November 22, 2010

PENDIDIKAN KESEHATAN DAN KEMAUAN MERUBAH GAYA HIDUP PASIEN HIPERTENSI

A. Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah unsur program kesehatan dan kedokteran yang didalamnya terkandung rencana untuk mengubah perilaku perseorangan dan masyarakat dengan tujuan untuk membantu tercapainya program pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan (Azwar, 1983 cit Machfoedz, 2005).
Menurut Joint A Committee on Terminologi in Health Education of United States, mendefinisikan pendidikan kesehatan adalah suatu proses penyediaan bahwa pendidikan kesehatan adalah pengalaman belajar yang bertujuan untuk mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku yang ada hubungannya dengan kesehatan perseorangan ataupun kelompok. Definisi lain menurut lembaga ini tentang pendidikan kesehatan adalah suatu proses yang mencakup dimensi dan kegiatan-kegiatan dari intelektual, psikologi dan sosial yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam mengambil keputusan secara sadar dan yang mempengaruhi kesejahteraan diri, keluarga dan masyarakat (Machfoedz, 2005).
Proses ini didasarkan pada prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang memberikan kemudahan untuk belajar dan perubahan sikap dan perilaku, baik bagi tenaga kesehatan maupun bagi pemakai jasa pelayanan, termasuk anak-anak dan remaja.
Berdasarkan batasan World Healht Organization (WHO), tujuan pendidikan kesehatan adalah untuk mengubah sikap dan perilaku orang atau masyarakat dari perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat (Machfoedz, 2005). Diketahui bahwa bila perilaku tidak sesuai dengan prinsip kesehatan, maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan terhadap kesehatan. Meskipun secara garis besar tujuan dari pendidikan kesehatan mengubah perilaku belum sehat menjadi perilaku sehat, namun perilaku tersebut ternyata mencakup hal yang luas, sehingga perlu perilaku tersebut dikategorikan secara mendasar. Menurut Azwar 1983 cit Machfoedz 2005, membagi perilaku kesehatan sebagai tujuan pendidikan kesehatan menjadi 3 macam, yaitu:
a. Perilaku yang menjadikan kesehatan sebagai suatu yang bernilai di masyarakat, dengan demikian kader kesehatan mempunyai tanggung jawab di dalam penyuluhannya mengarahkan kepada keadaan bahwa cara-cara hidup sehat menjadi kebiasaan hidup masyarakat sehari-hari.
b. Secara mandiri mampu menciptakan perilaku sehat bagi dirinya sendiri maupun menciptakan perilaku sehat di dalam kelompok. Itulah sebabnya dalam hal ini Pelayanan Kesehatan Dasar (Primary Health Care/PHC) diarahkan agar dikelola sendiri oleh masyarakat, dalam hal bentuk yang nyata adalah PKMD (Pusat Kesehatan Masyarakat Desa), satu contoh PKMD adalah posyandu. Seterusnya dalam kegiatan ini diharapkan adanya langkah-langkah mencegah timbulnya penyakit.
c. Mendorong berkembangnya dan penggunaan sarana pelayanan kesehatan yang ada secara tepat. Adakalanya masyarakat memanfaatkan sarana kesehatan yang ada secara berlebihan. Sebaliknya sudah sakit belum pula mengggunakan sarana kesehatan yang ada sebagaimana mestinya.
Sasaran pendidikan kesehatan di Indonesia, berdasarkan kepada program pembangunan Indonesia, adalah:
a. Masyarakat umum dengan berorientasi pada masyarakat pedesaan.
b. Masyarakat dalam kelompok tertentu, seperti wanita, pemuda, remaja. Termasuk dalam kelompok ini adalah kelompok lembaga pendidikan mulai dari TK sampai perguruan tinggi, sekolah agama swasta maupun negeri.
c. Sasaran individu dengan teknik pendidikan kesehatan individual.
Oleh karena mengubah perilaku seseorang itu tidak mudah, maka kegiatan pendidikan kesehatan harus melalui tahap-tahap yang hati-hati secara ilmiah. Dalam hal ini Hanlon (1964) seperti dikutip Machfoedz (2005) mengemukakan tahap-tahap ini.
a. Tahap sensitisasi
Tahap ini dilakukan guna memberikan informasi dan kesadaran pada masyarakat terhadap adanya hal-hal penting berkaitan dengan kesehatan, misalnya kesadaran akan adanya pelayanan kesehatan, kesadaran akan adanya fasilitas kesehatan, kesadaran akan adanya wabah penyakit, kesadaran akan adanya kegiatan imunisasi. Kegiatan ini tidak memberikan peningkatan atau penjelasan mengenai pengetahuan, tidak pula mengarah pada perubahan sikap, serta tidak atau belum bermaksud agar masyarakat mengubah pada perilaku tertentu. Bentuk kegiatan adalah siaran radio berupa radio spot, poster, selebaran atau lainnya.
b. Tahap publisitas
Tahap ini adalah kelanjutan dari tahap sensitisasi. Bentuk kegiatan adalah berupa penjelasan lebih lanjut tentang jenis pelayanan kesehatan apa saja yang diberikan pada fasilitas pelayanan kesehatan, seperti pelayanan pada Puskesmas, Polindes, Pustu atau lainnya.
c. Tahap edukasi
Tahap ini sebagai kelanjutan dari tahap sensitisasi. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap serta mengarahkan kepada perilaku yang diinginkan oleh kegiatan tersebut. Misalnya setelah adanya kegiatan ini, penderita hipertensi dapat mengubah perilaku sehari-harinya sesuai dengan perilaku yang dianjurkan.
d. Tahap motivasi
Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap edukasi. Perorangan atau masyarakat setelah mengikuti pendidikan kesehatan, benar-benar mengubah perilaku sehari-harinya, sesuai dengan perilaku yang dianjurkan oleh pendidikan kesehatan pada tahap ini. Misalnya setelah mengikuti pendidikan kesehatan ini, penderita hipertensi dapat mentaati diet yang dianjurkan dan rutin memeriksakan tekanan darah ke Puskesmas atau dokter.
Mengubah perilaku manusia tidak dapat lepas dari keadaan individu itu sendiri dan lingkungan di mana individu itu berada. Perilaku manusia itu didorong oleh motif tertentu sehingga manusia itu berperilaku. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, akhirnya akan terbentuklah perilaku tersebut (Suryani, 2005).
Pengukuran sikap dan perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan sebelumnya (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung yaitu dengan mengamati tindakan atau kegiatan responden (Yahya, 2005).
Setiap orang tentu mempunyai keinginan dalam hidup. Keinginan dapat berbentuk macam-macam, namun demikian keinginan tersebut dapat dibedakan menjadi keinginan yang realistis atau tidak realistis meski terkadang banyak orang yang menginginkan keinginan yang tidak realistis dapat terealisasi. Setiap orang yang mempunyai keinginan tentu harus siap dengan berbagai dampak atau konsekuensi logis dari apa yang diinginkannya. Baik konsekuensi tercapainya keinginan dan konsekuensi gagalnya keinginan. Konsekuensi logis agar dapat tercapainya keinginan, adalah dengan meningkatkan kemauan; untuk berusaha mencapai keinginan, untuk berjuang, untuk sukses, juga untuk menerima resiko dari apa yang diperjuangkannya -termasuk resiko untuk sukses dan berhasil atau sebaliknya (Iqbal,2006).
Metode yang digunakan pada aplikasi pendidikan kesehatan adalah metode belajar-mengajar (Fefendi,2008)
1. Metode pendidikan individu
Metode ini bersifat individual digunakan untuk membina perilaku atau membina seseorang yang mulai tertarik untuk melakukan sesuatu perubahan perilaku.
Bentuk pendekatan ini antara lain:
a. Bimbingan dan peyuluhan (guidance dan councellin)
Dengan cara ini kontak antara keluarga dengan petugas lebih intensif. Klien dengan kesadaran dan penuh pengertian menerima perilaku tersebut.
b. Wawancara (interview)
Wawancara petugas dengan klien untuk menggali informasi, berminat atau tidak terhadap perubahan untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian atau dasar yang kuat.
2. Metode pendidikan kelompok
Metode tergantung dari besar sasaran kelompok serta pendidikan formal dari sasaran.
a. Kelompok besar
Kelompok besar di sini adalah apabila peserta penyuluhan lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar adalah (1) Ceramah, yaitu metode yang baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi atau rendah, (2) Seminar yaitu metode yang baik untuk sasaran dengan pendidikan menengah keatas berupa presentasi dari satu atau beberapa ahli tentang topik yang menarik dan aktual.
b. Kelompok kecil
Jumlah sasaran kurang dari 15 orang, metode yang cocok untuk kelompok ini adalah: (1) Diskusi kelompok, kelompok bisa bebas berpartisipasi dalam diskusi sehingga formasi duduk peserta diatur saling berhadapan. (2) Curah pendapat (brain storming) merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Usulan atau komentar yang diberikan peserta terhadap tanggapan-tanggapannya, tidak dapat diberikan sebelum pendapat semuanya terkumpul. (3) Bola salju, kelompok dibagi dalam pasangan kemudian dilontarkan masalah atau pertanyaan untuk diskusi mencari kesimpulan. (4) Memainkan peran yaitu metode dengan anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peran tertentu untuk memainkan peranan. (5) Simulasi merupakan gabungan antara role play dan diskusi kelompok.
3. Metode pendidikan massa
Metode ini menyampaikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan untuk masyarakat umum (tidak membedakan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi dan sebagainya). Pada umumnya pendekatan ini tidak langsung, biasanya menggunakan media massa, beberapa contoh metode ini antara lain:
a. Ceramah umum, metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah.
b. Pidato atau diskusi melalui media elektronik.
c. Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter/petugas kesehatan tentang suatu penyakit.
d. Artikel/tulisan yang terdapat dalam majalah atau Koran tentang kesehatan.
e. Bill board yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, poster dan sebagainya.

B. Gaya Hidup
Gaya hidup adalah cara hidup seseorang berdasarkan pola kebiasaan yang dapat diidentifikasi. Gaya hidup adalah cara seseorang menjalani hidup, meliputi cara mengamati, cara mengekpresikan emosi dan cara berkelakuan. Gaya hidup sebagai kumpulan keputusan yang dibuat oleh individu yang mempengaruhi kesehatan mereka, dan didalam pengambilan keputusan tersebut individu bisa memiliki kontrol penuh atau tidak sama sekali. Keputusan personal dan kebiasaan buruk jika dilihat dari segi kesehatan akan menciptakan resiko bagi diri individu tersebut. Jika resiko tersebut menyebabkan individu menjadi sakit atau meninggal, orang tersebut dapat dikatakan telah berkontribusi atau menjadi penyebab penyakitnya atau kematiannya sendiri (Cahyono, 2008).
Konsep gaya hidup terbentuk berdasarkan ide bahwa manusia secara umum menunjukkan pola perilaku dan kebiasaan yang dapat dikenali dalam kehidupan sehari-hari, seperti rutinitas yang teratur dalam bekerja, waktu senggang (leisure) dan kehidupan sosial. Gaya hidup seseorang berpengaruh terhadap kesehatannya. Gaya hidup yang baik akan mendukung kondisi sehat orang tersebut, namun sebaliknya jika gaya hidup yang kurang atau tidak baik maka dapat menyebabkan seseorang menderita sakit.
Pola pola perilaku (behavioral patterns) akan selalu berbeda dalam situasi atau lingkungan sosial yang berbeda, dan senantiasa berubah, tidak ada yang menetap (fixed). Gaya hidup individu, yang dicirikan dengan pola perilaku individu, akan memberi dampak pada kesehatan individu dan selanjutnya pada kesehatan orang lain. Dalam “kesehatan” gaya hidup seseorang dapat diubah dengan cara memberdayakan individu agar merubah gaya hidupnya, tetapi merubahnya bukan pada si individu saja, tetapi juga merubah lingkungan sosial dan kondisi kehidupan yang mempengaruhi pola perilakunya. Budaya, pendapatan, struktur keluarga, kemampuan fisik, lingkungan rumah dan lingkungan tempat kerja, menciptakan berbagai “gaya” dan kondisi kehidupan lebih menarik, dapat diterapkan dan diterima (Muhaimin, 2008).
1. Faktor fisik
Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Gaya hidup yang tidak aktif (malas berolahraga) bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Berat badan yang berlebihan akan membuat seseorang susah bergerak dengan bebas. Jantungnya harus bekerja lebih keras untuk memompa darah agar bisa menggerakkan berlebih dari tubuh tersebut. Karena itu obesitas termasuk salah satu yang meningkatkan resiko hipertensi.
2. Faktor Lingkungan (Environment)
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia serta pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup misalnya gaya hidup kurang baik seperti gaya hidupnya penuh dengan tekanan (stres). Stres yang terlalu besar dapat memicu terjadinya berbagai penyakit seperti hipertensi. Dalam kondisi tertekan adrenalin dan kortisol dilepaskan kealiran darah sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah agar tubuh siap beraksi. Gaya hidup yang tidak aktif (malas berolahraga), stres, alkohol, atau garam dalam makanan, bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan.
Faktor lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya), seperti : Indra perasa kita yang sejak kanak-kanak telah dibiasakan untuk memiliki ambang batas yang tinggi terhadap rasa asin, sehingga sulit untuk dapat menerima makanan yang agak tawar. Konsumsi garam ini sulit dikontrol, terutama jika kita terbiasa mengonsumsi makanan di luar rumah (warung, restoran, hotel, dan lain-lain).
3. Faktor Perilaku
Faktor perilaku seperti misalnya gaya hidup kurang baik seperti mengkonsumsi makanan cepat saji yang kaya daging dan minuman bersoda, memiliki kadar kolesterol darah yang tinggi, kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), gaya hidup stres, stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.
Kebiasaan mengkonsumsi minuman berkafein dan beralkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan, serta kebiasaan merokok karena rokok dapat meningkatkan risiko penyakit hipertensi.
Cara yang paling baik dalam menghindari tekanan darah tinggi adalah dengan mengubah ke arah gaya hidup sehat, pengaturan pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup, seperti aktif berolahraga, mengatur diet atau pola makan seperti rendah garam, rendah kolesterol dan lemak jenuh, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, tidak mengkonsumsi alkohol dan rokok.


4. Faktor Pelayananan
Faktor pelayanan kesehatan adalah kurangnya pemberdayaan masyarakat dalam usaha pencegahan penyakit hipertensi dengan pemeriksaan tekanan darah secara teratur,kurangnya perencanaan program mengenai pencegahan penyakit hipertensi dari provider (pelayanan kesehatan) di puskesmas mengenai pencegahan penyakit hipertensi dengan pengaturan pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup, serta kurangnya penilaian, pengawasan dan pengendalian mengenai program pencegahan penyakit hipertensi di puskesmas.

C. Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah sebuah kondisi medis saat seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal. Akibatnya volume darah meningkat dan saluran darah menyempit, oleh karena itu jantung harus memompa lebih keras untuk menyuplai oksigen dan nutrisi ke setiap sel di dalam tubuh. Dalam pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik (Puspitorini, 2008).
Dinding arteri terbuat dari lapisan luar jaringan ikat, adventitia, lapisan tengah daripada otot polos, media dan lapisan dalam intima terbuat dari endothelium dan didasari jaringan ikat. Dinding aorta dan arteri yang berdiameter besar relatif mengandung jaringan elastis. Dinding ini diregangkan selama sistolik dan mengalami recoil pada saat diastolik. Tekanan di dalam aorta dan di dalam arteri brachialis dan arteri besar lain pada orang dewasa muda meningkat mencapai nilai puncak (tekanan sistolik) rata-rata 120 mmHg dan turun ke nilai minimal (tekanan diastolik) sekitar 70 mmHg (William, 2002). Tekanan darah bekerja sesuai prinsip Bernoulli, semakin cepat aliran darah dalam pembuluh darah maka makin rendah tekanan lateral yang merenggangkan dindingnya. Bila pembuluh darah menyempit, kecepatan aliran bagian dalam yang menyempit akan meningkat dan tekanan yang meregangkan akan menurun.
Hipertensi terbukti sering muncul tanpa gejala. Munculnya hipertensi, tidak hanya disebabkan oleh tingginya tekanan darah. Akan tetapi, ternyata juga karena adanya faktor risiko lain seperti komplikasi penyakit dan kelainan pada organ target, yaitu jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah. Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis (Puspitorini, 2008).
Tekanan darah mempunyai variasi spontan yang luas berdasarkan waktu dan hari, serta dipengaruhi oleh tempat dimana pengukuran tekanan darah dilakukan (rumah, tempat praktek dokter, rumah sakit). Selain itu terdapat variasi biologi tekanan darah yang dibagi dalam 2 kategori, yaitu:
1. Variabilitas tekanan darah berdasarkan hari: dipengaruhi oleh aktifitas fisik, mental, dan faktor emosional.
2. Variasi Diurnal : pada tidur tekanan darah turun rata-rata 20 % oleh karena aktifitas simpatis yang menurun, dan akan meningkat menjelang bangun tidur. Hal ini dihubungkan dengan meningkatnya insiden infark Miokard, Stroke, dan kematian mendadak yang terjadi pada beberapa jam pertama setelah bangun tidur (Tjokroprawiro et al, 2007).
Oleh karena itu diagnosis hepertensi harus didasarkan pada lebih dari satu kali pengukuran tekanan darah. Berdasarkan rekomendasi JNC 7, tekanan darah diukur setelah penderita diberi kesempatan istirahat ± 5 menit, penderita dalam posisi duduk dikursi, kaki diatas lantai dan lengan disanggah sehingga posisinya setinggi jantung (Tjokroprawiro, 2007).
Klasifikasi hipertensi berdasarkan Joint National Committee (JNC) 7 adalah klasifikasi untuk orang dewasa umur ≥18 tahun. Menurut JNC 7, defenisi hipertensi adalah jika didapatkan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolic ≥90 mmHg. Penentuan klasifikasi ini berdasarkan rata-rata 2 kali pengukuran tekanan darah pada posisi duduk (Tjokroprawiro, 2007).
Tabel 1 . Klasifikasi Tekanan Darah (JNC 7)

Klasifikasi Tekanan Darah Tekanan Darah Sistolik (mmHg) Tekanan Darah Diastolik (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi stage I 140-159 90-99
Hipertensi stage II ≥160 ≥100

Dasar pemikiran adanya kategori prehypertension dalam klasifikasi tersebut oleh karena pasien dengan prehypertension beresiko untuk mengalami progresi menjadi hipertensi, dan mereka dengan tekanan darah 130-139/80-89 mmHg beresiko 2 kali lebih besar menjadi hipertensi dibanding dengan yang tekanan darahnya lebih rendah.
Mekanisme yang terjadi dalam tubuh melibatkan empat sistem yang mengendalikan tekanan darah yaitu baroreseptor, pengaturan volume cairan tubuh, sistem renin-angiotensin, dan autoregulasi pembuluh darah. Penyebab hipertensi secara tepat belum diketahui, tetapi telah dipahami bersama bahwa hipertensi merupakan kondisi yang multifaktorial. Peningkatan tekanan darah yang berkepanjangan akan merusak pembuluh darah yang ada di sebagian besar tubuh. Pada beberapa organ seperti jantung, ginjal, otak dan mata, akan mengalami kerusakan. Gagal jantung, infark miokard, gagal ginjal, stroke, dan gangguan penglihatan adalah konsekuensi yang umum dari hipertensi (William, 2002).
Penyebab penyakit hipertensi dibagi menjadi dua yaitu hipertensi primer (esensial) dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer bersifat familial yang menyerang lebih banyak wanita daripada pria dan disebabkan gangguan emosional, obesitas, masukan alkohol berlebih, kopi, tembakau, serta obat-obatan stimulator. Hipertensi primer terjadi pada sekitar 20% dari populasi dewasa dan lebih dari 90% dari mereka mengalami hipertensi primer (esensial), yang tidak mempunyai penyebab medis yang dapat dikenali. Sedangkan hipertensi sekunder terjadi akibat peningkatan tekanan darah dengan penyebab spesifik, misalnya: penyakit arterial, penyakit ginjal, obat tertentu, tumor pada kelenjar adrenal dan kehamilan (Tjokroprawiro, 2007).
Hipertensi disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat dimodifikasi serta faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara lain faktor genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres, obesitas, dan nutrisi dan merokok, alkohol, kegiatan fisik (Puspitorini ,2008).
1. Faktor genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga tersebut mempunyai resiko menderita hipertensi. Individu dengan orangtua hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi (Padmawinata, 2001).


2. Umur
Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Individu yang berumur di atas 60 tahun, 50-60% mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya (Padmawinata, 2001).
3. Jenis kelamin
Laki-laki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal. Laki-laki juga mempunyai resiko yang lebih besar terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler. Sedangkan di atas umur 50 tahun hipertensi lebih banyak terjadi pada perempuan (Padmawinata, 2001).
4. Etnis
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada yang berkulit putih. Belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun dalam orang kulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadap vasopresin lebih besar (Padmawinata, 2001).
5. Stres
Stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatetik. Stres ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal. Mencegah stres dan melakukan relaksasi sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi, yang bisa dilakukan untuk mencegah stres antara lain dengan relaksasi, meditasi, yoga, peregangan otot, membicarakan masalah dengan teman dekat, atau bahkan meminta bantuan professional untuk mengatasi masalah penyebab stress bila diperlukan (Marliani, 2007).
6. Obesitas
Penelitian epidemiologi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan dengan tekanan darah baik pada pasien hipertensi maupun normotensi. Disebut obesitas apabila Index Masa Tubuh (IMT) melebihi 25. Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi yang mengalami obesitas cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan penderita hipertensi yang tidak obesitas. Hubungan antara hipertensi dengan obesitas adalah, pada kondisi obesitas dibutuhkan jumlah oksigen yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Dengan demikian, akan terjadi peningkatan volume dan tekanan darah yang bertujuan memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik yang diakibatkan oleh obesitas. Obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak daripada yang dibutuhkan oleh tubuh (Puspitorini, 2008).
7. Nutrisi
Sodium adalah penyebab penting dari hipertensi esensial, asupan garam yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan meningkatkan tekanan darah. Pada hipertensi bukan hanya garam dapur yang perlu dibatasi, tetapi juga semua bahan makanan sumber natrium. Natrium bersifat mengikat air, pada saat garam dikonsumsi, maka garam tersebut akan mengikat air sehingga air terserap masuk kedalam intrvaskuler yang menyebabkan meningkatnya volume darah. Apabila volume darah meningkat, kerja jantung akan meningkat dan akibatnya tekanan darah pasti juga meningkat. Selain itu natrium merupakan salah satu komponen zat terlarut dalam darah. Dengan mengkonsumsi garam, konsentrasi zat terlarut akan tinggi sehingga menyerap air masuk dan selanjutnya menyebabkan peningkatan tekanan darah (Puspitorini, 2008).
Asupan garam tinggi yang dapat menimbulkan perubahan tekanan darah yang dapat terdeteksi adalah lebih dari 14 gram per hari atau jika dikonversi kedalam takaran sendok makan adalah lebih dari dua sendok makan.

Tabel 2. Makanan yang dianjurkan

Zat Gizi Bahan Makanan
Kalium Kentang, bayam, kol, brokoli, tomat, wortel, pisang, jeruk, anggur, mangga, melon, stroberi, semangka, nanas, susu, dan yoghurt.
Kalsium Tempe, tahu, bandeng presto, ikan teri, kacang-kacangan, susu, yoghurt, dan keju rendah lemak.
Magnesium Beras(terutama beras merah), kentang, tomat, wortel, sayuran berwarna hijau tua, jeruk, mentimun, melon, lemon, ikan, dan daging ayam tanpa kulit.
Serat Beras merah, roti gandum, kacang-kacangan, sayuran, kentang, tomat, apel, jeruk, dan belimbing.
Protein Tempe, tahu, kacang-kacangan, ikan, daging ayam tanpa kulit, susu, dan keju rendah lemak.
Lainya Bawang putih, seledri, lalapan hijau, minyak zaitun, minyak bunga matahari.
Sumber: Puspitorini, 2008

Tabel 3. Makanan yang tidak dianjurkan

Zat Gizi Bahan Makanan
Natrium Garam meja, ikan asin, telur asin, kecap, terasi, petis, tauco, soda kue/baking powder, pengawet makanan yang mengandung benzoate, dan pemanis buatan yang mengandung natrium siklamat.
Gula Sirup, minuman ringan, dan permen.
Lemak jenuh Lemak daging, mentega, margarine, santan kental,gulai, gorengan dari minyak bekas, makanan yang digoreng berulang kali
Kolesterol Otak, kuning telor,jeroan, lemak daging.
Lainnya Kopi, soda, minuman beralkohol, makanan yang mengandung alkohol, seperti durian dan tape.
Sumber: Puspitorini, 2008
8. Merokok
Penelitian terakhir menyatakan bahwa merokok menjadi salah satu faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi. Merokok merupakan faktor risiko yang potensial untuk ditiadakan dalam upaya melawan arus peningkatan hipertensi khususnya dan penyakit kardiovaskuler secara umum di Indonesia. Merokok dapat menigkatkan tekanan darah, nikotin pada rokok sangat membahayakan kesehatan karena nikotin dapat meningkatkan penggumpalan darah dan pengapuran pada dinding pembuluh darah (Purwati, 2003). Dua batang rokok terbukti dapat meningkatkan tekanan darah sebesar 10 mmHg. Sesudah merokok selama kurang lebih 30 menit, tekanan darah akan meningkat secara signifikan (Padmawinata, 2001).


9. Alkohol
Alkohol (etanol) dalam jumlah besar terbukti bisa meningkatkan tekanan darah. Kenaikan tekanan darah ini disebabkan alkohol dalam darah dapat merangsang pelepasan hormon epinefrin (adrenalin) yang membuat pembuluh darah menyempit dan juga menyebabkan penumpukan natrium dan air. Kadar alkohol yang dikonsumsi dalam jumlah sedikit atau sedang , justru akan dapat menurunkan resiko penggumpalan darah yang dapat mengakibatkan stroke. Alkohol dalam jumlah tidak berlebihan dapat memicu produksi High Density Lipoprotein (HDL) atau kolesterol yang baik yang dapat melindungi arteri dari penyempitan atau plak (Marliani, 2007).
10. Kegiatan fisik
Aktifitas fisik yang cukup dan teratur terbukti dapat membantu menurunkan tekanan darah. Aktivitas fisik yang dianjurkan bagi penderita hipertensi adalah aktivitas sedang selama 30-60 menit setiap hari. Kalori yang terbakar sedikitnya 150 kalori per hari. Salah satu aktivitas fisik yang bisa dilakukan adalah aerobik. Olahraga yang dapat dikategorikan sebagai aktivitas aerobik, antara lain:
a. Berjalan kaki sejauh 3 kilometer selama 30 menit dapat membakar kalori sebesar 50 kalori
b. Joging merupakan olahraga aerobik yang sangat efektif karena dapat membakar kalori secara cepat dan dapat menigkatkan kemampuan jantung, paru-paru, dan otot. Joging sejauh 2 kilometer selama 20 menit dapat membakar 150 kalori.
c. Bersepeda sebaiknya dilakukan secara bertahap. Mengayuh sepeda sejauh 8 kilometer selama 30 menit dapat membakar kalori kurang lebih 150 kalori.
d. Berenang merupakan aktivitas fisik yang sangat baik karena dapat meningkatkan kemampuan jantung, paru-paru, dan seluruh otot. Berenang terus menerus selama 20 menit dapat membakar kalori sebesar 150 kalori.
e. Olahraga dengan menggunakan alat-alat seperti sepeda statis atau treadmill dapat meningkatkan aktivitas jantung, paru-paru, dan otot secara efektif.
Pemanasan sebelum melakukan olahraga akan meningkatkan aliran darah dan melemaskan otot-otot sehingga tubuh dipersiapkan untuk melakukan aktivitas aerobik. Pendinginan setelah olahraga akan berfungsi mendinginkan dan menyebabkan otot-otot menjadi fleksibel kembali (Marliani, 2007).
Berbagai tanda dan gejala yang menyertai penyakit ini, meskipun banyak yang tidak merasakan atau membiarkan karena dianggap hal biasa. Kejadian hipertensi yang bertahap sering disebut silent killer. Hipertensi dapat muncul setelah setahun atau ditemukan saat sudah terjadi komplikasi. Ketika terjadi kenaikan tekanan darah yang berarti maka pasien dapat merasakan gejala seperti sakit kepala, mengantuk, keletihan, sulit tidur, gemetar, mimisan atau penglihatan yang kabur. Sedangkan pada pasien hipertensi maligna dapat ditemukan pasien mengalami sakit kepala, kerusakan penglihatan, kejang bahkan bisa sampai koma (Tjokroprawiro, 2007).
Di samping pengobatan farmakologis, modifikasi gaya hidup selalu harus dilakukan pada penatalaksanaan penderita hipertensi. Modifikasi gaya hidup dilakukan pada setiap penderita hipertensi, meskipun cara ini tidak dapat dilakukan sebagai cara tunggal untuk setiap derajat hipertensi, akan tetapi bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah, memperbaiki efikasi obat antihipertensi dan cukup potensial dalam menurunkan faktor resiko kardiovaskuler, disamping murah dan efek sampingnya minimal (Tjokroprawiro, 2007).






Tabel 4. Modifikasi Gaya Hidup untuk mengontrol Hipertensi

Modifikasi Rekomendasi Kira-Kira Penurunan Tekanan Darah
Penurunan berat badan (BB) Pelihara berat badan normal (IMT 18,5-24,9) 5-20 mmHg/10kg penurunan BB
Adopsi pola makan DASH Mengkonsumsi banyak buah,sayur,dan produk susu rendah lemak 8-14 mmHg
Diet rendah natrium Mengurangi natrium, tidak lebih dari 2.400 mg per hari 2-8 mmHg
Aktivitas fisik Regulasi aktivitas fisik aerobik, seperti jalan kaki 30 menit/hari, beberapa/minggu 4-9 mmHg
Mengurangi atau berhenti minum alkohol Batas minum alkohol tidak lebih dari 2 gelas/hari untuk pria dan 1 gelas/hari untuk wanita. 2 2-4 mmHg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar