November 22, 2010

KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL

KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL

PENDAHULUAN
Manusia sebagai makhluk sosial tidak mampu memenuhi kebutuhan sosialnya ketika hidup menyendiri tanpa berhubungan dengan orang lain. Menurut Styart dan Sundeen (1995), kebutuhan sosial meliputi rasa menjadi milik orang lain dan keluarga, kebutuhan pengakuan dari orang lain dan kebutuhan pernyataan diri. Secara alamiah sejak lahir individu selalu berada dalam sebuah kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga, lingkungan sekolah, atau lingkungan kerja.
Ada sebagian orang yang mengalami hambatan dalam berhubungan dengan orang lain, misalnya karena adanya rasa malu, minder, takut, atau merasa ditolak oleh orang lain. Adanya rasa malu dan minder yang berlebihan dapat menyebabkan orang tersebut lebih senang untuk menyendiri sehingga akan terjadi kerusakan interaksi sosial.
Kerusakan interaksi sosial adalah ketidakcukupan atau kuantitas berlebih atau tidak efektifnya kualitas pertukaran dengan orang lain (NANDA, 2005). Hal ini antara lain dapat disebabkan karena kurang pengetahuan/ketrampilan tentang cara meningkatkan hubungan yang menguntungkan, perubahan proses berpikir gangguan konsep diri. Menurut NANDA (2005) harga diri rendah keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri negatif yang mengenai diri sendiri.
Individu yang mengalami kerusakan interaksi sosial memerlukan stimulus yang cukup untuk memulihkan keadaan yang stabil. Stimulus positif dan terus-menerus dapat dilakukan oleh perawat. Apabila stimulus yang diberikan tidak, individu akan tetap mengalami kerusakan interaksi sosial, bahkan dapat mengalami halusinasi dan penurunan kemampuan melakukan aktivitas hidup sehari-hari.

PROSES TERJADINYA MASALAH KEPERAWATAN
Seseorang yang mengalami kerusakan interaksi sosial pada mulanya merasa dirinya tidak berharga (harga diri) rendah sehingga merasa tidak nyaman berhubungan dengan orang lain. Individu tersebut kesulitan dalam menumbuhkan rasa percaya dirinya, tidak mampu mempertahankanhubungan dalam masyarakat, diisolasi sosial, dan ketergantungan yang berlebihan pada orang lain (Stuart&Sundeen, 1995).
Kerusakan interaksi sosial dapat ditandai dengan adanya ungkapan atau observasi ketidakmampuan menerima atau mengkomunikasikan kepuasan rasa memiliki/menyayangi, ketidaknyamanan situasi sosial, kegagalan dalam perilaku interaksi sosial, atau keluarga melaporkan perubahan gaya atau pola interaksi (NANDA, 2005). Selain itu orang denagn kerusakan interaksi sosial dapat menunjukkan perilaku tidak nafsu makan atau makan berlebihan, tinggal di tempat tidur berlebihan, menyendiri, tidak mempedulikan lingkungan, tidak memperhatikan perawatan diri, penampilan kurang rapi, mondr-mandir atau sikap mematung, melakukan gerakan secara berulang-ulang, dan keinginan seksual yang menurun.

DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan haga diri rendah
2. Harga diri rindah berhubungan dengan koping keluarga tidak efektif: ketidakmampuan keluarga merawat klien di rumah
3. Perubahan persepsi sensori: halusinasi berhubungan dengan kerusakan interaksi sosial
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan interaksi sosial

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar