November 22, 2010

SINDROM GAWAT NAFAS DEWASA (ARDS)

SINDROM GAWAT NAFAS DEWASA (ARDS)

A. Definisi
Sindroma gawat nafas dewasa (ARDS) juga dikenal dengan edema paru non kardiogenik adalah sindroma klinis yang ditandai dengan penurunan progresif kandungan oksigen arteri yang terjadi setelah penyakit atau cedera serius. ARDS biasanya membutuhkan ventilasi mekanis yang lebih tinggi dari tekanan jalan nafas normal. (Brunner & Suddart, 2002)
ARDS adalah penyakit akut dan progresif dari kegagalan pernafasan disebabkan terhambatnya proses difusi oksigen dari alveolar ke kapiler (a-c block) yang disebabkan oleh karena terdapatnya edema yang terdiri dari cairan koloid protein baik interseluler maupun intra alveolar (Tabrani,1998)

B. Eiologi
Faktor-faktor etiologi yang berhubungan dengan ARDS :
- Aspirasi (sekresi lambung, tenggelam, hidrokarbon)
- Ingesti
- Kelainan hematologik (koagulasi intravaskuler diseminata, transfusi masif, pirau jantung paru)
- Inhalasi oksigen konsentrasi tinggi berkepanjangan, asap atau bahan korosif.
- Infeksi setempat (pneumonia bakteri, jamur, virus)
- Kelainan metabolik (pankreatitis, uremia)
- Syok (sembarang penyebab)
- Trauma (kontusio paru, fraktur multiple, cedera kepala)
- Bedah mayor
- Embolisme lemak atau udara
- Sepsis sistemik

C. Patofisiologi
ARDS terjadi sebagai akibat cedera pada membran kapiler alveolar yang menyebabkan kebocoran cairan kedalam ruang interstisial alveolar dan perubahan dalam jaring-jaring kapiler.
Hipotensi

Keadaan aliran rendah, hipoksia jaringan


Gangguan metabolik Agregasi trombosit & leukosit


Pembentukan dan pelepasan Pembentukan Trombosis
Kinin, amin, serotonin, dan trombi perifer vaskuler paru
Faktor toksik lainnya
 Embolisasi
Fasokonstriksi
Paru Perubahan oklusi Limbah ventilasi
 Membran kapiler mikrosirkulasi (peningkatan
Penurunan Alveolar paru VD/VT)
Perfusi jaring-jaring
Vaskuler paru


Gangguan pada sintesis Edema dan
Surfaktan, penurunan hemoragi interstisial
Surfaktan dan alveolar


Penurunan stabilitas Atelektasis difus fokal
Alveolar edema dan hemoragi


Penurunan kompliens Campuran venosa,
Paru pirau (peningkatan
QS/QT).

Hiperventilasi

Hipokapnea Hipoksemia



D. Fase ARDS
1. Fase laten
Fase ini berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari dengan tidak terdapatnya keluhan klinis kecuali terdapatnya pengaliran cairan limfe.
2. Fase edema interstisial, yang ditandai dengan kerusakan kapiler dan terdapatnya porus sehingga membran basalis alveolaris lebih permiabel untuk protein. Akibatnya protein masuk kedalam lapis interstitial. Terjadilah odema koloid terutama intraseptal yang ditandai dengan terdapatnya garis kerley. Penderita merasa sesak nafas. Pada pemeriksaan gas darah terjadi alkalosis oleh karena hiperventilasi dan hipoksemia.
3. Fase edema intra alveolar
Dalam fase ini sakus alveolares penuh dengan protein. Hal ini disebabkan oleh karena kerusakan pneumosit tipe I yang menyebabkan meningginya permeabilitas kapiler terhadap protein. Sedangkan rusaknya pneumosit tipe II menyebabkan berkurangnya surfaktan sehingga terjadi atelektasis paru. Dalam fase ini tampak pasien mengalami agitasi, pernafasan dangkal, takipne, hipoksemia yang menunjukkan beratnya ARDS
4. Fase subakut atau kronik, bila terjadi penyembuhan maka protein plasma, debris sel, fibrin merangsang invasi sel-sel fibroblas dan terbentuklah membrana hialin.

E. Kriteria diagnostik
Diagnostik ARDS dapat dibuat berdasarkan pada kriteria berikut :
1. Gagal nafas akut
2. Infiltrat pulmonary ”fluffy” bilateral pada gambaran rontgen dada
3. Hipoksemia (PaO2 dibawah 50 sampai 60 mmHg) meski FiO2 50 % sampai 60 % (fraksi oksigen yang dihirup)

F. Terapi / penatalaksanaan ARDS
1. Mengidentifikasi dan mengatasi penyebab
2. Memastikan ventilasi yang adekuat
3. memberikan dukungan sirkulasi
4. memastikan volume cairan yang adequat
5. Memberikan dukungan nutrisi
Dukungan nutrisi yang adequat sangat penting dalam mengobati ARDS. Pasien dengan ARDS membutuhkan 35 – 45 kkal/kg sehari untuk memenugi kebutuhan normal. Pemberian makan enteral adalah pertimbangan pertama, namun nutrisi parenteral total dapat saja diperlukan

G. Kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul :
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan dan edema intertisial.
2. Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan pefusi fentilasi, perubahan membran kapiler alveolar
3. Resiko kekurangan volume cairan b.d perpindahan cairan ke area yang lain.
4. cemas b.d krisis situasi, perubahan terhadap status kesehatan dan ancaman kematian
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interpretasi dan kurang familier dengan sumber informasi

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddart, 2002, Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 1, Jakarta, EGC
Rab, Tabrani, 1998, Agenda Gawat Darurat (Critical Care), Jilid 2, Penerbit Alumni, Bandung
NANDA., 2005, Nursing diagnosis : definition and classification, Nanda International, Philedelphia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar