Senin, 22 November 2010

POST NATAL CARE

POST NATAL CARE

I. PENGERTIAN
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandung kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil) yang berlangsung kurang lebih 6 minggu.
Masa nifas dibagi kedalam dalam 3 periode:
a. puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan +40 hari
b. Puerperium intyermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat kandungan atau genetalia yang lamanya 6-8 minggu
c. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi, waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.

II. PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI
a. Involusi rahim
Setelah 2 hari uterus mengecil dengan cepat sehingga pada hari ke-10 uterus tidak terba lagi dari luar.
b. Involusi tempat placenta
Mengecil dengan cepat pada akhir minggu ke-2 yaitu 3-4 cm dan pada akhir masa nifas 2-3 cm.
c. Pembuliuh darah rahim
Setelah persalinan pembuluh-pembuluh darah akan mengecil kembali karena darah yang diperlukan tidak sebanyak waktu hamil.
d. Servik dan vagina
e. Pada servik terbentuk sel-sel otot baru pada minggu ketiga post partum rugae kembali nampak, luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari.
f. Dinding perut dan peritonium
Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama, namun berangsur-angsur akan pulih kembali dalam 6 minggu.
g. Saluran kencing
Dapat terjadi udem, dan hyperemia, pada masa nifas (puerperium) kandung kemih kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah sehingga kandung kencing masih terdapat urine residual sisa urine dan trauma kandung kemih waktu persalinan akan memudahkan terjadinya infeksi.
h. Laktasi
Keadaan buah dada / payudara 2 hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam kehamilan. Buah dada belum mengandung susu melainkan kolostrum. Mulai 3 hari post partum buah dada membesar, keras dan nyeri.
i. Lokea
Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam nifas.
Macam-macam lochea :
1. Lochea rubra (cruenta)
Merupakan darah segar dan terdapat sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vetriks caseosa, lanugo dan mechonium selama 2 hari post partum.
2. Lochea sanguinolenta
Berwarna merah kekuningan berisi darh dan lendir, 3-7 hari post partum.
3. Lochea serosa
Berwarna kuning., cairan tidak berdarah lagi. Hari 7-14 post partum.
4. Lochea alba
Cairan berwarna putih setelah 2 minggu post partum.
5. Lochea purulenta
Bila terjadi infeksi, keluar cairan nanah berbau busuk.
j. Perubahan-perubahan penting lainya
1. Hemokonsentrasi
Pada masa hamil didapat hubungan pendek yang dikenal sebagai shunt antara sirkulasi ibu dan plasenta, setelah melahirkan shunt akan hilang secara tiba-tiba, sehingga volume darah ibu relatif akan bertambah dan dapat menimbulkan beban pada jantung sehingga dapat menimbulkan decompensasi cordis. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi timbulnya hemokonsentrassi. Hal ini terjadi pada hari ke 3 sampai 15 hari post partum.
2. Laktasi
Sejak kehamilan muda sudah terdapat persiapan-persiapan pada kelenjar mamae, perubahan pada kedua mammae antara lain :
a). Proliferasi jaringan, terutama kelenjar – kelenjar dan alveolus mammae dan lemak.
b). Pada duktus laktiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat dikeluarkan berwarna kuning (kolostrum).
c). Hipervaskularisasi, terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam mammae.
d). Setelah partus, pengaruh menekan dari estrogen dan progesteron terhadap hipofise hilang dan berpengaruh timbulnya hormon laktogenic (prolaktin), sehingga mammae yang terlah dipersiapkan terpengaruhi dengan akibat kelenjar-kelenjar berisi air susu.
Pengaruh oksitosin mengakibatkan mioepitelium kelenjar-kelenjar susu berkontraksi sehingga terjadi pengeluaran air susu yang berlangsung pada hari 2-3 post partum.

III. PENANGANAN MASA NIFAS (PUERPERIUM)
a. Kebersihan diri
- Anjurkan menjaga kebersihan seluruh tubuh
- Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah alat kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa klien mengerti untuk membersihkan daerah vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan vulva setiap kali buang air kecil atau besar.
- Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya 2x sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan dibawah matahari dan disetrika.
- Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
- Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.
b. Istirahat
- Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan berlebihan.
- Sarankan untuk kembali melakukan kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan serta untuk tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.
- Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam:
 Mengurangi jumlah asi yang diproduksi
 Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
 Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
c. Latihan
- Diskusikan pentingnya otot-otot panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada panggul.
- Jelaskan pentingnya latihan untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul (kelgel exercise). Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.
d. Gizi
- Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari.
- Makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup
- Minum sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui.
- Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari post partum.
- Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayi melalui air asinya.
e. Perawatan payudara
- Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama pada puting susu
- Menggunakan Bra yang menyokong payudara
- Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar puting susu setiap kali menyusui. Tetap menyusui dimulai dari puting susu yang tidak lecet.
- Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan menggunakan sendok.
- Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat minum paracetamol 1 tablet.
- Urut payudara dari arah pangkal menuju puting susu dan gunakan sisi tangan untuk mengurut payudara.
- Keluarkan ASI sebagian dari depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak.
- Susukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI, sisanya keluarkan dengan tangan.
- Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
f. Senggama
- Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri
- Banyaknya budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai pada masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan bergantung pada pasangan yang bersangkutan.

IV. PENGAMATAN PADA MASA NIFAS
a. Keadaan umum ibu
b. Suhu tubuh
c. Nadi dan tekanan darah
d. Miksi
e. Defekasi
f. Tinggi fundus uteri
g. Lochea
h. Payudara

V. PERLUNYA ASUHAN MASA NIFAS
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya
b. Deteksi masalah, pengobatan dan rujukan
c. Penyuluhan kesehatan
d. Pelayanan KB

VI. KOMPLIKASI POST PARTUM
a. Perdarahan pasca persalianan
b. Infeksi pada masa nifas, kejang dan panas
c. Metritis
d. Bendungan ASI
e. Infeksi payudara
f. Abses payudara

VII. PEMERIKSAAAN POST NATAL ATAU POST PARTUM
a. Pemeriksaan umum : tanda-tanda vital, keluhan
b. Payudara : ASI, puting susu
c. Dinding perut, perineum, kandung kemih, rectum, dll
d. Sekret yang keluar (lochea, fluor albus)
e. Keadaan alat reproduksi

VIII. DISCHARGE PLANNING
a. Fisiotherapi post natal
b. Menyusui bayi
c. Melakukan gymnastik sehabis bersalin
d. Merencanakan KB untuk menjarangkan kehamilan
e. Mengimunisasi bayi

IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik (laserasi, episiotomi)
2. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan, prosedur invasif
3. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
5. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot, nyeri perineal
6. Kurang pengetahuan : perawatan diri / perawatan bayi berhubungan dengan kurangnya paparan informasi
7. Kelelahan berhubungan dengan perubahan pola tidur, sensasi nyeri, lamanya proses persalianan.
8. Retensi urine berhubungan dengan adanya hambatan (oedema perineum).


SECTIO SESARIA

Pengertian
Sectio Saesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim.

A. Jenis
 Bedah Caesar klasik /corporal.
 Bedah Caesar transperitoneal profunda
 Bedah Caesar ekstraperitoneal
Yang paling banyak dilakukan saat ini adalah SC transperitoneal profunda dengan insisi dari segmen bawah uterus.
Keunggulan dari SC transperitoneal profunda :
1. Perdarahan luka insisi tidak terlalu banyak
2. Bahaya peritonitis tidak terlalu besar
3. Parut pada uterus umumnya kuat sehingga bahaya terjadi ruptur uteri di kemudian hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.

B. Indikasi
1. Disporporsi panggul janin
2. Gawat janin
3. Plasenta previa
4. Kelainan letak
5. Pernah seksio caesaria
6. Incoordinate uterine action
7. Preeklampsi dan hipertensi

C. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA SC
1. SC elektif : pembedahan direncanakan terlebih dahulu , karena segala persiapan dapat dilakukan dengan baik.
2. Anestesia : anestesia umum akan mempengaruhi defensif pada pusat pernafasan janin, anestesi spinal aman buat janin tetapi ada kemungkinan tekanan darah ibu menurun yang bisa berakibat bagi ibu dan janin sehingga cara yang paling aman adalah anestesi local, tetapi sering tidak dilakukan karena mengingat sikap mental penderita.
3. Transfusi darah : pada umumnya SC perdarahannya lebih banyak disbanding persalinan pervaginam, sehingga perlu dipersiapkan.
4. Pemberioan antibiotik : pemberian antibiotik sangat dianjurkan mengingat adanya resiko infeksi pada ibu.


D. Komplikasi
Yang sering terjadi pada ibu SC adalah :
1. Infeksi puerperial : kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas (ringan), atau sedang, yang berat bisa berupa peritonitis, sepsis.
2. Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat pembedahan cabang-cabang arteri uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.
3. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung kencinmg, embolisme paru yang sangat jarang terjadi.
4. Kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptur uteri.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ibu tentang cara menyusui yang bernar.
2. Nyeri akut berhubungan dengan injury fisik jalan lahir.
3. Defisit pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal atau familiar dengan sumber informasi tentang cara perawatan bayi.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelelahan sehabis bersalin
5. Retensi urine berhubungan dengan spinkter yang kuat dan kaku
6. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jalan lahir.



DAFTAR PUSTAKA

Abdul Bari Saifuddin,, 2002 , Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

Abdul Bari Saifuddin,, 2001 , Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

Hacher/Moore, 2001, Esensial Obstetric Dan Ginekologi, Hypokrates , Jakarta

Manuaba,Ida Bagus Gede, 1998, Ilmu Kebidanan,Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana, EGC, Jakarta

Marlyn Doenges,Dkk, 2001,Rencana Perawatan Maternal/Bayi, EGC , Jakarta

Sarwono, 1989, Ilmu Bedah Kebidanan, Yayasan Sarwono, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar