November 22, 2010

RESPON PROTEKSI DIRI DAN PERILAKU BUNUH DIRI

RESPON PROTEKSI DIRI DAN PERILAKU BUNUH DIRI

BATASAN
Percobaan bunuh diri adalah segala perbuatan yang sengaja dilakukan oleh seseorang yang dapat membinasakan dirinya dalam waktu yang singkat (Lab/UPF Ilmu Kedokteran Jiwa RSUD Dr Sutomo, 1994).

PSIKODINAMIKA (Lab/UPF Ilmu Kedokteran Jiwa RSUD Dr Sutomo, 1994)
Hampir semua orang sekali dalam hidupnya pernah mengalami pikiran untuk lebih baik mati saja. Motivasi ini sangt kompleks. Apakah buah pikiran itu akan menjadi perbuatan atau tidak, tergantung pada keadaaan lingkungan sosial dan fisik, serta juga pada keadaan jiwa maupun cadan orang itu.
Individu yang mengalami krisis mental, baik yang terduga (perkawinan, pensiun) maupun yang tak terduga (kematian, kehilangan pekerjaan) akan berusaha mengatasinya. Bilamana krisis bisa diatasi dengan baik, akan berakibat pematangan jiwa dan bilamana tidak teratasi, maka individu yang bersangkutan akan jatuh ke dalam keadaan yang lebih buruk lagi.
Untuk mengikuti proses sampai terjadinya tindakan bunuh diri, dari niat sampai ke tindakannya sendiri, di bawah ini dibuat bagan:

Keterangan:
1) Pergulatan keinginan hidup/mati

2) Konsep mati: cara bunuh diri (waktu, tempat, akibat)

3) Jeritan minta tolong, catatan bunuh diri

Motivasi yang sering kali ditemukan pada orang-orang yang mempunyai niat untuk bunuh diri adalah:
1. Kehilangan rasa aman dan kepastian akan statusnya
2. Kecemasan dalam hubungannya dengan orang lain (kekasuh, pacar, istri), benda, atau barang (habis tabrakan, panen tidak berhasil) ataupun tujuan (kawin dihalang-halangi orang tua)
Niat/percobaan bunuh diri ini masih terbentur pada sikap yang ambivalen antara keinginan untuk hidup atau mati. Untuk menghilangkan sikap ambivalennya, dia menjabarkan gagasannya tentang konsep mati, caranya, waktu, tempat, dan akibatnya (mental dan sosial). Walaupun ada gagasan yang lebih jelas, tetapi masih tetap ada dualisme antara keinginan hidup dan mati, sehingga timbul krisis bunuh diri yang bermanifestasi dalam bentuk jeritan minta tolong atau catatan bunuh diri. Bila kleinginan mati jauh lebih besar dari pada keinginan untuk hidup, maka (percobaan) bunuh diri akan dilaksanakan.
Percobaan bunuh diri bukan bertujuan untuk memusnahkan dirinya, tetapi untuk mengetahui masalah hidupnya,misalnya menyelesaikan rustrasi atau konflik, menghindari keadaan yang tidak menyenangkan dengan tujuan untuk mendapatkan keadan tidur yang tenang dan damai.

RENTANG RESPON BUNUH DIRI
Renpon adaptif Respon maladaptif

Peningkatan Pertumbuhan Perilaku Pencederaan Bunuh
diri peningkatan destruktif diri diri diri
berisiko tak langsung
Perilaku destruktif diri langsung mencakup segala bentuk aktivitas bunuh diri. Niatnya adalah kematian, dan individu menyadari hal ini sebagai hasil yang diinginkan. Lama perilaku berjangka pendek. Perilaku destruktif diri tak langsung termasuk tiap aktivitas yang merusak kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah pada kematian. Orang tersebut tidak menyadari tentang potensial terjadi kematian akibat perilakunya dan biasanya akan menyangkal apabila dikonfrontasikan. Durasi dari perilaku ini biasanya lebih lama dari pada perilaku bunuh diri. Perilaku destruktif diri tak langsung meliputi perilaku berikut:
 Merokok
 Mengebut
 Berjudi
 Tindakan kriminal
 Terlibat dalam tindakan rekreasi berisiko tinggi
 Penyalahgunaan zat
 Perilaku yang menyimpang secara moral
 Perilaku yang menimbulkan stres
 Gangguan makan
 Ketidakpatuhan pada tindakan medik

FAKTOR PENCETUS (Stuart&Sundeen, 1998)
1. Diagnosis psikiatik
Lebih dari 80% orang yang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga gangguan yang dapat membuat individu berisiko untuk bunuh diri yaitu gangguan afektif, penyalahgunan zat, dan skizofrenia
2. Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya risiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi
3. Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan/perceraian, kehilangan yang dini, dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang berhubungan dengan bunuh diri
4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor risiko penting untuk perilaku destruktif
5. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa secara opiatergik dan dopaminergik menjadi media proses yang dapat menimbulkan perilaku destruktif diri



STRESOR PENCETUS (Stuart&Sundeen, 1998)
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stres berlebihan yang dialami individu. Pencetusnya seringkali berupa kejadian yang memalukan, seperti masalah interpersonal, dipermalukan di depan umun, kehilangan pekerjaan, atau ancaman pengurungan. Selain itu mengetahui seseorang yang telah mencoba bunuh diri atau membaca melalui media dapat juga membuat individu makin rentan untuk melakukan perilaku destruktif diri.

MACAM-MACAM BUNUH DIRI (Lab/UPF Ilmu Kedokteran Jiwa RSUD Dr Sutomo, 1994)
Menurut Durkheim:
1. Bunuh diri egoistik
2. Bunuh diri altruistik
3. Bunuh diri anomik
Menurut Scheidman dan Farberow:
1. Ancaman bunuh diri (Threatened suicide)
2. Percobaan bunuh diri (Attempted suicide)
3. Bunuh diri yang telah dilakukan (Commited suicide)
4. Depresi denngan niat hendak bunuh diri
5. Melukai diri sendiri (Self destruction)

TANDA-TANDA (Lab/UPF Ilmu Kedokteran Jiwa RSUD Dr Sutomo, 1994)
Tanda-tanda risiko berat:
1. Keinginan mati yang sungguh-sungguh, pernyataan yang berulang-ulang bahwa dia ingin mati, yang disertai dengan persiapan terinci
2. adanya depresi dengan gelaja rasa bersalah dan berdosa, rasa putus asa, rasa cemas yang hebat, rasa tak berharga lagi, sangat berkurangnya nafsu makan, seks dan keinginan lain, serta adanya gangguan tidur yang berat
3. adanya psikosis, terutama yang impulsif, serta adanya perasaan curiga, ketakutan dan panik. Keadaan semakin berbahaya bila pasien mendengar suara (halusinasi) yang memerintahkam agar di membunuh dirinya
Tanda-tanda bahaya:
1. Penyakit yang menahun
2. Ketergantungan obat dan/atau alkohol
3. Hipokondriasis
4. Bartambahnya usia disertai bertambahnya masalah hidup
5. Pengasingan diri
6. Kebangkrutan
7. Catatan bunuh diri
8. Kesukaran penyesuaian diri yang kronis
9. Tak jelas adanya keuntungan sekunder

MEKANISME KOPING (Stuart&Sundeen, 1998)
Perilaku bunuh diri menunjukkan mendesaknya mekanisme koping. Ancaman bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan. Mekanisme pertahanan ego yang berhubungan dengan perilaku destruktrif tak langsung:
1. Denial, mekanisme koping yang paling menonjol
2. Rasionalisasi, contoh: “Ah, dengan istirahat pasti saya sembuh.”
3. Regresi

SUMBER KOPING
Pasien dengan penyakit kronik, nyeri, atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat melakukan dentruktif diri. Seringkali orang ini memilih secara sadar untuk bunuh diri. Kualitas kehidupan mengesampingkan kuantitas kehidupan. Dilema etik mungkin timbul bagi perawat yang menyadari pilihan pasien untuk berperilaku merusak diri. Tidak ada jawaban yang mudah mengenai bagaimana mengakui konflik ini. Perawat harus melakukannya sesuai dengan sistem keyakinannya sendiri.



PENATALAKSANAAN (Kumpulan kuliah, 2002)
Fokus terapi diarahkan pada modifikasi lingkungan agar hubungan antar manusia lebih baik, juga diusahakan agar fungsi kejiwaan lebih adekuat.
Macam-macam terapi berupa:
1. Psikoterapi individu atau terapi kelompok
2. Terapi keluarga
3. Terapi obat-obatan
Strategi terapi:
1. Memotong lingkungan bunuh diri
2. Menguatkan kembali ego pasien dan memperbaiki mekanisme pembelaan yang salah
3. Membantu pasien agar dapat hidup wajar kembali








Daftar Pustaka

Lab/UPF Ilmu Kedokteran Jiwa RSUD Dr Sutomo, 1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Surabaya

NN, 2002. Kumpulan Kuliah Ilmu Keperawatan Jiwa. Tidak diterbitkan

Stuart, gail Wiscarz, 1998. Buku saku keperawatan Jiwa, edisi 3. EGC: jakarta

NANDA

NIC

NOC

RENCANA INTERAKSI

Nama klien : Nn. Ratri Tempat praktik: IRNA IV RS Dr Sardjito
Umur : 12 tahun Interaksi ke- : 1
Nama mahasiswa : Hari/tgl/jam : Rabu/3 Agustust 2005

No Variabel yang dinilai Dilakukan Modifikasi
Ya Tidak
1. Tahap pra interaksi
 Membaca catatan perawatan dan catatan medis klien
 Mengeksplorasi perasaan, ketakutan, dan fantasi diri
 Menentukan tujuan interaksi
◈ BHSP
◈ Mengeksplorasi pohon masalah

2. Tahap orientasi
 Selamat pagi dik Ratri!
 Benar ini Dik Ratri? Dik Ratri lebih suka dipanggil dengan sebutan siapa?
 Saya Yuli, mahasiswa profesi dari PSIK FK UGM yang akan bertugas di sini selam 2 minggu. Saya akan bertangguang jawab terhadap perawatan Dik Ratri selama 1 minggu ke depan di samping teman-teman dan perawat yang lain di sini
 Saya harap Dik ratri bisa bekerja sama, dan bila ada informasi yang bersifat rahasia saya akn menjaga kerahasiaannya dan hanya untuk tujuan perawatan dan pengobatan
 Pagi ini kita akan berbincang-bincang kira-kira 20 menit untuk saling mengenal (mengeksplorasi permasalahan)

3. Tahap Kerja
 Sebelum kita mulai, apakah ada yang ingin ditanyakan?
 Dik Ratri alamatnya di mana?
 Saudaranya berapa? Dan nomor berapa? Di antara keluarga Dik ratri, yang paling berarti bagi Dik Ratri siapa? Apa yang Dik Ratri sukai dari dia?
 Saat di rumah, kegiatan Dik Ratri apa saja?
 Dik ratri hobinya apa? Pengalaman Dik Ratri yang sangat berkesan apa? Lalu pengalaman yang tidak menyenangkan apa?
 Dik Ratri bisa menceritakan apa yang terjadi sebelum Dik Ratri ke sini? Bagaimana perasaan Dik Ratri saat itu? Lalu sekarang bagaimana perasaannya? Oh iya, apa yang menyebabkan Dik Ratri melakukan hal itu?

4. Tahap terminasi
 Dik Ratri sepertinya kita sudah berbincang-bincang kira-kira 20 menit, sesuai dengan janji kita. Sudah waktunya kita mengakhiri bincang-bincang pagi ini
 Setelah makan siang nanti kita lanjutkan lagi bincang-bincang kita, bagaimana? Di ruang atau di halaman?
 Terima kasih atas kerja samanya.
 Selamat pagi!

RENCANA INTERAKSI

Nama klien : Nn. Ratri Tempat praktik: IRNA IV RS Dr Sardjito
Umur : 12 tahun Interaksi ke- : 2
Nama mahasiswa : Hari/tgl/jam : Kamis/4 Agustust 2005

No Variabel yang dinilai Dilakukan Modifikasi
Ya Tidak
1. Tahap pra interaksi
 Membaca catatan perawatan dan catatan medis klien
 Mengeksplorasi perasaan, ketakutan, dan fantasi diri
 Menentukan tujuan interaksi
◈ BHSP
◈ Mengenalkan pada klien cara mengontrol halusinasi

2. Tahap orientasi
 Selamat pagi dik Ratri! Masih ingat saya?
 Bagaimana perasaan Dik Ratri pagi ini? Apakah masih mendengar suara-suara atau bayangan-bayangan transparan yang kita percakapkan kemarin?
 Seperti janji saya kemarin, hari ini kita akan bercakap-cakap tentang bagaimana supaya suara-suara/bayangan-bayangan transparan yang Dik Ratri dengar/lihat dapat dikendalikan. Dik Ratri mau berapa menit? Bagaimana kalau sekitar 20 menit? Mau di mana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruangan sebelah?

3. Tahap Kerja
 Sebelum kita mulai, ada yang ingin ditanyakan?
 Selama ini, Dik Ratri kapan mendengar/melihat bayangan-bayangan itu?
 Saat mendengar susra-suara/bayangan-bayangan itu, apa yang Dik ratri lakukan?
 Dik Ratri ingin bisa mengendalikan suara-suara/bayangan-bayangan itu? Kira-kira Dik Ratri sudah tau belum cara mengendalikannya?
 Ya..., kalau nanti Dik Ratri mendengar/melihat bayangan-bayangan itu Dik Ratri mencoba untuk menghardiknya. Katakan sebaiknya jika menyuruh yang tidak baik misalnya dengan bilang: Pergi...pergi...!”
Kalau belum bisa, Dik Ratri di sini bisa pergi ke perawat/dokter dan kalau di rumah pergi ke ibu/bapak dan disampaikan apa yang Dik Ratri alami. Selanjutnya, diusahakan Dik Ratri tidak melamun/bengong. Dik Ratri bisa menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat. Trus nanti teratur minum obat sesuai dengan petunjuk/anjuran dokter.
Yang saya sampaikan tadi adalah cara-caranya. Dik Ratri bisa mulai mencobanya sejak sekarang jika diganggu lagi oleh suara-suara/bayangan-bayangan yang membuat Dik Ratri takut.

4. Tahap terminasi
 Bagaimana perasaan Dik Ratri setelah kita berbincang-bincang tadi?
 Jadi ada 4 cara untuk mengatasi suara-suara/bayangan-bayangan itu: menghardik, interaksi dengan orang lain, atur aktivitas sehingga tidak ada waktu luang, dan minum obat teratur.
 Nampaknya sudah waktunya kita cukupkan bincang-bincang kita, kita sambung lagi nanti setelah makan siang untuk menyusun aktivitas Dik Ratri
 Selamat pagi!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar