembali tenggorokan.
• Mengatur posisi latihan napas dalam bila adanya batuk.
Terapi mengatur membersihkan jalan napas dan fentilasi, walaupun batuk tampak timbulnya nyeri tetapi mengeluarkan sekret.
• Section mulut dan trakhea indikasi kareteristik sputum.
Terapi melancarkan jalan napas.
• Menyakan kesulitan menelan dan mengeluarkan air liur dalam mulut
Terapi indikasi adanya edema / perdarahan pada jaringan tempat operasi.
• Menyiapkan uap air untuk membantu pernapasan .
Terapi membantu mengeluarkan sekret dan melegahkan tenggorokan.
• Bantu dengan membuat tracheatomy
Terapi untuk membantu pernapasan bila ada obstraksi karena edema atau perdarahan.
2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan pita suara / saraf laring, odema jaringan dan nyeri.
Hasil yang diharapkan :
• Menggunakan cara berkomunikasi alternatif selama 48 jam operasi
• Dapat berkomunikasi verbal tampa perubahan suara
Intervensi :
• Kaji kemampuan berbicara anjurkan untuk istirahat berbicara.
Terapi Parau dan luka pada tenggorokan menyebabkan pembekakan jaringan atau kerusakan area operasi yang menyebabkan kerusakan saraf laring.
• Menjaga komunikasi singkat dengan jawaban atas pertanyaan ya / tidak
Terapi mengurangi tuntutan terhadap respon jangan terlalu mengeluarkan suara
• Antisipasi diperlukan mungkin frekwensi bertemu pasien.
Terapi mengurangi keinginan atau kebutuhan pasien untuk
berbicara
• Anjurkan pasien untuk membatasi bersuara bila ingin memanggil dengan menekan bel.
Terapi mencegah ketegangan suara.
• Memelihara keadaan lingkungan.
Terapi lingkungan yang tenang mempelancar komunikasi tampa mengeluarkan suara yang keras.
3. Nyeri akut berhubungan dengan adanya luka operasi
Hasil yang diharapkan.
• Mengungkapkan perasaan nyaman dan tidak nyeri.
• Expresi wajah dan tubuh tampak rileks.
Intervensi
• Kaji keluhan verbal / non verbal dari nyeri dengan skala ( 1 – 10 ) kehebatan dan lamanya.
Terapi memudahkan evaluasi nyeri dan menentukan intervensi dan pengobatan yang efektif.
• Mengatur posisi semi fowler, suprot kepala / leher dengan bantal.
Terapi cegah hyperekstensi leher dan melindungi keutuhan luka operasi.
• Memberikan cairan dingin lewat mulut dan memberikan makan lunak seperti es crim.
Terapi menyejukan luka ditenggorokan dan mengurangi rasa
sakit.
• Anjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi.
Terapi membantu mengurangi nyeri.
• Kolaborasi untuk pemerian analgesik sesuai dosis terapi.
Terapi memblok nyeri yang timbul
ANEMIA DEFISIENSI BESI
ANEMIA DEFISIENSI BESI.
A. PENGERTIAN.
Anemia defisiensi besi adalah suatu keadaan anemia yang disebabkan karena kurangnya penyerapan sat besi, perdarahan, trauma, meningkatnya kebutuhan sat yang tidak sesuai dengan pemasukan (Becher : 1993).
Pada keadaaan normal jumlah sat besi dalam tubuh berkisar antara 3-5 gram, tergantung dari jenis kelamin, berat badan. Hb dalam tubuh berkisar antara 1,5-3,0 gr dan sisanya terdapat dalam plasma jaringan (soeparman : 1998). Jumlah sat besi yang dibutuhkan setiap hari tergantung dari umur, jenis kelamin dan berat badan serta asupan nutrisi yang diperoleh dari sayur-sayuran, telur dan daging yang berserat merah. Laki-laki dewasa memerlukan sat besi 1-2 mg setiap hari, anak dalam masa pertumbuhan memerlukan sat besi 1,5-2,5 mg/hr. wanita pasca menopause dan wanita yang sedang menstruasi membutuhkan sat besi 2-2,5 mg/hr dan wanita hamil dan menyusui membutuhkan sat besi 3-4 mg/hr.
B. ETILOGI.
Penyebab anemia defisiensi besi meliputi :
a. Gangguan penyerapan misalnya setelah dilakukan gastrektomi.
b. Perdarahan misalnya :
Menorrhagia (menstruasi yang berlebihan).
Perdarahan pada saluran gastrointestinal akibat terjadinya ulcerasi pada duodenum.
Perdarahan pada saluran pernapasan akibat batuk darah yang lama.
c. Trauma.
d. Kebutuhan sat besi yang tidak terpenuhi.
e. Meningkatnya kebutuhan besi pada ibu hamil.
C. PATHOFISIOLOGI.
Pada keadaaan anemia defisiensi besi yang diakibatkan gangguan penyerapan, perdarahan, trauma, sat besi yang tidak terpenuhi serta meningkatnya kebutuhan sat besi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak menyebabkan level Hb menurun. Penurunan level Hb ini juga diakibatkan eritrosit yang berukuran kecil serta warna yang pucat (anemia Hipomikrositik).
Anemia defisiensi besi dibagi dalam tiga bagian yaitu :
Fase 1.
Persediaan sat besi dalam tubuh yang digunakan untuk eritropoisis habis. Jika sat besi yang digunakan dalam tubuh melebihi sat besi yang masuk maka tubuh akan menggunakan sat besi cadangan yang terdapat dalam sum-sum tulang, hati dan limpa.
Fase 2.
Terjadinya defisiensi besi yang ditransfer ke sum-sum tulang yang mengakibatkan ganggua eritropoisis yang merupakan awal terjadinya anemia. Dimana sel darah merah yang diproduksi berkurang.
Fase 3.
Jumlah sel darah merah yang sudah menurun mengakibatkan sum-sum tulang terpaksa akan menghasilkan sel darah merah yang ukurannya kecil dan Hbnya rendah. Sel-sel dengan defisiensi Hb ini akan masuk ke dalam sirkulasi dalam jumlah yang besar dan menggantikan eritrosit yang normal untuk proses sirkulasi. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan transport besi yang menyebabkan Hb menurun dan akan terjadi anemia defisiensi besi.
D. MANIFESTASI KLINIK.
Manifestasi klinik yang terjadi secara umum pada klien dengan anemia adalah cepat lelah, letih, jantung berdebar-debar, sakit kepala, lesu, mata berkunang-kunang, susah berkonsentrasi, anoreksia dan gangguan penglihatan
Manifestasi khusus pada klien dengan anemia defisiensi besi yaitu kelelahan, pucat pada wajah, telapak tangan, konjungtiva, sensitive dengan udara dingin, bentuk kuku seperti sendok.
E. STUDI DIAGNOSTIC.
Pemeriksaaan diagnostic yang biasa dilakukan pada klien dengan enemia yaitu: pemeriksaan hapusan darah tepi yakni akan ditemukan :
Hb kurang dari 3,6 gr/dl.
Eritrosit yang ditemukan kurang dari 3 juta gr/dl.
Hematokrit pada laki-laki kurang dari 47 mg/dl dan wanita kurang dari 42 mg/dl.
Serum sat besi kurang dari 10 mg/dl
F. MANAGEMENT MEDIK.
a. Management Umum.
Pemberian diit terutama makanan denga tinggi sat besi yaitu : daging yang berserat merah, sayur bayam, hati, wortel dan kuning telur.
b. Management pengobatan.
Garam besi diberikan 3 x 200 mg diberikan secara oral maupun parenteral dan dapat pula dikombinasikan dengan Vit. C, efek sampingnya feses berwarna hitam, terjadi konstipasi dan bisa juga terjadi diare.
Iron dekstron dapat diberikan secara IM dengan efek sampingnya sakit pada daerah suntukan, jika diberikan secara IV dapat terjadi shock dan trpmboplebitis.
Terapi transfuse sampai kadar Hb kembali normal.
G. MANAGEMENT KEPERAWATAN.
1. Pengkajian.
a) Anamnese yang meliputi pengkanjian pola makan klien sehari-hari, factor pencetus, jenis makanan yang dimakan setiap hari dan kaji kebiasaan pasien selama di RS.
b) Persepsi sensori.
Pusing, sakit kepala, mati rasa, geli pada tungkai dan lengan, lelah dan sensitive terhadap udara dingin.
c) Status mental : terjadi iritabilitas, perubahan konsentrasi.
d) Kulit dan kuku : terjadi penurunan turgor dan kuku berbentuk sendok.
e) Nutrisi dan metabolic : terjadi penurunan nafsu makan, penurunan BB, nausea dan vomiting.
f) Fungsi gastrointestinal : terjadi perdarahan pada lambung, stomatitis, lidah licin selain itu juga akan ditemukan konjungtiva anemic, wajah dan telapak tangan pucat, akral dingin.
2. Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa Keperawatan yang mungkin akan ditemukan pada pasien dengan anemia adalah sebagai berikut :
a) Perubahan persepsi sensori b.d hipoksia system saraf yang ditandai dengan mengeluh pusing, mati rasa, kelelahan pada tungkai dan lengan menurunnya konsentrasi dan sensitive terhadap dingin.
b) Kelelahan b.d menurunnya kadar oksigen pada jaringan yang ditandai dengan mengeluh cepat lelah saat beraktifitas, takikardia dan pernapsan cepat dan dangkal.
c) Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang inadekuat yang ditandai dengan klien mengeluh tidak ada nafsu makan, mual dan muntah.
d) Aktivitas intoleransi b.d kelemahan fisik yang ditandai dengan pasien lemas, cepat lelah bila beraktivitas.
3. Perencanaan.
a) Untuk diagnosa I.
Goal : pasien akan menampakkan peningkatan fungsi system persepsi sensori.
Objektif :tidak terjadi pusing, mati rasa dan klien mengatakan dapat berkativitas dengan baik.
Intervensi :
Observasi ketat tanda-tanda terjadinya hipoksia. R/ antisipasi dini terjadinya hipoksia jaringan.
Atur lingkungan yang nyaman. R/mengurangi stressor.
Bantu pasien untuk beraktivitas. R/ Mengurangi terjadinya injuri.
Kolaborasi pemberian obat-obatan
b) Diagnosa II.
Goal : pasiena akan memiliki energi yang adekuat untuk melakukan aktivitas.
Objektif : kelelahan berkurang.
Intervensi :
Bantu pasien untuk membuat jadual pembagian waktu untuk beraktivitas dan beristirahat. R/ mengurangi beban kerja jantung.
Monitor nadi dan pernapasan. R/ mengidentifikasi dini terjadinya tanda-tanda distress cardipulmonal.
Jelaskan padan pasien dan keluarga tentang diit tinggi besi. R/ memenuhi kebutuhan klien akan sat besi dan mengurangi kelelahan.
Kolaborasi pemberian terapi obat-obatan
c) Diagnosa III.
Goal : pasien akan mempertahankan intake nutrisi yang adekuat selama dalam perawatan.
Objektif : tidak tejadi mual muntah dan nafsu makan membaik
Intervensi :
Anjurkan klien untuk makan makanan tinggi sat besi. R/ memenuhi kebutuhan klien akan sat besi.
Anjurkan klien untuk makan dengan porsi kecil tapi sering. R/ mengurangi resiko mual dan muntah.
Anjurkan keluarga untuk memberikan makanan yang disukai klien. R/ merangsang nafsu makan klien.
Observasi adanya kesulitan menelan. R/ menentukan perlu tidaknya merubah diit.
d) Diagnosa V.
Goal : pasien akan melakukan aktivitasnya sendiri tanpa bantuan.
Objektif : pasien dapat melakukan aktivitasnya sendiri tanpa bantuan orang lain tanpa ada kelelahan.
Intervensi :
Tempatkan barang-barang ditempat yang mudah dijangkau oleh klien. R/ membantu pasien untuk tidak terlalu banyak bergerak.
Anjurkan keluarga untuk membantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. R/ mengurangi resiko terjadinya injury.
Anjurkan klien untuk bangun perlahan-lahan dari tempat tidur. R/ menghindari terjadinya pusing.
4. Evaluasi.
Pasien dapat merubah posisi dan ambulansi di tempat tidur tanpa merasa pusing, tidak ada keluhan rasa lelah jika beraktivitaa, tidak ada keluhan sakit kepala.
Pasien memiliki energi yang cukup dan kelelahan berkurang.
Dapat melakukan aktivitas secara mandiri tanpa bantuan orang lain.
Nutrisi pasien terpenuhi dan BB dalam batasan yang normal.
Keadaan kulit kembali utuh rambut dan kuku kuat dan bentuk kuku normal kembali.
Daftar Pustaka.
Belcher, E. Anne (1993) : “Blood Disorders”. Mosby Year Book, St Louis.
Doenges E. Marylin et all (2000) : “Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien”. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Junaidi dkk (1991) : “Kapita Selekta Kedokteran : Media Aesklupius”. Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta.
Price A. S. (1995) : “Patofisologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
A. PENGERTIAN.
Anemia defisiensi besi adalah suatu keadaan anemia yang disebabkan karena kurangnya penyerapan sat besi, perdarahan, trauma, meningkatnya kebutuhan sat yang tidak sesuai dengan pemasukan (Becher : 1993).
Pada keadaaan normal jumlah sat besi dalam tubuh berkisar antara 3-5 gram, tergantung dari jenis kelamin, berat badan. Hb dalam tubuh berkisar antara 1,5-3,0 gr dan sisanya terdapat dalam plasma jaringan (soeparman : 1998). Jumlah sat besi yang dibutuhkan setiap hari tergantung dari umur, jenis kelamin dan berat badan serta asupan nutrisi yang diperoleh dari sayur-sayuran, telur dan daging yang berserat merah. Laki-laki dewasa memerlukan sat besi 1-2 mg setiap hari, anak dalam masa pertumbuhan memerlukan sat besi 1,5-2,5 mg/hr. wanita pasca menopause dan wanita yang sedang menstruasi membutuhkan sat besi 2-2,5 mg/hr dan wanita hamil dan menyusui membutuhkan sat besi 3-4 mg/hr.
B. ETILOGI.
Penyebab anemia defisiensi besi meliputi :
a. Gangguan penyerapan misalnya setelah dilakukan gastrektomi.
b. Perdarahan misalnya :
Menorrhagia (menstruasi yang berlebihan).
Perdarahan pada saluran gastrointestinal akibat terjadinya ulcerasi pada duodenum.
Perdarahan pada saluran pernapasan akibat batuk darah yang lama.
c. Trauma.
d. Kebutuhan sat besi yang tidak terpenuhi.
e. Meningkatnya kebutuhan besi pada ibu hamil.
C. PATHOFISIOLOGI.
Pada keadaaan anemia defisiensi besi yang diakibatkan gangguan penyerapan, perdarahan, trauma, sat besi yang tidak terpenuhi serta meningkatnya kebutuhan sat besi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak menyebabkan level Hb menurun. Penurunan level Hb ini juga diakibatkan eritrosit yang berukuran kecil serta warna yang pucat (anemia Hipomikrositik).
Anemia defisiensi besi dibagi dalam tiga bagian yaitu :
Fase 1.
Persediaan sat besi dalam tubuh yang digunakan untuk eritropoisis habis. Jika sat besi yang digunakan dalam tubuh melebihi sat besi yang masuk maka tubuh akan menggunakan sat besi cadangan yang terdapat dalam sum-sum tulang, hati dan limpa.
Fase 2.
Terjadinya defisiensi besi yang ditransfer ke sum-sum tulang yang mengakibatkan ganggua eritropoisis yang merupakan awal terjadinya anemia. Dimana sel darah merah yang diproduksi berkurang.
Fase 3.
Jumlah sel darah merah yang sudah menurun mengakibatkan sum-sum tulang terpaksa akan menghasilkan sel darah merah yang ukurannya kecil dan Hbnya rendah. Sel-sel dengan defisiensi Hb ini akan masuk ke dalam sirkulasi dalam jumlah yang besar dan menggantikan eritrosit yang normal untuk proses sirkulasi. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan transport besi yang menyebabkan Hb menurun dan akan terjadi anemia defisiensi besi.
D. MANIFESTASI KLINIK.
Manifestasi klinik yang terjadi secara umum pada klien dengan anemia adalah cepat lelah, letih, jantung berdebar-debar, sakit kepala, lesu, mata berkunang-kunang, susah berkonsentrasi, anoreksia dan gangguan penglihatan
Manifestasi khusus pada klien dengan anemia defisiensi besi yaitu kelelahan, pucat pada wajah, telapak tangan, konjungtiva, sensitive dengan udara dingin, bentuk kuku seperti sendok.
E. STUDI DIAGNOSTIC.
Pemeriksaaan diagnostic yang biasa dilakukan pada klien dengan enemia yaitu: pemeriksaan hapusan darah tepi yakni akan ditemukan :
Hb kurang dari 3,6 gr/dl.
Eritrosit yang ditemukan kurang dari 3 juta gr/dl.
Hematokrit pada laki-laki kurang dari 47 mg/dl dan wanita kurang dari 42 mg/dl.
Serum sat besi kurang dari 10 mg/dl
F. MANAGEMENT MEDIK.
a. Management Umum.
Pemberian diit terutama makanan denga tinggi sat besi yaitu : daging yang berserat merah, sayur bayam, hati, wortel dan kuning telur.
b. Management pengobatan.
Garam besi diberikan 3 x 200 mg diberikan secara oral maupun parenteral dan dapat pula dikombinasikan dengan Vit. C, efek sampingnya feses berwarna hitam, terjadi konstipasi dan bisa juga terjadi diare.
Iron dekstron dapat diberikan secara IM dengan efek sampingnya sakit pada daerah suntukan, jika diberikan secara IV dapat terjadi shock dan trpmboplebitis.
Terapi transfuse sampai kadar Hb kembali normal.
G. MANAGEMENT KEPERAWATAN.
1. Pengkajian.
a) Anamnese yang meliputi pengkanjian pola makan klien sehari-hari, factor pencetus, jenis makanan yang dimakan setiap hari dan kaji kebiasaan pasien selama di RS.
b) Persepsi sensori.
Pusing, sakit kepala, mati rasa, geli pada tungkai dan lengan, lelah dan sensitive terhadap udara dingin.
c) Status mental : terjadi iritabilitas, perubahan konsentrasi.
d) Kulit dan kuku : terjadi penurunan turgor dan kuku berbentuk sendok.
e) Nutrisi dan metabolic : terjadi penurunan nafsu makan, penurunan BB, nausea dan vomiting.
f) Fungsi gastrointestinal : terjadi perdarahan pada lambung, stomatitis, lidah licin selain itu juga akan ditemukan konjungtiva anemic, wajah dan telapak tangan pucat, akral dingin.
2. Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa Keperawatan yang mungkin akan ditemukan pada pasien dengan anemia adalah sebagai berikut :
a) Perubahan persepsi sensori b.d hipoksia system saraf yang ditandai dengan mengeluh pusing, mati rasa, kelelahan pada tungkai dan lengan menurunnya konsentrasi dan sensitive terhadap dingin.
b) Kelelahan b.d menurunnya kadar oksigen pada jaringan yang ditandai dengan mengeluh cepat lelah saat beraktifitas, takikardia dan pernapsan cepat dan dangkal.
c) Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang inadekuat yang ditandai dengan klien mengeluh tidak ada nafsu makan, mual dan muntah.
d) Aktivitas intoleransi b.d kelemahan fisik yang ditandai dengan pasien lemas, cepat lelah bila beraktivitas.
3. Perencanaan.
a) Untuk diagnosa I.
Goal : pasien akan menampakkan peningkatan fungsi system persepsi sensori.
Objektif :tidak terjadi pusing, mati rasa dan klien mengatakan dapat berkativitas dengan baik.
Intervensi :
Observasi ketat tanda-tanda terjadinya hipoksia. R/ antisipasi dini terjadinya hipoksia jaringan.
Atur lingkungan yang nyaman. R/mengurangi stressor.
Bantu pasien untuk beraktivitas. R/ Mengurangi terjadinya injuri.
Kolaborasi pemberian obat-obatan
b) Diagnosa II.
Goal : pasiena akan memiliki energi yang adekuat untuk melakukan aktivitas.
Objektif : kelelahan berkurang.
Intervensi :
Bantu pasien untuk membuat jadual pembagian waktu untuk beraktivitas dan beristirahat. R/ mengurangi beban kerja jantung.
Monitor nadi dan pernapasan. R/ mengidentifikasi dini terjadinya tanda-tanda distress cardipulmonal.
Jelaskan padan pasien dan keluarga tentang diit tinggi besi. R/ memenuhi kebutuhan klien akan sat besi dan mengurangi kelelahan.
Kolaborasi pemberian terapi obat-obatan
c) Diagnosa III.
Goal : pasien akan mempertahankan intake nutrisi yang adekuat selama dalam perawatan.
Objektif : tidak tejadi mual muntah dan nafsu makan membaik
Intervensi :
Anjurkan klien untuk makan makanan tinggi sat besi. R/ memenuhi kebutuhan klien akan sat besi.
Anjurkan klien untuk makan dengan porsi kecil tapi sering. R/ mengurangi resiko mual dan muntah.
Anjurkan keluarga untuk memberikan makanan yang disukai klien. R/ merangsang nafsu makan klien.
Observasi adanya kesulitan menelan. R/ menentukan perlu tidaknya merubah diit.
d) Diagnosa V.
Goal : pasien akan melakukan aktivitasnya sendiri tanpa bantuan.
Objektif : pasien dapat melakukan aktivitasnya sendiri tanpa bantuan orang lain tanpa ada kelelahan.
Intervensi :
Tempatkan barang-barang ditempat yang mudah dijangkau oleh klien. R/ membantu pasien untuk tidak terlalu banyak bergerak.
Anjurkan keluarga untuk membantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. R/ mengurangi resiko terjadinya injury.
Anjurkan klien untuk bangun perlahan-lahan dari tempat tidur. R/ menghindari terjadinya pusing.
4. Evaluasi.
Pasien dapat merubah posisi dan ambulansi di tempat tidur tanpa merasa pusing, tidak ada keluhan rasa lelah jika beraktivitaa, tidak ada keluhan sakit kepala.
Pasien memiliki energi yang cukup dan kelelahan berkurang.
Dapat melakukan aktivitas secara mandiri tanpa bantuan orang lain.
Nutrisi pasien terpenuhi dan BB dalam batasan yang normal.
Keadaan kulit kembali utuh rambut dan kuku kuat dan bentuk kuku normal kembali.
Daftar Pustaka.
Belcher, E. Anne (1993) : “Blood Disorders”. Mosby Year Book, St Louis.
Doenges E. Marylin et all (2000) : “Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien”. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Junaidi dkk (1991) : “Kapita Selekta Kedokteran : Media Aesklupius”. Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta.
Price A. S. (1995) : “Patofisologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PANKREATITIS KRONIK
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PANKREATITIS KRONIK
A. PENGERTIAN
Pankreatitis kronik adalah kerusakan yang permanen dan progresif pada pankreas dimana jaringan yang normal diganti oleh jaringan fibrosis. Penyakit pankreatitis kronik dapat juga berkaitan dengan insufisiensi kronik dari hormon pankreas. (Phipps, dkk ; 1995 : 1378).
Pankreatitis kronik adalah kelaianan inflamasi yang ditandai oleh kehancuran anatomis dan fungsional yang progresif pada pankreas. (Brunner dan Suddarth; 2000 : 1348).
B. ETIOLOGI
Penyebab utama pankreatitis kronik pada oranmg dewasa dalah alkoholisme.
Pada anak – anak dihubungkan dengan styptic fibrosis.
Penyebab lain : trauma, pembedahan lambung atau pankreasn neoplasma pada pankreas, duodenum serta malnutrisi protein dan kalor yang berat.
C. PATHOFISIOLOGI
Pathofisiologi pankreatitis kronik sama dengan pankreatitis akut. Namun lebih jelasnya dapat dilihat pada skema berikut :
D. GEJALA KLINIS PANKREATITIS KRONIK
Nyeri terjadi pada kuadran kanan atau kiri atas, belakang dan sepanjang abdomen. Nyeri hebat dan menetap. Sedangkan tanda lain dapat dilihat pada skema diatas.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Leukositosis, bilirubin dan alkalifosfate tinggi jika ada obstruksi.
Tes cairan bikarbonat.
Tes bentiromide merupakan tes indirect terhadap sekresi kapasitas pankreas.
Tes urine.
X – ray.
USG.
CT – scan abdomen.
ERCP.
F. MANAJEMEN MEDIK
Sama dengan manajemen medik pada pankreatitis akut, namun penanganan nyeri lebih diutamakan atau didahulukan. Therapinya meliputi :
1. Obat – obatan untuk menghilangkan nyeri : narkotik analgesik, jika therapi ini tidak berhasil maka dilakukan ERCP.
2. Obat – obatan yang digunakan adalah untuk menurunkan sekresi eksokrin pankreas : somastostatin, antibiotika prophylactic system, inhibitor phospholipase alfa, dan bisa juga dilakukan bilas peritoneal untuk menghilangkan toksin, kimia atau cegah komplikasi.
3. Infus dan cairan untuk mempertahankan cairan dalam tubuh.
G. MANAJEMEM KEPERAWATAN
Untuk pasien dengan pankreatitis kronik pengkajian sama seperti yang digambarkan pada pankreattitis akut. Dalam hal ini diagnosa keperatawan, kriteri evaluasi dan intervensinya sama. Tetapi untuk pasien dengan pankreatitis kronik mempunyai 4 diagnosa utama yang merupakan fokus dari doagnosa keperawatan. Fokus utama keperawatan pada pasien pankreatitis kronik adalah nyeri. Ini memerlukan pengontrolan nyeri yang adekuat dan pemberian analgesik merupakan pilihan utama. Sedangkan tindakan alternatif lainnnya adalah dilakukan relaksasi atau masase, hindari alkohol, dapat membantu mengontrol nyeri.
H. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
• Riwayat : mungkin mempunyai masalah penyalahgunaan alkohol atau penyakit batu empedu.
• Nyeri lokasi : klien mengeluh nyeri daerah epigastrik yang menyebar ke belakang, nyeri abdomen kuadran atas atau nyeri perut menyeluruh, yang menggambarkan nyeri menetap dan menembus. Derajat beratnya didapat dari distress yang ringan sampai nyeri berat kemungkinan mengeluh serangan nyeri setelah makan yang banyak (pankreatitis batu empedu) atau minum minuman kera (pankreatitis akibat alkohol). Dapat mengambil posisi duduk dan posisi bersandar ke depan untuk mengurangi nyeri, ekspresi wajah mungkin menunjukan nyeri serta gelisah.
• Gastrointestinal : mengeluh mual dan muntah, bunyi usus besar mungkin hipoaktif, abdomen membesar.
• TTV : demam, takikardia, takipnea, hipotensi.
• Balance cairan dan elektreolit : terjadi penurunan turgor kulit, oliguria, membran mukosa kering, pusing, lemah, bingung, kram di kaki dan tangan, hiponatremia, hipokalemia.
b. Diagnosa
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi pankreas.
DS : pasien mengeluh nyeri abdomen menetap bagian atas / umum dan menyebar ke belakang.
DO : ekspresi wajah menunjukan nyeri, duduk dan bersandar ke depan, abdomen terasa lembut.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d nausea, muntah, malabsorpsi.
DS : anoreksia rasa mual dan muntah.
DO : gambaran mukosa kering, kulit kering, keriput, rambut rontok, BAB dengan faeses bercampur lemak, lesu.
3. Inefektif koping individu b.d alkohol abuse
DS : pasien mengatakan selalu mengkonsumsi alkohol.
DO : kesulitan menyampaikan tujuan yang tepat, riwayat pemakai alkohol, menyangkal ada hubungan antara intake alkohol dengan penyakitnya.
c. Perencanaan
Tujuan
Dx. 1 : Pasien akan bebas dari nyeri dan merasa nyaman yang ditandai dengan pasien mengatakan nyeri dapat diatasi, ekspresi wajah tidak menunjukan nyeri, palapsi abdomen menunjukan tidak ada keluhan nyeri, pasien tidak membutuhkan analgesik.
Dx. 2 : Pasien akan mempertahankan pola nutrisi yang adsekuat yang ditandai dengan pasien menunjukan tidak ada mual muntah saat makan, tidak mengalami steatore, berat badan kembali normal.
dx. 3 : Pasien akan membentuk strategi yang efektif untuk koping stress dan penyakitnya yang ditandai dengan pasien dapat mengidentifikasi kebutuhannya dalam mengurangi konsumsi alkohol yang berlebihan.
d. Implementasi
DX. 1
Monitor terhadap meningkatnya nyeri yang hebat dan respon terhadap analgesik.
R/ Nyeri yang hebat menunjukan adanya komplikasi.
Beri analgesik seperti meperidine (demerol) sesuai order dan kebutuhan.
R/ Nyeri yang hebat memerlukan narkotik meperidine yang banyak mengandung morfin dimana menyebabkan spasme jaringan.
Pertahankan status NPO sampai nyeri berkurang. Masukan selang NGT sesuai order, pertahnkan posisinya.
R/ Pemberian nutrisi per oral merangsang sekresi pankreatik yang menyebabkan injuri pada pankreatik. Suction NTG untuk mengurangi drainase gastrik ke dalam duodenum, mengurangi stimulus pada sekresi pankreatik.
Beri somatostatin sesuai order.
R/ Somatostatin mengurangi sekresi pankreati dan membantu mengatasi injuri.
DX. 2
Monitor BB pasien intake nutrisi dan indikator dari perubahan status nutrisi.
R/ Memberitahu secara tepat mengenai kurang nutrisi untuk mempermudah intervensi selanjutnya.
Bila pasien kembali makan melalui mulut, kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet TKTP.
R/ Mempertahankan BB dan keseimbangan nitrogen positif dan meningkatkan kesehatan.
Untuk pasien yang pankreatitis kronik observasi tanda insufisiensi eksokrin (misalnya penurunan BB, steatore).
R/ Pankreatitis kronik disebabkan oleh penurunan fungsi kelenjar eksokrin yang diakibatkan oleh penurunan produksi enzim.
Beri enzim eksogenous pankreatik sesuai order.
R/ Enzim eksogenous dibutuhkan untuk pencernaan nutrisi bila penyakit mengganggu eksokrin pankreas.
Monitor kadar glukosa darah, dan beri insulin sesuai order.
R/ Produksi insulin dapat berkurang pada pasien pankreatitis kronik, eksogenous insulin dibutuhkan untuk meningkatkan metabolisme glukosa dan mencegah gangguan metabolisme.
DX. 3
Beri informasi tentang hubungan antara intake alkohol yang berlebihan dan pankreatitis.
R/ Pasien dapat membuat keputusan tentang intake alkohol yang terus menerus.
Memberikan konseling.
R/ Pemberian konseling membantu pasien mengekspresikan perasaannya tentang identifikasi dan pokok persoalan, pertimbangkan pilihan yang ada hubungan dengan pokok persoalan.
Rujuk pasien ke kelompok yang membantu memberi dukungan seperti anti alkohol.
R/ Partisipasi keluarga dapat membantu pasien mengurangi rasa terisolasi.
e. Evaluasi
Pasien menunjukan tidak ada nyeri abdomen.
Pasien dapat mempertahankan BB yang ideal.
Pasien dapat menentukan strategi yang efektif untuk koping terhadap stressor dan penyakitnya.
I. PENDIDIKAN KESEHATAN
Jelaskan penyebab pankreatitis pada pasien dan tindakan untuk mengurangi resiko terserang kembali.
Tekankan pentingnya diet rendah lemak, menghindari makan makanan yang banyak dan menghindari alkohol.
Biarkan pasien dan keluarga untuk mendiskusikan masalah mereka serta berikan penyuluhan dukungan emosional.
PENUTUP
Kesimpulan
Pankreatitis kronik adalah kelainan inflamasi yang ditandai oleh kehancuran anatomi dan fungsional yang progresif pada pankreas.
Adapun penyebab yang menimbulkan terjadinya pankreatitis kronik : konsumsi alkohol yang berlebihan khususnya pada orang dewasa dan pada anak – anak dihubungkan dengan styptic fibrosis serta penyebab lainnya adalah trauma, pembedahan lambung taau pankreas, neoplasam pada pankreas, duodenum serta malnutrisi protein dan kalori yang berat. Inflamasi ini menyebabkan nyeri yang hebat di daerah abdomen bagian atas kiri atau kanan, belakang atau seluruh abdomen.
Untuk mengurangi nyeri dianjurkan kepada paisen dan keluarga pentingnya menghindari konsumsi alkohol serta makan lain yang oleh pasien sendiri dirasakan cenderung menimbulkan nyeri dan gangguan rasa nyaman pada abdomen.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth, 2000, “ Keperawatan Medikal Bedah “, EGC:Jakarta
Dorothy B. Daugty, 1997, “ Gastrointestinal Disorder “, Mosby Year Book : Toronto
Phipps, dkk, 1995, “ Medical surgical Nursing “, ed. 4 th , Mosby Year Book : Toronto
A. PENGERTIAN
Pankreatitis kronik adalah kerusakan yang permanen dan progresif pada pankreas dimana jaringan yang normal diganti oleh jaringan fibrosis. Penyakit pankreatitis kronik dapat juga berkaitan dengan insufisiensi kronik dari hormon pankreas. (Phipps, dkk ; 1995 : 1378).
Pankreatitis kronik adalah kelaianan inflamasi yang ditandai oleh kehancuran anatomis dan fungsional yang progresif pada pankreas. (Brunner dan Suddarth; 2000 : 1348).
B. ETIOLOGI
Penyebab utama pankreatitis kronik pada oranmg dewasa dalah alkoholisme.
Pada anak – anak dihubungkan dengan styptic fibrosis.
Penyebab lain : trauma, pembedahan lambung atau pankreasn neoplasma pada pankreas, duodenum serta malnutrisi protein dan kalor yang berat.
C. PATHOFISIOLOGI
Pathofisiologi pankreatitis kronik sama dengan pankreatitis akut. Namun lebih jelasnya dapat dilihat pada skema berikut :
D. GEJALA KLINIS PANKREATITIS KRONIK
Nyeri terjadi pada kuadran kanan atau kiri atas, belakang dan sepanjang abdomen. Nyeri hebat dan menetap. Sedangkan tanda lain dapat dilihat pada skema diatas.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Leukositosis, bilirubin dan alkalifosfate tinggi jika ada obstruksi.
Tes cairan bikarbonat.
Tes bentiromide merupakan tes indirect terhadap sekresi kapasitas pankreas.
Tes urine.
X – ray.
USG.
CT – scan abdomen.
ERCP.
F. MANAJEMEN MEDIK
Sama dengan manajemen medik pada pankreatitis akut, namun penanganan nyeri lebih diutamakan atau didahulukan. Therapinya meliputi :
1. Obat – obatan untuk menghilangkan nyeri : narkotik analgesik, jika therapi ini tidak berhasil maka dilakukan ERCP.
2. Obat – obatan yang digunakan adalah untuk menurunkan sekresi eksokrin pankreas : somastostatin, antibiotika prophylactic system, inhibitor phospholipase alfa, dan bisa juga dilakukan bilas peritoneal untuk menghilangkan toksin, kimia atau cegah komplikasi.
3. Infus dan cairan untuk mempertahankan cairan dalam tubuh.
G. MANAJEMEM KEPERAWATAN
Untuk pasien dengan pankreatitis kronik pengkajian sama seperti yang digambarkan pada pankreattitis akut. Dalam hal ini diagnosa keperatawan, kriteri evaluasi dan intervensinya sama. Tetapi untuk pasien dengan pankreatitis kronik mempunyai 4 diagnosa utama yang merupakan fokus dari doagnosa keperawatan. Fokus utama keperawatan pada pasien pankreatitis kronik adalah nyeri. Ini memerlukan pengontrolan nyeri yang adekuat dan pemberian analgesik merupakan pilihan utama. Sedangkan tindakan alternatif lainnnya adalah dilakukan relaksasi atau masase, hindari alkohol, dapat membantu mengontrol nyeri.
H. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
• Riwayat : mungkin mempunyai masalah penyalahgunaan alkohol atau penyakit batu empedu.
• Nyeri lokasi : klien mengeluh nyeri daerah epigastrik yang menyebar ke belakang, nyeri abdomen kuadran atas atau nyeri perut menyeluruh, yang menggambarkan nyeri menetap dan menembus. Derajat beratnya didapat dari distress yang ringan sampai nyeri berat kemungkinan mengeluh serangan nyeri setelah makan yang banyak (pankreatitis batu empedu) atau minum minuman kera (pankreatitis akibat alkohol). Dapat mengambil posisi duduk dan posisi bersandar ke depan untuk mengurangi nyeri, ekspresi wajah mungkin menunjukan nyeri serta gelisah.
• Gastrointestinal : mengeluh mual dan muntah, bunyi usus besar mungkin hipoaktif, abdomen membesar.
• TTV : demam, takikardia, takipnea, hipotensi.
• Balance cairan dan elektreolit : terjadi penurunan turgor kulit, oliguria, membran mukosa kering, pusing, lemah, bingung, kram di kaki dan tangan, hiponatremia, hipokalemia.
b. Diagnosa
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi pankreas.
DS : pasien mengeluh nyeri abdomen menetap bagian atas / umum dan menyebar ke belakang.
DO : ekspresi wajah menunjukan nyeri, duduk dan bersandar ke depan, abdomen terasa lembut.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d nausea, muntah, malabsorpsi.
DS : anoreksia rasa mual dan muntah.
DO : gambaran mukosa kering, kulit kering, keriput, rambut rontok, BAB dengan faeses bercampur lemak, lesu.
3. Inefektif koping individu b.d alkohol abuse
DS : pasien mengatakan selalu mengkonsumsi alkohol.
DO : kesulitan menyampaikan tujuan yang tepat, riwayat pemakai alkohol, menyangkal ada hubungan antara intake alkohol dengan penyakitnya.
c. Perencanaan
Tujuan
Dx. 1 : Pasien akan bebas dari nyeri dan merasa nyaman yang ditandai dengan pasien mengatakan nyeri dapat diatasi, ekspresi wajah tidak menunjukan nyeri, palapsi abdomen menunjukan tidak ada keluhan nyeri, pasien tidak membutuhkan analgesik.
Dx. 2 : Pasien akan mempertahankan pola nutrisi yang adsekuat yang ditandai dengan pasien menunjukan tidak ada mual muntah saat makan, tidak mengalami steatore, berat badan kembali normal.
dx. 3 : Pasien akan membentuk strategi yang efektif untuk koping stress dan penyakitnya yang ditandai dengan pasien dapat mengidentifikasi kebutuhannya dalam mengurangi konsumsi alkohol yang berlebihan.
d. Implementasi
DX. 1
Monitor terhadap meningkatnya nyeri yang hebat dan respon terhadap analgesik.
R/ Nyeri yang hebat menunjukan adanya komplikasi.
Beri analgesik seperti meperidine (demerol) sesuai order dan kebutuhan.
R/ Nyeri yang hebat memerlukan narkotik meperidine yang banyak mengandung morfin dimana menyebabkan spasme jaringan.
Pertahankan status NPO sampai nyeri berkurang. Masukan selang NGT sesuai order, pertahnkan posisinya.
R/ Pemberian nutrisi per oral merangsang sekresi pankreatik yang menyebabkan injuri pada pankreatik. Suction NTG untuk mengurangi drainase gastrik ke dalam duodenum, mengurangi stimulus pada sekresi pankreatik.
Beri somatostatin sesuai order.
R/ Somatostatin mengurangi sekresi pankreati dan membantu mengatasi injuri.
DX. 2
Monitor BB pasien intake nutrisi dan indikator dari perubahan status nutrisi.
R/ Memberitahu secara tepat mengenai kurang nutrisi untuk mempermudah intervensi selanjutnya.
Bila pasien kembali makan melalui mulut, kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet TKTP.
R/ Mempertahankan BB dan keseimbangan nitrogen positif dan meningkatkan kesehatan.
Untuk pasien yang pankreatitis kronik observasi tanda insufisiensi eksokrin (misalnya penurunan BB, steatore).
R/ Pankreatitis kronik disebabkan oleh penurunan fungsi kelenjar eksokrin yang diakibatkan oleh penurunan produksi enzim.
Beri enzim eksogenous pankreatik sesuai order.
R/ Enzim eksogenous dibutuhkan untuk pencernaan nutrisi bila penyakit mengganggu eksokrin pankreas.
Monitor kadar glukosa darah, dan beri insulin sesuai order.
R/ Produksi insulin dapat berkurang pada pasien pankreatitis kronik, eksogenous insulin dibutuhkan untuk meningkatkan metabolisme glukosa dan mencegah gangguan metabolisme.
DX. 3
Beri informasi tentang hubungan antara intake alkohol yang berlebihan dan pankreatitis.
R/ Pasien dapat membuat keputusan tentang intake alkohol yang terus menerus.
Memberikan konseling.
R/ Pemberian konseling membantu pasien mengekspresikan perasaannya tentang identifikasi dan pokok persoalan, pertimbangkan pilihan yang ada hubungan dengan pokok persoalan.
Rujuk pasien ke kelompok yang membantu memberi dukungan seperti anti alkohol.
R/ Partisipasi keluarga dapat membantu pasien mengurangi rasa terisolasi.
e. Evaluasi
Pasien menunjukan tidak ada nyeri abdomen.
Pasien dapat mempertahankan BB yang ideal.
Pasien dapat menentukan strategi yang efektif untuk koping terhadap stressor dan penyakitnya.
I. PENDIDIKAN KESEHATAN
Jelaskan penyebab pankreatitis pada pasien dan tindakan untuk mengurangi resiko terserang kembali.
Tekankan pentingnya diet rendah lemak, menghindari makan makanan yang banyak dan menghindari alkohol.
Biarkan pasien dan keluarga untuk mendiskusikan masalah mereka serta berikan penyuluhan dukungan emosional.
PENUTUP
Kesimpulan
Pankreatitis kronik adalah kelainan inflamasi yang ditandai oleh kehancuran anatomi dan fungsional yang progresif pada pankreas.
Adapun penyebab yang menimbulkan terjadinya pankreatitis kronik : konsumsi alkohol yang berlebihan khususnya pada orang dewasa dan pada anak – anak dihubungkan dengan styptic fibrosis serta penyebab lainnya adalah trauma, pembedahan lambung taau pankreas, neoplasam pada pankreas, duodenum serta malnutrisi protein dan kalori yang berat. Inflamasi ini menyebabkan nyeri yang hebat di daerah abdomen bagian atas kiri atau kanan, belakang atau seluruh abdomen.
Untuk mengurangi nyeri dianjurkan kepada paisen dan keluarga pentingnya menghindari konsumsi alkohol serta makan lain yang oleh pasien sendiri dirasakan cenderung menimbulkan nyeri dan gangguan rasa nyaman pada abdomen.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth, 2000, “ Keperawatan Medikal Bedah “, EGC:Jakarta
Dorothy B. Daugty, 1997, “ Gastrointestinal Disorder “, Mosby Year Book : Toronto
Phipps, dkk, 1995, “ Medical surgical Nursing “, ed. 4 th , Mosby Year Book : Toronto
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN NEFROTIK SYNDROM
NEFROTIK SYNDROM
A. Pengertian.
Nefrotik syndrom merupakan gejala yang meliputi proteinuria (albumunuria), hipoalbunemia, udem yang luas, hiperlipidemia dan lipiduria. Neftorik syndrome terjadi pada anak-anak dan orang dewasa.
B. Etiologi.
Nefrotik syndrome terjadi pada kondisi yang bervariasi seperti glomerulonefritis, lesi lomerulus penyakit sistemik seperti mellitus, infeksi, penyakit sirkulasi, reaksi alergi dan obat - obatan serta pregnancy dan transplantasi ginjal.
C. Patofisiologi.
Nefrotik syndrom terjadi akibat peningkatan permeabilitas glomerulus : albuminuria menyebabkan hipoaalbuminemia sehingga menyebabkan penurunan tekanan osmotic yang mengakibatkan cairan keluar dari pembuluh darah menuju ruang intestina dan terjadi hipovolemi. Hipovolemi merangsang system rennin-angiotensin sehingga meningkatkan sekresi ADH dan aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Adanya natrium dan cairan menyebabkan udem sistemik.
D. Manifestasi klinik
Manifestasi klinik yang telihat pada pasien dengan nefrotik syndrome adalah :
Udem anasarka.
Proteinuria.
Hipoalbuminemia.
Hiperlipidemia.
Volume urine dan fungsi ginjal bisa berubah dan bisa normal. Fungsi ginjal yang berubah merupakan akibat dari perkembangan gejala-gejala gagal ginjal, kehilangan nafsu makan dan fatigue.
Manifestasi Factor penyebab/Pencetus Akibat
Proteinuria Peningkatan permeabilitas glomerulus, penurunan reabsorbsi tubula proksimal Udem, peningkatan kerentanan terhadap infeksi karena kehilangan immunoglobulin.
Hipoalbuminemia udem Penuruinan serum albumin, peningkatan system VLDL oleh hati, peningkatan kolesterol, fosfolipid dan trigliserida. Peningkatan atherogenesis
Lipiduria Pelepasan lemak oleh sel-sel tubular (oval fat bodies) Lemak keluar lewat urine
Penurunan Vitamin D Globulin yang digunakan untuk mengaktifkan Vitamin D diambil untuk transport melewati glomerulus dan keluar lewat urine. Penurunan absobsi kalsium pada usus.
Pathway :
Kerusakan glomerulus pada ginjal
Protenuria (massive)
Hipopreteinemia peningkatan sistesis protein
dan lemak pada hati
hypovolemia penurunan tekanan onkotik Hyperlipidemia
Penurunan aliran darah keginjal Peningkatan sekresi ADH dan aldosteron
Pelepasan rennin Reabsorpsi Na dan air Edema
Vasokontriksi Penekanan tekanan hydrostatik
E. Komplikasi.
Komplikasi dari nefrotik syndrome meliputi :
Infeksi.
Atherosklerisis.
Tromboemboli.
Ketidakseimbangan.
F. Studi Diagnostik.
1. Test Laboratorium.
Urinalis : urin berbusa, pekat, dan butiran lemak, proteinuria > 3 gr/hari
Kimia darah : hipoalbuminemia, serum albumin < 2,5 gr/dl, hiperlipidemia, peningkatan total serum kolesterol, tostolipid, triglberida, LDL dan VLDL.
2. Biopsi renal : mengidentifikasi adanya lesi.
G. Manajemen Medik.
1. Manajemen Umum.
Intake protein ditingkatkan untuk mengganti kehilangan protein lewat urine. Jika GFR normal, pada orang dewasa biasanya mendapat 1,5 - 2 gr/kg berat badan. Jika GFR menurun, intake protein lebih rendah, intake sodium 500 - 1000 mg/hari untuk mengontrol udem. Intake kalori harus cukup untuk mengatasi katabolisme dan menyediakan energi. Jumlahnya bervariasi tergantung tinggi badan, berat badan, usia, jenis kelamin dan aktivitas harian. Orang dewasa membutuhkan 35 – 45 Kkal/kg BB/hari perubahan dalam volume vaskuler di monitor dengan cermat untuk mendeteksi shock hipovelimi, hipokalemia dan ototoksit yaitu dengan menggunakan diuretic.
2. Terapi Obat.
Pemberian terapi kepada penderita nefrotik syndrome yaitu :
Agen imunosupresif : kortikosteroid (prednizon), agen antineoplastik (cyclophosphamide) cytoxan, azathioprine (imuran), Chlorambusil (leukeran), peningkatan plasma/komponen darah : human albumin.
Diuretik : furosemid (lasix), hydrochlorotiazide (hydrodiuri), spironolactone (aldoktone) untuk mengontrol udem.
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian.
Keadaan umum : berat badan berubah dan kelelahan, sakit kepala.
Intake dan output : status nutrisi, lingkar perut, oliguri, proteinnuria, anorexia, mual.
Cardiovaskuler : pitting odem.
Aktivitas : Fatique dan kelemahan.
2. Diagnosa Keperawatan.
1. Perubahan perfusi jaringan renal b.d perubahan sel glomerulus yang menyebabkan proteinuria yang ditandai dengan :
DS :
DO : urine berbusa, proteinuria, penurunan serum protein, albumin dan kalsium.
2. Kelebihan volume cairan tubuh b.d menurunnya tekanan osmotic yang disebabkan oleh proteinuria, dan inadekuatnya pergantian protein dalam hati yang ditandai dengan :
DS : dyspnea
DO : peningkatan berat badan, intake lebih dari output, tekanan darah dan nadi normal atau sedikit meningkat, distensi vena jugularis.
3. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan b.d proteiuria, anorexia, mual dan muantah yang ditandai dengan :
DS : lemah, anorexia, mual dan muntah
DO : pasien menolak makan, proteinuria
4. Protensial infeksi b.d perubahan proses imun akibat penurunan serum protein atau obat imunosupresi yang ditandai dengan :
DS : -
DO : tanda dan gejala infeksi pada pada saluran urinari
5. Protensial kerusakan integritas kulit b.d udem yang ditandai dengan :
DS : pasien mengeluh tidak nyaman pada area udem
DO : udem
6. Potensial kurang perawatan diri b.d kelemahan fisik yang ditandai dengan :
DS : pasien mengeluh lemah
DO : pasien bedrest
Potensial gangguan body image b.d udem yang ditandai dengan :
DS : pasien mengeluh adanya perubahan penampilan
DO : adanya udem.
3. Perencanaan.
Diagnosa 1.
Goal : Pasien akan mempertahankan perfusi ke jaringan ginjal yangnormal selama dalam perwatan
Objektif : Dalam waktu 2x 24 jam, busa di urine berkurang, serum protein,albumin dan kalsium meningkat.
Diagnosa 2.
Goal : Klien akan mempertahankan keseimbangan cairan yang normal selama dalam perawatan
Objektif :
dalam waktu 30 menit, klien tidak mengalami dyspnea
Dalam waktu 24 jam, klien tidak mengalami peningkatan BB, intake tidak berlebihan, TD dan N normal, tidak terjadi peningkatan JVP.
Diagnosa 3.
Goal : Klien akan meningkatkan nutrisi yang adekuat selama dalam perawatan
Objektif :
Dalam waktu 24 jam klien tidak mengeluh mual/muntah
Dalam waktu 2 x 24 jam serum protein dalam urine berkurang/tidak ada.
Diagnosa 4.
Goal : Klien tidak akan mengalami infeksi selama dalam perawatan.
Objektif : Dalam waktu 12 jam, tidak terdapat tanda- tanda ISK.
Diagnosa 5.
Goal : Klien akan mempertahankan integritas kulit yang normal selama dalam perawatan.
Objektif : Dalam waktu 24 jam, udem berkurang/ tidak ada.
Diagnosa 6.
Goal : Klien akan meningkatkan perawatan diri selama dalam perawatan
Objektif : Dalam waktu 48 jam klien dapat membersihkan diri dengan dibantu oleh perawat atau keluarga.
Diagnosa 7.
Goal : Klien akan menerima gambaran tubuhnya.
Objektif : Klien tidak lagi mengeluh tentang penampilannya.
4. Intervensi.
Diagnosa 1.
Intervensi dan rasional :
Kaji tekanan darah, nadi dan RR tiap 6 – 8 jam, kaji punggung, abdomen serta ekstremitas terhadap asites, udem anasarka dan periorbital.
R/ Mengidentifikasi hipervolume.
Monitor serum protein, albumin, kalsium dan hematokrit.
R/ Membantu menentukan pergantian yang dibutuhkan, penurunan serum protein berarti penurunan kalsium dan protein.
Monitor urine.
R/ Mengidentifikasi proteinuria.
Monitor sodium, patasium dan seru pH.
R/ Peningkatan dapat diturunkan dengan terapi diuretic.
Monitor BUN dan serum kreatinin.
R/ Memonitor fungsi renal.
Berikan imunosupresi sesuai instruksi.
R/ Menurunkan ekresi protein dan monitor respon obat untuk menentukan evektivitas agen dan dosis.
Diagnosa 2.
Intervensi dan rasional :
Monitor berat badan tiap hari, intake dan output tiap 24 jam, kaji tekanan darah, nadi, RR tiap 6 – 8 jam, monitor udem, distensi vena jugularis (kalau perlu CVP), tekanan arteri paru, monitor data lab, urine, protein, serum albumin, kalsium dan hematokrit.
R/ Mengetahui perubahan status cairan, hipertensi ibituhkan
Monitor serum sodium, patosium, klorida dan pH
R/ Sodium, patosium, klorida dan pH dapat menurun karena terapi diuretiuk
Berikan obat ibituhk dan albumin sesuai instruksi
R/ Untuk mengoreksi imbalance cairan, monitor efek samping obat seperti hipokalemia.
Batasi intake cairan.
R/ Penting untuk hiponatremia, udem massif, asites, distress respiratory dan ufesi pleura.
Diagnosa 3.
Intervensi dan rasional :
Kaji intake nutrisi pasien.
R/ Mengukur keadekuatan makan.
Monitor berat badan pasien.
R/ Mengetahui perubahan berat badan akibat ketidakseimbangan cairan atau inadekuatnya intake kalori dan penurunan masa otot.
Monitor data lab : serum protein, lipid, potassium dan kalsium.
R/ Mengetahui keadekuatan intake protein.
Atur intake makanan sesuai ketentuan.
R/ Meningkatkan sintensis protein dan mencegah keseimbangan nitrogen negatif.
Berikan suplemen protein sesuai instruksi.
R/ Memenuhi intake yang ibituhkan.
Diagnosa 4.
Intervensi dan rasional :
Kaji kulit pada area udem, beri perawatan yang cermat (pada lipatan paha, persediaan yang menonjol, punggung dan daerah genitalia).
R/ Area tersebut mudah terkena injury.
Tinggikan area udem terutama genitalia dan ekstremitas.
R/ Mencegah infeksi.
Diagnosa 5.
Intervensi dan rasional :
Kaji kemampuan merawat diri, anjurkan tingkatkan aktivitas sesuai toleransi.
R/ Mencegah efek samping yang tidak diharapkan.
Diagnosa 6.
Intervensi dan rasional :
Jelaskan ke pasien tentang alopsia dan efek lain dari obat.
R/ Efek samping obat yang temporer dan udem yang kambuh dapat menyebabkan perubahan penampilan.
Kaji perubahan penampilan.
R/ Sebagai intervensi awal dapat mencegah stress pada pasien.
5. Evaluasi.
1. Funsi glamerulus normal : serum albumin, lipid dan komponen urine normal.
2. Balance cairan normal, volume urine normal dan intake seimbang.
3. Status nutrisi normal, tidak ada pembatas makanan dan minuman.
4. Pasien bebas dari infeksi, tidak ada tanda dan gejala infeksi.
5. Kulit pasien utuh.
6. Pasien dapat melakukan perawatan diri.
7. Tidak ada masalah dengan penampilan.
6. Pendidikan Kesehatan.
1. Jelaskan tentang nefrotik syndrom, tanda dan gejala, patofisiologi.
2. Jelaskan tentang petunjuk diet dan pengobatan yang dianjurkan, dan ajarkan self - care seperti monitoring tekanan darah dan pengumpulan specimen urine.
3. Jelaskan komlikasi dari nefrotik syndrom dan bagaimana cara untuk mencegahnya.
4. Jelaskan tentang kemungkinan kambuh kembali dan follow up care untuk monitoring perubahan fungsi renal.
5. Jelaskan kemungkinan dilakukan dialysis berat badan transplasi ginjal pada saat yang akan dating, jelaskan nama obat, dosis, kegiatan dan efek samping obat.
6. Ajarkan pasien untuk mengkaji perubahan tubuh seperti peningkatan berat badan dan udem.
7. Ajarkan pasien kapan harus ke dokter untuk mengontrol bila ada kondisi seperti udem, sesak napas, pusing, sakit kepala dan infeksi.
PENUTUP
Kesimpulan
Nefrotik syndrome merupakn kumplan gejala yang ditimbulkan akiba adanya kerusakan pada nefron.gejala yang dapat kita temukan pada pasien dengan nefrotik syndrome adalah proteinuria, hipoalbuminemia,hiperlipidemia yang juga menyebabkan pasien mengalami udema.
Pasien dengan NS ini dianjurkan untuk meningkatkan intake protein yang bertujuan untuk menggantikan protein yang telah hilang bersama urine.Pemberian obat diuretic juga dapat dilakukan untuk mengurangi udem pada tubuh pasien.
RUJUKAN
Brundage,D,J, 1992, “Renal Disorder”, Mosby Year Book, St. Louis.
Wong’sC Whaley, 1991, “Nursing Care in Children And Infants”, Mosby Year Book St. Louis.
Pearce Evelyn,2002, “Anatomi Fisiologi Untuk Paramedis”, Pt. Gramedia, Jakarta.
A. Pengertian.
Nefrotik syndrom merupakan gejala yang meliputi proteinuria (albumunuria), hipoalbunemia, udem yang luas, hiperlipidemia dan lipiduria. Neftorik syndrome terjadi pada anak-anak dan orang dewasa.
B. Etiologi.
Nefrotik syndrome terjadi pada kondisi yang bervariasi seperti glomerulonefritis, lesi lomerulus penyakit sistemik seperti mellitus, infeksi, penyakit sirkulasi, reaksi alergi dan obat - obatan serta pregnancy dan transplantasi ginjal.
C. Patofisiologi.
Nefrotik syndrom terjadi akibat peningkatan permeabilitas glomerulus : albuminuria menyebabkan hipoaalbuminemia sehingga menyebabkan penurunan tekanan osmotic yang mengakibatkan cairan keluar dari pembuluh darah menuju ruang intestina dan terjadi hipovolemi. Hipovolemi merangsang system rennin-angiotensin sehingga meningkatkan sekresi ADH dan aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Adanya natrium dan cairan menyebabkan udem sistemik.
D. Manifestasi klinik
Manifestasi klinik yang telihat pada pasien dengan nefrotik syndrome adalah :
Udem anasarka.
Proteinuria.
Hipoalbuminemia.
Hiperlipidemia.
Volume urine dan fungsi ginjal bisa berubah dan bisa normal. Fungsi ginjal yang berubah merupakan akibat dari perkembangan gejala-gejala gagal ginjal, kehilangan nafsu makan dan fatigue.
Manifestasi Factor penyebab/Pencetus Akibat
Proteinuria Peningkatan permeabilitas glomerulus, penurunan reabsorbsi tubula proksimal Udem, peningkatan kerentanan terhadap infeksi karena kehilangan immunoglobulin.
Hipoalbuminemia udem Penuruinan serum albumin, peningkatan system VLDL oleh hati, peningkatan kolesterol, fosfolipid dan trigliserida. Peningkatan atherogenesis
Lipiduria Pelepasan lemak oleh sel-sel tubular (oval fat bodies) Lemak keluar lewat urine
Penurunan Vitamin D Globulin yang digunakan untuk mengaktifkan Vitamin D diambil untuk transport melewati glomerulus dan keluar lewat urine. Penurunan absobsi kalsium pada usus.
Pathway :
Kerusakan glomerulus pada ginjal
Protenuria (massive)
Hipopreteinemia peningkatan sistesis protein
dan lemak pada hati
hypovolemia penurunan tekanan onkotik Hyperlipidemia
Penurunan aliran darah keginjal Peningkatan sekresi ADH dan aldosteron
Pelepasan rennin Reabsorpsi Na dan air Edema
Vasokontriksi Penekanan tekanan hydrostatik
E. Komplikasi.
Komplikasi dari nefrotik syndrome meliputi :
Infeksi.
Atherosklerisis.
Tromboemboli.
Ketidakseimbangan.
F. Studi Diagnostik.
1. Test Laboratorium.
Urinalis : urin berbusa, pekat, dan butiran lemak, proteinuria > 3 gr/hari
Kimia darah : hipoalbuminemia, serum albumin < 2,5 gr/dl, hiperlipidemia, peningkatan total serum kolesterol, tostolipid, triglberida, LDL dan VLDL.
2. Biopsi renal : mengidentifikasi adanya lesi.
G. Manajemen Medik.
1. Manajemen Umum.
Intake protein ditingkatkan untuk mengganti kehilangan protein lewat urine. Jika GFR normal, pada orang dewasa biasanya mendapat 1,5 - 2 gr/kg berat badan. Jika GFR menurun, intake protein lebih rendah, intake sodium 500 - 1000 mg/hari untuk mengontrol udem. Intake kalori harus cukup untuk mengatasi katabolisme dan menyediakan energi. Jumlahnya bervariasi tergantung tinggi badan, berat badan, usia, jenis kelamin dan aktivitas harian. Orang dewasa membutuhkan 35 – 45 Kkal/kg BB/hari perubahan dalam volume vaskuler di monitor dengan cermat untuk mendeteksi shock hipovelimi, hipokalemia dan ototoksit yaitu dengan menggunakan diuretic.
2. Terapi Obat.
Pemberian terapi kepada penderita nefrotik syndrome yaitu :
Agen imunosupresif : kortikosteroid (prednizon), agen antineoplastik (cyclophosphamide) cytoxan, azathioprine (imuran), Chlorambusil (leukeran), peningkatan plasma/komponen darah : human albumin.
Diuretik : furosemid (lasix), hydrochlorotiazide (hydrodiuri), spironolactone (aldoktone) untuk mengontrol udem.
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian.
Keadaan umum : berat badan berubah dan kelelahan, sakit kepala.
Intake dan output : status nutrisi, lingkar perut, oliguri, proteinnuria, anorexia, mual.
Cardiovaskuler : pitting odem.
Aktivitas : Fatique dan kelemahan.
2. Diagnosa Keperawatan.
1. Perubahan perfusi jaringan renal b.d perubahan sel glomerulus yang menyebabkan proteinuria yang ditandai dengan :
DS :
DO : urine berbusa, proteinuria, penurunan serum protein, albumin dan kalsium.
2. Kelebihan volume cairan tubuh b.d menurunnya tekanan osmotic yang disebabkan oleh proteinuria, dan inadekuatnya pergantian protein dalam hati yang ditandai dengan :
DS : dyspnea
DO : peningkatan berat badan, intake lebih dari output, tekanan darah dan nadi normal atau sedikit meningkat, distensi vena jugularis.
3. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan b.d proteiuria, anorexia, mual dan muantah yang ditandai dengan :
DS : lemah, anorexia, mual dan muntah
DO : pasien menolak makan, proteinuria
4. Protensial infeksi b.d perubahan proses imun akibat penurunan serum protein atau obat imunosupresi yang ditandai dengan :
DS : -
DO : tanda dan gejala infeksi pada pada saluran urinari
5. Protensial kerusakan integritas kulit b.d udem yang ditandai dengan :
DS : pasien mengeluh tidak nyaman pada area udem
DO : udem
6. Potensial kurang perawatan diri b.d kelemahan fisik yang ditandai dengan :
DS : pasien mengeluh lemah
DO : pasien bedrest
Potensial gangguan body image b.d udem yang ditandai dengan :
DS : pasien mengeluh adanya perubahan penampilan
DO : adanya udem.
3. Perencanaan.
Diagnosa 1.
Goal : Pasien akan mempertahankan perfusi ke jaringan ginjal yangnormal selama dalam perwatan
Objektif : Dalam waktu 2x 24 jam, busa di urine berkurang, serum protein,albumin dan kalsium meningkat.
Diagnosa 2.
Goal : Klien akan mempertahankan keseimbangan cairan yang normal selama dalam perawatan
Objektif :
dalam waktu 30 menit, klien tidak mengalami dyspnea
Dalam waktu 24 jam, klien tidak mengalami peningkatan BB, intake tidak berlebihan, TD dan N normal, tidak terjadi peningkatan JVP.
Diagnosa 3.
Goal : Klien akan meningkatkan nutrisi yang adekuat selama dalam perawatan
Objektif :
Dalam waktu 24 jam klien tidak mengeluh mual/muntah
Dalam waktu 2 x 24 jam serum protein dalam urine berkurang/tidak ada.
Diagnosa 4.
Goal : Klien tidak akan mengalami infeksi selama dalam perawatan.
Objektif : Dalam waktu 12 jam, tidak terdapat tanda- tanda ISK.
Diagnosa 5.
Goal : Klien akan mempertahankan integritas kulit yang normal selama dalam perawatan.
Objektif : Dalam waktu 24 jam, udem berkurang/ tidak ada.
Diagnosa 6.
Goal : Klien akan meningkatkan perawatan diri selama dalam perawatan
Objektif : Dalam waktu 48 jam klien dapat membersihkan diri dengan dibantu oleh perawat atau keluarga.
Diagnosa 7.
Goal : Klien akan menerima gambaran tubuhnya.
Objektif : Klien tidak lagi mengeluh tentang penampilannya.
4. Intervensi.
Diagnosa 1.
Intervensi dan rasional :
Kaji tekanan darah, nadi dan RR tiap 6 – 8 jam, kaji punggung, abdomen serta ekstremitas terhadap asites, udem anasarka dan periorbital.
R/ Mengidentifikasi hipervolume.
Monitor serum protein, albumin, kalsium dan hematokrit.
R/ Membantu menentukan pergantian yang dibutuhkan, penurunan serum protein berarti penurunan kalsium dan protein.
Monitor urine.
R/ Mengidentifikasi proteinuria.
Monitor sodium, patasium dan seru pH.
R/ Peningkatan dapat diturunkan dengan terapi diuretic.
Monitor BUN dan serum kreatinin.
R/ Memonitor fungsi renal.
Berikan imunosupresi sesuai instruksi.
R/ Menurunkan ekresi protein dan monitor respon obat untuk menentukan evektivitas agen dan dosis.
Diagnosa 2.
Intervensi dan rasional :
Monitor berat badan tiap hari, intake dan output tiap 24 jam, kaji tekanan darah, nadi, RR tiap 6 – 8 jam, monitor udem, distensi vena jugularis (kalau perlu CVP), tekanan arteri paru, monitor data lab, urine, protein, serum albumin, kalsium dan hematokrit.
R/ Mengetahui perubahan status cairan, hipertensi ibituhkan
Monitor serum sodium, patosium, klorida dan pH
R/ Sodium, patosium, klorida dan pH dapat menurun karena terapi diuretiuk
Berikan obat ibituhk dan albumin sesuai instruksi
R/ Untuk mengoreksi imbalance cairan, monitor efek samping obat seperti hipokalemia.
Batasi intake cairan.
R/ Penting untuk hiponatremia, udem massif, asites, distress respiratory dan ufesi pleura.
Diagnosa 3.
Intervensi dan rasional :
Kaji intake nutrisi pasien.
R/ Mengukur keadekuatan makan.
Monitor berat badan pasien.
R/ Mengetahui perubahan berat badan akibat ketidakseimbangan cairan atau inadekuatnya intake kalori dan penurunan masa otot.
Monitor data lab : serum protein, lipid, potassium dan kalsium.
R/ Mengetahui keadekuatan intake protein.
Atur intake makanan sesuai ketentuan.
R/ Meningkatkan sintensis protein dan mencegah keseimbangan nitrogen negatif.
Berikan suplemen protein sesuai instruksi.
R/ Memenuhi intake yang ibituhkan.
Diagnosa 4.
Intervensi dan rasional :
Kaji kulit pada area udem, beri perawatan yang cermat (pada lipatan paha, persediaan yang menonjol, punggung dan daerah genitalia).
R/ Area tersebut mudah terkena injury.
Tinggikan area udem terutama genitalia dan ekstremitas.
R/ Mencegah infeksi.
Diagnosa 5.
Intervensi dan rasional :
Kaji kemampuan merawat diri, anjurkan tingkatkan aktivitas sesuai toleransi.
R/ Mencegah efek samping yang tidak diharapkan.
Diagnosa 6.
Intervensi dan rasional :
Jelaskan ke pasien tentang alopsia dan efek lain dari obat.
R/ Efek samping obat yang temporer dan udem yang kambuh dapat menyebabkan perubahan penampilan.
Kaji perubahan penampilan.
R/ Sebagai intervensi awal dapat mencegah stress pada pasien.
5. Evaluasi.
1. Funsi glamerulus normal : serum albumin, lipid dan komponen urine normal.
2. Balance cairan normal, volume urine normal dan intake seimbang.
3. Status nutrisi normal, tidak ada pembatas makanan dan minuman.
4. Pasien bebas dari infeksi, tidak ada tanda dan gejala infeksi.
5. Kulit pasien utuh.
6. Pasien dapat melakukan perawatan diri.
7. Tidak ada masalah dengan penampilan.
6. Pendidikan Kesehatan.
1. Jelaskan tentang nefrotik syndrom, tanda dan gejala, patofisiologi.
2. Jelaskan tentang petunjuk diet dan pengobatan yang dianjurkan, dan ajarkan self - care seperti monitoring tekanan darah dan pengumpulan specimen urine.
3. Jelaskan komlikasi dari nefrotik syndrom dan bagaimana cara untuk mencegahnya.
4. Jelaskan tentang kemungkinan kambuh kembali dan follow up care untuk monitoring perubahan fungsi renal.
5. Jelaskan kemungkinan dilakukan dialysis berat badan transplasi ginjal pada saat yang akan dating, jelaskan nama obat, dosis, kegiatan dan efek samping obat.
6. Ajarkan pasien untuk mengkaji perubahan tubuh seperti peningkatan berat badan dan udem.
7. Ajarkan pasien kapan harus ke dokter untuk mengontrol bila ada kondisi seperti udem, sesak napas, pusing, sakit kepala dan infeksi.
PENUTUP
Kesimpulan
Nefrotik syndrome merupakn kumplan gejala yang ditimbulkan akiba adanya kerusakan pada nefron.gejala yang dapat kita temukan pada pasien dengan nefrotik syndrome adalah proteinuria, hipoalbuminemia,hiperlipidemia yang juga menyebabkan pasien mengalami udema.
Pasien dengan NS ini dianjurkan untuk meningkatkan intake protein yang bertujuan untuk menggantikan protein yang telah hilang bersama urine.Pemberian obat diuretic juga dapat dilakukan untuk mengurangi udem pada tubuh pasien.
RUJUKAN
Brundage,D,J, 1992, “Renal Disorder”, Mosby Year Book, St. Louis.
Wong’sC Whaley, 1991, “Nursing Care in Children And Infants”, Mosby Year Book St. Louis.
Pearce Evelyn,2002, “Anatomi Fisiologi Untuk Paramedis”, Pt. Gramedia, Jakarta.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SYPHILIS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SYPHILIS
A. Pengertian
Sifilis merupakan penyakit infeksi kronik sistemik vaskuler yang disebabkan oleh treponema pallidum/spiroketa, dikarakteristikkan dalam tingkat atau tahapan yang berbeda-beda
B. Etiologi
Bentuk dari treponema pallidum adalah spiral dengan panjang antara 6-15 um, lebar 0,15 um dan terdiri atas 8-24 lekukan, gerakannya berupa rotasi. Penularan penyakit ini dapat melalui:
a. Berhubungan dengan orang yang terinfeksi dan hubungan seksual yang tidak aman.
b. Transfusi darah
c. Plasenta (ibu yang terinfeksi ke janin)
C. Klasifikasi
Sifilis dibagi menjadi:
a. Sifilis Kongenital terbagi atas:
Sifilis Dini (sebelum umur 2 tahun)
Sifilis lanjut (sesudah 2 tahun)
Stigmata (jaringan parut/deformitas)
b. Sifilis Aquisita terbagi atas:
Sifilis klinis terdapat 5 stadium yakni: Inkubasi, Primer, Sekunder, Laten dan Tersier.
Sifilis Epidemik terdapat 2 stadium: (Stadium dini menular dan Stadium lanjut tidak menular)
c. Sifilis Kardiovaskuler
d. Neorosifilis
D. Phatofisiologi
a. Sifilis Kongenital
Yaitu infeksi yang didapat oleh janin dalam kandungan karena ibunya terinfeksi sifilis. Gejala yang dapat dilihat:
1. Pada Sifilis Kongenital Dini
Abdomen: Hepatospenomegali; skeletal: osteokondritis, periostitis; Nasofaring: Rhinitis; kulit dan kuku: makulopapular rash, supurasi kuku, rambut dan alis mata rontok; Mukosa membrane: Fisura pada bibir, hidung dan anus
2. Sifilis Kongenital Lanjut
Guma pada hidung dan mulut, sabretibia, Clutton’s Joins, ketulian nerfus VIII
3. Stigmata
Yaitu fase penyembuhan dari kedua stadium tersebut ditandai oleh adanya bulldog jaw, gigi Hutchinson, mulberry molar, ragades keratitis interstisial.
b. Sifilis Akuisita
1. Klinis (terdiri dari 5 stadium):
Fase Inkubasi
Pada fase ini treponema pallidum memasuki membran mukosa/menembus kulit, beberapa pathogen masuk menuju daerah limpa nodus dan memproduksi lesi yang akan timbul pada tahap primer.
Fase Primer (10-90 hari, rata-rata 21 hari)
Pada stadium ini muncul lesi yang tidak nyeri keras dan tak bernanah yang disebut chancre. Chancre tumbuh pada vagina, serviks, skrotum dan rectum. Sebagai reaksi kompensasi maka terdapat limpa denopati pada seluruh tubuh. Jika pada titik ini tidak diobati maka chancre akan hilang tetapi T Pallidum akan berkembang dibawah kulit
Fase Sekunder
Stadium ini akan muncul lesi merah kecoklatan yang menyeluruh pada tubuh (akan pecah 2-6 minggu). Karena tahap ini Treponema Pallidum sudah memasuki aliran darah maka penderita akan mengalami sakit kepala demam, nyeri sendi, kaku kuduk, kelainan kulit (berupa macula, papula, papulskuamosa, pustule).
Fase Laten
Pada stadium ini tidak ditemukan tanda-tanda klinis dan hanya diketahui hasil serologi yang positif. Keadaan ini umumnya ditemukan pada pemeriksaan donor darah atau pemeriksaan kehamilan. Wanita hamil pada stadium ini dapat mengeluarkan penyakitnya pada janin sehingga diperlukan pemeriksaan pada ayah dan ibu bila ada riwayat kontak dengan penderita sifilis.
Fase Tersier
Pada stadium ini tidak menular tetapi mengakibatkan kerusakan pada penderita dengan adanya kelainan khas berupa guma, lesi yang lunak, tuli, penyakit jantung, serangan koma, dan meninggal bila tidak diobati.
2. Epidemik
Stadium ini menular gejalanya sama dengan fase inkubasi primer dan sekunder.
Stadium lanjut tidak menular gejalanya sama dengan fase laten dan tersier.
PATHWAY
Treponema Pallidum
E. Komplikasi
a. Sifilis sekunder
b. Sifilis tersier
c. Sifilis congenital
F. Test diagnostic
Pemeriksaan Hasil
a. Treponema Pallidum
Dengan cara mengambil dari kulit dan limpa nodus kemudian dilihat pergerakannya dengan mikroskop lapangan gelap yang dilakukan 3 kali berturut-turut
b. Test nontreponemal serologic misalnya:
- Veneral disease research laboratory (VDRL)
- Rapid plasma regain (RPP)
- Automated regain test (RST)
c. Treponemal serologi test
Misalnya:
- Florescent treponema antibody absorption (FTA-ABS)
- Microrohemagglutination Assay (MHA-TP)
- Treponema Pallidum hemaggulation assay (TPHA-TP)
d. Neorosifilis: Test CSF
- WBC
- VDRL Positif Treponema Pallidum pada tahap primer dan sekunder namun tidak ditemukan pada tahap laten dan tersier
Digunakan untuk konfirmasi screening test positif, meningkatnya antibody non spesifik 1-3 minggu timbulnya chancre atau 4-6 minggu. Kembali negative pada 6-12 bulan setelah penatalaksanaan sifilis primer, dan 12-18 bulan setelah pengobatan sifilis sekunder.
Digunakan untuk screening positif yang dilaporkan seperti reaktif lebih cepat pada tahap primer dan tetap reaktif lebih lama pada sifilis laten serta akan tetap reaktif sampai sesudah pengobatan dan hasilnya tak berubah dengan aktifitas penyakitnya.
> 5 WBC mm3
diagnostic neorosifilis jika hasilnya positif
G. Manajemen Medik
a. Agent anti infeksi
Sifilis primer, sekunder dan dini. Pengobatannya:
Penicillin G henzotin dosis 0,8 juta unit/IM diberikan 1x1 minggu.
Penicillin G procaine dalam aqua dosis total 6 juta unit 0,6 juta/hari selama 10 hari
Penicillin Procaine ± 2% aluminum menstreat total 0,8 juta unit yang diberikan 1,2 juta unit 2x seminggu
Sifilis Laten Pengobatannya:
Penicillin G henzotin dosis 7,2 juta unit.
Penicillin G procaine dalam aqua dosis total 12 juta unit 0,6 juta/hari.
Penicillin Procaine ± 2% aluminum menstreat total 7,2 juta unit/hari 2x seminggu
b. Pasien Alergi Penicillin
Tetrasiklin (akromisin dosis 500 mg untuk infeksi dini dan lanjut, atau doksisisilin 100 mg untuk sifilis laten)
c. Sifilis Kongenital
Penicillin G kristalin dalam aqua 100.000-150.000 unit/kg/hari
Penicillin Procaine 50.000 unit/kg
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Riwayat Kesehatan
a. Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan pada pasien apakah ada keputihan yang tidak biasa, nyeri saat BAK, ulkus atau luka pada alat kelamin, pembengkakan kelenjar lipat paha, nyeri abdomen bagian bawah (selain saat haid), tumbuh daging atau kutil pada alat kelamin (seperti jengger ayam).
Pada pasangan apakah ada nanah dari alat kelamin (penis), ulkus pada alat kelamin, pembengkakan kelenjar lipat paha, pembengkakan scrotum, tumbuh daging atau kutil pada alat kelamin
Factor resiko (pasien sendiri bukan pasangannya) lebih dari satu pasangan seksual dalam satu bulan terakhir, hubungan seksual dengan pekerja seks dalam 1 bulan terakhir, mengalami 1 atau lebih episode PMS dalam 1 tahun terakhir, pekerjaan suami beresiko tinggi.
b. Keluhan sekarang
Gejala: keputihan tidak biasa jumlah banyak atau terus keluar warna tidak biasa, rasa gatal, bau busuk amis atau asam. Apakah nyeri saat BAK, apakah ada pembengkakan kelenjar lipat paha, nyeri perut bagian bawah (nyeri berkepanjangan, hanya saat haid, hanya saat hubungan seksual), apakah ada daging atau kutil pada alat kelamin, gangguan menstruasi, kapan terjadi haid terakhir (sedang haid sekarang atau sedang hamil),
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan alat kelamin bagian luar
Ulkus genital: sakit bila disentuh, tepi luka jelas atau tepi mengantong
Pembengkakan Kelenjar Inguinal: sakit bila disentuh, bekas luka kelenjar lipat paha
Kutil Genital: vulva vagina, anus.
Pemeriksaan speculum
Duh tubuh vagina (keputihan atau cairan): kaji jumlah warna dan kekentalan
Duh tubuh serviks: kaji jumlah dan warna.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap penularan infeksi berhubungan dengan sifat organisme yang dapat menular.
2. Resiko tinggi mengalami komplikasi berhubungan dengan adanya perluasan dan penyebaran penyakit jika tidak diobati.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan transmisi, pencegahan komplikasi dan pengaturan obat-obatan.
3. Perencanaan
Diagnosa I.
Goal : Infeksi pasien tidak akan tertular pada orang lain, dan tidak kambuh pada pasien sesudah pengobatan.
Objektif : Pasien bebas dari tanda-tanda infeksi (tidak ada lesi, secret atau eksudat dari serviks, uretra, mata, faring dan anus, test serologi non reaktif dan tidak ada gejala lain.
Diagnosa II
Goal : Infeksi pasien akan sembuh sebelum meluas atau menyebar
Objektif : Tidak ada tanda-tanda sifilis sekunder atau tersier, CSF normal (tidak berisi treponema pallidum, follow up untuk test serologi menunjukkan penurunan titer antibody
Diagnosa III.
Goal : Pasien akan meningkatkan pengetahuan tentang sifilis.
Objektif : Setelah diberikan penyuluhan pasien dapat menjelaskan kembali pengertian, penyebab, cara penularan, pengobatan, pencegahan lebih lanjut untuk mencegah transmisi sifilis.
4. Implementasi
Diagnosa Implementasi Rasional
Dx. 1
Dx. 2
Dx. 3 Ambil specimen untuk pemeriksaan laboratorium dan ambil darah untuk test serologi.
gunakan tindakan pencegahan saat pengambilan specimen dan pemeriksaan pasien
test serologi pada ibu hamil paling kurang sekali selama kehamilan
beri anti infeksi sesuai ketentuan
pemeriksaan kembali dan obati ibu hamil dengan riwayat sifilis sebelum proses persalinan, periksa tanda dan gejala bayi baru lahir.
Kolaborasi pemberian obat anti infeksi dan dosis.
monitor immonokompromised untuk tanda-tanda penyebaran infeksi.
monitor temperature tubuh dan gejala sifilis
gunakan teknik aseptic dalam merawat luka
Untuk diagnosa pasti dan pengobatan
Lesi dan eksudat mukosa sangat menular
Resiko tinggi pada trimester 3 mulai pada saat melahirkan
Sifilis dapat ditransisikan pada fetus. Pengobatan yang adekuat pada ibu sebelum 15 minggu akan mencegah kerusakan pada fetus.
Neonatus akan terinfeksi lewat mukosa membrane saat kelahiran jika ada infeksi pada serviks.
Pengobatan dapat mencegah komplikasi dan transmisi sifilis.
Immunocompromised beresiko tinggi untuk penyakit sistemik.
Deteksi dini infeksi, pengobatan dan agen infeksi akan mencegah penyebaran pathogen
Mencegah penyebaran pathogen
5. Evaluasi
1. Infeksi tidak transmisikan ke orang lain atau kembali kepada pasien pengobatan.
2. Infeksi telah dapat diobati sebelum memburuk atau meluas
3. Pasien mengetahui tentang pemberian obat-obat anti infeksi sesuai anjuran
4. Pasien mengetahui informasi untuk mencegah episode PMS dan mencegah transmisi PMS.
6. Pendidikan Kesehatan
1. Pasangan seks seharusnya memeriksa diri.
2. Aktifitas seksual dihindari sampai pasien dan pasangannya mendapat pengobatan cukup dan semua lesi sembuh.
3. Pengobatan pasien secara teratur dan test serologi 3, 6, 12 dan 24 bulan setelah terapi.
4. Hindari produk-produk susu antacid, zat besi, mineral yang mengandung zat buatan setelah konsumsi tetrasitin.
5. Penjelasan reaksi sistemik seperti demam, sakit kepala dan tachicardi setelah pengobatan langsung.
6. Istirahat yang cukup dan hindari penggunaan aspirin.
PENUTUP
Kesimpulan
Sifilis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh treponema pallidum dapat ditularkan lewat hubungan seks, transfuse darah dan plasenta.
Sifilis dibagi menjadi:
a. Sifilis Kongenital terbagi atas:
- Sifilis Dini (sebelum umur 2 tahun)
- Sifilis lanjut (sesudah 2 tahun)
- Stigmata (jaringan parut/deformitas)
b. Sifilis Aquisita terbagi atas:
1. Sifilis klinis terdapat 5 stadium yakni: Inkubasi, Primer, Sekunder, Laten dan Tersier.
2. Sifilis Epidemik terdapat 2 stadium: (Stadium dini menular dan Stadium lanjut tidak menular)
c. Sifilis Kardiovaskuler
d. Neorosifilis
DAFTAR PUSTAKA
Grimes E. Deanna dkk (1991) “Infection Disease Clinical Nursing Series”, Mosby
Prof. Dr. Adhi Djuanda (1999) “ Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin” Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
Linda J. Carpenito (1995) “Nursing Care Plans and Documentation” J. B Lippin Cott, Philadelphia.
A. Pengertian
Sifilis merupakan penyakit infeksi kronik sistemik vaskuler yang disebabkan oleh treponema pallidum/spiroketa, dikarakteristikkan dalam tingkat atau tahapan yang berbeda-beda
B. Etiologi
Bentuk dari treponema pallidum adalah spiral dengan panjang antara 6-15 um, lebar 0,15 um dan terdiri atas 8-24 lekukan, gerakannya berupa rotasi. Penularan penyakit ini dapat melalui:
a. Berhubungan dengan orang yang terinfeksi dan hubungan seksual yang tidak aman.
b. Transfusi darah
c. Plasenta (ibu yang terinfeksi ke janin)
C. Klasifikasi
Sifilis dibagi menjadi:
a. Sifilis Kongenital terbagi atas:
Sifilis Dini (sebelum umur 2 tahun)
Sifilis lanjut (sesudah 2 tahun)
Stigmata (jaringan parut/deformitas)
b. Sifilis Aquisita terbagi atas:
Sifilis klinis terdapat 5 stadium yakni: Inkubasi, Primer, Sekunder, Laten dan Tersier.
Sifilis Epidemik terdapat 2 stadium: (Stadium dini menular dan Stadium lanjut tidak menular)
c. Sifilis Kardiovaskuler
d. Neorosifilis
D. Phatofisiologi
a. Sifilis Kongenital
Yaitu infeksi yang didapat oleh janin dalam kandungan karena ibunya terinfeksi sifilis. Gejala yang dapat dilihat:
1. Pada Sifilis Kongenital Dini
Abdomen: Hepatospenomegali; skeletal: osteokondritis, periostitis; Nasofaring: Rhinitis; kulit dan kuku: makulopapular rash, supurasi kuku, rambut dan alis mata rontok; Mukosa membrane: Fisura pada bibir, hidung dan anus
2. Sifilis Kongenital Lanjut
Guma pada hidung dan mulut, sabretibia, Clutton’s Joins, ketulian nerfus VIII
3. Stigmata
Yaitu fase penyembuhan dari kedua stadium tersebut ditandai oleh adanya bulldog jaw, gigi Hutchinson, mulberry molar, ragades keratitis interstisial.
b. Sifilis Akuisita
1. Klinis (terdiri dari 5 stadium):
Fase Inkubasi
Pada fase ini treponema pallidum memasuki membran mukosa/menembus kulit, beberapa pathogen masuk menuju daerah limpa nodus dan memproduksi lesi yang akan timbul pada tahap primer.
Fase Primer (10-90 hari, rata-rata 21 hari)
Pada stadium ini muncul lesi yang tidak nyeri keras dan tak bernanah yang disebut chancre. Chancre tumbuh pada vagina, serviks, skrotum dan rectum. Sebagai reaksi kompensasi maka terdapat limpa denopati pada seluruh tubuh. Jika pada titik ini tidak diobati maka chancre akan hilang tetapi T Pallidum akan berkembang dibawah kulit
Fase Sekunder
Stadium ini akan muncul lesi merah kecoklatan yang menyeluruh pada tubuh (akan pecah 2-6 minggu). Karena tahap ini Treponema Pallidum sudah memasuki aliran darah maka penderita akan mengalami sakit kepala demam, nyeri sendi, kaku kuduk, kelainan kulit (berupa macula, papula, papulskuamosa, pustule).
Fase Laten
Pada stadium ini tidak ditemukan tanda-tanda klinis dan hanya diketahui hasil serologi yang positif. Keadaan ini umumnya ditemukan pada pemeriksaan donor darah atau pemeriksaan kehamilan. Wanita hamil pada stadium ini dapat mengeluarkan penyakitnya pada janin sehingga diperlukan pemeriksaan pada ayah dan ibu bila ada riwayat kontak dengan penderita sifilis.
Fase Tersier
Pada stadium ini tidak menular tetapi mengakibatkan kerusakan pada penderita dengan adanya kelainan khas berupa guma, lesi yang lunak, tuli, penyakit jantung, serangan koma, dan meninggal bila tidak diobati.
2. Epidemik
Stadium ini menular gejalanya sama dengan fase inkubasi primer dan sekunder.
Stadium lanjut tidak menular gejalanya sama dengan fase laten dan tersier.
PATHWAY
Treponema Pallidum
E. Komplikasi
a. Sifilis sekunder
b. Sifilis tersier
c. Sifilis congenital
F. Test diagnostic
Pemeriksaan Hasil
a. Treponema Pallidum
Dengan cara mengambil dari kulit dan limpa nodus kemudian dilihat pergerakannya dengan mikroskop lapangan gelap yang dilakukan 3 kali berturut-turut
b. Test nontreponemal serologic misalnya:
- Veneral disease research laboratory (VDRL)
- Rapid plasma regain (RPP)
- Automated regain test (RST)
c. Treponemal serologi test
Misalnya:
- Florescent treponema antibody absorption (FTA-ABS)
- Microrohemagglutination Assay (MHA-TP)
- Treponema Pallidum hemaggulation assay (TPHA-TP)
d. Neorosifilis: Test CSF
- WBC
- VDRL Positif Treponema Pallidum pada tahap primer dan sekunder namun tidak ditemukan pada tahap laten dan tersier
Digunakan untuk konfirmasi screening test positif, meningkatnya antibody non spesifik 1-3 minggu timbulnya chancre atau 4-6 minggu. Kembali negative pada 6-12 bulan setelah penatalaksanaan sifilis primer, dan 12-18 bulan setelah pengobatan sifilis sekunder.
Digunakan untuk screening positif yang dilaporkan seperti reaktif lebih cepat pada tahap primer dan tetap reaktif lebih lama pada sifilis laten serta akan tetap reaktif sampai sesudah pengobatan dan hasilnya tak berubah dengan aktifitas penyakitnya.
> 5 WBC mm3
diagnostic neorosifilis jika hasilnya positif
G. Manajemen Medik
a. Agent anti infeksi
Sifilis primer, sekunder dan dini. Pengobatannya:
Penicillin G henzotin dosis 0,8 juta unit/IM diberikan 1x1 minggu.
Penicillin G procaine dalam aqua dosis total 6 juta unit 0,6 juta/hari selama 10 hari
Penicillin Procaine ± 2% aluminum menstreat total 0,8 juta unit yang diberikan 1,2 juta unit 2x seminggu
Sifilis Laten Pengobatannya:
Penicillin G henzotin dosis 7,2 juta unit.
Penicillin G procaine dalam aqua dosis total 12 juta unit 0,6 juta/hari.
Penicillin Procaine ± 2% aluminum menstreat total 7,2 juta unit/hari 2x seminggu
b. Pasien Alergi Penicillin
Tetrasiklin (akromisin dosis 500 mg untuk infeksi dini dan lanjut, atau doksisisilin 100 mg untuk sifilis laten)
c. Sifilis Kongenital
Penicillin G kristalin dalam aqua 100.000-150.000 unit/kg/hari
Penicillin Procaine 50.000 unit/kg
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Riwayat Kesehatan
a. Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan pada pasien apakah ada keputihan yang tidak biasa, nyeri saat BAK, ulkus atau luka pada alat kelamin, pembengkakan kelenjar lipat paha, nyeri abdomen bagian bawah (selain saat haid), tumbuh daging atau kutil pada alat kelamin (seperti jengger ayam).
Pada pasangan apakah ada nanah dari alat kelamin (penis), ulkus pada alat kelamin, pembengkakan kelenjar lipat paha, pembengkakan scrotum, tumbuh daging atau kutil pada alat kelamin
Factor resiko (pasien sendiri bukan pasangannya) lebih dari satu pasangan seksual dalam satu bulan terakhir, hubungan seksual dengan pekerja seks dalam 1 bulan terakhir, mengalami 1 atau lebih episode PMS dalam 1 tahun terakhir, pekerjaan suami beresiko tinggi.
b. Keluhan sekarang
Gejala: keputihan tidak biasa jumlah banyak atau terus keluar warna tidak biasa, rasa gatal, bau busuk amis atau asam. Apakah nyeri saat BAK, apakah ada pembengkakan kelenjar lipat paha, nyeri perut bagian bawah (nyeri berkepanjangan, hanya saat haid, hanya saat hubungan seksual), apakah ada daging atau kutil pada alat kelamin, gangguan menstruasi, kapan terjadi haid terakhir (sedang haid sekarang atau sedang hamil),
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan alat kelamin bagian luar
Ulkus genital: sakit bila disentuh, tepi luka jelas atau tepi mengantong
Pembengkakan Kelenjar Inguinal: sakit bila disentuh, bekas luka kelenjar lipat paha
Kutil Genital: vulva vagina, anus.
Pemeriksaan speculum
Duh tubuh vagina (keputihan atau cairan): kaji jumlah warna dan kekentalan
Duh tubuh serviks: kaji jumlah dan warna.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap penularan infeksi berhubungan dengan sifat organisme yang dapat menular.
2. Resiko tinggi mengalami komplikasi berhubungan dengan adanya perluasan dan penyebaran penyakit jika tidak diobati.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan transmisi, pencegahan komplikasi dan pengaturan obat-obatan.
3. Perencanaan
Diagnosa I.
Goal : Infeksi pasien tidak akan tertular pada orang lain, dan tidak kambuh pada pasien sesudah pengobatan.
Objektif : Pasien bebas dari tanda-tanda infeksi (tidak ada lesi, secret atau eksudat dari serviks, uretra, mata, faring dan anus, test serologi non reaktif dan tidak ada gejala lain.
Diagnosa II
Goal : Infeksi pasien akan sembuh sebelum meluas atau menyebar
Objektif : Tidak ada tanda-tanda sifilis sekunder atau tersier, CSF normal (tidak berisi treponema pallidum, follow up untuk test serologi menunjukkan penurunan titer antibody
Diagnosa III.
Goal : Pasien akan meningkatkan pengetahuan tentang sifilis.
Objektif : Setelah diberikan penyuluhan pasien dapat menjelaskan kembali pengertian, penyebab, cara penularan, pengobatan, pencegahan lebih lanjut untuk mencegah transmisi sifilis.
4. Implementasi
Diagnosa Implementasi Rasional
Dx. 1
Dx. 2
Dx. 3 Ambil specimen untuk pemeriksaan laboratorium dan ambil darah untuk test serologi.
gunakan tindakan pencegahan saat pengambilan specimen dan pemeriksaan pasien
test serologi pada ibu hamil paling kurang sekali selama kehamilan
beri anti infeksi sesuai ketentuan
pemeriksaan kembali dan obati ibu hamil dengan riwayat sifilis sebelum proses persalinan, periksa tanda dan gejala bayi baru lahir.
Kolaborasi pemberian obat anti infeksi dan dosis.
monitor immonokompromised untuk tanda-tanda penyebaran infeksi.
monitor temperature tubuh dan gejala sifilis
gunakan teknik aseptic dalam merawat luka
Untuk diagnosa pasti dan pengobatan
Lesi dan eksudat mukosa sangat menular
Resiko tinggi pada trimester 3 mulai pada saat melahirkan
Sifilis dapat ditransisikan pada fetus. Pengobatan yang adekuat pada ibu sebelum 15 minggu akan mencegah kerusakan pada fetus.
Neonatus akan terinfeksi lewat mukosa membrane saat kelahiran jika ada infeksi pada serviks.
Pengobatan dapat mencegah komplikasi dan transmisi sifilis.
Immunocompromised beresiko tinggi untuk penyakit sistemik.
Deteksi dini infeksi, pengobatan dan agen infeksi akan mencegah penyebaran pathogen
Mencegah penyebaran pathogen
5. Evaluasi
1. Infeksi tidak transmisikan ke orang lain atau kembali kepada pasien pengobatan.
2. Infeksi telah dapat diobati sebelum memburuk atau meluas
3. Pasien mengetahui tentang pemberian obat-obat anti infeksi sesuai anjuran
4. Pasien mengetahui informasi untuk mencegah episode PMS dan mencegah transmisi PMS.
6. Pendidikan Kesehatan
1. Pasangan seks seharusnya memeriksa diri.
2. Aktifitas seksual dihindari sampai pasien dan pasangannya mendapat pengobatan cukup dan semua lesi sembuh.
3. Pengobatan pasien secara teratur dan test serologi 3, 6, 12 dan 24 bulan setelah terapi.
4. Hindari produk-produk susu antacid, zat besi, mineral yang mengandung zat buatan setelah konsumsi tetrasitin.
5. Penjelasan reaksi sistemik seperti demam, sakit kepala dan tachicardi setelah pengobatan langsung.
6. Istirahat yang cukup dan hindari penggunaan aspirin.
PENUTUP
Kesimpulan
Sifilis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh treponema pallidum dapat ditularkan lewat hubungan seks, transfuse darah dan plasenta.
Sifilis dibagi menjadi:
a. Sifilis Kongenital terbagi atas:
- Sifilis Dini (sebelum umur 2 tahun)
- Sifilis lanjut (sesudah 2 tahun)
- Stigmata (jaringan parut/deformitas)
b. Sifilis Aquisita terbagi atas:
1. Sifilis klinis terdapat 5 stadium yakni: Inkubasi, Primer, Sekunder, Laten dan Tersier.
2. Sifilis Epidemik terdapat 2 stadium: (Stadium dini menular dan Stadium lanjut tidak menular)
c. Sifilis Kardiovaskuler
d. Neorosifilis
DAFTAR PUSTAKA
Grimes E. Deanna dkk (1991) “Infection Disease Clinical Nursing Series”, Mosby
Prof. Dr. Adhi Djuanda (1999) “ Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin” Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
Linda J. Carpenito (1995) “Nursing Care Plans and Documentation” J. B Lippin Cott, Philadelphia.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Virus)
HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Virus)
A. Pengertian.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) yaitu virus yang menyerang/merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang kemudian dapat menimbulkan AIDS.
AIDS (Acquired Immunodeficiency Virus) adalah sekumpulan keadaan klinis yang merupakan akibat akhir dari infeksi HIV.
Atau kumpulan suatu gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh.
B. Etiologi.
Penyebab utama AIDS adalah infeksi oleh virus yang dinamakan HIV. Virus ini termasuk dalam famili retroviridae.
C. Fase - Fase Pada Infeksi HIV Dan Aids.
Fase Lamanya fase Antibodi dapat diketahui Gejala Dapat ditransmisi
Window periode 4 minggu - 6 bulan setelah infeksi Tidak Tidak ada Ya
Acute primary HIV infection 1 - 2 minggu Mungkin Seperti sakit flu Ya
Infeksi HIV asymptomatic 1 - 15 tahun atau lebih Ya Tidak ada Ya
Suppresi imun symptomatik Diatas 3 tahun Ya Deman, keringat dimalam hari, BB hilang, diare, neuropaty, keletihan, rash, lympadenopaty, berpikir lambat, lesi oral. Ya
AIDS Variable: 1 - 5 tahun dari kondisi AIDS terdefenisi/pasti Ya Infeksi oportunistik berat, dan tumor pada beberapa sistem tubuh, manifestasi neurologis Ya
D. Patofisiologi.
HIV merupakan retrovirus manusia, karena mempunyai kemampuan yang unik dalam mengubah RNA menjadi DNA dengan menggunakan enzim yang disebut Reservse Transcriptase. Retrovirus, apabila menginfeksi sebuah sel, mampu menggabungkan genome virus kedalam genome sel. Perubahan ini menyebabkan sebuah sel tidak normal, salah satunya bahwa tidak dapat menunjukkan fungsinya secara baik. Ada waktu yang sama, sel ini apabila diaktifkan dan memperbanyak diri, dapat menghasilkan virus yang lebih banyak.
HIVditularkan/ditransmisikan melalui kontak seksual, lewat darah atau produk darah dan ibu-ibu ke bayinya. Seorang yang mempunyai hubungan seksual dengan orang terinfeksi mempunyai resiko yang besar mendapat infeksi HIV. HIV tidak ditransmisikan melalui kontak yang biasa di rumah, sekolah atau tempat kerja. Meskipun demikian, virus dalam jumlah yang kecil dapat diisolasi dari salilva, ciuman, pemakaian gelas yang berpindah-pindah dan aktivitas lain yang mana saliva merupakan bagian pelindung yang tampak. Dalam kenyataannya, ada beberapa fakta yang mengatakan bahwa enzim yang terdapat dalam saliva mempunyai kemampuan untuk menonaktifkan HIV.
Retrovirus HIV mempunyai kesukaan pada sel - sel tertentu dalam sistem imun, seperti T4 atau CD4. T4 lymphocyte disebut juga sel kelper inducer. Sel ini memegang peranan penting dalam kekebalan sel mediated dan berfungsi sebagai “konduktor” pada ovkes imun dengan mengirim signal inducemen ke bagian lain pada sistem imun. Orang yang menderita HIV yang sel T4 terinfeksi tidak dapat melakukan fungsisecara adekuat, tidak dapat mengirim signal inducement secara baik dan memberikan malfungsi yang berlebihan pada semua sistem imun. Sel T4 yang terinfeksi dihancurkan secara ultimate oleh HIV dan mengakibatkan :
1. Lymphocytopenia.
2. Fungsi sel T abnormal.
3. Pollyclonally diaktifkan sel B yang dibuktikan oleh adanya hypergamma globulinemia.
4. Fungsi makrofag abnormal. Hal ini juga menunjukkan bahwa HIV secara langsung menginfeksi makrofag, termasuk didalamnya sistem syaraf pusat yang mana mungkin menunjuk pada gejala kompleks yang mengarah pada AIDS demetitia kompleks.
Pathway
s
E. Manifestasi Klinis.
Pada beberapa sistem tubuh berikut ini yang terjadi bersamaan dengan multipel infeksi:
1. Mulut.
Penyebab :
Lesi diakibatkan oleh: candida, herpes simplex, KS, virus papiloma, berupa kutil pada mulut, HIV gingivitis, atau peridontitis, leukoplakia pada mulut. Akibatnya nyeri mulut terutama kesulitan mengunyah dan menelan, penurunan intake nutrisi dan cairan, dehidrasi, penurunan berat badan dan kelelahan.
2. Neurologic.
a. Penyebab: AIDS dementia complex yang disebabkan oleh: berlangsungnya serangan HIV dalam sel saraf.Akibatnya: perubahan kepribadian, kegagalan kognitif, konsentrasi menurun, tidak mampu mengambil keputusan, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, membutuhkan bantuan dalam melakukan ADL, atau tidak mampu melakukan ADL, paresis dan plegia, inkontinensia, isolasi sosial.
b. Penyebabnya :
Akut encephalopathy disebabkan oleh : reaksi obat terapeutik, over dosis obat, hypoxia, hypoglikemi, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis yang disebabkan oleh: mycrobacterium toberculosis, virus herpes simplex, cytomegalovirus, sipilis, candida, limpoma. Akibatnya: sakit kepala, malaise, demam, paralisis keseluruhan atau sebagian, penurunan kognitif, distorsi, coma, kematian.
c. Neuropaty
Penyebab: inflamasi demyelinasi diakibatkan dari berlangsungnya serangan virus HIV, reaksi obat, kaporsi sarkoma, lesi. Akibatnya: penurunan kontrol motorik, ataksia, mati rasa pada bagian perifer, rasa panas, isolasi sosial.
3. GI.
Penyebab:
- Diare: disebabkan oleh cryptosporidium, isopora, cytomegalovirus, salmonela, KS, lympoma. Akibatnya: penurunan berat badan, anoreksia, fatique, inkontinensia.
- Hepatitis: disebabkan oleh virus hepatitis A,B,C,D dan E; penggunaan obat yang tidak resmi, alkoholisme, CMV. Akibatnya: anoreksia, mual, muntah, nyeri pada perut, jaundice, demam, malaise, kemerahan, nyeri sendi, hepatomegali, gagal hati, kematian.
- Anorectal disease disebabkan oleh: abses dan fistula pada daerah perifer anus, luka dan inflamasi pada perianal yang disebabkan oleh infeksi. Akibatnya susah BAB, terasa nyeri pada rectal, diare.
4. Pernapasan
Penyebabnya: infeksi oleh kuman TB, candida, taxoplasma gondi, virus influenza. Akibatnya napas pendek, batuk, nyeri, hipoxia, aktivitas intoleransi, capek, gagal napas dan kematian.
5. Dermatologi
Penyebabnya: lesi virus herpes simplex, pseudomonas, dermatitis, reaksi obat, scabies, kaposis sarcoma, dekubitus, kerusakan integritas kulit yang diakibatkan dari penekanan dan inkontinensia. Akibatnya: nyeri, panas, sepsis dan infeksi sekunder.
6. Sensori
Penyebabnya:
- Penglihatan: KS pada konjungtiva, megalovirus renitis. Akibatnya kebutaan.
- Pendengaran: otitis eksternal dan otitis media akut, tuli, meningitis, CMV dan reaksi obat. Akibatnya nyeri dan tuli.
KS jarang terjadi pada wanita, pengidap hemofili, anak-anak dengan AIDS. KS juga berperan dalam diagnosa AIDS. Namun frekuensi manifestasi infeksi HIV ini berkurang, KS dipertimbangkan neoplasma yang jarang sampai mendatangkan AIDS epidemik. Hal ini hanya ditemukan di Afrika atupun laik-laki tua keturunan Mediterania. Dalam bentuk klasik KA merupakan penyakit yang perkembangannya lambat. Perkumpulan KS dengan infeksi HIV bersifat menyerang beberapa bagian tubuh dan biasa berkembang di seluruh bagian tubuh. KS merupakan tumor malignan atau jinak pada endotelium, lapisan sel epitel pembuluh darah, jantung, jaringan limpoid dan serous. Secara keseluruhan dari organ tersebut dan lesi bervariasi warna dan ukuran merupkan bentuk dasar sejumlah darah yang dikandung. Lesi utama tampak di wajah, kepala dan rongga mulut.Lesi KS juga ditemukan di paru-paru, rectum, esofagus, nasofaring, hati, empedu, limfe, ginjal dan otak, organ tersebut menjadi multisentrik dari pada metastatik. Ini berarti bahwa lesi primer yang berat akan muncul di waktu yang sama di tempat yang berbeda di tubuh.
Orang yang mengidap KS, manifestasi pertama mereka dari imunosupresi adalah memikirkan prognosis yang baik. KS merupakan kontributor yang penting untuk kematian orang terinfeksi HIV.
Reaksi psikologis yang ditunjukkan oleh infeksi HIV dibutuhkan perawatan yang baik, seperti manifestasi fisik respon psikologis yang bervariasi, respon yang bervariasi tergantung budaya dan faktor sosial ekonomi, usia, gender dan kondisi hidup seseorang yang terinfeksi. Rasa takut dan cemas mwerupakan tahap awal. Keputusan diri sendiri untuk test HIV menimbulkan kecemasan karena hasil test adalah positif atau kecemasan meningkat oleh karena menunggu hasilnya.
Salah satu pertahanan psokologis yang digunakan orang yang posistif HIV sering kali mengerikan, yakni mencoba bunuh diri.Banyak respon ketakutan, mereka mengisolasi diri dari orang lain agar tidak diketahui. Banyak orang yang terinfeksi HIV asimptomatik, sering kali langsung hypokondria. Reaksi psikologis mungkin meningkat saat orang tersebut menjadi simtomatik. Seorang yang terinfeksi HIV bisa kehilangan pekerjaan, isolasi sosial dan nyeri fisik yang menetap. Orang yang dengan HIV cenderung memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap orang lain dalam memenuhi kebutuhan dasar dan kenyamanan. Kita perlu memberi suasana yang mendamaikan, yang penuh kasih sayang dan mermbantu dalam mempersiapkan kematian.
Reaksi psikologis terhadap infeksi HIV :
1. Reaksi saat diketahui seseorang positif HIV.
- Menolak.
- Mati rasa.
- Marah.
- Perasaan tidak berdaya.
- Kecemasan.
- Depresi dan keinginan bunuh diri.
- Takut kehi9langan kehidupan seks.
- Takut ditolak oleh oirang lain.
- Takut kehilangan pekerjaan
- Perasaan bersalah, takut hidup dengan infeksi yang mengancam.
- Hipokondria.
- Perubahan gaya hidup.
- Isolasi diri.
2. Reaksi menjadi gejala.
- Kesedihan berlebihan.
- Tidak ada harapan.
- Percobaan untuk bunuh diri.
- Keadaan memalukan misalnya gejala fisik dan diare.
- Kesepian.
- Reaksi stres pada perlakuan dengan menuntut pengobatan medis.
3. Reaksi kematian.
- Perhatian dengan memutuskan urusan hidup seseorang, misalnya: perdamaian, menentukan sifat.
- Preokupasi dengan nyeri dan kontrol nyeri.
- Preokupasi dengan gejala penyakit lain.
- Takut ditinggalkan sebelum meninggal.
- Takut mati.
F. Cara Penularan Hiv/Aids.
i. Penularan secara langsung.
- Kontak seksual langsung dengan seseorang yang terinfeksi.
ii. Terinfeksi melalui darah.
- Melalui jarum suntik, tato, tindakan yang tidak steril.
- Transfusi darah atau produk darah yang terinfeksi dengan virus AIDS melalui cairan tubuh.
- Pemberian obat per IV dengan seseorang yang terinfeksi.
- Luka dan melalui darah ibu ke fetus selama kehamilan.
Hal-hal yang tidak menularkan HIV:
- Perpindahan melalui udara, batuk.
- Bersentuhan (berjabatan tangan), merangkul.
- Bercuiman.
- Makan dan minum bersama.
- Mandi bersama.
- Gigitan nyamuk.
- Melalui keringat dan air mata.
G. Tempat Hidup Virus Dan Kelompok Orang Yang Beresiko.
a. Tempat hidup virus HIV di cairan tubuh manusia:
Darah.
Cairan sperma.
Cairan vagina.
ASI.
b. Kelompok orang yang beresiko terkena HIV/AIDS :
Homoseksual, biseksual, penggunaan obat - obatan IV, WTS dan orang yang mempunyai partner seks yang berganti - ganti
Orang yang partner seksnya mempunyai pasangan seks yang lain
Orang yang menggunakan peralatan medis, seperti: netles, syringes, cookers.
Orang yang terkena melalui hubungan seks.
Mereka yang mendapat transfusi darah, bayi baru lahir yang ibunya terinfeksi juga.
H. Test Hiv.
1. Test HIV.
Test HIV dapat dilakukan jika seorang mempunyai antibodi HIV dalam darah.Test HIV dilakukan dengan menggunakan darah vena. Ada 2 test yang biasa digunakan yaitu test pertama Elisa test. Jika hasilnya negatif berarti tidak dilakukan test lanjutan, tetapi jika hasilnya positif maka selanjutnya akan dilakukan test Western Blot. Jika pada test yang kedua ini hasilnya positif maka orang tersebut dianggap terinfeksi HIV.
2. Orang yang harus ditest.
Orang yang harus ditest adalah orang yang terpapar terhadap HIV atau orang yang mempunyai pola hidup yang beresiko terpapar HIV harus ditest.HIV ditularkan dari seseorang ke orang lain melalui kontak seksual dan darah. Orang-orang yang dianggap beresiko tinggi antara lain:
- Homoseksual, biseksual, pengguna obat-obat IV, WTS dan orang-orang yang mempunyai partner seke yang berganti-ganti.
- Orang yang partner seksnya mempunyai pasangan seks yang lain
- Orang yang menggunakan peralatan medis seperti netles, syringes, cookers.
- Orang yang mendapat penyakit akibat dari seks
- Orang yang mendapat transfusi darah.
- Bayi yang lahir dari ibu yang mempunyai virus AIDS juga dapat terinfeksi
3. Prosedur test HIV
- Test Confidential seperti test medis lainnya. Didapat dari hasil pencatatan medis.Tetapkan teman-teman dan pemimpin anda untuk mengcopi medical record anda, yang memuat test antibodi HIV anda.
- Test Anonymous, orang yang tidak memberitahukan nama. Beberapa orang hanya diberikan nomor kode, dan kamu harus memberi kode untuk menentukan hasil test.Dengan test Anonymous, keputusan tergantung pada seseorang juga dokter dan ini sangat individual.
4. Bila arti test negatif
Jika hasil test anda negatif, itu berarti bahwa ttidak ada antibodi HIV dalam darah anda. Pada 4-12 minggu sesudah orang terinfeksi maka akan terbentuk antibodi HIV. Hal ini berarti orang yang baru terinfeksi, hasil test dapat negatif. Oleh karena itu jika anda termasuk kelompok resiko tinggi, dimana kamu ingin test lakukan 6 bulan setelah terpapar. Apabila hasil test tetap negatif anda dan pasangan seks anda harus melindungi diri dengan menggunakan kondom.
5. Hal-hal yang terjadi jika hasil test positif
Test HIV positif tidak berarti bahwa anda langsung terserang AIDS sekaerang tetapi anda akan mendapatkannya di masa yang akan datang. Kita tidak tahu apakah seseorang yang terinfeksi HIV akhirnya berkembang ke AIDS.
Kita tahu bahwa beberapa orang yang terinfeksi selama beberapa tahun dan tidak berkembang ke AIDS. Ini menunjukkan bahwa perawatan diri yang baik pada diri seseorang, fisik dan emosi, dapat memberikan hidup beberapa tahun pada orang yang terinfeksi HIV
Yang terutama tidak perlu panik. Infeksi HIV hanya sebagian dari seluruh total gambaran kehidupan anda. Jagalah selalu kesehatan diri anda, kontrol teratur ke dokter, suport emosi, lindungi diri dari virus AIDS, lindungi diri dari aktivitas.
6. Kepada siapa diceritakan
Katakan kepada dokter anda sehingga mereka mampu memberitahukan kepada anda kemungkinan perawatan yang terbaik.Anda juga bisa katakan kepada pasangan seks anda dan anjurkan agar mereka juga melakukan test.diskusikan dengan mereka bagaimana cara melindungi diri.
Ini penting agar orang lain dapat membantu anda,teman dan semua orang yang positif HIV. Tetapi kamu yang harus menentukan sendiri orang-orang yang kamu percaya meskipun akhir-akhir ini sudah banyak diberikan pendidikan kepada publik tetapi masih juga ada salah paham tentang infeksi HIV dan AIDS.
Saat test HIV anda positif
Test HIV positif bukan berarti kena AIDS. Itu berarti anda diinfeksi virus HIV dan harus mengambil langkah-langkah untuk mempertahankan kesehatan tubuh dan cegah transmisi.
Pengobatan anda
Test positif hanya sebagian dari gambaran keadaan. Dokter akan memberikan pengobatan atau tindakan tertentu untuk mempertahankan kesehatan dan mencegah infeksi. Obat yang diberikan seperti AZT dapat mencegah perkembangan HIV. Anda harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh anda, karena tubuh sangat rentan terhadap infeksi. Segera ke dokter bila terjadi sakit akut atau terjadi perubahan dalam tubuh (seperti demam, nyeri,batuk, napas pendek, perdarahan, perubahan kondisi kulit)
Pentingnya pola hidup sehat
Jaga kesehatan tubuh anda karena dengan begitu bisa melawan infeksi HIV. Nutrisi dan istirahat yang cukup diperlukan dan latihan juga sangat penting ini dapa menguatkan tubuh, meningkatkan energi dan stamina.Hindari alkohol atau menggunakan obat-obatan IV, sebab dapat membuat inefeksi HIV menjadi lebih buruk dan mengarah ke aids. Alkohol dan obat- oabtan dapat juga merusak keseimbangan tubuh anda.
Koping
Koping terhadap diagnosa HIV memang sangat sulit, beberapa orang merasa bahwa hidup ini hanya sendiri. Tetapi bantu untuk keluarkan dari perasaan itu dan katakan bahwa dia tidak sendiri. Segera dapatkan bantuan dari psikologis atau psikiatrik. Orang-orang ini dapat memberikan support emosional dan membantu dalam menghadapi masalah-masalah sosial yaitu pandangan masyarakat tentang AIDS. Teman-teman dan keluarga dapat juga bersama membantu anda. Inbformasi tentang HIV dan AIDS perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas.
Bagaimana cara untuk melindungi diri
Seks: pastikan bahwa pasangan seksual anda tidak mempunyai pasangan seks yang lain.Memeluk, masturbasi,menggosok-gosok tidak bisa menularkan virus HIV sejauh kita tidak mempunyai kulit yang luka. Jika kamu mempunyai pasangan seks, cara-cara unutk melindungi diri dari infeksi:
o Gunakan kondom dari awal sampai akhir.
o Jangan pernah melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan luka, abrasi atau perdarahan (seperti anal intercause).
o Gunakan lubricant seperti K..Y Jelly, jangan gunakan saliva oil lubricant seperti spetrolium jelly atau minyak sayuran.
o Hindari oral seks.
o Hindari deep-kissing.
Penggunaan obat-obatan
Jika kamu pemakai obat-obatan, segera hentikan sebab dapat memperburuk HIV. Selama kamu berusaha menghentikan:
o Jangan bekerja sama dengan orang lain.
o Jangan bekerja sama dengan orang lain yang juga menggunakan obat-obatan.
o Jika kamu menggunakan alat-alat, bersihkan kembali dengan obat pemutih dan air.
Wanita : Jangan dulu hamil sebab virus yang anda derita dapat diturunkan ke bayi anda. Anak yang lahir dengan virus AIDS meninggal sebelum umur 2 tahun. Kehamilan dapat memperburuk infeksi HIV dan beberapa wanita akan sering sakit dan dapat meninggal selama hamil. Jika kamu siap mempunyai bayi, jangan beri ASI sebab anda dapat memberikan virus itu lewat ASI.
Sumbangan/donor : Jangan memberikan donor darah, sperma atau organ-organ tubuh.
I. Studi Diagnostik Dan Penemuan.
Test untuk diagnosa HIV
ELISA : Positif terhadap antibodi HIV (karena kemungkinan hasil positif tidak benar. Test ini akan dibuat 2 kali).
Western Bolt : Positif akibat indikasi kehadiran antibodi HIV. Test ini positif dengan ELISA; negatif akibat indikasi bukan antibodi.
P24 antigen test : Positif karena indikasi sirkulasi antigen HIV
Culture HIV : Dasar positif pada ukuran adanya kebalikan rekaman aktivitas dalam suspek T Limfosit (akan diambil 60 hari sampai mendapatkan hasil).
Test untuk perusakan sistem imun: berubahnya hasil test dalam petunjuk indikasi adalah tanda memburuknya status imun.
Hematokrit : Pengurangan dalam ukuran normal dari 37%-49%.
Eritrosit sedimentasi rate : Elevasi ukuran normal <15 mm/h. CD4 limphocytes : Pengurangan dalam ukuran normal dari 600-1200. CD4/CD8 limphocytes ratio : Normal 2:1-ratio menurun atau sebaliknya. Serum neopterin : Elevasi di atas garis normal. Serum B2 microglobulin : Elevasi nilai normal dari 12-18 g/dl. WBC : <3500 sel/mm³. Test keseluruhan status kesehatan dari HIV-menulari manusia. Test berikutnya akan dilakukan setelah seseorang positif HIV. Akan dilindungi periodikal untuk monitor kesehatan secara umum dan respon terhadap gejala. Saat hasil test individu ada indikasi patologi, maksudnya menentukan garis dasar untuk dijadikan perbandingan pada penemuan berikutnya. CBC, diferensial, jumlah platelet SMA-12 atau jalur penyaringan darah yang serupa. Test serologi syphilis, toxoplasma, cryptoccus dan hepatitis Urynalisis, x-ray dada Pap smear atau test kehamilan Tuberkulin skin test: reaksi lemah dari 5 mm indurasi adalah positif untuk imun seseorang. Test untuk penyakit pada oral Inspeksi : tampak lesi oral. Pemeriksaan mikroskopik pada sediaan spesimen sputum: positif sel ragi candida. Kultur virus herpes simplex : positif virus herpes simplex Pemeriksaan mikroskopik jaringan/biopsi jaringan: positif multinuclear sel raksasa Mikroskopi elektron : positif partikel virus. Pemeriksaan biopsi jaringan: positif adanya kutil, KS dan atau sel seukoplakia berbulu. Test untuk penyakit neurologi Pemeriksaan neurologi : hiperfleksi, tanda barbinski, alaxia (hilang keseimbangan), ketidakmampuan untuk melakukan ADL. Pemeriksaan status mini-mental: penurunan fungsi mental. CT Scan/MRI: lesi abnormal cerebral, atropi, distorsi ventrikel infark. Elektroenchepalogram: Generalizet Blowing (perlahan menyamaratakan). Elektromyelogram: elektikal abnormal kondusi. Analisis CSF: protein dan darah terdapat penemuan abnormal. Test untuk penyakit GI Endoscopy: gambaran lesi GI Kultur dan pemeriksaan mikroskopik feces, cairan GI/biopsi jaringan: positif patogen edan lesi KS ataub lympoma. Enzim hepatic (AST, ALT) (ADP): elevasi di atas baseline pasien. Bilirubun: elevasi di atas baseline pasien CT Scan/ultra sound abnormal: pembesaran hati atau keadaan abnormal lainnya. Sigmoindscopy: gambaran penyakit rectal. Inspeksi anus: gambaran lesi, KS atau eksudat X-ray: penemuan abnormal. Test fungsi pulmonal: penurunan fungsi. Pemeriksaan jaringan hasil broncoscopy atau biopsi paru-paru terbuka: karateristik organisme atau neoplasma. Gallium citrate scan: peningkatan uptake pada individu yang HIV. Pemeriksaan kultur sputum atau sekresi broncial oleh lavage: positif karateristik patogen. Anlisa gas darah: indikasi adanya hipoxemia. Test untuk penyakit sistem sensori Pemeriksaan opthalmic: kerusakan retina konsisten dengan CMV retinitis. Audiometry: pendengaran berkurang. Test penyakit dermatologi Uji mikroskopik lesi biopsi: muncul karateristiklasi, patogen atau neoplasma. J. Manajemen Medik. Tujuan manajemen medik infeksi HIV adalah mempertahankan status imun pada level tinggi untuk mencegah kesempatan masuknya penyakit. Pendekatan ini ada 3 macam. Yang pertama adalah mempromosikan status umum kesehatan (promosi kesehatan) dan memperbaiki atau mempertahankan fungsi imun dan mengobati penyakit serta pendidikan pasien terhadap perlakuan untuk memperbaiki resistensi infeksi yang tepat. Yang kedua adalah mencegah infeksi yang memicu T4 pembantu aktivitas sel dan yang berikut adalah replikasi HIV. Ini adalah imunisasi yant bagus yang disiapkan dan profilaksis. Yang ketiga adalah menekan aksi HIV. Terapi obat Pencegahan infeksi: imunisasi, campak, mumps dan rubella (MMR); antibvaksin polio (IPV); vaksin pneumoccocal dan vaksin influenza tahunan. Individu dengan resiko hepatitis B akan mendapatkan vaksin hepatitis B. Antiinfeksi terapi digunakan untuk menekan pertumbuhan patogen, karena agen ini tidak membatasi dalam kerja sama imun. Beberapa pasien mempertahankan agen antiinfeksi setelah adanya kumpulan gejala yang muncul berubah. Prophylaxis dapat digunakan untuk semua jenis infeksi pneumocytis carinii; trimethropin/sulfametoxazole (bactrim). Penekanan HIV ini adalah laju area laju perkembangan dan test siap percobaan obat. agen utama mempunyai aksi antiviral. Salah satunya menghalangi replikasi HIV, mencampuri virus yang mampu untuk memberikan reseptor CD4, eliminasi HIV reservoirdalam sel atau aktivasi pertahanan antiviral. Zidovidine, juga disebut AZT adalah hanya diakui untuk menekan HIV. Tindakan atau peran AZT mengganggu sintesis DNA sehingga menghambat replikasi HIV. AZT pada awalnya menggunakan dosis tinggi. Manajemen Umum Untuk Promosi Kesehatan. Pengobatan pada masalah kesehatan yang ada: jumlah status HIV menulari manusia pada resiko untuk semua kondisi kesehatan bahwa uninfected person dari umur dan jenis kelamin termasuk kehamilan dan komplikasi kehamilan, penyakit kronik seperti diabetes atau ulcer gastric, penyakit psikiatrik dan alkohol atau penyalahgunaan obat. Perawatan kesehatan mental: hal ini dipercaya bahwa depresi klinikal memiliki efek negatif pada fungsi sistem imun atau yang berpengaruh pada depresi gaya hidup individu dan kemampuan untuk mematuhi pengobatan. Oleh karena itu psikoterapy dan antidepresant terapi seringkali digunakan. Manajemen Medik AIDS-Penyakit Yang Berhubungan Terapi Obat: - Manifestasi oral: mencuci mulut dengan antimicrobial: steroid topical; kemoterapi pada lesi KS. - Manifestasi neurologi: psikostimulans,obat anticemas, antidepresan, antipsikotic; analgesik untuk nyeri; kemoterapi dan atau radioterapi untuk CNS limpoma. - Manifestasi GI: obat salap topical untuk penyakit ano-rectal; kemoterapi untuk lesi KS dan limpoma; antinausea dan agen antidiare. - Manifestasi dermatologi: lindane untuk scabies; steroid topical untuk meningkatkan penyembuhan; lotion topical untuk kulit kering, kemoterapi untuk lesi KS. - Manifestasi respiratori: kemoterapi untuk KS dan limpoma; radioretapi untuk lesi KS. - Manifestasi sensori: kemoterapi untuk occular dan kelopak mata lesi KS (jika lesi juga meluas di tempat lain dalam tubuh); salap optalmic untuk nonoportunistik infeksi bakteri; sistemic antimicrobial untuk otitis media; radioterapi untuk lesi KS. Manajemen Umum - Manifestasi oral : pembersihan plaque; ajarkan oral higiene. - Manifestasi neurologi : konsultasi psikiatrik; penilaian medikasi menggunakan aturan atau efek dari polypharmacy; ajarkan pasien teknik untuk hidup dengan melemahnya kognitif; konseling keluarga dan pelayanan sosial untuk menyediakan kebutuhan bahwa kecemasan akibat hospitalisasi dan atau obat serta penggunaan alkohol. - Manifestasi GI: terapi diit, memasukkan suplemen, cairan dan elektrolit. - Manifestasi dermatologi: egg crate atau water matres untuk mengurangi tekanan; monitor obat untuk mencegah reaksi dermatologi. - Manifestasi respiratori: oksigen, hidrasi, melembabkan udara, bantuan respirasi. - Manifestasi sensori: penglihatan dan pendengaran. Pembedahan - Manifestasi oral: debredimen periodontitis; eksisi kutil dan lesi KS; radioterapi dan laser pembedahan untuk KS. - Manifestasi GI: pengangkatan neoplasma dan kutil; drainase abses; debredimen lesi ano-rectal. - Manifestasi dermatologi: pembedahan dengan menggunakan elektro dan laser; eksisi pada lesi, kuretase. Terapi Obat Antiinfeksi Untuk AIDS Organisme Sistem tubuh Agen antiinfeksi (hanya nama generik) Bacteri: - Mycrobacterium Tubercolosis Sum-sum tulang dan pernapasan Isoniazid, Cycloserine, Ethionamide, Ethambutol, Clofazamine, Rifabutin. - Mycrobacterium Avium Intraseluler Sistemik (MAI bukan tipe TBC) Rifabutin, Ethambutol, Cycloserine, Ethionamide, Clofazimine. - Spesis Salmonela (Salmonellosis) GI, Bladder, Sistemik Ampicillin, Amoxillin, Chlo rampenicol - Chylamydia Trachomatis (Shylamidia) GI, Respiratori Eritromicin,Tetracycline VIRUS: - Herpes Simplex (herpes) Oral, Genital, Mucosa rectal, Kulit, Kon jungtiva, CNS Acyclovir - Herpes Zoster (single) Perifer nerves dan Kulit Acyclovir - CMV Infeksi Retina,GI,CNS dan pernapasan. Gancyvlovir (DPHG) HELMINTHS: - Strongyloide Stercolaris (Strongylodiasis) Saluran Intestinal Thiabendazole, Albendazole - Cryptoccocus Neofarmans (Cryptoccocis) CNS, pernapasan, kulit, sum-sum tulang S-Flucytosine dengan Amphotericin B atau Amphotericin B saja. - Hitoplasma Capsutalum (Histoplasmosis) Sistemik, Sum-Sum Tulang, GI, Kulit Amphotericin B, Ketoconazole - Candida Albicans (Candidiasis) GI, Mulut, Pernapasan, Area Ano-Rectal, Genital Ketoconazde, Nystatin, Cotrimoxazole, Amphotericin B Protozoa: - Pneumocystis Carinii (PCP) Pernapasan Cotrimoxazole, Pentamidine, Trimitrexate, Leucovorin, Sulfametoxazole atau Trimethropin - Toxoplasma Gondii (Toxoplasmosis) CNS, Nodus Limpa, Pernapasan Pyrimethamine, Sulfametoxazole - Micosporum Species (Microporosis) Kulit, GI Griseofulvin, Antifungal, Topical - Giardia Lamblia (Giardiasis) GI Metronidazole, Quinancrine - Entamoeba Histolytica (Amubiasis) - Metronidazole, Iodoquinol Perawatan Untuk Pasien HIV Perawatan orang dengan HIV sedikit berbeda dengan orang yang mengalami masalah kesehatan akut dan kronik lainnya. Orang dengan HIV, perawatannya harus secara menyeluruh dan mudah untuk menemukan kebutuhan kompleks dari pasien dengan infeksi HIV. K. Upaya Pencegahan. Upaya pencegahan untuk orang dengan HIV menggunakan istilah ABCDE, yaitu: A= Abstinence Tidak berhubungan seksual. B= Be Faithful Saling setia dengan satu pasangan C= Condom Selalu memakai kondom saat berhubungan seksual D= Diagnosa diri dan Drug Memeriksakan diri sedini mungkin bila punya resiko E= Equipment Menggunakan peralatan yang steril ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian. Riwayat: tes HIV positif atau mungkin terdapat virus, riwayat tingkah laku yang beresiko tinggi, diagnosa STD, hepatitis B, limpadenophaty yang menetap, atau penyakit infeksi lain. Laporan penggunaan berbagai jenis obat meliputi penulisan resep obat, OTC, reaksi dan kekebalan terhadap obat. Keadaan Umum: pucat. Gejala subyektif: demam kronik, dengan atau tanpa kedinginan, keringat di malam hari, malaise, kelemahan, keletihan yang sangat berat, anoreksia, kehilangan berat badan, nyeri dan sulit tidur. Psikososial: nampak cemas, riwayat hilangnya pekerjaan dan jaminan kesehatan, diasingkan dari orang lain, perubahan situasi kehidupan, dann perubahan kehidupan lain, mengungkapkan perasaan bersalah, sedih atau sakit. Satatus mental: perubahan tingkah laku, mengungkapkan kemarahan dan keputusasaan, sedih, ide bunuh diri, kelesuan, menarik diri, hilangnya ketertarikan pada keadaan disekelilingnya, penjualan atau pemberian hak milik, gangguan proses pikir, gangguan pendapat: berpikir lambat, hilang ingatan, bingung, gangguan perhatian dan konsentrasi, gangguan komunikasi, aphasia, sulit menemukan kata-kata, halusinasi, delusi. Kepala, mata, telinga, hidung dan tenggorokan: nyeri periorbital, photopobia, pandangan kabur dan penglihatan ganda, kehilangan penglihatan total, odema facial, tinitus atau hilangnya pendengaran, timbul lesi berwarna putih atau merah dalam rongga mulut, ulser pada bibir atau di dalam mulut, mulut kering, perubahan suara, dysphagia, kelenjar getah bening yang jelas, epistaksis. Neurologi: perubahan refleks pupil, nistagmus,neuoropaty, vertigo, ketidaksemimbangan, ataksia, neuromuskular yang tidak terkoordinasi, sakit kepala yang hebat, serangan yang tiba-tiba, hilangnya kesadaran, paraplegi, kuadraplegi. Muskuluskeletal: kerusakan otot, kerusakan fecal motor, kelemahan dan ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas dan latihan. Kardiovaskuler: tachicardi b.d demam, hypotensi b.d dehidrasi, HR yang tidak teratur, dizzines b.d ketidakseimbangan elektrolit, tidak ada nadi peripheral dan edema peripherial. Pernapasan:dyspnea, tacipnea, cyanosis, napas pendek, menggunakan asesoris otot pernapasan, posisi tubuh untuk memfasilitasi pernapasan, batuk produktif atau non produktif, bunyi jantung jauh atau menurun pada saat auskultasi. Pencernaan: menurunnya intake makanan dan minuman, melaporkan adanya nyeri mulut (penyebab kesulitan makan), anoreksia, nausea, muntah, penurunan berat badan, diare inkontinensia, abdomen lunak, kejang atau kram, hepatomegali, splenomegali, jaundice, bunyi bowel (tidak ada atau hiperaktif), lesi pada anus, perdarahan rectal. Genitouri: lesi atau eksudat pada genitalia, pada wanita dilaporkan adanya nyeri pelvic, penurunan urine output b.d dehidrasi, inkontinensia. Integumen: melaporkan adanya kekeringan dan pruritus, keringat di malam hari, rash atau lesi di beberapa bagian tubuh, berwarna merah-violet, timbul lesi, petechiae, kelenjar getah bening yang jelas, jaundice, turgor kulit yang jelek b.d dehidrasi, kulit hangat dan basah bila disentuh, tanda-tanda dari penggunaan obat IV. B. Diagnosa Keperawatan. 1. Potensial terhadap infeksi b.d imunosupresi, efek kemoterapi atau radiasi, sering melakukan venipuncture, malnutrisi dan gaya hidup yang beresiko tinggi Data penunjang : riwayat gaya hidup yang beresiko tinggi, penemuan laboratorium untuk infeksi HIV dan imunosupresi, melaporkan terjadinya demam dan keringat di malam hari, penurunan berat badan, fatique, kulit pucat dan turgor kulit jelek. 2. Potensial terhadap infeksi kontak b.d infeksi HIV, gaya hidup dan adanya kesempatan infeksi nonoportunistik yang dapat ditransmisi. Data penunjang : riwayat terpaparnyan HIV, sekresi tubuh, eksresi, atau eksudat yang mengandung patogen, demam, lympadenopati dan lesi. 3. Gangguan proses berpikir b.d infeksi HIV pada CNS atau patogen lain, penyakit yang berbahaya, hypokemia, reaksi obat, depresi. Data penunjang : melaporkan adanya lupa ingatan, lambat dalam berpikir dan memecahkan masalah, menunjukkan kebingungan, gangguan berpendapat, disorientasi, perubahan personality, hilangnya ingatan, delusi dan halusinasi, tanda-tanda meningitis, tanda-tanda tidak dapat memelihara diri sendiri (contoh: kegagalan untuk makan, adanya penemuan data laboratorium atau diagnostik pada infeksi CNS atau penyakit berbahaya. 4. Potensial injuri b.d penyakit CNS, perubahan status mental, kelemahan atau kerusakan neuromuskular. Data penunjang : melaporkan adanya lupa ingatan, dugaan yang tidak nyata terhadap diri, kelemahan, penglihatan yang kurang, gangguan rasa dan ekstremitas, jatuh, menunjukkan adanya gangguan keseimbangan gaya berjalan dan kekuatan otot, kebingungan dan memiliki seizur. 5. Potensial keracunan b.d efek toxic dari terapi pengobatan. Data penunjang : ketergantungan obat, pusing, gangguan sensori, hipertensi, rash, edema, gugurnya rambut, gangguan jiwa, sedasi, hilangnya kesadaran. 6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, gangguan CNS, dan neurologic, malnutrisi, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, kelelahan, gangguan pertukaran oksigen. Data penunjang : melaporkan adanya kelelahan, kelemahan, napas pendek dan tumor, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas dan latihan, atropi otot, paralisis pada tungkai dan lengan, dyspnea dan tachicardi, inkoordinasi psikomotor. 7. Ganguan persepsi sensori (penglihatan, pendengaran dan kinestik) b.d retinitis CMW, infeksi otik dan kerusakan CNS oleh HIV. Data penunjang : melaporkan photopobia, kehilangan penglihatan, gangguan pendengaran, ataxia, apraksia. 8. Gangguan komunikasi verbal b.d penyakit CNS. Data penunjang : menunjukkan ketidakmampuan mengenal atau mengerti tulisan atau pembicaraan sulit, sulit mengucapkan kata-kata, tidak dapat mengingat anggota keluarga. 9. Nyeri kronik b.d penyakit neurologik, tekanan lesi KS pada syaraf dan lympadhenopati. Data penunjang : melaporkan nyeri terbakar pada ekstremitas, nyeri kepala hebat atau terasa lunak pada daerah kelenjar getah bening yang luas. 10. Gangguan pola tidur b.d kecemasan, keringat pada malam hari, kedinginan dan jadwal pengobatan. Data penunjang : melaporkan adanya kesulitan tidur, perubahan pola tidur dan kelelahan setiap hari. 11. Isolasi sosial b.d ketakutan orang lain terhadap AIDS, penolakan keluarga, cacat di mata masyarakat, penarikan diri pasien dari orang-orang dan aktivitas. Data penunjang : melaporkan hilangnya pekerjaan, tinggal seorang diri, tingkah laku pendiam, tidak ada pengunjung di RS, mengekspresikan kesepian. 12. Kurang perawatan diri dalam semua aktivitas dan latihan b.d kondisi yang buruk, dyspnea, perubahan mental, gangguan neurolgik, depresi, kemiskinan. Data penunjang : cepat lelah dalam perawatan diri, beristirahat di tempat tidur, menurunnya partisipasi dalam melakukan aktivitas perawatan diri 13. Gangguan pengelolaan biaya hidup di rumah b.d intoleransi aktivitas, tidak adekuatnya keuangan, kurangnya pengetahuan tentang sumber pertolongan. Data penunjang : melaporkan tinggal sendirian dengan keadaan terbatas dan tanpa pertolongan, keuangan yang terbatas, melaporkan dan menunjukkan ketidakmampuan dalam perawatan diri. 14. Kecemasan b.d diagnosis; takut terhadap pengobatan, hospitalisasi, nyeri, kematian, kehilangan yang dihubungkan dengan diagnosa HIV. Data penunjang : mengekspresikan ketidakberdayaan, marah, menyesal, takut, menyangkal, menunjukkan kegelisahan, agitasi, tidak dapat tidur. 15. Tidak berdaya b.d kurangnya prognosis penyakit dan merasa hilangnya kontrol pada hal penyakit dan keputusan perawatan kesehatan. Data penunjang : mengungkapkan tidak dapat mengontrol kehidupan, pengobatan yang akan datang, ekspresi marah, apatis /pasif,meningkatnya ketergantungan pada orang lain, menunjukkan tidak terpenuhinya aturan hidup dalam pengobatan. 16. Sedih atau putus asa b.d banyaknya kehilangan (kesehatan), kecantikan, pekerjaan, jaminan, hubungan baik dengan anggota keluarga, hilangnya masa depan diri. Data penunjang : perasaan depresi, kurangnya komunikasi, meningkatnya kegiatan istirahat di atas tempat tidur, menjual atau memberikan semua hak miliknya, menunjukkan kemarahan/ekspresi marah, dukacita, gagasan bunuh diri, menunjukkan tidak terurusnya diri sendiri. 17. Gangguan pertukaran gas b.d infeksi pulmonal atau penyakit lainnya. Data penunjang : melaporkan adanya napas pendek, batuk produktif atau nonproduktif, fatique, dyspnea, tachypnea, menggunakan otot asesoris pernapasan, bunyi napas menurun, cianosis, penemuan laboratorium dan radiographi pada penyakit pernapasan. 18. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d menurunnya intake. Data penunjang : melaporkan tidak dapat makan, penurunan napsu makan, muntah, diare, kehilangan berat badan >20 % dari normal, pucat, abdomen lunak, pembesaran hati atau limpa, penemuan laboratorium ada indikasi anemia, parasit intestinal atau penyakit lain.
19. Diare b.d infeksi saluran GI atau penyakit lain, kemoterapi, radiasi atau reaksi obat-obatan.
Data penunjang : naik hingga 20 cairan strool tiap hari, abdomen yang lunak, bunyi bowel hiperaktif, penemuan laboratorium dan diagnostik menunjukkan indikasi infeksi intestinal atau penyakit lain.
20. Kurang volume cairan b.d nausea, vomiting, diare, demam dan diaporesis.
Data penunjang : melaporkan adanya vomiting, diare, demam, menurunnya intake cairan, hilangnya berat badan, mulut kering, pusing dan diaporesis, turgor kulit menurun, hypotensi, oliguri, anuri, penemuan laboratorium terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit.
21. Hipertermi b.d infeksi.
Data penunjang : penyimpangan temperature, panas, kulit merah, tachicardi, diaporesis.
22. Kerusakan integritas kulit b.d infeksi kulit, lesi KS, malnutrisi, imobilisasi, inkontinensia, terapi radiasi.
Data penunjang : melaporkan adanya gatal, panas, rash, lesi atau dekubitus pada beberapa bagian tubuh, gangguan pada genital atau daerah perianal, edema ekstremitas.
23. Kerusakan membran mukosa b.d infeksi oral, faringeal atau esofagus, malnutrisi.
Data penunjang : melaporkan adanya rasa sakit pada mulut atau kerongkongan, dysphagia, perubahan rasa, inflamasi, atau lesi pada mukosa oral dan pharingeal, perdarahan gusi atau hidung.
24. Gangguan pola seksual b.d takut terjadinya transmisi HIV, gangguan aktivitas sosial, terputusnya hubungan baik, aktivitas intoleransi.
Data penunjang : melaporkan adanya perubahan gaya hidup dan aktivitas sosial, hilangnya orang yang berarti.
25. Tidak efektifnya koping individu b.d kecemasan tentang kasih sayang pada satu kondisi, takut infeksi, lamanya disfungsional hubungan baik, tuntutan perawatan pasien.
Data penunjang: keluarga menunjukkan tingkah laku kecemasan atau bermusuhan, tidak mengunjungi pasien, pasien mengekspresikan mengenai bagaiman koping keluiarga, pasien dirawat oleh keluarga di rumah.
C. Perencanaan.
Goal:
1. Pasien akan bebas dari infeksi dan komplikasinya.
2. Infeksi HIV tidak dapat ditransmisikan melalui kontak pasien, pemeliharaan kesehatan para pekerja diamati penyebab cairan tubuh dan darah, pasien mengamati cara-cara untuk mencegah transmisi HIV atau patogen lain.
3. Pengaruh gangguan proses pikir dalam kehidupan pasien akan dikurangi.
4. Pasien tidak akan mempunyai pengalaman injuri karena kecelakaan atau jatuh.
5. Dapat dicegahnya interaksi obat atau reaksi alergi dapat dihindari, pasien akan menyediakan sendiri obat-obatan sesuai yang ditentukan atau diinstruksikan.
6. Pasien akan berpartisipasi dalam aktivitas yang menggunakan energi sesuai kemampuannya, akan bebas dari dyspnea dan tachicardi selama aktivitas.
7. Pasien tidak akan bingung atau takut oleh stimulus lingkungan,injuri tidak diakibatkan karena gangguan penglihatan,pendengaran atau rasa kinesthetie.
8. Komunikasi dengan pasien akan ditingkatkan, pasien mengkomunikasikan kebutuhan melalui metode tanpa suara/berbicara jika dibutuhkan.
9. Pasien akan memperoleh keringanan dari rasa nyeri
10. Pasien akan memperoleh istirahat dam waktu tidur yang cukup.
11. Pasien akan memelihara hubungan baik dengan orang yang penting baginya atau menyesuaikan diri terhadap perubahan hubungan kekerabatan, pasien akan diperkenalkan pada sumber suport sosial lainnya.
12. Pasien akan memiliki kebutuhan untuk bertemu setiap hari dengan yang lain selama episode penyakit akut dan akan berpartisipasi dalam perawatan diri sesuai toleransi.
13. Pasien dan orang penting lainnya akan mengetahui tentang sumber komunitas dan pelayanan untuk memfasilitasi manajemen di rumah.
14. Pasien akan mengungkapkan kecemasan.
15. Pasien akan mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat dikontrolnya dan membuat informasi tentang dirinya, hukum dan kebutuhan perawatan kesehatan, pasien akan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan yang berhubungan deengan pengobatannya.
16. Pasien akan mulai menunjukkan kemajuan dari proses kesedihan.
17. Pasien akan menunjukkan pola pernapasan yang normal, tingkat gas darah dan oksigenasi seluler, pasien akan menunjukkan kemampuan pemenuhan atau pemberian oksigen sendiri, pasien akan menunjukkan keringanan gejala dyspnea dan kekurangan udara.
18. Pasien dapat mempertahankan intake kalori dan protein yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik, berat badan akan stabil atau meningkat seperti pada keadaan sebelumnya.
19. Pasien akan memperoleh tingkat kenyamanan yang maksimum dan mengontrol diare, komplikasi diare akan dikurangi.
20. Keseimbangan cairan dan elektrolit dapat dipertahankan.
21. Temperature tubuh akan dipertahankan pada keadaan yang normal, kenyamanan dan keamanan dapat dipertahankan untuk pasien yang mengalami demam.
22. Pasien akan bebas dari lesi kulit, kerusakan kulit lebih lanjut dapat dicegah.
23. Kerusakan mukosa membran dapat dikurangi, pasien akan menunjukkan kenyamanan oral.
24. Pasien atau pasangan akan memberikan suport dan konseling untuk kemungkinan dimulainya lagi aktivitas seksual atau alternatif kepuasan seksual.
25. Keluarga akan kuat dan mempertahankan mutu sistem support dan beradaptasi terhadap tuntutan perubahan pasien.
D. Implementasi.
DX I : Potensial infeksi
Monitor adanya tanda-tanda baru infeksi
R/ untuk pengobatan dini
Gunakan teknik aseptik
R/ menghindarkan pasien dari patogen yang diperoleh selama di rumah sakit
Instruksikan pasien dalam menggunakan metode untuk menghindari patogen lingkungan
R/ mencegah penambahan infeksi utama atau pokok
Dapatkan spesimen untuk analisis laboratorium sesuai petunjuk
R/ menjamin diagnosis dan pengobatan yang akurat
Berikan anti infeksi sesuai petunjuk
R/ mempertahankan level darah terapeutik terhadap obat
DX II : Potensial infeksi kontak
Instruksikan pasien atau orang penting lainnya cara-cara untuk mencegah transmisi HIV atau patogen lainnya
R/ pasien ingin dan membutuhkan informasi ini
Gunakan tindakan pencegahan terhadap darah dan cairan tubuh bila merawat pasien.Gunakan barier atau penghalang lain seperti masker atau sesuai kebutuhan
R/ meskipun resiko transmisi HIV ke para petugas kesehatan sangat kecil, tetapi nyata. Resiko terbesarnya hepatitis B atau TB yang lebih luas.
DX III : Gangguan proses berpikir
Kaji status mental dan proses neurologik
R/ untuk menentukan data dasar
Monitor infeksi, keseimbangan elektrolit, interaksi obat, depresi, hipoksemia, pemberian terapi sesuai anjuran
R/ Kondisi ini dapat diobati
Atur lingkungan, pertahankan kenyamanan dan stimulus keluarga
R/ untuk meminimalkan disorientasi stimulus
Dorong pasien untuk memiliki obyek dekat yang dikenal. Orientsikan pasien terhadap kejadian-kejadian baru dilingkungan. Sediakan petunjuk untuk orientasi (jam, kalender).
R/ mengingat kembali, menolong memori dan orientasi
Dorong pasien untuk latihan pegangan dalam langkah-langkah tambahan, berbicara pelan dan sederhana, instruksi yang pendek.
R/ memerlukan sedikit penggunaan memori
Bantu pasien untuk memperoleh kekuatan pada pengacara.
R/ untuk berpegang pada hukum dan perkara keuangan
DX IV: Potensial injuri
Atur lingkungan demi keamanan pasien (misalnya menyediakan palang keamanan, penerangan yang cukup dan hindari kekaacauan), instruksikan pasien atau orang penting lainnya ntuk berada di rumah yang aman, nasehatkan paisen tentang mengendarai kendaraan, berikan pilihan atau alternatif transportasi, awasi keadaan pasien yang disorientasi, menganjurkan tindakan pencegahan terhadap seizure untuk pasien yang mengalami seizure, awasi pasien apabila ia merokok, simpan atau jauhkan barang-barang dari jangkauan pasien, anjurkan pasien untuk meminta pertolongan bila ia hendak bangun dari tempat tidur atau ambulasi.
R/ untuk menegah kecelakaan dari injuri.
Lakukan evaluasi terapi fisik.
R/ therapi fisik akan dikonsultasikan dengan pasien tentang bantuan lingkungan untuk membantu mobilitas.
DX V: Potensial keracunan
Instruksikan pasien atau orang lain untuk berobat sesuai petunjuk: dosis, rute pemberian, jadwal pemberian, efek samping dan reaksi tak menguntungkan dan kondisi tak memungkinkan obat itu diteruskan, dan memanggil seorang dokter. Pastikan pasien memperhatikan daftar medikasi dan waktu pemberiannya.
R/ pasien dengan HIV sering kali mendapat pengobatan yang dapat meningkatkan resiko reaksi obat; pasien dengan memori yang hilang merupakan resiko besar terjadi medikasi yang salah.
Anjurkan mempertahankan jalur IV line untuk pasien yang menerima terapi IV di rumah.
R/ untuk mencegah komplikasi.
DX VI: Intoleransi aktivitas
Monitor respon fisiologi terhadap aktifitas.
R/ kemampuan berubah dari hari ke hari.
Atur lingkungan untuk mengembalikan energi pasien, instruksikan ukuran atau standar yang digunakan untuk mengembalikan energi energi dan juga perlindungan dari injuri (seperti bantuan ambulasi, grab bar).
R/ untuk mengurangi tuntutan energi.
Berikan perawatan kepada pasien yang tidak dapat merawat diri nya sendiri.
R/ berkurangnya tenaga kadang-kadang berhubungan dengan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas dan latihan.
Atur asuhan keperawatan untuk menyediakan waktu istirahat yang cukup atau tidak henti-henti.
R/ istirahat ekstra dibutuhkan kaarena adanya peningkatan kebutuhan metabolik.
Bantu pasien untuk mengatur jadwal yang dapat menjaga keseimbangan antara aktivitas dengan waktu istirahat yang cukup.
R/ kualitas hidup pasien dapat diperbaiki jika pasien dapat melakukan aktivitas.
DX VII: Gangguan persepsi sensori ( penglihatan, pandengaran, dan kinestik)
Kaji jumlah kerusakan sensori.
R/ untuk menentukan data dasar keperawatan.
Orientasikan pasien terhadap lingkungan, dorong orang penting lainnya untuk tinggal dengan pasien.
R/ untuk menurunkan ketakutan dan kecemasan.
Sering berbicara dan menyentuh pasien.
R/ memberikan stimulasi sensori.
DX VIII: Gangguan komunikasi verbal
Kaji kemampuan verbal pasien
R/ untuk menentukan data dasar keperawatan.
Berikan metode alternatif komunikasi (seperti papan gambar)
R/ memberikan arti pada pasien akan kebutuhan komunikasi.
DX IX: Nyeri kronik
Kaji tingkat nyeri pasien dan anjurkan pasien untuk menggambarkan nyerinya.
R/ menentukan data dasar untuk intervensi terhadap nyeri yang dialami pasien.
Lakukan tindakan paliatif (seperti relaksasi, backrubs). Instruksikan pasien dalam terapi alternatif (seperti guided imagery, relaksasi, affirmasi). Berikan aktivitas distraksi.
R/ pemberian teknik relaksasi dan mengontrol nyeri yang berlebihan.
Berikan angelsik sesuai petunjuk.
R/ mencegah timbulnya nyeri.
DX X: Gangguan pola tidur
Kaji pola tidur, bantu pasien dalam mengatur waktu tidur.
R/ merecanakan perawatan dasar pada kebutuhan pasien.
Pertahankan ketenangan, lingkungan yang aman, jadwal perawatan pasien untuk menghindari gangguan tidur, berikan medikasi sesuai petunjuk.
R/ mendorong tidur yang terus menerus.
DX XI: Isolasi sosial
Memperkenalkan hubungan kekerabatan yang penting dalam hidup pasien. Melibatkan orang-orang ini dalam perawatan pasien, jika pasien meminta.Menganjurkan adanya kunjungan dan telepon.
R/ menganjurkan interaksi lingkungan dalam perawatan kesehatan mungkin menstimulasi interaksi yang berlanjut di rumah.
Berbicara dengan pasien sesering mungkin, hindari pemakaian masker bila tidak ada resiko.
R/ masker biasanya tidak dibutuhkan dan diperlukan sebagai barier dalam komunikasi.
Instruksikan pasien dan orang penting lainnya tentang transmisi.
R/ memberikan jaminan bahwa HIV tidak ditransmisikan begitu saja.
Berikan kelompok support dan sumber AIDS komunitas.
R/ untuk meningkatkan kontak dengan masyarakat.
DX XII : Kurang perawatan diri dalam semua aktivitas dan latihan
Kaji kebutuhan pasien akan pertolongan dalam aktivitas dan latihan.Berikan pertolongan aktivitas yang tidak dapat dilakukan oleh pasien secara mandiri.
R/ kebutuhan pasien berubah seiring dengan perubahan kondisi pasien.
Berikan pasien terapi okupasional untuk membantu pekerjaan di rumah.
R/ memungkinkan pasien dalam melakukan aktivitas dan latihan sendiri, yang mana hal ini akan meningkatkan respek terhadap dirinya.
Ajarkan orang penting lainnya untuk membantu aktivitas dan latihan pasien.
R/ perawatan dapat dipertahankan di rumah.
DX XIII : Gangguan pengelolaan biaya hidup di rumah
Kaj tersedianya seseorang di rumah untuk menolong pasien dalam berbelanja, menyiapkan makanan, melakukan pekerjaan rumah tangga dan transportasi. Kaji pendapatan yang cukup untuk mendukung kehidupan.
R/ keadaan pasien menghambat kemampuannya untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan di rumah.
Tunjukkan pasien/keluarga/orang penting lainnya terhadap sumber komunitas sebagai bantuan.
R/ pelayanan yang terorganisir dalam komunitas yang terbesar membantu orang dengan HIV, pendapatan yang rendah, atau kebutuhan spesifik.
DX XIV : Kecemasan
Kaji kemampuan koping pasien. Perhatikan tanda-tanda koping yang tidak efektif.
R/ dapat digunakan sebagai pertahanan (seperti : denial).
Berikan informasi yang akurat dan konsisten tentang kondisi dan pengobatan.
R/ untuk mengurangi ketakutan karena ketidaktahuan.
Memperbolehkan pasien untuk mengungkapkan ketakutan dan kemarahan. Yakinkan pasien bahwa perasaannya normal.
R/ marah merupakan reaksi yang alamiah, ,mengekspresikannya membantu untuk mengontrolnya.
Ciptakan lingkungan yang tenang dan tidak mengancam.
R/ mengurangi stimulus yang mengakibatkan timbulnya kecemasan.
Menganjurkan interaksi dengan suport sistem.
R/ mengurangi perasaan isolasi.
Anjurkan pasien untuk konseling mental.
R/ untuk intervensi jika kecemasan menjadi disfungsional.
DX XVII : Gangguan pertukaran gas
Monitor pola napas dan bunyi napas.
R/ mendeteksi adanya komplikasi pernapasan.
Atur posisi pasien untuik meningkatkan jalan napas dan memfasilitasi batuk, anjurkan penggunaan teknik relaksasi dan pernapasan melalui bibir.
R/ meningkatkan ekspansi paru.
Berikan fisioterapi dada, suction bila diperlukan.
R/ membantu pengeluaran sekret.
Berikan oksigen.
R/ mengurangi resiko hipoksemia.
Berikan perawatan sebelum prosedur dan ajarkan untuk menjalani bronkoskopi.
R/ mengurangi kecemasan.
DX XVIII : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Monitor daya kunyah dan menelan pasien.
R/ berkurangnya intake sering kali berhubungan dengan oral dan kerongkongan.
Monitor berat badan, intake dan output.
R/ menentukan data dasar.
Kaji ketersediaan makanan di rumah dan seseorang yang menyediakannya.
R/ kehilangan pekerjaan dan penghasilan dapat menjadi masalah.
Hindari stimulus yang berbahaya, seperti bau busuk atau pemandangan yang tidak menyenangkan.
R/ dapat merangsang refleks muntah.
Berikan antiemetik sesuai dengan anjuran.
R/ mengurangi muntah.
Rencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya.
R/ menjamin makanan akan disenangi oleh pasien.
Konsul ke ahli diet.
R/ untuk menambah kebutuhan nutrisi pasien.
Pertahankan pemberian makanan lewat pipa NGT.
R/ untuk pasien yang tidak dapat menelan.
DX XIX : Diare
Kaji frekuensi dan konsistensi feces dan adanya darah.
R/ untuk menentukan data dasar.
Auskultasi bunyi bowel.
R/ hipermotilitas umumnya terjadi pada diare.
Berikan agen antimobiliti dan psyllium (metamucil) sesuai petunjuk.
R/ memperlambat motilitas intestinal, psyllium beraksi menyerap cairan dan membentuk lebih banyak masa padat.
Kaji daerah perianal, bersihkan setelah BAB, berikan obat salep vaselin atau zinc oksida, A dan D ointment.
R/ mengurangi rasa terbakar di kulit dan mnegurangi ketidaknyamanan, obat salep berguna untuk menjaga kelembaban kulit.
DX XX : Kurang volume cairan
Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit jelek, hipotensi, tachicardi, oliguria).
R/ kekurangan volume cairan adalah komplikasi umum dan dapat diperiksa.
Monitor intake dan output, berat badan.
R/ menentukan data dasar.
Anjurkan intake cairan per oral.
R/ mengimbangi peningkatan output.
Berikan terapi IV dan elektrolit sesuai anjuran.
R/ untuk pasien yang tidak dapat mengkonsumsi cairan lewat oral.
DX XXI : Hipertermi
Kaji TTV
R/ data dasar untuk intervensi selanjutnya
Berikan kompres hangat
R/ perpidahan panas secara evaporasi
Kolaborasi dokter : beri antipiretik
R/ menurunkan panas
DX XXII : Kerusakan integritas kulit
Monitor status kulit dan lesi setiap hari.
R/ menentukan data dasar.
Bantu pasien menjaga kulit tetap bersih dan kering, gunakan lotion pelembab, rawat atau bersihkan daerah peroral sesuai anjuran di atas.
R/ mencegah kerusakan kulit.
Tukar alat tenun bila kotor, mereposisi pasien sesering mungkin.
R/ mengurangi tekanan pada kulit untuk mencegah luka tekan.
Tutup daerah terbuka dengan pakaian kering dan steril.
R/ mencegah masuknya bakteri.
Lakukan perawatan luka, tekan sesuai petunjuk.
R/ mencegah kerusakan lebih lanjut, dapat menjadi tidak mungkin untuk menyembuhkannya.
Elevasikan ekstremitas yang edema, elevasikan kepala dari tempat tidur jika wajah bengkak, gunakan kain yang dingin pada wajah.
R/ membantu menghalangi dareah mengalir dengan lesi KS.
DX XXIII : Kerusakan membran mukosa
Monitor rongga mulut, tenggorokan dan bibir.
R/ mengidentifikasi adanya kenyamanan.
Hubungi dokter gigi.
R/ untuk perawatan pariodontitis.
Anjurkan dan ajarkan oral hygiene (gunakan sikat gigi yang lembut, pasta gigi yang tidak menyebabkan iritasi, penggunaan pencuci mulut), anjurkan agar mencuci mulut sesering mungkin dengan menggunakan saline dan cairan hidngen perioxide, sediakan pemulas bibir.
R/ mencegah penyebaran lesi dan meningkatkan kenyamanan.
Beri anti infeksi sesuai instruksi.
R/ mengontrol infeksi dalam mulut.
Nasihatkan pasien agar menghindari makanan yang mengandung garam , pedas dan suhu yang panas.
R/ untuk mencegah iritasi.
Anjurkan intake cairan kurang dari 2500 ml.
R/ mempertahankan cairan mukosa membran.
DX XXIV : Gangguan pola seksual
Kaji pasien dan pasangannya tentang aktivitas seksual, beri informasi yang lengkap tentang transmisi HIV dan praktek seksual yang aman dan tidak aman.
R/ mengurangi resiko transmisi HIV yang lebih lanjut dan mengurangi perubahan STDs yang dipakai dimana dapat melemahkan sistem imun.
Berikan support atau nasehat.
R/ untuk memperoleh bantuan jangka panjang dengan menyesuaikan diri dari pengaruh HIV dalam hubungan seksual .
Beri support pada pasangan pasien.
R/ patner biasanya bingung dan hal ini memperburuk keadaan pasien.
DX XXV:Tidak efektifnya koping individu
Menetapkan hubungan dengan keluarga atau orang penting lainnya, koping mereka terhadap sakit dan perawatan pasien.
R/ untuk memulai hubungan baik perawat dan keluarga dalam bekerja sama.
Ijinkan pasien mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata (marah, menarik diri, kesalahan).
R/ mereka tidak memiliki orang lain dimana mereka dapat berbicara secara bebas.
Membentuk kelompok keluarga yang memberi suport.
R/ keluarga penting untuk interaksi dengan orang lain dalam situasi yang serupa.
Ajarkan keluarga tentang penyakit dan transmisi.
R/ mengurangi kecemasan tentang transmisi dengan kontak yang secara kebetulan.
Instruksikan tentang perawatan di rumah; berikan perawatan atau pertolongan sesuai kebutuhan pasien.
R/ memungkinkan keluarga memberikan perawatan tanpa stres yang berkelebihan.
E. Evaluasi.
1. Pasien bebas dari infeksi dan komplikasinya.
Data : tidak terdapat tanda-tanda awal infeksi, penemuan laboratorium menunjukkan tidak adanya infeksi;temperatur nadi dan pernapasan normal, tidak ada lesi atau eksudat.
2. Infeksi HIV tidak ditransmisikan petugas kesehatan memperlihatkan pencegahan darah dan cairan tubuh..
Data : Pasien dapat berpatisipasi dalam melakukan ADL tanpa frustasi
3. Efek yang merubah pikiran terhadap proses kehidupan pasien dapat di perkecil.
Data : Pasien mampu berpartisipasi dalam ADL tanpa frustasi; membantu dirinya sendiri dan orang lain.
4. Pasien tidak mengalami kejadian injuri atau jatuh.
Data: Pasien diperlihatkan secara ketat, tidak jauh / mengalami injuri; menggunakan bantuan alat pengaman, lingkungan rumah bebas dari halangan yang dapat menyebabkan injuri; melarang pasien mengendarai mobil sendiri.
5. Interaksi obat/ reaksi alergi dihindari; pasien dapat mengatur obat sendiri sesuai aturan.
Data : Pasien menyelesaikan semua jadwal pengobatan yang ditentukan. Jika ada reaksi yang tidak diinginkan pasien tidak melanjutkan pengobatan dan menghubungi dokter. Pasien memberitahukan pada pelaksana perawatan kesehatan tentang semua obat yang diminumnya.
6. Pasien berpatisipasi dalam aktivitas yang butuh banyak energi; bebas dari dyspnea, dan tachicardi selama aktivitas.
Data : Lingkungan dimodifikasikan untuk memungkinkan pasien memodifikasikan tingkat aktifitasnya; pasien menggunakan metode menghemat energi; pasien beristirahat diantara aktivitasnya.
7. Pasien tidak bingung atau takut dengan stimulasi lingkungan; tidak terdapat injuri.
Data : Pasien berorientasi terhadap lingkungan, tidak menunjukan rasa takut pada ransangan, tidak terjadi injuri.
8. Komunikasi pasien ditingkatkan.
Data : pasien beristirahat dengan nyaman, dalam pertemuan terjadi komunikasi tanpa ekspresi frustasi.
9. Rasa nyeri pasien berkurang.
Data : pasien tertidur, istirahat dan melakukan ADL tanpa gangguan atau tidak menunjukkan nyeri.
10. Pasien dapat beristirahat dan tidur dengan baik.
Data : Pasien dapat menggambarkan waktu istirahat (tidur 7-9 jam per hari dan dapat energi sesudah bangun).
11.Pasien mempertahankan hubungan yang berarti atau berdaptasi terhadap perubahan hubungan.
Data : Pasien dikunjungi, dapat mengidentifikasi dengan siapa yang terakhir; nama orang yang bisa dihubungi jika memerlukan bantuan.
12.Kebutuhan pertemuan sehari-hari pasien dengan orang lain dan berpartisipasi dalam perwatan diri sesuai toleransi.
Data : Pasien ikut serta dalam ADL dengan asisten dan dengan bantuan peralatan; pasien berjalan, mandi, berganti pakaian, ke toilet dengan perawat.
13.Pasien dan orang lain yang berarti mengetahui tentang sumber-sumber pelayanan masyarakat.
Data :Pasien menggambarkan pelayanan yang dapat menyediakan bantuan dan bagaimana mengatur pertolongan dirumah, pasien membuat rencana yang komplit/lengkap tentang situasi tempat tinggal yang baik.
14.Pasien menyatakan kecemasan dan ketakutan; memakai strategi koping diri terhadap kecemasan.
Data : Pasien menunjukkan penurunan kecemasan terhadap hospitalisasi, mengatakan pengertian tentang kondisi dan perawatan pasien menunjukkan metode mengatasi kecemasan dengan jalan yang prduktif.
15.Pasien mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat dikontrolnya dengan membuat keputusan tengtang dirinya, aturan dan kebutuhan perawatan kesehatannya.
Data : Pasien berpartisipasi secara aktif dalam keputusan perawat; bertanya tentang terapi; menyatakan langkah-langkah yang dapat di ambilnya untuk mempertahankan status kesehatannya dan memperbaiki kualitas hidup sehari –harinya.
16. Pasien mulai menunjukkan kemajuan setelah proses kesediaan.
Data : pasien mengekspresikan kesedihan dan menggambarkan arti kehilangannya; berpartisipasi dalam perencanaan yang akan datang.
17. Pasien menunjukkan pola replikasi normal, jumlah gas darah, oksigenasi seluler; pasien menunjukkan kemampuannya dalam pemberian oksigen.
Data : pasien bebas dyspnea, batuk, cianosis, bunyi broncovesikuler didengar pada paru-paru; nilai CO2, PO2 dan PCO2 normal; pasien melakukan aktivitas tanpa adanya napas pendek.
18. Pasien memiliki intake kalori dan protein yang adekuat untuk kebutuhan metabolik.
Data : nausea dan vomiting dapat dikontrol; pasien makan makanan yang mengandung tinggi kalori dan protein; serum albumin dan protein berada pada nilai normal; berat badan mendekati nilai normal atau ideal.
19. Pasien mengekspresikan kenyamanan dan pengontrolan diare; komplikasi diperkecil.
Data : abdomen lembek, feces lembek, warna normal dan menunjukkan frekuensi yang normal, rasa kram pasien menjadi ringan atau berkurang; daerah perianal bebas dari kelunakan.
20. Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan.
Data: intake cairan sama dengan output, turgor kulit normal, membran mukosa lembab; urine khusus normal, serum sodium dan albumin normal.
21. Suhu tubuh dipertahankan dalam batas normal; kenyamanan dan keamanan dipertahankan.
Data: suhu dalam batas normal; tidak dingin, kemerahan atau keringat, alat tenun kering; pasien bebas dari sakit kepala dan malaise.
22. Pasien bebas dari lesi kulit (lesi dapat dicegah atau diobati).
Data : Pasien bebas dari kulit dekubitus dan kerusakan kulit yang lain atau infeksi yang disebabkan karena kondisi pasien yang lemah.
23. Kerusakan membran mukosa diperkecil; pasien menunjukkan kenyamanan mulut.
Data : Mukosa membran lembab, warna alamiah dan tanpa perdarahan atau lesi, mulut bersih dan bebas dari sisa makanan dan eksudat; lesi, jika ada harus diobati.
24. Pasien atau pasangannya diberikan suport dan konsul untuk memulai aktivitas seksual yang aman dan atau alternatif untuk mencapai kepuasan seks.
Data : Pasien/pasangannya menggambarkan metode seksual yang aman, mengungkapkan maksud untuk mengikuti konseling sesuai kebutuhan.
25. Keluarga atau orang yang berarti kuat dan mempertahankan mutu suport, sistem dan adaptasi pada perubahan tuntutan mereka.
Data : Pasien dan keluarga berinteraksi dengan jalan yang konstruksi; keluarga memberi suport tanpa menyangkal kekuatan pasien dalam pembuatan keputusan yang berlebihan, keluarga memiliki informasi rentang bantuan yang didapat dengan perawatan di rumah jika dibutuhkan.
Pendidikan Kesehatan.
Sebelum test:
Orang yang akan ditest secara sukarela adalah seorang yang menyalahgunakan obat IV, laki-laki / wanita pekerja seks, wanita biseks / menggunakan obat narkotik / IV, orang yang menerima transfusi darah di USA antara tahun 1978 dan 1995, seorang yang merasa dirinya berisiko.
Diagnosa tambahan : Orang yang berencana menikah, tuntutan institusi, orang yang sedang dalam evaluasi medis dan pengobatan pada penyakit infeksi, orang yang bekerja di rumah sakit.
1. Diskusikan alasan pasien ingin di test.
2. Pastikan pasien yang hasil test ELISA positif , mereka akan mengikuti test berikutnya.
3. Kaji hal-hal yang mempengaruhi hasil test : gaya hidup pasien,tingkah laku yang beresiko,status psikologi.
4. Tentukan jika pasien punya suport sistem.
5. Diskusikan bagaimana rencana pasien menggunakan waktu menunggu sampai hasil bisa didapat.
6. Anjurkan pasien untuk kembali mengambil hasil test (tidak diberikan lewat telepon).
7. Ajarkan pasien bertingkah laku untuk mencegah penularan,walaupun hasil test negatif.
Resiko dapat dicegah dengan : menolak obat-obat (narkotik) IV, hindari hubungan seks lewat vagina, anus atau oral dan cara pertukaran sekresi tubuh yang lain.
Resiko dapat diperkecil dengan :
- Mempertahankan hubungan seks monogami dengan satu orang saja).
- Gunakan kondom latex deengan 5% non-oxynol-9 sejak awal hingga akhir hubungan seks.
- Hindari pertukaran cairan tubuh (semen, sekret vagina, darah) selama hubungan seks.
- Gunakan jarum suntik sendiri untuk pengobatan.
8. Siapkan informasi pada program bagi pengguna alkohol dan obat-obatan.
9. Informasikan pada pasien untuk melaporkan pada dinas kesehatan jika hasil positif.
Sesudah test :
Hasil test positif tidak berarti AIDS tapi diindikasikan 30%-50% akan menjadi AIDS dalam waktu 7 tahun setelah infeksi. Tapi jika waktu infeksi tidak diketahui, pasien harus memperhatikan segala yang muncul sewaktu-waktu.
1. Beritahu pasien bahwa virus dapat ditularkan dalam semua fase infeksi. Ulangi informasi untuk mengurangi resiko penularan masa pretest. Dalam hal ini pasien berhati-hati untuk menghindari pertukaran barang pribadi yang terkontaminasi dengan darah seperti pisau cukur atau sikat gigi; hindari mendonor darah, jaringan atau sperma.
2. Anjurkan pasien untuk memberitahukan pada pasangan seksualnya.
3. Anjurkan pada wanita untuk menghindari kehamilan dan menyusui.
4. Beri informasi tentang konseling tambahan dan pelayanan suport masyarakat.
5. Anjukan pasien menginformasikan kasus HIV pada dokter umum atau dokter gigi ketika perawatan.
6. Orang dengan hasil test positif kelihatan seperti tidak dengar apa-apa setelah mengetahui hasil test. Jadwalnya untuk kunjungan berikut sebagai konsult lanjutan untuk mempentahankan sistem imun dan memperbaiki status kesehatan.
Konsult lanjutan:
1. Beritahukan pasien tentang tanda-tanda dan gejala HIV yang b.d penyakitnya.
2. Dorong pasien untuk melihat catatan harian dari penyakit, perawatan dan pengobatan.
3. Anjurkan pasien untuk menjalani perawatan medis secara teratur dan pengobatan awal terhadap semua penyakit yang berhubungan dengan HIV.
4. Ingatkan pasien tentang tanggal imunisasinya.
5. Ulangi prinsip dasar untuk mempertahankan status kesehatan seperti diet, olahraga, istirahat, menghindari obat-obat atau narkotik, alkohol, kurangi merokok dan stres.
6. Beri tahu pasien metode mencegah terpaparnya patogen.
7. Ajarkan pasien menggunakan kondom.
8. Katakan pada pasien untuk menjalani perawatan medis untuk mendapatkan sistem imun.
9. Beri tahu pasien untuk menyeimbangkan program aktivitas dan istirahat.
10. Ajarkan pernapasan mulut dan diafragma untuk mengurangi usaha bernapas.Ajarkan penggunaan spirometer yang benar.
11. Instruksikan pasien pada pengobatan yang dijelaskan, efek obat, dosis, rute pemberian, efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan.
12. Instruksikan pasien untukmenjalani perawatan kulit dan hygiene: menggunakan sabun, menghindari bedak atau bahan yang terbuat dari alkohol yang dapat menyebabkan kulit kering, menggunakan lotion pada kulit secara menyeluruh, hindari produk yang dapat menyebabkan mual.
13. Instruksikan pasien bahwa nutrisi merupakan hal yang penting.
14. Ajarkan pasien cara-cara untuk mengurangi efek dari mual: bersihkan mulut sebelum makan, hindari makanan yang berbau tajam, makan makanan ringan, makan biskuit pada waktu pagi dan hindari minun yang banyak dan hindari mengkonsumsi daging.
PENUTUP
A. Kesimpulan
AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang disebabkan oleh HIV. Penyakit ini merupakan penyakit menular seksual yang sangat berbahaya sampai sekarang pengobatan pada penyakit ini belum ada.
HIV/AIDS dapat ditularkan baik secara langsung melalui kontak seksual maupun melalui darah. Orang yang sudah terinfeksi akan beresiko untuk menularkan penyakit tersebut kepada orang lain apabila tidak ada upaya pencegahan.
B. Saran
Mengingat bahwa AIDS merupakan penyakit menular seksual yang berbahaya dan belum ada pengobatannya agar kita terus melakukan tindakan-tindakan pengobatan seperti yang telah disebutkan dan sebagai perawat tentu sebaiknya memberikan Askep dengan baik sehingga dapat mengatasi masalah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Grimes, Deanna E, 1991, “Infetious Disease”, St. Louis, Missouri Mosby Year Book
Ignatavicius, Donna D, 1991, “Medical Surgical Nursing” (A Nursing Process Approach)”, W. B Saunders Company. USA
Muma, Richard D, 1997, “HIV (Manual Untuk Tenaga Kesehatan)”, EGC Jakarta
A. Pengertian.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) yaitu virus yang menyerang/merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang kemudian dapat menimbulkan AIDS.
AIDS (Acquired Immunodeficiency Virus) adalah sekumpulan keadaan klinis yang merupakan akibat akhir dari infeksi HIV.
Atau kumpulan suatu gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh.
B. Etiologi.
Penyebab utama AIDS adalah infeksi oleh virus yang dinamakan HIV. Virus ini termasuk dalam famili retroviridae.
C. Fase - Fase Pada Infeksi HIV Dan Aids.
Fase Lamanya fase Antibodi dapat diketahui Gejala Dapat ditransmisi
Window periode 4 minggu - 6 bulan setelah infeksi Tidak Tidak ada Ya
Acute primary HIV infection 1 - 2 minggu Mungkin Seperti sakit flu Ya
Infeksi HIV asymptomatic 1 - 15 tahun atau lebih Ya Tidak ada Ya
Suppresi imun symptomatik Diatas 3 tahun Ya Deman, keringat dimalam hari, BB hilang, diare, neuropaty, keletihan, rash, lympadenopaty, berpikir lambat, lesi oral. Ya
AIDS Variable: 1 - 5 tahun dari kondisi AIDS terdefenisi/pasti Ya Infeksi oportunistik berat, dan tumor pada beberapa sistem tubuh, manifestasi neurologis Ya
D. Patofisiologi.
HIV merupakan retrovirus manusia, karena mempunyai kemampuan yang unik dalam mengubah RNA menjadi DNA dengan menggunakan enzim yang disebut Reservse Transcriptase. Retrovirus, apabila menginfeksi sebuah sel, mampu menggabungkan genome virus kedalam genome sel. Perubahan ini menyebabkan sebuah sel tidak normal, salah satunya bahwa tidak dapat menunjukkan fungsinya secara baik. Ada waktu yang sama, sel ini apabila diaktifkan dan memperbanyak diri, dapat menghasilkan virus yang lebih banyak.
HIVditularkan/ditransmisikan melalui kontak seksual, lewat darah atau produk darah dan ibu-ibu ke bayinya. Seorang yang mempunyai hubungan seksual dengan orang terinfeksi mempunyai resiko yang besar mendapat infeksi HIV. HIV tidak ditransmisikan melalui kontak yang biasa di rumah, sekolah atau tempat kerja. Meskipun demikian, virus dalam jumlah yang kecil dapat diisolasi dari salilva, ciuman, pemakaian gelas yang berpindah-pindah dan aktivitas lain yang mana saliva merupakan bagian pelindung yang tampak. Dalam kenyataannya, ada beberapa fakta yang mengatakan bahwa enzim yang terdapat dalam saliva mempunyai kemampuan untuk menonaktifkan HIV.
Retrovirus HIV mempunyai kesukaan pada sel - sel tertentu dalam sistem imun, seperti T4 atau CD4. T4 lymphocyte disebut juga sel kelper inducer. Sel ini memegang peranan penting dalam kekebalan sel mediated dan berfungsi sebagai “konduktor” pada ovkes imun dengan mengirim signal inducemen ke bagian lain pada sistem imun. Orang yang menderita HIV yang sel T4 terinfeksi tidak dapat melakukan fungsisecara adekuat, tidak dapat mengirim signal inducement secara baik dan memberikan malfungsi yang berlebihan pada semua sistem imun. Sel T4 yang terinfeksi dihancurkan secara ultimate oleh HIV dan mengakibatkan :
1. Lymphocytopenia.
2. Fungsi sel T abnormal.
3. Pollyclonally diaktifkan sel B yang dibuktikan oleh adanya hypergamma globulinemia.
4. Fungsi makrofag abnormal. Hal ini juga menunjukkan bahwa HIV secara langsung menginfeksi makrofag, termasuk didalamnya sistem syaraf pusat yang mana mungkin menunjuk pada gejala kompleks yang mengarah pada AIDS demetitia kompleks.
Pathway
s
E. Manifestasi Klinis.
Pada beberapa sistem tubuh berikut ini yang terjadi bersamaan dengan multipel infeksi:
1. Mulut.
Penyebab :
Lesi diakibatkan oleh: candida, herpes simplex, KS, virus papiloma, berupa kutil pada mulut, HIV gingivitis, atau peridontitis, leukoplakia pada mulut. Akibatnya nyeri mulut terutama kesulitan mengunyah dan menelan, penurunan intake nutrisi dan cairan, dehidrasi, penurunan berat badan dan kelelahan.
2. Neurologic.
a. Penyebab: AIDS dementia complex yang disebabkan oleh: berlangsungnya serangan HIV dalam sel saraf.Akibatnya: perubahan kepribadian, kegagalan kognitif, konsentrasi menurun, tidak mampu mengambil keputusan, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, membutuhkan bantuan dalam melakukan ADL, atau tidak mampu melakukan ADL, paresis dan plegia, inkontinensia, isolasi sosial.
b. Penyebabnya :
Akut encephalopathy disebabkan oleh : reaksi obat terapeutik, over dosis obat, hypoxia, hypoglikemi, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis yang disebabkan oleh: mycrobacterium toberculosis, virus herpes simplex, cytomegalovirus, sipilis, candida, limpoma. Akibatnya: sakit kepala, malaise, demam, paralisis keseluruhan atau sebagian, penurunan kognitif, distorsi, coma, kematian.
c. Neuropaty
Penyebab: inflamasi demyelinasi diakibatkan dari berlangsungnya serangan virus HIV, reaksi obat, kaporsi sarkoma, lesi. Akibatnya: penurunan kontrol motorik, ataksia, mati rasa pada bagian perifer, rasa panas, isolasi sosial.
3. GI.
Penyebab:
- Diare: disebabkan oleh cryptosporidium, isopora, cytomegalovirus, salmonela, KS, lympoma. Akibatnya: penurunan berat badan, anoreksia, fatique, inkontinensia.
- Hepatitis: disebabkan oleh virus hepatitis A,B,C,D dan E; penggunaan obat yang tidak resmi, alkoholisme, CMV. Akibatnya: anoreksia, mual, muntah, nyeri pada perut, jaundice, demam, malaise, kemerahan, nyeri sendi, hepatomegali, gagal hati, kematian.
- Anorectal disease disebabkan oleh: abses dan fistula pada daerah perifer anus, luka dan inflamasi pada perianal yang disebabkan oleh infeksi. Akibatnya susah BAB, terasa nyeri pada rectal, diare.
4. Pernapasan
Penyebabnya: infeksi oleh kuman TB, candida, taxoplasma gondi, virus influenza. Akibatnya napas pendek, batuk, nyeri, hipoxia, aktivitas intoleransi, capek, gagal napas dan kematian.
5. Dermatologi
Penyebabnya: lesi virus herpes simplex, pseudomonas, dermatitis, reaksi obat, scabies, kaposis sarcoma, dekubitus, kerusakan integritas kulit yang diakibatkan dari penekanan dan inkontinensia. Akibatnya: nyeri, panas, sepsis dan infeksi sekunder.
6. Sensori
Penyebabnya:
- Penglihatan: KS pada konjungtiva, megalovirus renitis. Akibatnya kebutaan.
- Pendengaran: otitis eksternal dan otitis media akut, tuli, meningitis, CMV dan reaksi obat. Akibatnya nyeri dan tuli.
KS jarang terjadi pada wanita, pengidap hemofili, anak-anak dengan AIDS. KS juga berperan dalam diagnosa AIDS. Namun frekuensi manifestasi infeksi HIV ini berkurang, KS dipertimbangkan neoplasma yang jarang sampai mendatangkan AIDS epidemik. Hal ini hanya ditemukan di Afrika atupun laik-laki tua keturunan Mediterania. Dalam bentuk klasik KA merupakan penyakit yang perkembangannya lambat. Perkumpulan KS dengan infeksi HIV bersifat menyerang beberapa bagian tubuh dan biasa berkembang di seluruh bagian tubuh. KS merupakan tumor malignan atau jinak pada endotelium, lapisan sel epitel pembuluh darah, jantung, jaringan limpoid dan serous. Secara keseluruhan dari organ tersebut dan lesi bervariasi warna dan ukuran merupkan bentuk dasar sejumlah darah yang dikandung. Lesi utama tampak di wajah, kepala dan rongga mulut.Lesi KS juga ditemukan di paru-paru, rectum, esofagus, nasofaring, hati, empedu, limfe, ginjal dan otak, organ tersebut menjadi multisentrik dari pada metastatik. Ini berarti bahwa lesi primer yang berat akan muncul di waktu yang sama di tempat yang berbeda di tubuh.
Orang yang mengidap KS, manifestasi pertama mereka dari imunosupresi adalah memikirkan prognosis yang baik. KS merupakan kontributor yang penting untuk kematian orang terinfeksi HIV.
Reaksi psikologis yang ditunjukkan oleh infeksi HIV dibutuhkan perawatan yang baik, seperti manifestasi fisik respon psikologis yang bervariasi, respon yang bervariasi tergantung budaya dan faktor sosial ekonomi, usia, gender dan kondisi hidup seseorang yang terinfeksi. Rasa takut dan cemas mwerupakan tahap awal. Keputusan diri sendiri untuk test HIV menimbulkan kecemasan karena hasil test adalah positif atau kecemasan meningkat oleh karena menunggu hasilnya.
Salah satu pertahanan psokologis yang digunakan orang yang posistif HIV sering kali mengerikan, yakni mencoba bunuh diri.Banyak respon ketakutan, mereka mengisolasi diri dari orang lain agar tidak diketahui. Banyak orang yang terinfeksi HIV asimptomatik, sering kali langsung hypokondria. Reaksi psikologis mungkin meningkat saat orang tersebut menjadi simtomatik. Seorang yang terinfeksi HIV bisa kehilangan pekerjaan, isolasi sosial dan nyeri fisik yang menetap. Orang yang dengan HIV cenderung memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap orang lain dalam memenuhi kebutuhan dasar dan kenyamanan. Kita perlu memberi suasana yang mendamaikan, yang penuh kasih sayang dan mermbantu dalam mempersiapkan kematian.
Reaksi psikologis terhadap infeksi HIV :
1. Reaksi saat diketahui seseorang positif HIV.
- Menolak.
- Mati rasa.
- Marah.
- Perasaan tidak berdaya.
- Kecemasan.
- Depresi dan keinginan bunuh diri.
- Takut kehi9langan kehidupan seks.
- Takut ditolak oleh oirang lain.
- Takut kehilangan pekerjaan
- Perasaan bersalah, takut hidup dengan infeksi yang mengancam.
- Hipokondria.
- Perubahan gaya hidup.
- Isolasi diri.
2. Reaksi menjadi gejala.
- Kesedihan berlebihan.
- Tidak ada harapan.
- Percobaan untuk bunuh diri.
- Keadaan memalukan misalnya gejala fisik dan diare.
- Kesepian.
- Reaksi stres pada perlakuan dengan menuntut pengobatan medis.
3. Reaksi kematian.
- Perhatian dengan memutuskan urusan hidup seseorang, misalnya: perdamaian, menentukan sifat.
- Preokupasi dengan nyeri dan kontrol nyeri.
- Preokupasi dengan gejala penyakit lain.
- Takut ditinggalkan sebelum meninggal.
- Takut mati.
F. Cara Penularan Hiv/Aids.
i. Penularan secara langsung.
- Kontak seksual langsung dengan seseorang yang terinfeksi.
ii. Terinfeksi melalui darah.
- Melalui jarum suntik, tato, tindakan yang tidak steril.
- Transfusi darah atau produk darah yang terinfeksi dengan virus AIDS melalui cairan tubuh.
- Pemberian obat per IV dengan seseorang yang terinfeksi.
- Luka dan melalui darah ibu ke fetus selama kehamilan.
Hal-hal yang tidak menularkan HIV:
- Perpindahan melalui udara, batuk.
- Bersentuhan (berjabatan tangan), merangkul.
- Bercuiman.
- Makan dan minum bersama.
- Mandi bersama.
- Gigitan nyamuk.
- Melalui keringat dan air mata.
G. Tempat Hidup Virus Dan Kelompok Orang Yang Beresiko.
a. Tempat hidup virus HIV di cairan tubuh manusia:
Darah.
Cairan sperma.
Cairan vagina.
ASI.
b. Kelompok orang yang beresiko terkena HIV/AIDS :
Homoseksual, biseksual, penggunaan obat - obatan IV, WTS dan orang yang mempunyai partner seks yang berganti - ganti
Orang yang partner seksnya mempunyai pasangan seks yang lain
Orang yang menggunakan peralatan medis, seperti: netles, syringes, cookers.
Orang yang terkena melalui hubungan seks.
Mereka yang mendapat transfusi darah, bayi baru lahir yang ibunya terinfeksi juga.
H. Test Hiv.
1. Test HIV.
Test HIV dapat dilakukan jika seorang mempunyai antibodi HIV dalam darah.Test HIV dilakukan dengan menggunakan darah vena. Ada 2 test yang biasa digunakan yaitu test pertama Elisa test. Jika hasilnya negatif berarti tidak dilakukan test lanjutan, tetapi jika hasilnya positif maka selanjutnya akan dilakukan test Western Blot. Jika pada test yang kedua ini hasilnya positif maka orang tersebut dianggap terinfeksi HIV.
2. Orang yang harus ditest.
Orang yang harus ditest adalah orang yang terpapar terhadap HIV atau orang yang mempunyai pola hidup yang beresiko terpapar HIV harus ditest.HIV ditularkan dari seseorang ke orang lain melalui kontak seksual dan darah. Orang-orang yang dianggap beresiko tinggi antara lain:
- Homoseksual, biseksual, pengguna obat-obat IV, WTS dan orang-orang yang mempunyai partner seke yang berganti-ganti.
- Orang yang partner seksnya mempunyai pasangan seks yang lain
- Orang yang menggunakan peralatan medis seperti netles, syringes, cookers.
- Orang yang mendapat penyakit akibat dari seks
- Orang yang mendapat transfusi darah.
- Bayi yang lahir dari ibu yang mempunyai virus AIDS juga dapat terinfeksi
3. Prosedur test HIV
- Test Confidential seperti test medis lainnya. Didapat dari hasil pencatatan medis.Tetapkan teman-teman dan pemimpin anda untuk mengcopi medical record anda, yang memuat test antibodi HIV anda.
- Test Anonymous, orang yang tidak memberitahukan nama. Beberapa orang hanya diberikan nomor kode, dan kamu harus memberi kode untuk menentukan hasil test.Dengan test Anonymous, keputusan tergantung pada seseorang juga dokter dan ini sangat individual.
4. Bila arti test negatif
Jika hasil test anda negatif, itu berarti bahwa ttidak ada antibodi HIV dalam darah anda. Pada 4-12 minggu sesudah orang terinfeksi maka akan terbentuk antibodi HIV. Hal ini berarti orang yang baru terinfeksi, hasil test dapat negatif. Oleh karena itu jika anda termasuk kelompok resiko tinggi, dimana kamu ingin test lakukan 6 bulan setelah terpapar. Apabila hasil test tetap negatif anda dan pasangan seks anda harus melindungi diri dengan menggunakan kondom.
5. Hal-hal yang terjadi jika hasil test positif
Test HIV positif tidak berarti bahwa anda langsung terserang AIDS sekaerang tetapi anda akan mendapatkannya di masa yang akan datang. Kita tidak tahu apakah seseorang yang terinfeksi HIV akhirnya berkembang ke AIDS.
Kita tahu bahwa beberapa orang yang terinfeksi selama beberapa tahun dan tidak berkembang ke AIDS. Ini menunjukkan bahwa perawatan diri yang baik pada diri seseorang, fisik dan emosi, dapat memberikan hidup beberapa tahun pada orang yang terinfeksi HIV
Yang terutama tidak perlu panik. Infeksi HIV hanya sebagian dari seluruh total gambaran kehidupan anda. Jagalah selalu kesehatan diri anda, kontrol teratur ke dokter, suport emosi, lindungi diri dari virus AIDS, lindungi diri dari aktivitas.
6. Kepada siapa diceritakan
Katakan kepada dokter anda sehingga mereka mampu memberitahukan kepada anda kemungkinan perawatan yang terbaik.Anda juga bisa katakan kepada pasangan seks anda dan anjurkan agar mereka juga melakukan test.diskusikan dengan mereka bagaimana cara melindungi diri.
Ini penting agar orang lain dapat membantu anda,teman dan semua orang yang positif HIV. Tetapi kamu yang harus menentukan sendiri orang-orang yang kamu percaya meskipun akhir-akhir ini sudah banyak diberikan pendidikan kepada publik tetapi masih juga ada salah paham tentang infeksi HIV dan AIDS.
Saat test HIV anda positif
Test HIV positif bukan berarti kena AIDS. Itu berarti anda diinfeksi virus HIV dan harus mengambil langkah-langkah untuk mempertahankan kesehatan tubuh dan cegah transmisi.
Pengobatan anda
Test positif hanya sebagian dari gambaran keadaan. Dokter akan memberikan pengobatan atau tindakan tertentu untuk mempertahankan kesehatan dan mencegah infeksi. Obat yang diberikan seperti AZT dapat mencegah perkembangan HIV. Anda harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh anda, karena tubuh sangat rentan terhadap infeksi. Segera ke dokter bila terjadi sakit akut atau terjadi perubahan dalam tubuh (seperti demam, nyeri,batuk, napas pendek, perdarahan, perubahan kondisi kulit)
Pentingnya pola hidup sehat
Jaga kesehatan tubuh anda karena dengan begitu bisa melawan infeksi HIV. Nutrisi dan istirahat yang cukup diperlukan dan latihan juga sangat penting ini dapa menguatkan tubuh, meningkatkan energi dan stamina.Hindari alkohol atau menggunakan obat-obatan IV, sebab dapat membuat inefeksi HIV menjadi lebih buruk dan mengarah ke aids. Alkohol dan obat- oabtan dapat juga merusak keseimbangan tubuh anda.
Koping
Koping terhadap diagnosa HIV memang sangat sulit, beberapa orang merasa bahwa hidup ini hanya sendiri. Tetapi bantu untuk keluarkan dari perasaan itu dan katakan bahwa dia tidak sendiri. Segera dapatkan bantuan dari psikologis atau psikiatrik. Orang-orang ini dapat memberikan support emosional dan membantu dalam menghadapi masalah-masalah sosial yaitu pandangan masyarakat tentang AIDS. Teman-teman dan keluarga dapat juga bersama membantu anda. Inbformasi tentang HIV dan AIDS perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas.
Bagaimana cara untuk melindungi diri
Seks: pastikan bahwa pasangan seksual anda tidak mempunyai pasangan seks yang lain.Memeluk, masturbasi,menggosok-gosok tidak bisa menularkan virus HIV sejauh kita tidak mempunyai kulit yang luka. Jika kamu mempunyai pasangan seks, cara-cara unutk melindungi diri dari infeksi:
o Gunakan kondom dari awal sampai akhir.
o Jangan pernah melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan luka, abrasi atau perdarahan (seperti anal intercause).
o Gunakan lubricant seperti K..Y Jelly, jangan gunakan saliva oil lubricant seperti spetrolium jelly atau minyak sayuran.
o Hindari oral seks.
o Hindari deep-kissing.
Penggunaan obat-obatan
Jika kamu pemakai obat-obatan, segera hentikan sebab dapat memperburuk HIV. Selama kamu berusaha menghentikan:
o Jangan bekerja sama dengan orang lain.
o Jangan bekerja sama dengan orang lain yang juga menggunakan obat-obatan.
o Jika kamu menggunakan alat-alat, bersihkan kembali dengan obat pemutih dan air.
Wanita : Jangan dulu hamil sebab virus yang anda derita dapat diturunkan ke bayi anda. Anak yang lahir dengan virus AIDS meninggal sebelum umur 2 tahun. Kehamilan dapat memperburuk infeksi HIV dan beberapa wanita akan sering sakit dan dapat meninggal selama hamil. Jika kamu siap mempunyai bayi, jangan beri ASI sebab anda dapat memberikan virus itu lewat ASI.
Sumbangan/donor : Jangan memberikan donor darah, sperma atau organ-organ tubuh.
I. Studi Diagnostik Dan Penemuan.
Test untuk diagnosa HIV
ELISA : Positif terhadap antibodi HIV (karena kemungkinan hasil positif tidak benar. Test ini akan dibuat 2 kali).
Western Bolt : Positif akibat indikasi kehadiran antibodi HIV. Test ini positif dengan ELISA; negatif akibat indikasi bukan antibodi.
P24 antigen test : Positif karena indikasi sirkulasi antigen HIV
Culture HIV : Dasar positif pada ukuran adanya kebalikan rekaman aktivitas dalam suspek T Limfosit (akan diambil 60 hari sampai mendapatkan hasil).
Test untuk perusakan sistem imun: berubahnya hasil test dalam petunjuk indikasi adalah tanda memburuknya status imun.
Hematokrit : Pengurangan dalam ukuran normal dari 37%-49%.
Eritrosit sedimentasi rate : Elevasi ukuran normal <15 mm/h. CD4 limphocytes : Pengurangan dalam ukuran normal dari 600-1200. CD4/CD8 limphocytes ratio : Normal 2:1-ratio menurun atau sebaliknya. Serum neopterin : Elevasi di atas garis normal. Serum B2 microglobulin : Elevasi nilai normal dari 12-18 g/dl. WBC : <3500 sel/mm³. Test keseluruhan status kesehatan dari HIV-menulari manusia. Test berikutnya akan dilakukan setelah seseorang positif HIV. Akan dilindungi periodikal untuk monitor kesehatan secara umum dan respon terhadap gejala. Saat hasil test individu ada indikasi patologi, maksudnya menentukan garis dasar untuk dijadikan perbandingan pada penemuan berikutnya. CBC, diferensial, jumlah platelet SMA-12 atau jalur penyaringan darah yang serupa. Test serologi syphilis, toxoplasma, cryptoccus dan hepatitis Urynalisis, x-ray dada Pap smear atau test kehamilan Tuberkulin skin test: reaksi lemah dari 5 mm indurasi adalah positif untuk imun seseorang. Test untuk penyakit pada oral Inspeksi : tampak lesi oral. Pemeriksaan mikroskopik pada sediaan spesimen sputum: positif sel ragi candida. Kultur virus herpes simplex : positif virus herpes simplex Pemeriksaan mikroskopik jaringan/biopsi jaringan: positif multinuclear sel raksasa Mikroskopi elektron : positif partikel virus. Pemeriksaan biopsi jaringan: positif adanya kutil, KS dan atau sel seukoplakia berbulu. Test untuk penyakit neurologi Pemeriksaan neurologi : hiperfleksi, tanda barbinski, alaxia (hilang keseimbangan), ketidakmampuan untuk melakukan ADL. Pemeriksaan status mini-mental: penurunan fungsi mental. CT Scan/MRI: lesi abnormal cerebral, atropi, distorsi ventrikel infark. Elektroenchepalogram: Generalizet Blowing (perlahan menyamaratakan). Elektromyelogram: elektikal abnormal kondusi. Analisis CSF: protein dan darah terdapat penemuan abnormal. Test untuk penyakit GI Endoscopy: gambaran lesi GI Kultur dan pemeriksaan mikroskopik feces, cairan GI/biopsi jaringan: positif patogen edan lesi KS ataub lympoma. Enzim hepatic (AST, ALT) (ADP): elevasi di atas baseline pasien. Bilirubun: elevasi di atas baseline pasien CT Scan/ultra sound abnormal: pembesaran hati atau keadaan abnormal lainnya. Sigmoindscopy: gambaran penyakit rectal. Inspeksi anus: gambaran lesi, KS atau eksudat X-ray: penemuan abnormal. Test fungsi pulmonal: penurunan fungsi. Pemeriksaan jaringan hasil broncoscopy atau biopsi paru-paru terbuka: karateristik organisme atau neoplasma. Gallium citrate scan: peningkatan uptake pada individu yang HIV. Pemeriksaan kultur sputum atau sekresi broncial oleh lavage: positif karateristik patogen. Anlisa gas darah: indikasi adanya hipoxemia. Test untuk penyakit sistem sensori Pemeriksaan opthalmic: kerusakan retina konsisten dengan CMV retinitis. Audiometry: pendengaran berkurang. Test penyakit dermatologi Uji mikroskopik lesi biopsi: muncul karateristiklasi, patogen atau neoplasma. J. Manajemen Medik. Tujuan manajemen medik infeksi HIV adalah mempertahankan status imun pada level tinggi untuk mencegah kesempatan masuknya penyakit. Pendekatan ini ada 3 macam. Yang pertama adalah mempromosikan status umum kesehatan (promosi kesehatan) dan memperbaiki atau mempertahankan fungsi imun dan mengobati penyakit serta pendidikan pasien terhadap perlakuan untuk memperbaiki resistensi infeksi yang tepat. Yang kedua adalah mencegah infeksi yang memicu T4 pembantu aktivitas sel dan yang berikut adalah replikasi HIV. Ini adalah imunisasi yant bagus yang disiapkan dan profilaksis. Yang ketiga adalah menekan aksi HIV. Terapi obat Pencegahan infeksi: imunisasi, campak, mumps dan rubella (MMR); antibvaksin polio (IPV); vaksin pneumoccocal dan vaksin influenza tahunan. Individu dengan resiko hepatitis B akan mendapatkan vaksin hepatitis B. Antiinfeksi terapi digunakan untuk menekan pertumbuhan patogen, karena agen ini tidak membatasi dalam kerja sama imun. Beberapa pasien mempertahankan agen antiinfeksi setelah adanya kumpulan gejala yang muncul berubah. Prophylaxis dapat digunakan untuk semua jenis infeksi pneumocytis carinii; trimethropin/sulfametoxazole (bactrim). Penekanan HIV ini adalah laju area laju perkembangan dan test siap percobaan obat. agen utama mempunyai aksi antiviral. Salah satunya menghalangi replikasi HIV, mencampuri virus yang mampu untuk memberikan reseptor CD4, eliminasi HIV reservoirdalam sel atau aktivasi pertahanan antiviral. Zidovidine, juga disebut AZT adalah hanya diakui untuk menekan HIV. Tindakan atau peran AZT mengganggu sintesis DNA sehingga menghambat replikasi HIV. AZT pada awalnya menggunakan dosis tinggi. Manajemen Umum Untuk Promosi Kesehatan. Pengobatan pada masalah kesehatan yang ada: jumlah status HIV menulari manusia pada resiko untuk semua kondisi kesehatan bahwa uninfected person dari umur dan jenis kelamin termasuk kehamilan dan komplikasi kehamilan, penyakit kronik seperti diabetes atau ulcer gastric, penyakit psikiatrik dan alkohol atau penyalahgunaan obat. Perawatan kesehatan mental: hal ini dipercaya bahwa depresi klinikal memiliki efek negatif pada fungsi sistem imun atau yang berpengaruh pada depresi gaya hidup individu dan kemampuan untuk mematuhi pengobatan. Oleh karena itu psikoterapy dan antidepresant terapi seringkali digunakan. Manajemen Medik AIDS-Penyakit Yang Berhubungan Terapi Obat: - Manifestasi oral: mencuci mulut dengan antimicrobial: steroid topical; kemoterapi pada lesi KS. - Manifestasi neurologi: psikostimulans,obat anticemas, antidepresan, antipsikotic; analgesik untuk nyeri; kemoterapi dan atau radioterapi untuk CNS limpoma. - Manifestasi GI: obat salap topical untuk penyakit ano-rectal; kemoterapi untuk lesi KS dan limpoma; antinausea dan agen antidiare. - Manifestasi dermatologi: lindane untuk scabies; steroid topical untuk meningkatkan penyembuhan; lotion topical untuk kulit kering, kemoterapi untuk lesi KS. - Manifestasi respiratori: kemoterapi untuk KS dan limpoma; radioretapi untuk lesi KS. - Manifestasi sensori: kemoterapi untuk occular dan kelopak mata lesi KS (jika lesi juga meluas di tempat lain dalam tubuh); salap optalmic untuk nonoportunistik infeksi bakteri; sistemic antimicrobial untuk otitis media; radioterapi untuk lesi KS. Manajemen Umum - Manifestasi oral : pembersihan plaque; ajarkan oral higiene. - Manifestasi neurologi : konsultasi psikiatrik; penilaian medikasi menggunakan aturan atau efek dari polypharmacy; ajarkan pasien teknik untuk hidup dengan melemahnya kognitif; konseling keluarga dan pelayanan sosial untuk menyediakan kebutuhan bahwa kecemasan akibat hospitalisasi dan atau obat serta penggunaan alkohol. - Manifestasi GI: terapi diit, memasukkan suplemen, cairan dan elektrolit. - Manifestasi dermatologi: egg crate atau water matres untuk mengurangi tekanan; monitor obat untuk mencegah reaksi dermatologi. - Manifestasi respiratori: oksigen, hidrasi, melembabkan udara, bantuan respirasi. - Manifestasi sensori: penglihatan dan pendengaran. Pembedahan - Manifestasi oral: debredimen periodontitis; eksisi kutil dan lesi KS; radioterapi dan laser pembedahan untuk KS. - Manifestasi GI: pengangkatan neoplasma dan kutil; drainase abses; debredimen lesi ano-rectal. - Manifestasi dermatologi: pembedahan dengan menggunakan elektro dan laser; eksisi pada lesi, kuretase. Terapi Obat Antiinfeksi Untuk AIDS Organisme Sistem tubuh Agen antiinfeksi (hanya nama generik) Bacteri: - Mycrobacterium Tubercolosis Sum-sum tulang dan pernapasan Isoniazid, Cycloserine, Ethionamide, Ethambutol, Clofazamine, Rifabutin. - Mycrobacterium Avium Intraseluler Sistemik (MAI bukan tipe TBC) Rifabutin, Ethambutol, Cycloserine, Ethionamide, Clofazimine. - Spesis Salmonela (Salmonellosis) GI, Bladder, Sistemik Ampicillin, Amoxillin, Chlo rampenicol - Chylamydia Trachomatis (Shylamidia) GI, Respiratori Eritromicin,Tetracycline VIRUS: - Herpes Simplex (herpes) Oral, Genital, Mucosa rectal, Kulit, Kon jungtiva, CNS Acyclovir - Herpes Zoster (single) Perifer nerves dan Kulit Acyclovir - CMV Infeksi Retina,GI,CNS dan pernapasan. Gancyvlovir (DPHG) HELMINTHS: - Strongyloide Stercolaris (Strongylodiasis) Saluran Intestinal Thiabendazole, Albendazole - Cryptoccocus Neofarmans (Cryptoccocis) CNS, pernapasan, kulit, sum-sum tulang S-Flucytosine dengan Amphotericin B atau Amphotericin B saja. - Hitoplasma Capsutalum (Histoplasmosis) Sistemik, Sum-Sum Tulang, GI, Kulit Amphotericin B, Ketoconazole - Candida Albicans (Candidiasis) GI, Mulut, Pernapasan, Area Ano-Rectal, Genital Ketoconazde, Nystatin, Cotrimoxazole, Amphotericin B Protozoa: - Pneumocystis Carinii (PCP) Pernapasan Cotrimoxazole, Pentamidine, Trimitrexate, Leucovorin, Sulfametoxazole atau Trimethropin - Toxoplasma Gondii (Toxoplasmosis) CNS, Nodus Limpa, Pernapasan Pyrimethamine, Sulfametoxazole - Micosporum Species (Microporosis) Kulit, GI Griseofulvin, Antifungal, Topical - Giardia Lamblia (Giardiasis) GI Metronidazole, Quinancrine - Entamoeba Histolytica (Amubiasis) - Metronidazole, Iodoquinol Perawatan Untuk Pasien HIV Perawatan orang dengan HIV sedikit berbeda dengan orang yang mengalami masalah kesehatan akut dan kronik lainnya. Orang dengan HIV, perawatannya harus secara menyeluruh dan mudah untuk menemukan kebutuhan kompleks dari pasien dengan infeksi HIV. K. Upaya Pencegahan. Upaya pencegahan untuk orang dengan HIV menggunakan istilah ABCDE, yaitu: A= Abstinence Tidak berhubungan seksual. B= Be Faithful Saling setia dengan satu pasangan C= Condom Selalu memakai kondom saat berhubungan seksual D= Diagnosa diri dan Drug Memeriksakan diri sedini mungkin bila punya resiko E= Equipment Menggunakan peralatan yang steril ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian. Riwayat: tes HIV positif atau mungkin terdapat virus, riwayat tingkah laku yang beresiko tinggi, diagnosa STD, hepatitis B, limpadenophaty yang menetap, atau penyakit infeksi lain. Laporan penggunaan berbagai jenis obat meliputi penulisan resep obat, OTC, reaksi dan kekebalan terhadap obat. Keadaan Umum: pucat. Gejala subyektif: demam kronik, dengan atau tanpa kedinginan, keringat di malam hari, malaise, kelemahan, keletihan yang sangat berat, anoreksia, kehilangan berat badan, nyeri dan sulit tidur. Psikososial: nampak cemas, riwayat hilangnya pekerjaan dan jaminan kesehatan, diasingkan dari orang lain, perubahan situasi kehidupan, dann perubahan kehidupan lain, mengungkapkan perasaan bersalah, sedih atau sakit. Satatus mental: perubahan tingkah laku, mengungkapkan kemarahan dan keputusasaan, sedih, ide bunuh diri, kelesuan, menarik diri, hilangnya ketertarikan pada keadaan disekelilingnya, penjualan atau pemberian hak milik, gangguan proses pikir, gangguan pendapat: berpikir lambat, hilang ingatan, bingung, gangguan perhatian dan konsentrasi, gangguan komunikasi, aphasia, sulit menemukan kata-kata, halusinasi, delusi. Kepala, mata, telinga, hidung dan tenggorokan: nyeri periorbital, photopobia, pandangan kabur dan penglihatan ganda, kehilangan penglihatan total, odema facial, tinitus atau hilangnya pendengaran, timbul lesi berwarna putih atau merah dalam rongga mulut, ulser pada bibir atau di dalam mulut, mulut kering, perubahan suara, dysphagia, kelenjar getah bening yang jelas, epistaksis. Neurologi: perubahan refleks pupil, nistagmus,neuoropaty, vertigo, ketidaksemimbangan, ataksia, neuromuskular yang tidak terkoordinasi, sakit kepala yang hebat, serangan yang tiba-tiba, hilangnya kesadaran, paraplegi, kuadraplegi. Muskuluskeletal: kerusakan otot, kerusakan fecal motor, kelemahan dan ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas dan latihan. Kardiovaskuler: tachicardi b.d demam, hypotensi b.d dehidrasi, HR yang tidak teratur, dizzines b.d ketidakseimbangan elektrolit, tidak ada nadi peripheral dan edema peripherial. Pernapasan:dyspnea, tacipnea, cyanosis, napas pendek, menggunakan asesoris otot pernapasan, posisi tubuh untuk memfasilitasi pernapasan, batuk produktif atau non produktif, bunyi jantung jauh atau menurun pada saat auskultasi. Pencernaan: menurunnya intake makanan dan minuman, melaporkan adanya nyeri mulut (penyebab kesulitan makan), anoreksia, nausea, muntah, penurunan berat badan, diare inkontinensia, abdomen lunak, kejang atau kram, hepatomegali, splenomegali, jaundice, bunyi bowel (tidak ada atau hiperaktif), lesi pada anus, perdarahan rectal. Genitouri: lesi atau eksudat pada genitalia, pada wanita dilaporkan adanya nyeri pelvic, penurunan urine output b.d dehidrasi, inkontinensia. Integumen: melaporkan adanya kekeringan dan pruritus, keringat di malam hari, rash atau lesi di beberapa bagian tubuh, berwarna merah-violet, timbul lesi, petechiae, kelenjar getah bening yang jelas, jaundice, turgor kulit yang jelek b.d dehidrasi, kulit hangat dan basah bila disentuh, tanda-tanda dari penggunaan obat IV. B. Diagnosa Keperawatan. 1. Potensial terhadap infeksi b.d imunosupresi, efek kemoterapi atau radiasi, sering melakukan venipuncture, malnutrisi dan gaya hidup yang beresiko tinggi Data penunjang : riwayat gaya hidup yang beresiko tinggi, penemuan laboratorium untuk infeksi HIV dan imunosupresi, melaporkan terjadinya demam dan keringat di malam hari, penurunan berat badan, fatique, kulit pucat dan turgor kulit jelek. 2. Potensial terhadap infeksi kontak b.d infeksi HIV, gaya hidup dan adanya kesempatan infeksi nonoportunistik yang dapat ditransmisi. Data penunjang : riwayat terpaparnyan HIV, sekresi tubuh, eksresi, atau eksudat yang mengandung patogen, demam, lympadenopati dan lesi. 3. Gangguan proses berpikir b.d infeksi HIV pada CNS atau patogen lain, penyakit yang berbahaya, hypokemia, reaksi obat, depresi. Data penunjang : melaporkan adanya lupa ingatan, lambat dalam berpikir dan memecahkan masalah, menunjukkan kebingungan, gangguan berpendapat, disorientasi, perubahan personality, hilangnya ingatan, delusi dan halusinasi, tanda-tanda meningitis, tanda-tanda tidak dapat memelihara diri sendiri (contoh: kegagalan untuk makan, adanya penemuan data laboratorium atau diagnostik pada infeksi CNS atau penyakit berbahaya. 4. Potensial injuri b.d penyakit CNS, perubahan status mental, kelemahan atau kerusakan neuromuskular. Data penunjang : melaporkan adanya lupa ingatan, dugaan yang tidak nyata terhadap diri, kelemahan, penglihatan yang kurang, gangguan rasa dan ekstremitas, jatuh, menunjukkan adanya gangguan keseimbangan gaya berjalan dan kekuatan otot, kebingungan dan memiliki seizur. 5. Potensial keracunan b.d efek toxic dari terapi pengobatan. Data penunjang : ketergantungan obat, pusing, gangguan sensori, hipertensi, rash, edema, gugurnya rambut, gangguan jiwa, sedasi, hilangnya kesadaran. 6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, gangguan CNS, dan neurologic, malnutrisi, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, kelelahan, gangguan pertukaran oksigen. Data penunjang : melaporkan adanya kelelahan, kelemahan, napas pendek dan tumor, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas dan latihan, atropi otot, paralisis pada tungkai dan lengan, dyspnea dan tachicardi, inkoordinasi psikomotor. 7. Ganguan persepsi sensori (penglihatan, pendengaran dan kinestik) b.d retinitis CMW, infeksi otik dan kerusakan CNS oleh HIV. Data penunjang : melaporkan photopobia, kehilangan penglihatan, gangguan pendengaran, ataxia, apraksia. 8. Gangguan komunikasi verbal b.d penyakit CNS. Data penunjang : menunjukkan ketidakmampuan mengenal atau mengerti tulisan atau pembicaraan sulit, sulit mengucapkan kata-kata, tidak dapat mengingat anggota keluarga. 9. Nyeri kronik b.d penyakit neurologik, tekanan lesi KS pada syaraf dan lympadhenopati. Data penunjang : melaporkan nyeri terbakar pada ekstremitas, nyeri kepala hebat atau terasa lunak pada daerah kelenjar getah bening yang luas. 10. Gangguan pola tidur b.d kecemasan, keringat pada malam hari, kedinginan dan jadwal pengobatan. Data penunjang : melaporkan adanya kesulitan tidur, perubahan pola tidur dan kelelahan setiap hari. 11. Isolasi sosial b.d ketakutan orang lain terhadap AIDS, penolakan keluarga, cacat di mata masyarakat, penarikan diri pasien dari orang-orang dan aktivitas. Data penunjang : melaporkan hilangnya pekerjaan, tinggal seorang diri, tingkah laku pendiam, tidak ada pengunjung di RS, mengekspresikan kesepian. 12. Kurang perawatan diri dalam semua aktivitas dan latihan b.d kondisi yang buruk, dyspnea, perubahan mental, gangguan neurolgik, depresi, kemiskinan. Data penunjang : cepat lelah dalam perawatan diri, beristirahat di tempat tidur, menurunnya partisipasi dalam melakukan aktivitas perawatan diri 13. Gangguan pengelolaan biaya hidup di rumah b.d intoleransi aktivitas, tidak adekuatnya keuangan, kurangnya pengetahuan tentang sumber pertolongan. Data penunjang : melaporkan tinggal sendirian dengan keadaan terbatas dan tanpa pertolongan, keuangan yang terbatas, melaporkan dan menunjukkan ketidakmampuan dalam perawatan diri. 14. Kecemasan b.d diagnosis; takut terhadap pengobatan, hospitalisasi, nyeri, kematian, kehilangan yang dihubungkan dengan diagnosa HIV. Data penunjang : mengekspresikan ketidakberdayaan, marah, menyesal, takut, menyangkal, menunjukkan kegelisahan, agitasi, tidak dapat tidur. 15. Tidak berdaya b.d kurangnya prognosis penyakit dan merasa hilangnya kontrol pada hal penyakit dan keputusan perawatan kesehatan. Data penunjang : mengungkapkan tidak dapat mengontrol kehidupan, pengobatan yang akan datang, ekspresi marah, apatis /pasif,meningkatnya ketergantungan pada orang lain, menunjukkan tidak terpenuhinya aturan hidup dalam pengobatan. 16. Sedih atau putus asa b.d banyaknya kehilangan (kesehatan), kecantikan, pekerjaan, jaminan, hubungan baik dengan anggota keluarga, hilangnya masa depan diri. Data penunjang : perasaan depresi, kurangnya komunikasi, meningkatnya kegiatan istirahat di atas tempat tidur, menjual atau memberikan semua hak miliknya, menunjukkan kemarahan/ekspresi marah, dukacita, gagasan bunuh diri, menunjukkan tidak terurusnya diri sendiri. 17. Gangguan pertukaran gas b.d infeksi pulmonal atau penyakit lainnya. Data penunjang : melaporkan adanya napas pendek, batuk produktif atau nonproduktif, fatique, dyspnea, tachypnea, menggunakan otot asesoris pernapasan, bunyi napas menurun, cianosis, penemuan laboratorium dan radiographi pada penyakit pernapasan. 18. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d menurunnya intake. Data penunjang : melaporkan tidak dapat makan, penurunan napsu makan, muntah, diare, kehilangan berat badan >20 % dari normal, pucat, abdomen lunak, pembesaran hati atau limpa, penemuan laboratorium ada indikasi anemia, parasit intestinal atau penyakit lain.
19. Diare b.d infeksi saluran GI atau penyakit lain, kemoterapi, radiasi atau reaksi obat-obatan.
Data penunjang : naik hingga 20 cairan strool tiap hari, abdomen yang lunak, bunyi bowel hiperaktif, penemuan laboratorium dan diagnostik menunjukkan indikasi infeksi intestinal atau penyakit lain.
20. Kurang volume cairan b.d nausea, vomiting, diare, demam dan diaporesis.
Data penunjang : melaporkan adanya vomiting, diare, demam, menurunnya intake cairan, hilangnya berat badan, mulut kering, pusing dan diaporesis, turgor kulit menurun, hypotensi, oliguri, anuri, penemuan laboratorium terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit.
21. Hipertermi b.d infeksi.
Data penunjang : penyimpangan temperature, panas, kulit merah, tachicardi, diaporesis.
22. Kerusakan integritas kulit b.d infeksi kulit, lesi KS, malnutrisi, imobilisasi, inkontinensia, terapi radiasi.
Data penunjang : melaporkan adanya gatal, panas, rash, lesi atau dekubitus pada beberapa bagian tubuh, gangguan pada genital atau daerah perianal, edema ekstremitas.
23. Kerusakan membran mukosa b.d infeksi oral, faringeal atau esofagus, malnutrisi.
Data penunjang : melaporkan adanya rasa sakit pada mulut atau kerongkongan, dysphagia, perubahan rasa, inflamasi, atau lesi pada mukosa oral dan pharingeal, perdarahan gusi atau hidung.
24. Gangguan pola seksual b.d takut terjadinya transmisi HIV, gangguan aktivitas sosial, terputusnya hubungan baik, aktivitas intoleransi.
Data penunjang : melaporkan adanya perubahan gaya hidup dan aktivitas sosial, hilangnya orang yang berarti.
25. Tidak efektifnya koping individu b.d kecemasan tentang kasih sayang pada satu kondisi, takut infeksi, lamanya disfungsional hubungan baik, tuntutan perawatan pasien.
Data penunjang: keluarga menunjukkan tingkah laku kecemasan atau bermusuhan, tidak mengunjungi pasien, pasien mengekspresikan mengenai bagaiman koping keluiarga, pasien dirawat oleh keluarga di rumah.
C. Perencanaan.
Goal:
1. Pasien akan bebas dari infeksi dan komplikasinya.
2. Infeksi HIV tidak dapat ditransmisikan melalui kontak pasien, pemeliharaan kesehatan para pekerja diamati penyebab cairan tubuh dan darah, pasien mengamati cara-cara untuk mencegah transmisi HIV atau patogen lain.
3. Pengaruh gangguan proses pikir dalam kehidupan pasien akan dikurangi.
4. Pasien tidak akan mempunyai pengalaman injuri karena kecelakaan atau jatuh.
5. Dapat dicegahnya interaksi obat atau reaksi alergi dapat dihindari, pasien akan menyediakan sendiri obat-obatan sesuai yang ditentukan atau diinstruksikan.
6. Pasien akan berpartisipasi dalam aktivitas yang menggunakan energi sesuai kemampuannya, akan bebas dari dyspnea dan tachicardi selama aktivitas.
7. Pasien tidak akan bingung atau takut oleh stimulus lingkungan,injuri tidak diakibatkan karena gangguan penglihatan,pendengaran atau rasa kinesthetie.
8. Komunikasi dengan pasien akan ditingkatkan, pasien mengkomunikasikan kebutuhan melalui metode tanpa suara/berbicara jika dibutuhkan.
9. Pasien akan memperoleh keringanan dari rasa nyeri
10. Pasien akan memperoleh istirahat dam waktu tidur yang cukup.
11. Pasien akan memelihara hubungan baik dengan orang yang penting baginya atau menyesuaikan diri terhadap perubahan hubungan kekerabatan, pasien akan diperkenalkan pada sumber suport sosial lainnya.
12. Pasien akan memiliki kebutuhan untuk bertemu setiap hari dengan yang lain selama episode penyakit akut dan akan berpartisipasi dalam perawatan diri sesuai toleransi.
13. Pasien dan orang penting lainnya akan mengetahui tentang sumber komunitas dan pelayanan untuk memfasilitasi manajemen di rumah.
14. Pasien akan mengungkapkan kecemasan.
15. Pasien akan mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat dikontrolnya dan membuat informasi tentang dirinya, hukum dan kebutuhan perawatan kesehatan, pasien akan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan yang berhubungan deengan pengobatannya.
16. Pasien akan mulai menunjukkan kemajuan dari proses kesedihan.
17. Pasien akan menunjukkan pola pernapasan yang normal, tingkat gas darah dan oksigenasi seluler, pasien akan menunjukkan kemampuan pemenuhan atau pemberian oksigen sendiri, pasien akan menunjukkan keringanan gejala dyspnea dan kekurangan udara.
18. Pasien dapat mempertahankan intake kalori dan protein yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik, berat badan akan stabil atau meningkat seperti pada keadaan sebelumnya.
19. Pasien akan memperoleh tingkat kenyamanan yang maksimum dan mengontrol diare, komplikasi diare akan dikurangi.
20. Keseimbangan cairan dan elektrolit dapat dipertahankan.
21. Temperature tubuh akan dipertahankan pada keadaan yang normal, kenyamanan dan keamanan dapat dipertahankan untuk pasien yang mengalami demam.
22. Pasien akan bebas dari lesi kulit, kerusakan kulit lebih lanjut dapat dicegah.
23. Kerusakan mukosa membran dapat dikurangi, pasien akan menunjukkan kenyamanan oral.
24. Pasien atau pasangan akan memberikan suport dan konseling untuk kemungkinan dimulainya lagi aktivitas seksual atau alternatif kepuasan seksual.
25. Keluarga akan kuat dan mempertahankan mutu sistem support dan beradaptasi terhadap tuntutan perubahan pasien.
D. Implementasi.
DX I : Potensial infeksi
Monitor adanya tanda-tanda baru infeksi
R/ untuk pengobatan dini
Gunakan teknik aseptik
R/ menghindarkan pasien dari patogen yang diperoleh selama di rumah sakit
Instruksikan pasien dalam menggunakan metode untuk menghindari patogen lingkungan
R/ mencegah penambahan infeksi utama atau pokok
Dapatkan spesimen untuk analisis laboratorium sesuai petunjuk
R/ menjamin diagnosis dan pengobatan yang akurat
Berikan anti infeksi sesuai petunjuk
R/ mempertahankan level darah terapeutik terhadap obat
DX II : Potensial infeksi kontak
Instruksikan pasien atau orang penting lainnya cara-cara untuk mencegah transmisi HIV atau patogen lainnya
R/ pasien ingin dan membutuhkan informasi ini
Gunakan tindakan pencegahan terhadap darah dan cairan tubuh bila merawat pasien.Gunakan barier atau penghalang lain seperti masker atau sesuai kebutuhan
R/ meskipun resiko transmisi HIV ke para petugas kesehatan sangat kecil, tetapi nyata. Resiko terbesarnya hepatitis B atau TB yang lebih luas.
DX III : Gangguan proses berpikir
Kaji status mental dan proses neurologik
R/ untuk menentukan data dasar
Monitor infeksi, keseimbangan elektrolit, interaksi obat, depresi, hipoksemia, pemberian terapi sesuai anjuran
R/ Kondisi ini dapat diobati
Atur lingkungan, pertahankan kenyamanan dan stimulus keluarga
R/ untuk meminimalkan disorientasi stimulus
Dorong pasien untuk memiliki obyek dekat yang dikenal. Orientsikan pasien terhadap kejadian-kejadian baru dilingkungan. Sediakan petunjuk untuk orientasi (jam, kalender).
R/ mengingat kembali, menolong memori dan orientasi
Dorong pasien untuk latihan pegangan dalam langkah-langkah tambahan, berbicara pelan dan sederhana, instruksi yang pendek.
R/ memerlukan sedikit penggunaan memori
Bantu pasien untuk memperoleh kekuatan pada pengacara.
R/ untuk berpegang pada hukum dan perkara keuangan
DX IV: Potensial injuri
Atur lingkungan demi keamanan pasien (misalnya menyediakan palang keamanan, penerangan yang cukup dan hindari kekaacauan), instruksikan pasien atau orang penting lainnya ntuk berada di rumah yang aman, nasehatkan paisen tentang mengendarai kendaraan, berikan pilihan atau alternatif transportasi, awasi keadaan pasien yang disorientasi, menganjurkan tindakan pencegahan terhadap seizure untuk pasien yang mengalami seizure, awasi pasien apabila ia merokok, simpan atau jauhkan barang-barang dari jangkauan pasien, anjurkan pasien untuk meminta pertolongan bila ia hendak bangun dari tempat tidur atau ambulasi.
R/ untuk menegah kecelakaan dari injuri.
Lakukan evaluasi terapi fisik.
R/ therapi fisik akan dikonsultasikan dengan pasien tentang bantuan lingkungan untuk membantu mobilitas.
DX V: Potensial keracunan
Instruksikan pasien atau orang lain untuk berobat sesuai petunjuk: dosis, rute pemberian, jadwal pemberian, efek samping dan reaksi tak menguntungkan dan kondisi tak memungkinkan obat itu diteruskan, dan memanggil seorang dokter. Pastikan pasien memperhatikan daftar medikasi dan waktu pemberiannya.
R/ pasien dengan HIV sering kali mendapat pengobatan yang dapat meningkatkan resiko reaksi obat; pasien dengan memori yang hilang merupakan resiko besar terjadi medikasi yang salah.
Anjurkan mempertahankan jalur IV line untuk pasien yang menerima terapi IV di rumah.
R/ untuk mencegah komplikasi.
DX VI: Intoleransi aktivitas
Monitor respon fisiologi terhadap aktifitas.
R/ kemampuan berubah dari hari ke hari.
Atur lingkungan untuk mengembalikan energi pasien, instruksikan ukuran atau standar yang digunakan untuk mengembalikan energi energi dan juga perlindungan dari injuri (seperti bantuan ambulasi, grab bar).
R/ untuk mengurangi tuntutan energi.
Berikan perawatan kepada pasien yang tidak dapat merawat diri nya sendiri.
R/ berkurangnya tenaga kadang-kadang berhubungan dengan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas dan latihan.
Atur asuhan keperawatan untuk menyediakan waktu istirahat yang cukup atau tidak henti-henti.
R/ istirahat ekstra dibutuhkan kaarena adanya peningkatan kebutuhan metabolik.
Bantu pasien untuk mengatur jadwal yang dapat menjaga keseimbangan antara aktivitas dengan waktu istirahat yang cukup.
R/ kualitas hidup pasien dapat diperbaiki jika pasien dapat melakukan aktivitas.
DX VII: Gangguan persepsi sensori ( penglihatan, pandengaran, dan kinestik)
Kaji jumlah kerusakan sensori.
R/ untuk menentukan data dasar keperawatan.
Orientasikan pasien terhadap lingkungan, dorong orang penting lainnya untuk tinggal dengan pasien.
R/ untuk menurunkan ketakutan dan kecemasan.
Sering berbicara dan menyentuh pasien.
R/ memberikan stimulasi sensori.
DX VIII: Gangguan komunikasi verbal
Kaji kemampuan verbal pasien
R/ untuk menentukan data dasar keperawatan.
Berikan metode alternatif komunikasi (seperti papan gambar)
R/ memberikan arti pada pasien akan kebutuhan komunikasi.
DX IX: Nyeri kronik
Kaji tingkat nyeri pasien dan anjurkan pasien untuk menggambarkan nyerinya.
R/ menentukan data dasar untuk intervensi terhadap nyeri yang dialami pasien.
Lakukan tindakan paliatif (seperti relaksasi, backrubs). Instruksikan pasien dalam terapi alternatif (seperti guided imagery, relaksasi, affirmasi). Berikan aktivitas distraksi.
R/ pemberian teknik relaksasi dan mengontrol nyeri yang berlebihan.
Berikan angelsik sesuai petunjuk.
R/ mencegah timbulnya nyeri.
DX X: Gangguan pola tidur
Kaji pola tidur, bantu pasien dalam mengatur waktu tidur.
R/ merecanakan perawatan dasar pada kebutuhan pasien.
Pertahankan ketenangan, lingkungan yang aman, jadwal perawatan pasien untuk menghindari gangguan tidur, berikan medikasi sesuai petunjuk.
R/ mendorong tidur yang terus menerus.
DX XI: Isolasi sosial
Memperkenalkan hubungan kekerabatan yang penting dalam hidup pasien. Melibatkan orang-orang ini dalam perawatan pasien, jika pasien meminta.Menganjurkan adanya kunjungan dan telepon.
R/ menganjurkan interaksi lingkungan dalam perawatan kesehatan mungkin menstimulasi interaksi yang berlanjut di rumah.
Berbicara dengan pasien sesering mungkin, hindari pemakaian masker bila tidak ada resiko.
R/ masker biasanya tidak dibutuhkan dan diperlukan sebagai barier dalam komunikasi.
Instruksikan pasien dan orang penting lainnya tentang transmisi.
R/ memberikan jaminan bahwa HIV tidak ditransmisikan begitu saja.
Berikan kelompok support dan sumber AIDS komunitas.
R/ untuk meningkatkan kontak dengan masyarakat.
DX XII : Kurang perawatan diri dalam semua aktivitas dan latihan
Kaji kebutuhan pasien akan pertolongan dalam aktivitas dan latihan.Berikan pertolongan aktivitas yang tidak dapat dilakukan oleh pasien secara mandiri.
R/ kebutuhan pasien berubah seiring dengan perubahan kondisi pasien.
Berikan pasien terapi okupasional untuk membantu pekerjaan di rumah.
R/ memungkinkan pasien dalam melakukan aktivitas dan latihan sendiri, yang mana hal ini akan meningkatkan respek terhadap dirinya.
Ajarkan orang penting lainnya untuk membantu aktivitas dan latihan pasien.
R/ perawatan dapat dipertahankan di rumah.
DX XIII : Gangguan pengelolaan biaya hidup di rumah
Kaj tersedianya seseorang di rumah untuk menolong pasien dalam berbelanja, menyiapkan makanan, melakukan pekerjaan rumah tangga dan transportasi. Kaji pendapatan yang cukup untuk mendukung kehidupan.
R/ keadaan pasien menghambat kemampuannya untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan di rumah.
Tunjukkan pasien/keluarga/orang penting lainnya terhadap sumber komunitas sebagai bantuan.
R/ pelayanan yang terorganisir dalam komunitas yang terbesar membantu orang dengan HIV, pendapatan yang rendah, atau kebutuhan spesifik.
DX XIV : Kecemasan
Kaji kemampuan koping pasien. Perhatikan tanda-tanda koping yang tidak efektif.
R/ dapat digunakan sebagai pertahanan (seperti : denial).
Berikan informasi yang akurat dan konsisten tentang kondisi dan pengobatan.
R/ untuk mengurangi ketakutan karena ketidaktahuan.
Memperbolehkan pasien untuk mengungkapkan ketakutan dan kemarahan. Yakinkan pasien bahwa perasaannya normal.
R/ marah merupakan reaksi yang alamiah, ,mengekspresikannya membantu untuk mengontrolnya.
Ciptakan lingkungan yang tenang dan tidak mengancam.
R/ mengurangi stimulus yang mengakibatkan timbulnya kecemasan.
Menganjurkan interaksi dengan suport sistem.
R/ mengurangi perasaan isolasi.
Anjurkan pasien untuk konseling mental.
R/ untuk intervensi jika kecemasan menjadi disfungsional.
DX XVII : Gangguan pertukaran gas
Monitor pola napas dan bunyi napas.
R/ mendeteksi adanya komplikasi pernapasan.
Atur posisi pasien untuik meningkatkan jalan napas dan memfasilitasi batuk, anjurkan penggunaan teknik relaksasi dan pernapasan melalui bibir.
R/ meningkatkan ekspansi paru.
Berikan fisioterapi dada, suction bila diperlukan.
R/ membantu pengeluaran sekret.
Berikan oksigen.
R/ mengurangi resiko hipoksemia.
Berikan perawatan sebelum prosedur dan ajarkan untuk menjalani bronkoskopi.
R/ mengurangi kecemasan.
DX XVIII : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Monitor daya kunyah dan menelan pasien.
R/ berkurangnya intake sering kali berhubungan dengan oral dan kerongkongan.
Monitor berat badan, intake dan output.
R/ menentukan data dasar.
Kaji ketersediaan makanan di rumah dan seseorang yang menyediakannya.
R/ kehilangan pekerjaan dan penghasilan dapat menjadi masalah.
Hindari stimulus yang berbahaya, seperti bau busuk atau pemandangan yang tidak menyenangkan.
R/ dapat merangsang refleks muntah.
Berikan antiemetik sesuai dengan anjuran.
R/ mengurangi muntah.
Rencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya.
R/ menjamin makanan akan disenangi oleh pasien.
Konsul ke ahli diet.
R/ untuk menambah kebutuhan nutrisi pasien.
Pertahankan pemberian makanan lewat pipa NGT.
R/ untuk pasien yang tidak dapat menelan.
DX XIX : Diare
Kaji frekuensi dan konsistensi feces dan adanya darah.
R/ untuk menentukan data dasar.
Auskultasi bunyi bowel.
R/ hipermotilitas umumnya terjadi pada diare.
Berikan agen antimobiliti dan psyllium (metamucil) sesuai petunjuk.
R/ memperlambat motilitas intestinal, psyllium beraksi menyerap cairan dan membentuk lebih banyak masa padat.
Kaji daerah perianal, bersihkan setelah BAB, berikan obat salep vaselin atau zinc oksida, A dan D ointment.
R/ mengurangi rasa terbakar di kulit dan mnegurangi ketidaknyamanan, obat salep berguna untuk menjaga kelembaban kulit.
DX XX : Kurang volume cairan
Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit jelek, hipotensi, tachicardi, oliguria).
R/ kekurangan volume cairan adalah komplikasi umum dan dapat diperiksa.
Monitor intake dan output, berat badan.
R/ menentukan data dasar.
Anjurkan intake cairan per oral.
R/ mengimbangi peningkatan output.
Berikan terapi IV dan elektrolit sesuai anjuran.
R/ untuk pasien yang tidak dapat mengkonsumsi cairan lewat oral.
DX XXI : Hipertermi
Kaji TTV
R/ data dasar untuk intervensi selanjutnya
Berikan kompres hangat
R/ perpidahan panas secara evaporasi
Kolaborasi dokter : beri antipiretik
R/ menurunkan panas
DX XXII : Kerusakan integritas kulit
Monitor status kulit dan lesi setiap hari.
R/ menentukan data dasar.
Bantu pasien menjaga kulit tetap bersih dan kering, gunakan lotion pelembab, rawat atau bersihkan daerah peroral sesuai anjuran di atas.
R/ mencegah kerusakan kulit.
Tukar alat tenun bila kotor, mereposisi pasien sesering mungkin.
R/ mengurangi tekanan pada kulit untuk mencegah luka tekan.
Tutup daerah terbuka dengan pakaian kering dan steril.
R/ mencegah masuknya bakteri.
Lakukan perawatan luka, tekan sesuai petunjuk.
R/ mencegah kerusakan lebih lanjut, dapat menjadi tidak mungkin untuk menyembuhkannya.
Elevasikan ekstremitas yang edema, elevasikan kepala dari tempat tidur jika wajah bengkak, gunakan kain yang dingin pada wajah.
R/ membantu menghalangi dareah mengalir dengan lesi KS.
DX XXIII : Kerusakan membran mukosa
Monitor rongga mulut, tenggorokan dan bibir.
R/ mengidentifikasi adanya kenyamanan.
Hubungi dokter gigi.
R/ untuk perawatan pariodontitis.
Anjurkan dan ajarkan oral hygiene (gunakan sikat gigi yang lembut, pasta gigi yang tidak menyebabkan iritasi, penggunaan pencuci mulut), anjurkan agar mencuci mulut sesering mungkin dengan menggunakan saline dan cairan hidngen perioxide, sediakan pemulas bibir.
R/ mencegah penyebaran lesi dan meningkatkan kenyamanan.
Beri anti infeksi sesuai instruksi.
R/ mengontrol infeksi dalam mulut.
Nasihatkan pasien agar menghindari makanan yang mengandung garam , pedas dan suhu yang panas.
R/ untuk mencegah iritasi.
Anjurkan intake cairan kurang dari 2500 ml.
R/ mempertahankan cairan mukosa membran.
DX XXIV : Gangguan pola seksual
Kaji pasien dan pasangannya tentang aktivitas seksual, beri informasi yang lengkap tentang transmisi HIV dan praktek seksual yang aman dan tidak aman.
R/ mengurangi resiko transmisi HIV yang lebih lanjut dan mengurangi perubahan STDs yang dipakai dimana dapat melemahkan sistem imun.
Berikan support atau nasehat.
R/ untuk memperoleh bantuan jangka panjang dengan menyesuaikan diri dari pengaruh HIV dalam hubungan seksual .
Beri support pada pasangan pasien.
R/ patner biasanya bingung dan hal ini memperburuk keadaan pasien.
DX XXV:Tidak efektifnya koping individu
Menetapkan hubungan dengan keluarga atau orang penting lainnya, koping mereka terhadap sakit dan perawatan pasien.
R/ untuk memulai hubungan baik perawat dan keluarga dalam bekerja sama.
Ijinkan pasien mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata (marah, menarik diri, kesalahan).
R/ mereka tidak memiliki orang lain dimana mereka dapat berbicara secara bebas.
Membentuk kelompok keluarga yang memberi suport.
R/ keluarga penting untuk interaksi dengan orang lain dalam situasi yang serupa.
Ajarkan keluarga tentang penyakit dan transmisi.
R/ mengurangi kecemasan tentang transmisi dengan kontak yang secara kebetulan.
Instruksikan tentang perawatan di rumah; berikan perawatan atau pertolongan sesuai kebutuhan pasien.
R/ memungkinkan keluarga memberikan perawatan tanpa stres yang berkelebihan.
E. Evaluasi.
1. Pasien bebas dari infeksi dan komplikasinya.
Data : tidak terdapat tanda-tanda awal infeksi, penemuan laboratorium menunjukkan tidak adanya infeksi;temperatur nadi dan pernapasan normal, tidak ada lesi atau eksudat.
2. Infeksi HIV tidak ditransmisikan petugas kesehatan memperlihatkan pencegahan darah dan cairan tubuh..
Data : Pasien dapat berpatisipasi dalam melakukan ADL tanpa frustasi
3. Efek yang merubah pikiran terhadap proses kehidupan pasien dapat di perkecil.
Data : Pasien mampu berpartisipasi dalam ADL tanpa frustasi; membantu dirinya sendiri dan orang lain.
4. Pasien tidak mengalami kejadian injuri atau jatuh.
Data: Pasien diperlihatkan secara ketat, tidak jauh / mengalami injuri; menggunakan bantuan alat pengaman, lingkungan rumah bebas dari halangan yang dapat menyebabkan injuri; melarang pasien mengendarai mobil sendiri.
5. Interaksi obat/ reaksi alergi dihindari; pasien dapat mengatur obat sendiri sesuai aturan.
Data : Pasien menyelesaikan semua jadwal pengobatan yang ditentukan. Jika ada reaksi yang tidak diinginkan pasien tidak melanjutkan pengobatan dan menghubungi dokter. Pasien memberitahukan pada pelaksana perawatan kesehatan tentang semua obat yang diminumnya.
6. Pasien berpatisipasi dalam aktivitas yang butuh banyak energi; bebas dari dyspnea, dan tachicardi selama aktivitas.
Data : Lingkungan dimodifikasikan untuk memungkinkan pasien memodifikasikan tingkat aktifitasnya; pasien menggunakan metode menghemat energi; pasien beristirahat diantara aktivitasnya.
7. Pasien tidak bingung atau takut dengan stimulasi lingkungan; tidak terdapat injuri.
Data : Pasien berorientasi terhadap lingkungan, tidak menunjukan rasa takut pada ransangan, tidak terjadi injuri.
8. Komunikasi pasien ditingkatkan.
Data : pasien beristirahat dengan nyaman, dalam pertemuan terjadi komunikasi tanpa ekspresi frustasi.
9. Rasa nyeri pasien berkurang.
Data : pasien tertidur, istirahat dan melakukan ADL tanpa gangguan atau tidak menunjukkan nyeri.
10. Pasien dapat beristirahat dan tidur dengan baik.
Data : Pasien dapat menggambarkan waktu istirahat (tidur 7-9 jam per hari dan dapat energi sesudah bangun).
11.Pasien mempertahankan hubungan yang berarti atau berdaptasi terhadap perubahan hubungan.
Data : Pasien dikunjungi, dapat mengidentifikasi dengan siapa yang terakhir; nama orang yang bisa dihubungi jika memerlukan bantuan.
12.Kebutuhan pertemuan sehari-hari pasien dengan orang lain dan berpartisipasi dalam perwatan diri sesuai toleransi.
Data : Pasien ikut serta dalam ADL dengan asisten dan dengan bantuan peralatan; pasien berjalan, mandi, berganti pakaian, ke toilet dengan perawat.
13.Pasien dan orang lain yang berarti mengetahui tentang sumber-sumber pelayanan masyarakat.
Data :Pasien menggambarkan pelayanan yang dapat menyediakan bantuan dan bagaimana mengatur pertolongan dirumah, pasien membuat rencana yang komplit/lengkap tentang situasi tempat tinggal yang baik.
14.Pasien menyatakan kecemasan dan ketakutan; memakai strategi koping diri terhadap kecemasan.
Data : Pasien menunjukkan penurunan kecemasan terhadap hospitalisasi, mengatakan pengertian tentang kondisi dan perawatan pasien menunjukkan metode mengatasi kecemasan dengan jalan yang prduktif.
15.Pasien mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat dikontrolnya dengan membuat keputusan tengtang dirinya, aturan dan kebutuhan perawatan kesehatannya.
Data : Pasien berpartisipasi secara aktif dalam keputusan perawat; bertanya tentang terapi; menyatakan langkah-langkah yang dapat di ambilnya untuk mempertahankan status kesehatannya dan memperbaiki kualitas hidup sehari –harinya.
16. Pasien mulai menunjukkan kemajuan setelah proses kesediaan.
Data : pasien mengekspresikan kesedihan dan menggambarkan arti kehilangannya; berpartisipasi dalam perencanaan yang akan datang.
17. Pasien menunjukkan pola replikasi normal, jumlah gas darah, oksigenasi seluler; pasien menunjukkan kemampuannya dalam pemberian oksigen.
Data : pasien bebas dyspnea, batuk, cianosis, bunyi broncovesikuler didengar pada paru-paru; nilai CO2, PO2 dan PCO2 normal; pasien melakukan aktivitas tanpa adanya napas pendek.
18. Pasien memiliki intake kalori dan protein yang adekuat untuk kebutuhan metabolik.
Data : nausea dan vomiting dapat dikontrol; pasien makan makanan yang mengandung tinggi kalori dan protein; serum albumin dan protein berada pada nilai normal; berat badan mendekati nilai normal atau ideal.
19. Pasien mengekspresikan kenyamanan dan pengontrolan diare; komplikasi diperkecil.
Data : abdomen lembek, feces lembek, warna normal dan menunjukkan frekuensi yang normal, rasa kram pasien menjadi ringan atau berkurang; daerah perianal bebas dari kelunakan.
20. Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan.
Data: intake cairan sama dengan output, turgor kulit normal, membran mukosa lembab; urine khusus normal, serum sodium dan albumin normal.
21. Suhu tubuh dipertahankan dalam batas normal; kenyamanan dan keamanan dipertahankan.
Data: suhu dalam batas normal; tidak dingin, kemerahan atau keringat, alat tenun kering; pasien bebas dari sakit kepala dan malaise.
22. Pasien bebas dari lesi kulit (lesi dapat dicegah atau diobati).
Data : Pasien bebas dari kulit dekubitus dan kerusakan kulit yang lain atau infeksi yang disebabkan karena kondisi pasien yang lemah.
23. Kerusakan membran mukosa diperkecil; pasien menunjukkan kenyamanan mulut.
Data : Mukosa membran lembab, warna alamiah dan tanpa perdarahan atau lesi, mulut bersih dan bebas dari sisa makanan dan eksudat; lesi, jika ada harus diobati.
24. Pasien atau pasangannya diberikan suport dan konsul untuk memulai aktivitas seksual yang aman dan atau alternatif untuk mencapai kepuasan seks.
Data : Pasien/pasangannya menggambarkan metode seksual yang aman, mengungkapkan maksud untuk mengikuti konseling sesuai kebutuhan.
25. Keluarga atau orang yang berarti kuat dan mempertahankan mutu suport, sistem dan adaptasi pada perubahan tuntutan mereka.
Data : Pasien dan keluarga berinteraksi dengan jalan yang konstruksi; keluarga memberi suport tanpa menyangkal kekuatan pasien dalam pembuatan keputusan yang berlebihan, keluarga memiliki informasi rentang bantuan yang didapat dengan perawatan di rumah jika dibutuhkan.
Pendidikan Kesehatan.
Sebelum test:
Orang yang akan ditest secara sukarela adalah seorang yang menyalahgunakan obat IV, laki-laki / wanita pekerja seks, wanita biseks / menggunakan obat narkotik / IV, orang yang menerima transfusi darah di USA antara tahun 1978 dan 1995, seorang yang merasa dirinya berisiko.
Diagnosa tambahan : Orang yang berencana menikah, tuntutan institusi, orang yang sedang dalam evaluasi medis dan pengobatan pada penyakit infeksi, orang yang bekerja di rumah sakit.
1. Diskusikan alasan pasien ingin di test.
2. Pastikan pasien yang hasil test ELISA positif , mereka akan mengikuti test berikutnya.
3. Kaji hal-hal yang mempengaruhi hasil test : gaya hidup pasien,tingkah laku yang beresiko,status psikologi.
4. Tentukan jika pasien punya suport sistem.
5. Diskusikan bagaimana rencana pasien menggunakan waktu menunggu sampai hasil bisa didapat.
6. Anjurkan pasien untuk kembali mengambil hasil test (tidak diberikan lewat telepon).
7. Ajarkan pasien bertingkah laku untuk mencegah penularan,walaupun hasil test negatif.
Resiko dapat dicegah dengan : menolak obat-obat (narkotik) IV, hindari hubungan seks lewat vagina, anus atau oral dan cara pertukaran sekresi tubuh yang lain.
Resiko dapat diperkecil dengan :
- Mempertahankan hubungan seks monogami dengan satu orang saja).
- Gunakan kondom latex deengan 5% non-oxynol-9 sejak awal hingga akhir hubungan seks.
- Hindari pertukaran cairan tubuh (semen, sekret vagina, darah) selama hubungan seks.
- Gunakan jarum suntik sendiri untuk pengobatan.
8. Siapkan informasi pada program bagi pengguna alkohol dan obat-obatan.
9. Informasikan pada pasien untuk melaporkan pada dinas kesehatan jika hasil positif.
Sesudah test :
Hasil test positif tidak berarti AIDS tapi diindikasikan 30%-50% akan menjadi AIDS dalam waktu 7 tahun setelah infeksi. Tapi jika waktu infeksi tidak diketahui, pasien harus memperhatikan segala yang muncul sewaktu-waktu.
1. Beritahu pasien bahwa virus dapat ditularkan dalam semua fase infeksi. Ulangi informasi untuk mengurangi resiko penularan masa pretest. Dalam hal ini pasien berhati-hati untuk menghindari pertukaran barang pribadi yang terkontaminasi dengan darah seperti pisau cukur atau sikat gigi; hindari mendonor darah, jaringan atau sperma.
2. Anjurkan pasien untuk memberitahukan pada pasangan seksualnya.
3. Anjurkan pada wanita untuk menghindari kehamilan dan menyusui.
4. Beri informasi tentang konseling tambahan dan pelayanan suport masyarakat.
5. Anjukan pasien menginformasikan kasus HIV pada dokter umum atau dokter gigi ketika perawatan.
6. Orang dengan hasil test positif kelihatan seperti tidak dengar apa-apa setelah mengetahui hasil test. Jadwalnya untuk kunjungan berikut sebagai konsult lanjutan untuk mempentahankan sistem imun dan memperbaiki status kesehatan.
Konsult lanjutan:
1. Beritahukan pasien tentang tanda-tanda dan gejala HIV yang b.d penyakitnya.
2. Dorong pasien untuk melihat catatan harian dari penyakit, perawatan dan pengobatan.
3. Anjurkan pasien untuk menjalani perawatan medis secara teratur dan pengobatan awal terhadap semua penyakit yang berhubungan dengan HIV.
4. Ingatkan pasien tentang tanggal imunisasinya.
5. Ulangi prinsip dasar untuk mempertahankan status kesehatan seperti diet, olahraga, istirahat, menghindari obat-obat atau narkotik, alkohol, kurangi merokok dan stres.
6. Beri tahu pasien metode mencegah terpaparnya patogen.
7. Ajarkan pasien menggunakan kondom.
8. Katakan pada pasien untuk menjalani perawatan medis untuk mendapatkan sistem imun.
9. Beri tahu pasien untuk menyeimbangkan program aktivitas dan istirahat.
10. Ajarkan pernapasan mulut dan diafragma untuk mengurangi usaha bernapas.Ajarkan penggunaan spirometer yang benar.
11. Instruksikan pasien pada pengobatan yang dijelaskan, efek obat, dosis, rute pemberian, efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan.
12. Instruksikan pasien untukmenjalani perawatan kulit dan hygiene: menggunakan sabun, menghindari bedak atau bahan yang terbuat dari alkohol yang dapat menyebabkan kulit kering, menggunakan lotion pada kulit secara menyeluruh, hindari produk yang dapat menyebabkan mual.
13. Instruksikan pasien bahwa nutrisi merupakan hal yang penting.
14. Ajarkan pasien cara-cara untuk mengurangi efek dari mual: bersihkan mulut sebelum makan, hindari makanan yang berbau tajam, makan makanan ringan, makan biskuit pada waktu pagi dan hindari minun yang banyak dan hindari mengkonsumsi daging.
PENUTUP
A. Kesimpulan
AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang disebabkan oleh HIV. Penyakit ini merupakan penyakit menular seksual yang sangat berbahaya sampai sekarang pengobatan pada penyakit ini belum ada.
HIV/AIDS dapat ditularkan baik secara langsung melalui kontak seksual maupun melalui darah. Orang yang sudah terinfeksi akan beresiko untuk menularkan penyakit tersebut kepada orang lain apabila tidak ada upaya pencegahan.
B. Saran
Mengingat bahwa AIDS merupakan penyakit menular seksual yang berbahaya dan belum ada pengobatannya agar kita terus melakukan tindakan-tindakan pengobatan seperti yang telah disebutkan dan sebagai perawat tentu sebaiknya memberikan Askep dengan baik sehingga dapat mengatasi masalah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Grimes, Deanna E, 1991, “Infetious Disease”, St. Louis, Missouri Mosby Year Book
Ignatavicius, Donna D, 1991, “Medical Surgical Nursing” (A Nursing Process Approach)”, W. B Saunders Company. USA
Muma, Richard D, 1997, “HIV (Manual Untuk Tenaga Kesehatan)”, EGC Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)