Senin, 22 November 2010

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SKIZOFRENIA

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SKIZOFRENIA

1. Definisi penyakit
Skizofrenia adalah gangguan yang paling lazim dan paling penting kelompok ini. Gangguan skizotipal memiliki banyak ciri khas dari gangguan skizofrenik dan mungkin berkaitan secara genetik dengan skizofrenia; namun demikian, halusinasi, waham dan gangguan perilaku yang besar dari skizofrenia sendiri tidak terdapat pada gangguan skizotipa; dan karenanya gangguan ini tidak selalu menjadi perhatian medis.
2. Tanda dan gejala
Gangguan skizofrenik umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi yang mendasar dan khas, dan oleh afek yang tidak wajar (inappropirate) atau tumpul (blunted).
Walaupun tidak ada gejala-gejala yang patognomonik khusus, dalam praktek ada manfaatnya untuk membagi gejala-gejala tersebut ke dalam kelompok-kelompok yang penting untuk diagnosis dan yang sering terdapat secara bersama-sama misalnya:
a. thought echo, thought insertion atau withdrawal, thought broadcasting
b. waham dikendalikan, waham dipengaruhi, atau passivity yang jelas merujuk pada pergerakan tubuh atau pergerakan anggota gerak atau pikiran, perbuatan atau perasaan (sensasi) khusus, persepsi delusional
c. Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien atau mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh
d. Waham-waham yang menetap jenis lain yang menurut budayanya dianggap tidak wajar serta sama sekali mustahil, seperti misalnya mengenai identitas keagamaan atau politik, atau kekuatan dan kemampuan “manusia super” (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain”)
e. Halusinasi yang menetap dalam setiap modalitas, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang/melayang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun oleh ide-ide berlebihan (over valued ideas) yang menetap atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus
f. Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan (interpolasi) yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme
g. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement) sikap tubuh tertentu (posturing) atau fleksibilitas serea, negativisme, mutisme dan stupor
h. Gejala-gejala “negatif “ seperti sikap sangat masa bodo (apatis) pembicaraan yang terhenti dan respons emosional yang menumpul atau t idak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika
i. Suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku perorangan, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, tak bertujuan, sikap malas, sikap berdiam diri (self absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial
3. Patofisiologi
4. Pemeriksaan penunjang
5. Management terapi
- Terapi somati: Antipsikotik, obat lain
- Terapi psikososial: terapi perilaku, terapi berorientasi keluarga, terapi kelompok, psikoterapi individual


BAB II STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN

Diagnosa yang muncul pada skizofrenia:
1. Resiko kekerasan ditujukan pada orang lain
2. Resiko kekerasan ditujukan pada diri sendiri
3. Gangguan sensori persepsi (spesifik: penglihatan, pendengaran, kinestetik, gustatory, taktil, olfactory)


No Diagnosa Faktor Resiko/Batasan karakteristik NOC NIC
1 Resiko kekerasan ditujukan pada orang lain


Definisi: Kondisi dimana tingkah laku individu dapat menyakiti orang lain baik secara fisik, emosional atau seksual Faktor resiko Bahasa tubuh: postur kaku, mengepalkan tangan, hiperaktif, kondisi mengancam
Riwayat kekerasan
Riwayat mengancam
Riwayat perilaku antisosial
Riwayat kekerasan secara tidak langsung
Kerusakan neurologi
Kerusakan kognitif
Riwayat penganiayaan masa kanak-kanak
Riwayat saksi kekerasan di rumah
Kejam pada binatang
Membakar
Komplikasi/abnormal pre/perinatal
Riwayat penyalahgunaan obat/zat
Intoksikasi patologi
Gejala psikotik (ex halusinasi, paranoid, delusi, proses pikir tidak logis, dll)
Kebut kebutan dengan sepeda motor
Tingkah laku bunuh diri
Impulsivity
Mempunyai senjata
Kontrol Agresi - Bantuan kontrol marah
- Pengelolaan lingkungan: pencegahan kekerasan


2 Resiko kekerasan ditujukan pada diri sendiri

Definisi: Kondisi dimana tingkah laku individu dapat diri sendiri baik secara fisik, emosional atau seksual Faktor resiko
Ide bunuh diri yang sering, dan lama
Rencana bunuh diri
Riwayat usaha bunuh diri
Tanda perilaku (menulis surat, memberikan milik pribadi, mengambil asuransi)
Tanda verbal: bicara tentang mati, “lebih baik tanpa saya”, menanyakan dosis atau obat yang mematikan
Kondisi kesehatan mental (depresi berat, psiosisi, gangguan kepribadian berat,
penyalahgunaan obat dan alkoholisme
Kesehatan fisik (hipokondriasis, sakit kronik atau terminal)
Pengangguran
Usia Limabelas sampai 19
Usia lebih dari empat puluh lima
Status perkawinan
Pekerjaan
Konflik hubungan interpersonal
Latar belakang keluarga (kacau, riwayat bunuh diri)
Orientasi seksual (biseksual, homoseksual)
Sumber personal (miskin prestasi, insight kurang, dll)
Sumber sosial (miskin, isolasi sosial
Keluarga yang tidak responsif)
Orang yang terlibat dalam tindakan sexual

Restrain bunuh diri - Pencegahan
bunuh diri

- Intervensi krisis

3 Gangguan sensori persepsi (spesifik: penglihatan, pendengaran, kinestetik, gustatory, taktil, olfactory)
Definisi: Kondisi dimana individu mengalami perubahan dalam jumlah atau pola dari stimuli yang datang dikaitkan dengan penurunan, berlebihan, distorsi atau kerusakan respon terhadap stimulasi
Batasan karakteristik
Miskin konsentrasi
Distorsi auditory
Perubahan dalam respon yang biasa dilakukan terhadap stimulus
Tidak dapat istirahat
Laporan atau adanya perubahan dalam acuity sensory
Irritable
Disorientasi wkatu, tempat atau orang
Perubahan dalam kemampuan menyelesaikan masalah
Perubahan dalam pola tingkah laku
Perubahan pola komunikasi
Halusinasi
Distori visual
Kontrol distorsi pikiran - Pengelolaan halusinasi

- Orientasi realita


BAB III PENUTUP
Pada skizofrein, beberapa diagnosa keperawatan utama yang muncul adalah seperti telah disebuntukan di atas, tetapi diagnosa keperawatan yang muncul akan tergantung dengan kondisi yang ada pada pasien, sehingga tidak mustahil diagnosa keperawatan lain yang ada pada diagnosa medis akan juga muncul pada kondisi skizofrein

Daftar Pustaka
McCloskey, J.C, Bulechek, G.M, 1996, Nursing Intervention Classification (NIC), Mosby, St. Louis

NANDA, 2001, Nursing Diagnoses : Definitions and Classification 2001-2002, Philadelphia

Kaplan dan Sadock, 1997, Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinik. Jakarta: Binarupa Aksara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar