November 22, 2010

SKABIES

1. Skabies
a. Definisi
Skabies (the itch, gudig, budukan, gatal agogo) adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian huminis dan produknya ( Mansjoer, 2000).
b. Epidemiologi
Skabies terdapat di seluruh dunia dengan insiden yang berfluktuasi akibat pengaruh faktor imun yang belum diketahui sepenuhnya (Sungkar, 1995). Ada dugaan bahwa epidemi skabies dapat berulang selama 30 tahun (Juanda, 1999). Penyakit ini banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda, tetapi dapat mengenai semua umur. Frekuensi penyakit ini sama pada pria maupun wanita (Harahap, 1998).
Penyakit ini telah ditemukan hampir pada semua negara di seluruh dunia dengan dengan angka prevalensi yang bervariasi. Di beberapa negara berkembang prevalensinya dilaporkan berkisar antara 6-27% dari populasi umum dan insiden tertinggi terdapat pada anak usia sekolah dan remaja (Dermatol, 1998). Di negara maju, termasuk Amerika Serikat, prevalensinya sama untuk semua kelompok usia dan skabies pada anak-anak tetap merupakan masalah besar (Dermatol, 1998).
Di Indonesia insiden penyakit ini belum ada angka yang pasti, namun berdasar laporan departemen kesehatan, skabies menempati urutan ke-3 dari 10 urutan penyakit kulit terbesar pada pelita IV, Budiastuti, dkk pada tahun 1990-1992, melaporkan bahwa penyakit skabies merupakan pengunjung kedua terbesar dari kunjungan rawat jalan poliklinik Rumah Sakit Dr.Sutomo Surabaya.
Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini antara lain, sosial ekonomi rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiekuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografis serta ekologik. Penyakit ini dapat dimasukkan dalam penyakit akibat hubungan seksual (Handoko, 1999).
Penularan skabies terutama melalui kontak langsung seperti berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual. Pada orang dewasa hubungan seksual merupakan cara penularan tersering, sedangkan pada anak-anak penularan didapat dari orang tua atau temannya (Burkhat, 1983). Penularan melalui kontak tidak langsung, misalnya melalui perlengkapan tidur, pakaian atau handuk dahulu diduga mempunyai peranan kecil pada penularan, namun penelitian terakhir menunjukkan bahwa hal ini memegang peranan penting dalam penularan skabies dan dinyatakan bahwa penularan skabies dinyatakan bahwa penularan utama adalah melalui selimut, pakaian dalam dan penderita wanita (Sungkar, 1995).

c. Etiologi
Penyebab penyakit skabies sudah dikenal lebih dari 100 tahun lalu sebagai akibat investasi tungau yang dinamakan acarus scabiei atau sarcoptes scabiei varian hominis (Makatutu, 1998). Sarcoptes scabiei termasuk filum arthropoda, kelas Arachnida, ordo Acarina, super famili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var hominis. Selain itu terdapat Sarcoptes scabiei yang lain, misalnya pada kambing dan babi (Handoko, 1999).
Tungau ini berbentuk oval, berwarna putih kotor, translusen dengan bagian punggung lebih lonjong dibandingkan perut, tidak bermata. Tungau ini pertama kali dideteksi oleh Bonmi tahun 1687 dan merupakan arthropoda kecil dengan ukuran betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Sarcoptes scabiei bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedang pada jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat. Seluruh tubuhnya ditumbuhi oleh duri-duri kecil (Handoko, 1999).
d. Patogenesis
Tungau jantan dan betina berkopulasi pada terowongan yang dangkal pada kulit, kemudian tungau betina yang telah dibuahi akan menggali lubang kedalam lapisan epidermis dan selanjutnya membuat terowongan didalam dan di bawah lapisan stratum korneum dengan mensekresikan substansi yang melarutkan kulit, kemudian dikonsumsi dan dicerna oleh tungau. Beberapa jam setelah menggali terowongan telur-telur mulai diletakkan. Terowongan ini merupakan tempat tinggalnya selama 1-2 bulan dan selanjutnya akan bertelur disini.
Setiap hari tungau tersebut bertelur 2-3 butir, dan menetas dalam waktu 3-4 hari menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki, larva ini dapat tinggal di dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar, dengan cara melubangi atap terowongan, kemudian larva tersebut menggali terowongan pendek (moulting pockets) dimana mereka berubah menjadi nimfa. Selanjutnya akan berubah menjadi bentuk dewasa setelah 7-10 hari kemudian. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerluan waktu antara 8-12 hari. Tungau betina dapat bertahan hidup selama 2-3 minggu, terowongan pada kuit dapat sampai ke perbatasan stratum korneum dan stratum granulosum (Predinville, 2000).
Jumlah tungau betina yang terdapat pada seorang penderita skabies hanya 10-15 ekor saja, namun kemampuan seekor tungau dewasa betina untuk bertelur sepanjang hidupnya 40-50 butir dan tungau ini dapat bergerak dengan kecepatan 2-3 mm per hari (Roo K,1986 dan Burn, 1998).Tungau jantan mempunyai masa hidup yang lebih pendek daripada tungau betina,dan mempunyai peran yang kecil pada patogenesis penyakit. Biasanya hanya hidup dipermukaan kulit dan akan mati setelah membuahi tungau betina (Soedarto, 2003).
Tungau akan mati pada suhu sedang (moderate temperature).pada suhu 500 C diluar hospes, baik pada udara kring maupun lembab, tungau akan mati dalam waktu 10 menit. Pada suhu 250C tungau bertahan hidup selama 3 hari pada kelembaban relatif 90%. Periode paling lama untuk tungau bertahan diluar kulit manusia adalah 14 hari pada udara lembab dengan suhu 210 C. Sedangkan pada suhu yang lebih rendah kemampuan hidup menurun (Soedarto, 2003).
Mellanby (1994) menyatakan bahwa sensitisasi terjadi kira-kira satu bulan sesudah penyakit dimulai. Selama satu bulan parasit itu bisa terdapat diatas kulit atau dalam terowongn tanpa disertai rasa gatal dan gangguan-gangguan lainnya. Gejala gatal timbul setelah penderita tersensitisasi oleh ekskreta kutu. Pada reinfeksi rasa gatal dapat langsung terjadi.menggaruk setelah terjadinya sensitisasi membantu dalam membatasi meluasnya infestasi (Predinville, 2000).
e. Gejala klinis
Gejala utama adalah rasa gatal pada malam hari. Gatal merupakan gejala utama sebelum gejala klinis lainnya muncul. Rasa gatal biasanya hanya pada lesi tetapi pada skabies kronis gatal dapat terasa pada seluruh tubuh. Rasa gatal ini terjadi akibat sensitisasi kulit terhadap tungau yang dikeluarkan pada waktu pembuatan terowongan (Sungkar, 1995).
Lesi yang timbul dikulit pada umumnya kulit yang tipis dan lembab, mengandung sedikit folikel pilo sebaseus, simetris, dan tempat predileksi utama adalah: sela jari tangan, fleksor siku, dan lutut, pergelangan tangan, arreola mammae, umbilikus, penis, aksila, abdomen bagian bawah dan bokong. Pada anak- anak usia kurang dari dua tahun, lesi cenderung di seluruh tubuh terutama kepala, leher, telapak tangan dan kaki, sedangkan pada anak yang lebih besar predileksi lesi menyerupai orrang dewasa.
Terdapat berbagai variasi gambaran klinis, mulai dari bentuk bentuk yang tidak khas pada orang yag tingkat kebersihannya tinggi, berupa papel-papel saja pada tempat predileksi,sampai pada kasus-kasus dengan infeksi sekunder yang berat. Dapat terjadi proses eksematisasi akibat garutan atau penggunaan obat obat topikal. (Makatutu, 1990).
Tabel 1. Tempat predileksi pada orang dewasa menurut Mellanby dan makatutu (1990)
Tempat predileksi Mellanby % Makatutu %
Pergelangan tangan dari sela jari 63.0 67.9
Bagian medial lengan bawah siku 10.9 7.8
Kaki dan genetalia masing masing 9.0 4.0
Genetalia 9.0 6.4
Perut(sekitar umbilikus) - 3.0
Ketiak 2.0 1.6
Tempat lain di badan 2.1 2.3
(Sumber: Majalah Kedokteran Damianus, 2006)
Kelaianan kulit yang timbul dapat berupa papel dan vesikel miliar sampai lentikuler disertai ekskoriasi (scratch mark). Bila terjadi infeksi sekunder tampak pustule lentikular. Lesi yang khas adalah terowongan (kanallikulis ) miliar, tampak berasal dari salah satu papel atau vesikel, panjang kira-kira 1 cm, berwarna putih abu-abu. Akhir atau ujung kanalikuli adalah tempat persembunyian dan bertelurnya sarcoptes scabiei betina. Titik hitam pada akhir terowongan kadang kadang dapat terlahat menunjukkan lokasi dari tungau betina (Predinville, 2003).
Kelainan klasik ini sulit ditemui karena telah terjadi infeksi sekunder akibat garukan. Akibatnya yang sering ditemui kelainan kulit berupa ekskoriasi pustulasi ataupun krustasi bahkan jika proses menjadi lebih berat dapat timbul likenifikasi, eksematisasi dan furunkulosis.kadang-kadang kita hanyanmendapati bercak-bercak hiperpigmentasi saja.
Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Di daerah tropis, hampir setiap kasus skabies terinfeksi sekunder oleh Streptococcus pyogenes (Harahap, 1998).
f. Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan menemukan dua dari empat tanda kardinal berikut:
1) Pruritus nokturna (gatal pada malam hari) karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
2) Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seluruh anggota keluarga.
3) Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1cm, pada ujunng terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulit menjadi polimorfi (pustul, ekskoriasi, dll). Tempat predileksi biasanya daerah dengan stratum korneum tipis,yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae dan lipat glutea, umbilikus, bokong genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki bahkan seluruh permukaan kulit. Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit kepala dan wajah.
4) Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik.
Pada pasien yang selalu menjaga higiene, lesi yang timbul hanya sedikit sehingga diagnosis kadang kala sulit ditegakkan. Jika penyakit berlangsung lama, dapat timbul likenifikasi, impetigo, dan furunkulosis.
g. Histopatologis
Pemeriksaan histopatologis cross-section dari terowongan skabies menampakkan tungau betina dengan telur-telurnya berada pada stratum korneum. Epidermis terlihat akantotik dengan spongiosis, eksositosis terdiri dari netrofil dan eosinofil,serta parakeratosis. Di dermis terlihat infiltrasi sel-sel inflamasi campuran terdiri dari limfosit, histiosit, dan eosinofil, terjadi inflamasi perivaskular superfisial dan dalam, vaskulitis dan destruksi dari pembuluh darah dermal dapat terlihat pada kasus yang berat. Biopsi dari papul kulit yang tidak spesifik terlihat infiltrat inflamasi yang sama tanpa terlihat terowongan serta isimya yang bersifat diagnostik (Predinville, 2000).
h. Imunologi
Infestasi pertama skabies akan menimbulkan gejala klinis setelah satu bulan kemudian. Tetapi pada yang telah mengalami infestasi sebelumnya, gejala klinis dapat timbul dalam waktu 24jam. Hal ini terjadi oleh karena pada infestasi ulang telah ada sensitisasi dalam tubuh pasien terhadap tungau dan produknya yang merupakan antigen dan mendapat respons dari sistem imun tubuh (Ayerbe, 1998).
Dari pemeriksaan uji kulit diperoleh bukti yang mendukung dugaan bahwa terjadi reaksi hipersensitifitas tipe cepat dan lambat. Pada tipe papular dan nodular yang meradang ditemukan limfosit T pada infiltrat kulit yang diduga sebagai hasil hipersensitivitas tipe lambat (Ayerbe, 1998).
i. Diagnosis banding
Skabies disebut juga sebagai a great imitator karena memberikan gambaran klinis yang sangat bervariasi, dapat didiagnosis banding dengan penyakit- penyakit kulit yang mengenai badan kecuali muka, sulit dibedakan dengan beberapa penyakit kulit yang disertai gatal. Pruritus terdapat pada hampir semua dermatosis, maka skabies dapat didiagnosis banding dengan dermatitis atopik, dermatitis kontak, prurigo, urtikaria papular, impetigo, folikulitis, dermatitis herpetiformis, gigitan serangga, pedikulosis korporis, liken planus, pitiriasis rosea, penyakit hodgkin, pseudomonas folikulitis (Makatutu, 1990).
Setiap dermatitis yang mengenai daerah areola, selain penyakit paget, harus dicurigai pula adanya skabies. Skabies krustosa dapat menyerupai dermatitis hiperkeratosis, psoriasis, dermatitis seboroik, dan keratosis folikularis (Greene, 2002).
j. Penatalaksanaan
1) Penatalaksanaan secara umum
Pada prinsipnya pengobatan dimulai dengan menegakkan diagnosis skabies, kalau dapat dengan menemukan tungaunya. Setelah diberi penjelasan kepada penderita mengenai penyakitnya, ditentukan obat yang akan digunakan dengan mempertimbangkan efisiensi dan toksisitas.
Beberapa syarat pengobatan yang harus diperhatikan:
a) Semua anggota keluarga harus diperiksa dan mungkin semua harus diberi pengobatan secara serentak.
b) Higiene perorangan: penderita harus mandi bersih, bila perlu menggunakan sikat untuk menyikat badan serta bawah kuku agar dapat mengeluarkan tungau tersebut. Frekuensi mandi yang memadai dan penderita harus menggunting pendek kukunya. Sesudah mandi pakian yang telah dipakai harus direbus atau disetrika.
c) Semua perlengkapan rumah tangga seperti bangku, sofa, sprei, bantal, kasur, selimut harus dibersihkan dan dijemur dibawah sinar matahari selama beberapa jam. Juga dinding dan lantai harus dibersihkan dengan larutan malathion 0.5% yang dilarutkan dalam minyak tanah.
2) Penatalaksanaan secara khusus
Dalam memilih obat anti skabies perlu diketahui syarat-ayarat idealnya, sehingga diperoleh hasil yang optimal. Pertimbangan yang harus diperhatikan adalah:
a) Sediaan harus efektif terhadap semua stadium tungau mulai dari telur, larva, nimfa dan tungau dewasa.
b) Tidak menimbulkan iritasi dan tidak bersifat toksik. Lindane 1% tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan menyusui.
c) Sedapat mungkin, sediaan tidak berbau dan tidak merusak atau mewarnai pakaian.
d) Mudah didapat dan harganya relatif terjangkau.
Obat-obat anti skabies yang tersedia dalam bentuk topikal:
a) Sulfur presipitatum (belerang endap)
b) Bensil bensoat (benzil benzoat)
c) Krotamiton (crotonyl-N-ethyl-O-tolui-dine), eurax krim atau lotio
d) Gamma benzena hexa chloride=GBHC= gammexane (lindane, scabicid cream)
e) Tiabendasol
f) Permetrin(scabimite cream)
g) Monosulfiran
h) Malathion
i) Ivermektin
Selain pengobatan yang telah disebutkan diatas, untuk mengatasi rasa gatal yang mungkin tetap ada sampai beberapa minggu setelah pemberian terapi antiskabies yang adekuat dapat diberikan obat anti pruritus, misalnya anti histamin. Pada anak kecil dan bayi krim hidrokortison 15% pemberian topikal mengurangi erupsi kulit yang berat dan bahan pelunak atau emolien pada erupsi kulit yang lebih sedikit ternyata dapat membantu. Bila terdapat infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik.
k. Komplikasi
Bila skabies tidak diobati selama beberapa minggu atau bulan. Erupsi dapat berbentuk impetigo, ektima, limfangitis, folikulitis, dan furunkel. Infeksi bakteri pada bayi dan anak kecil dapat menimbulkn komplikasi pada ginjal, yaitu glumerulonefritis. Dermatitis iritan dapat timbul karena penggunaan preparat antiskabies yang berlebihan, baik pada terapi awal atau dari pemakaian yang terlalu sering. Salep sufur, dengan kadar 15% dapat menyebabkan dermatitis bila digunakan terus menerus selama beberapa hari pada kulit yang tipis. Benzil benzoat juga dapat menyebabkan iritasi bila digunakan dua kali sehari selama beberapa hari, terutama disekitar genetalia pria. Gamma benzene heksaklorida sudah diketehui menyebabkan dermatitis iritan bila digunakan secara berlebihan.
Kadang-kadang dapat timbul infeksi sekunder sistemik, yang memperberat perjalanan penyakit. Stefilokok dan streptokok yang berada dalam lesi skabies dapat menyebabkan pielonefritis, abses internal, pneumonia piogenik dan septikemia.
l. Prognosis
Oleh karena manusia merupakan pejamu (hospes) definitive sarkoptes skabiei, maka apabila skabies tidak diobati dengan sempurna, sarkoptes skabiei akan tetap tumbuh pada manusia. Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan, dan menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat dibrantas dan memberi prognosis yang baik.
2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian skabies.
a. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan proses mencari tahu, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu.dalam proses mencari tahu dapat dilakukan dengan metode dan konsep-konsep,baik melalui proses pendidikan maupun melalui pengalaman (WHO, 1992).
Pengetahuan menurut Winkel (1991)adalah mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam bentuk ingatan.pengetahuan juga diartikan sebagai pengenalan objek dengan melalui panca indra,semakin banyak indra yang dirangsang,maka akan meningkat pula pengetahuannya.
Salah satu faktor risiko kejadian penyakit skabies adalah ketidak tahuan penderita tentang penyakit kulit terutama penyakit scabies, penyebab atau risiko terjadinya penyakit scabies, tindakan untuk melindungi diri dalam menjaga higiene perorangan dan sanitasi lingkungan.
Purwaningrum (2008), dalam penelitiannya menyebutkan bahwa faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku siswa dalam upaya pencegahan skabies diantaranya adalah pengetahuan. Hubungan antara pengetahuan dengan perilaku siswa dalam upaya pencegahan skabies diperoleh hasil nilai p=0,361, hasil ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara pengetahuan tentang skabies dengan perilaku siswa dalam upaya pencegahan skabies. Koefisien korelasi (p=0,361) mempunyai nilai positif, hal ini berarti bahwa semakin baik pengetahuan tentang skabies semakin baik pula perilaku siswa dalam upaya pencegahan skabies.
b. Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi yang rendah termasuk diantara faktor yang dapat membantu perkembangan penyakit skabies (Djuanda, 2001). Keadaan ekonomi keluarga yang relatif mencukupi akan mampu menyediakan fasilitas yang diperlukan serta memasukkan anak-anaknya kejenjang pendidikan yang tinggi dan tidak akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Kariyoso, 1994). Selain itu keputusan-keputusan yang menyangkut kesehatan ditentukan ketersediaan dan kemampuan dana untuk perawatan bagi keluarga (Fridman,1998), sehingga keadaan sosial ekonomi yang rendah sangat menentukan akan kesehatan seseorang, karena bagi mereka lebih penting untuk mencukupi kebutuhan makan dan sandang daripada untuk membeli obat.
Sosial ekonomi dikategorikan menurut kriteria keluarga sejahtera. Indikator dan kriteria keluarga sejahtera yang ditetapkan adalah sebagai berikut :
a. Keluarga Pra Sejahtera
Adalah keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih dari 5 kebutuhan dasarnya (basic needs) Sebagai keluarga Sejahtera I, seperti kebutuhan akan pengajaran agama, pangan, papan, sandang dan kesehatan.
b. Keluarga Sejahtera Tahap I
adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal yaitu :
1) Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga.
2) Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 (dua) kali sehari atau lebih.
3) Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
4) Bagian yang terluas dari lantai rumah bukan dari tanah.
5) Bila anak sakit atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa kesarana/petugas kesehatan.
c. Keluarga Sejahtera tahap II
Yaitu keluarga - keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kriteria keluarga sejahtera I, harus pula memenuhi syarat sosial psikologis yaitu :
1) Anggota Keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.
2) Paling kurang, sekali seminggu keluarga menyediakan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk.
3) Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru per tahun.
4) Luas lantai rumah paling kurang delapan meter persegi tiap penghuni rumah.
5) Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam keadaan sehat.
6) Paling kurang 1 (satu) orang anggota keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap.
7) Seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa membaca tulisan latin.
8) Seluruh anak berusia 5 - 15 tahun bersekolah pada saat ini.
9) Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga yang masih pasangan usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang hamil)
d. Keluarga Sejahtera Tahap III
yaitu keluarga yang memenuhi kriteria keluarga sejahtera I dan II, dapat pula memenuhi syarat pengembangan keluarga yaitu :
1) Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama.
2) Sebagian dari penghasilan keluarga dapat disisihkan untuk tabungan keluarga untuk tabungan keluarga.
3) Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan itu dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.
4) Ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
5) Mengadakan rekreasi bersama diluar rumah paling kurang 1 kali/6 bulan.
6) Dapat memperoleh berita dari surat kabar/TV/majalah.
7) Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi yang sesuai dengan kondisi daerah setempat.
e. Keluarga Sejahtera Tahap III Plus
Keluarga yang dapat memenuhi kriteria keluarga I,II, dan III, serta dapat pula memenuhi kriteria pengembangan keluarganya yaitu :
1) Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk materiil.
2) Kepala Keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan/yayasan/institusi masyarakat.
f. Keluarga Miskin.
adalah keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan Keluarga Sejahtera - I karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi :
1) Paling kurang sekali seminggu keluarga makan daging/ikan/telor.
2) Setahun terakhir seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru.
3) Luas lantai rumah paling kurang 8 m2 untuk tiap penghuni.
g. Keluarga miskin sekali.
adalah keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan Keluarga Sejahtera - I karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi :
1) Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 kali sehari atau lebih.
2) Anggota keluarga memiliki pakaian berbeda untuk dirumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
3) Bagian lantai yang terluas bukan dari tanah.
Wahjoedi (2008) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa korelasi antara sosial ekonomi dengan prevalensi kejadian skabies menunjukkan hubungan yang signifikan (p<0,05) dengan kekuatan korelasi tergolong kuat, yakni r=-0,579 dan berpola negatif, artinya semakin rendah tingkat sosial ekonomi maka semakin tinggi prevalensi skabies. c. Kepadatan hunian Menurut Harahap (2001) mengatakan bahwa faktor – faktor yang berhubungan dengan penularan skabies diantaranya adalah kepadatan hunian, seperti juga diungkapkan oleh Juanda (2001), bahwa penyakit skabies banyak terjadi di lingkungan yang padat penghuninya. Dengan lingkungan yang padat frekuensi kontak langsung sangat besar, baik pada saat beristirahat/tidur maupun kegiatan lainnya. Menurut azwar (1995) jumlah penghuni rumah atau ruangan yang dihuni melebihi kapasitas akan meningkatkan suhu ruangan menjadi panas yang disebabkan oleh pengeluaran panas badan juga akan meningkatkan kelembaban akibat adanya uap air dari pernafasan maupun penguapan cairan tubuh dari kulit. Suhu ruangan yang meningkat dapat menimbulkan tubuh terlalu banyak kehilangan panas. Keputusan menteri kesehatan RI No.829/MENKES/SK/VII/1999 menyebutkan bahawa kriteria mengenai aspek penyehatan didalam ruangan atau kamar, yaitu: 1) Harus ada pergantian udara (jendela/ventilasi) 2) Adanya sinar matahari pada siang hari yang dapat masuk kedalam ruang/kamar (genting/kaca) 3) Penerangan yang memadai disesuaikan dengan luas kamar yang ada. 4) Harus selalu dalam keadaan bersih dan tidak lembab 5) Setiap ruang/kamar tersedia tempat sampah 6) Jumlah penghuni ruang/kamar sesuai persyaratan kesehatan. 7) Ada lemari/rak di dalam kamar untuk penempatan peralatan, buku, sandal 8) Perbandingan jumlah tempat tidur dengan luas lantai minimal 3m atau tempat tidur (1.5x2m). Wahjoedi (2008) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa faktor – faktor yang berhubungan dengan prevalensi skabies diantaranya adalah kepadatan hunian. Korelasi antara kepadatan hunian dengan prevalensi skabies menunjukkan hubungan yang tidak signifikan (p>0.05) dengan kekuatan korelasi tergolong lemah, yakni r=0,230 dan berpola positif, artinya semakin padat tingkat kepadatan huian maka semakin tinggi prevalensi skabies.
d. Sanitasi lingkungan
Sanitasi menurut WHO dalam Depkes RI,(1998)adalah suatu usaha untuk mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang berpengaruh kepada manusia, terurama terhadap hal-hal yang mempunyai efek merusak perkembangan fisik, kesehatan dan kelangsungan hidup.sedangkan azwar(1995)mendefinisikan sanitasi yaitu usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada derajat kesehatan masyarakat dan pengawasan berbagai faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi.
Sehat menurut WHO dalam mukono (2000) adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (UU No. 23/1997).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sanitasi lingkungan adalah upaya pengendalian atau pengawasan terhadap faktor faktor yang dapat mengganggu perkembangan fisik, kesehatan dan kelangsugan hidup manusia yang ditimbulkan oleh lingkungan.
Fasilitas sanitasi meliputi :
1) Penyediaan air bersih. Sarana air bersih adalah bangunan beserta perlengkapannya, yang menyediakan air bersih untuk rumah tangga antara lain sumur gali, sumur pompa tangan, perlindungan mata air dan penampungan air hujan (Depkes RI,1990).
2) Jamban dan kamar mandi. Jamban yang sehat adalah bentuk atau model jamban leher angsa, lantai pijakan jamban kuat, serta lantai tidak licin.
3) Penyediaan tempat sampah. Keuntungan yang diperoleh jika sampah dibuang dengan benar adalah menghindari timbulnya penyakit, menciptakan keindahan, menimbulkan suasana nyaman dan tidak mengganggu estetika.
Ma’rufi (2004) mengatakan bahwa semakin buruk sanitasi lingkungan maka kemungkinan terjadi peningkatan angka kesakitan skabies. Dalam penelitian tersebut diketahui prevalensi sebesar 64,2%, artinya di pondok pesantren kabupaten lamongan provinsi jawa timur diketahui prevalensi yang sangat tinggi.
e. Higiene perorangan
Tungau Sarcoptes scabiei akan lebih mudah menginfestasi individu dengan higiene perorangan jelek, dan sebaliknya lebih sukar menginfestasi individu dengan higiene perorangan baik karena tungau dapat dihilangkan dengan mandi dan keramas teratur, pakaian dan handuk sering dicuci dan kebersihan alas tidur.
Menurut Hinchliff (1999) personal higiene mencakup semua aktifitas yang bertujuan mencapai kebersihan tubuh, meliputi mandi, merawat rambut dan daerah genetal. Beberapa aspek higiene perorangan yang harus dilakukan oleh masyarakat, yaitu:
1) Setiap individu harus membersihkan diri sedikitnya 2x sehari
2) Gunakan sabun mandi untuk menghilangkan kotoran dan kuman yang melekat di badan
3) Keramas 2x dalam seminggu
4) Sikat gigi sedikitnya 2x sehari
5) Cuci tangan dengan sabun setiap kali melakukan suatu kegiatan
6) Cuci pakaian dengan sabun setelah dipakai seharian
7) Cuci sarung bantal dan sprei 2x dalam seminggu
8) Olah raga teratur
9) Istirahat yang cukup
Somad (2006) dalam penelitiannya dihasilkan nilai p=0,012 dan r=0,268. Nilai p lebih kecil dari nilai signifikan yang dipakai yaitu 0,05, berarti ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan mandi dengan kejadian skabies. Hasil analisis ini dapat disimpulkan bahwa kebiasaan mandi kurang, memberikan resiko yang lebih besar terjadi kejadian skabies dari pada kebiasaan mandi yang baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar