Senin, 22 November 2010

HUBUNGAN KONSUMSI MEDIA PORNOGRAFI DENGAN KECENDERUNGAN BERPERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA

A. Remaja
1. Pengertian Remaja
Remaja adalah masa periode tertentu dari kehidupan manusia. Masa diantara masa anak-anak menuju kedewasaan. Istilah remaja dikenal dengan adolesence, yang berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa. Istilah remaja telah digunakan secara luas untuk menunjukan suatu tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa, yang ditandai oleh perubahan-perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12-21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga kelas, yaitu : 12-15 tahun sebagai masa remaja awal, 15-18 tahun adalah masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun adalah masa remaja akhir (Hurlock, 1999 ).
Ada juga pembedaan kelas remaja lainnya, yaitu : masa pra-remaja (pra-pubertas) pada 10-12 tahun, masa remaja awal (pubertas) pada 12-15 tahun, masa remaja pertengahan pada 15-18 tahun, dan masa remaja akhir pada 18-21 tahun (Hurlock, (1999) cit. Haditino, 2001).
Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, bukan hanya dalam artian psikologis, tetapi juga fisik. Pada masa ini remaja mulai tertarik terhadap lawan jenis dan seksualitas. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya oleh adanya perubahan perkembangan fisik dan pubertas, dan perkembangan seksualitas.
2. Perkembangan fisik remaja dan pubertas
Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, tanda-tanda perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks pubertas. Dalam konteks ini, kematangan organ-organ seks dan kemampuan reproduktif bertumbuh dengan cepat. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat. Selain perubahan tinggi dan berat badan, selama masa remaja terjadi juga perkembangan atau pertumbuhan dalam proporsi tubuh. Dimana terlihat ada perubahan ciri-ciri wajah, struktur kerangka dan pertumbuhan otot (Sarwono, 1994)
Masa remaja juga dikenal dengan istilah masa puber. Pubertas (puberity) ialah suatu periode dimana kematangan kerangka seksual terjadi dengan pesat terutama pada awal masa remaja. Masa pubertas ini ditandai dengan perubahan-perubahan pada ciri-ciri sex primer dan ciri-ciri sex sekunder.
Ciri-ciri sex primer menunjuk pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Pada laki-laki, ciri seks primer yang sangat penting ditunjukan dengan pertumbuhan yang cepat dari batang kemaluan (penis) dan kantung kemaluan (scortum), yang mulai terjadi pada usia sekitar 12 tahun dan berlangsung sekitar 5 tahun untuk penis dan 7 tahun untuk scortum. Pada scortum terdapat 2 buah testis yang sebenarnya telah ada sejak lahir, namun baru sekitar 10 % dari ukuran matang. Testis mencapai kematangan penuh pada usia 20-21 tahun. Perubahan ini sangat dipengaruhi oleh hormon, terutama hormon perangsang yang diproduksi oleh kelenjar bawah otak (pituitary gland). Hormon perangsang pria ini merangsang testis sehingga testis menghasilkan hormon testosteron dan androgen serta spermatozoa. Sperma yang dihasilkan dalam testis selama masa remaja ini memungkinkan remaja 12 tahun mengalami penyemburan air mani atau yang dikenal dengan istilah mimpi basah (Desmita, 2007).
Perubahan ciri sex primer pada perempuan ditandai dengan munculnya periode menstruasi, yang disebut dengan menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali dialami seorang gadis. Terjadinya menstruasi pertama ini menunjukan bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan telah matang, sehingga memungkinkan untuk mengandung dan melahirkan. Munculnya menstruasi ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan indung telur (ovarium). Ovarium terletak dalam rongga perut wanita bagian bawah, didekat uterus, yang berfungsi memproduksi sel-sel telur (ovum) dan hormon-hormon estrogen progesteron. Hormon progesteron bertugas untuk mematangkan dan mempersiapkan sel-sel telur sehingga siap untuk dibuahi. Sedangkan hormon estrogen adalah hormon yang mempengaruhi pertumbuhan sifat-sifat kewanitaan pada tubuh seseorang, hormon ini juga mengatur siklus haid. Oleh sebab itu maka menstruasi pertama pada seorang gadis didahului oleh sejumlah perubahan lain, yang meliputi pembesaran payudara, kemunculan rambut disekitar daerah kelamin, pembesaran pinggul dan bahu (Desmita, 2007).
Sedangkan ciri-ciri sex sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi, namun merupakan tanda-tanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Diantara tanda-tanda jasmaniah yang terlihat pada laki-laki adalah tumbuh kumis dan janggut, jakun, bahu dan dada melebar, suara berat, tumbuh bulu di ketiak, dada, kaki dam lengan dan di sekitar kemaluan, serta otot-otot menjadi kuat. Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan pinggul membesar, suara menjadi halus, tumbuh bulu di ketiak dan di sekitar kemaluan (Sarwono, 1994).
3. Perkembangan psikologis remaja
Remaja yang berada pada masa peralihan biasanya memiliki emosi yang berkobar-kobar sedangkan pengendalian dirinya belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang, khawatir dan kesepian. Sifat kepekaan terhadap rangsangan dari luar biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng tetapi cepat merasa senang atau bahkan meledak-ledak.
Remaja sering kali mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada fisik maupun lungkungan sekitarnya. Akibatnya tidak jarang mereka cenderung menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau memperdulikannya. Kontrol dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya (Sarwono, 1994).
4. Perkembangan seksualitas remaja
Salah satu fenomena kehidupan masa remaja yang sangat menonjol adalah terjadinya peningkatan minat dan motivasi terhadap seksualitas. Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Padahal pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktifitas seksual mereka sendiri (Hamzah, 1980 cit. Syamsu 2004).
Sehubungan dengan meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada dalam potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut. Dari sumber informasi yang berhasil mereka dapatkan, pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari orangtuanya. Oleh karena itu remaja mencarri tahu dari berbagai sumber yang mungkin dapat diperoleh. Misalnya dari sekolah, teman, buku-buku tentang seks dan dari media massa.



B. Perilaku
1. Definisi Perilaku
Notoatmodjo (2007) memberi batasan tentang perilaku dipandang dari segi biologis adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (mahluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua mahluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai perilaku masing-masing. Sehingga yang di maksud perilaku manusia adalah tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, dan lain-lain. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang di maksud dengan perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
Psikologi memandang perilaku manusia (human behaviour) sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Salah satu karakteristik reaksi perilaku manusia yang menarik adalah sifat diferensialnya. Maksudnya satu stimulus dapat menimbulkan lebih dari satu respons yang berbeda dan beberapa stimulus yang berbeda dapat saja menimbulkan satu respons yang sama (Azwar, 2008).
Skiner (1939) cit Notoatmodjo (2007) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skiner ini di sebut teori “S-O-R” atau Stimulus Organisme Respon, dibedakan menjadi dua respon.
a. Respondent respons atau revlexive, yakni respons yang di timbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut eliciting stimulation karena menimbulkan respon- respon yang relatif tetap.
b. Operant respons atau instrumental respons, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian di ikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforcer, karena memperkuat respons.
Selanjutnya Skiner (1939) cit Notoatmodjo (2007) membedakan bentuk respons terhadap stimulus ini menjadi:
a. Perilaku tertutup (cover behaviour)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas, pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. Oleh sebab itu, di sebut covert behaviour atau unobservable behaviour.
b. Perilaku terbuka (over behaviour)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dapat dilihat oleh orang lain. Oleh sebab itu di sebut over behaviour, tindakan nyata atau praktik (practice).
2. Sifat-sifat umum perilaku
Sifat umum perilaku merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas, yang merupakan hasil akhir jalinan yang mempengaruhi antara berbagai macam gejala seperti perhatian, pengamatan, pikiran, ingatan, dan fantasi.
Adapun gejala-gejala jiwa yang saling mempengaruhi dalam bentuk perilaku manusia tersebut antara lain sebagai berikut: a) pengamatan, pengamatan merupakan pengenalan objek dengan menggunakan panca indra yang disebut sebagai modalitas pengamatan; b) perhatian, ada dua batasan tentang perhatian yaitu perhatian disebut sebagai pemusatan energi psikis yang tertuju kepada suatu objek, batasan yang kedua adalah perhatian disebut sebagai banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktifitas yang sedang di lakukan; c) tanggapan, setelah melakukan tanggapan dengan menggunakan panca indera maka akan terjadi gambaran yang tinggal dalam ingatan. Gambaran yang tinggal dalam ingatan inilah yang di sebut tanggapan; d) fantasi, fantasi adalah kemampuan untuk membentuk tanggapan-tanggapan yang telah ada; 5) ingatan, ingatan adalah kemampuan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksikan pesan-pesan; 6) berpikir, berpikir adalah aktivitas yang sifatnya idealistik yang mempergunakan abstraksi-abstraksi (ideas); 7) motif, motif adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan (Notoatmodjo, 2007).
3. Domain perilaku
Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa perilaku adalah merupakan totalitas penghayatan dan aktifitas seseorang, yang merupakan hasil bersama atau resultante antara berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Dengan perkataan lain perilaku manusia sangatlah kompleks, dan mempunyai bentangan yang sangat luas. Dalam perkembangannya, teori Bloom ini di modifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yakni:
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 1993). Pengetahuan adalah akumulasi dari pengalaman-pengalaman yang di alami manusia yang diperoleh melalui pengindraan. Faktor-faktor yang mempengaruhi beberapa faktor antara lain; sosial ekonomi, kultur (budaya, agama), pendidikan dan pengalaman.
Pengetahuan memiliki 6 (enam) tingkatan kognitif yakni: 1) tahu yang diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah; 2) memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar; 3) aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah di pelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya; 4) analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu obyek atau materi ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain; 5) sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya; 6) evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang sudah di tentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya, dapat membandingkan, menanggapi, dapat menafsirkan, dan sebagainya (Notoatmodjo, 1993).
a. Sikap
Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut (Berkowitz, 1972 cit. Azwar, 2008). Suatu sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek (Azwar, 2008). Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap mempunyai tiga komponen pokok, yakni: 1) kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek; 2) kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek; 3) kecenderungan untuk bertindak.
Tindakan dari sikap yang dapat diukur adalah: 1) menerima di artikan bahwa orang mau dan memperhatikan stimulus yang di berikan; 2) merespon dengan memberikan jawaban apabila di tanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang di berikan adalah suatu indikasi dari sikap; 3) menghargai dengan cara mampu mengajak orang lain untuk mengerjakan untuk mendiskusikan suatu masalah; 4) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah di pilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi (Notoatmojo, 2007). Sikap terhadap suatu perilaku dipengaruhi oleh keyakinan bahwa perilaku tersebut akan membawa kepada hasil yang diinginkan atau tidak diinginkan (Azwar, 2008).
b. Praktik atau Tindakan
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (over behaviour), untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata di perlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan dukungan/support. Adapun tingkatan dalam praktik ini adalah: 1) Persepsi (perseption) mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama; 2) respon terpimpin (guided response) dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat ke dua; 3) mekanisme (mecanism) apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat ke tiga; 4) adopsi (adoption) adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut (Notoadmojo, 2007).
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Perilaku
Proses perubahan dan pembentukan perilaku di pengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri atau faktor internal faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Susunan syaraf pusat
Susunan syaraf pusat memegang peranan penting dalam perilaku manusia, karena perilaku merupakan sebuah bentuk perpindahan dari rangsang yang masuk ke rangsang yang di hasilkan. Perpindahan ini dihasilkan oleh susunan syaraf pusat dengan unit-unit dasarnya yang disebut neuron. Neuron memindahkan energi yang di hasilkan oleh impuls-impuls saraf. Impuls-impuls saraf indera pendengaran, pengecapan, pembauan, penglihatan dan perubahan disalurkan dari tempat terjadinya rangsangan melalui impuls-impuls saraf ke susunan saraf pusat.
b. Persepsi
Perubahan-perubahan dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi adalah pengalaman yang di hasilkan melalui indra penglihatan, pendengaaran, penciuman, dan sebagainya. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda, meskipun objeknya sama.
c. Motivasi
Motivasi di artikan sebagai dorongan untuk bertindak untuk mencapai tujuan tertentu. Hasil dari dorongan dan gerakan ini di wujudkan dalam bentuk perilaku
d. Emosi
Perilaku dapat timbul juga karena emosi. Aspek psikologis yang mempengaruhi emosi berhubungan erat dengan keadaan jasmani. Sedang keadaan jasmani merupakan hasil keturunan (bawaan). Dalam proses pencapaian kedewasaan pada manusia semua aspek yang berhubungan dengan keturunan dan emosi akan berkembang sesuai dengan hukum perkembangan. Oleh karena itu, perilaku yang timbul karena emosi merupakan perilaku bawaan.
e. Belajar
Belajar di artikan sebagai suatu perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktik-praktik dalam lingkungan kehidupan. Barelson (1964) cit. Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan perilaku yang di hasilkan dari perilaku terdahulu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku di atas merupakan faktor internal, adapun faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku, meliputi:

a. Objek
Objek diartikan sebagai suatu hal yang membuat seseorang tertarik, biasanya dalam bentuk dua dimensi atau tiga dimensi, bisa dilihat dan didengar. Objek mempengaruhi perilaku manusia dalam segi pengamatan.
b. Orang
Orang yang dalam artian ini orang lain, mempengaruhi sikap individu terhadap perilakunya. Karena bisa jadi apa yang menyebabkan perubahan prilaku seseorang berasal dari orang lain, seperti ketauladanan pada seorang tokoh.
c. Kelompok
Setiap individu sejak lahir berada didalam suatu kelompok, terutama kelompok keluarga. Kelompok ini akan membuka kemungkinan untuk dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota kelompok lain. Biasanya sebuah kelompok memiliki aturan-aturan sendiri, yang tentu saja akan mempengaruhi perilaku anggota kelompoknya.
d. Hasil-hasil kebudayaan
Banyak sekali hasil-hasil kebudayaan yang di jadikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilaku. Terutama dengan sedemikian pesatnya perkembangan tekhnologi yang diikuti juga oleh perubahan budaya. Hal ini mempengaruhi perubahan perilaku individu dalam aturan hidupnya.
Kedua faktor tersebut (faktor internal dan faktor eksternal) akan dapat terpadu menjdi perilaku yang selaras dengan lingkungannya, dan dapat di terima oleh individu yang bersangkutan. Dengan demikian penting bagi masyarakat khususnya pendidikan kesehatan untuk mempelajari perilaku. Karena pendidikan kesehatan sebagai bagian dari kesehatan masyarakat, berfungsi sebagai media atau sarana untuk menyediakan kondisi sosio-psikologis yang sedemikian rupa sehingga individu atau masyarakat berperilaku sesuai dengan norma-norma hidup sehat.
5. Kecenderungan berperilaku seksual remaja
Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukan bahwa komponen konatif meliputi bentuk perilaku yang tidak dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk-bentuk perilaku yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan seseorang (Azwar, 2008). Kesimpulan bahwa seseorang mempunyai sikap yang positif terhadap seks bebas tidak harus dicerminkan dengan ikut sertanya ia melakukan seks bebas, akan tetapi bisa disimpulkan dari pernyataan bahwa ia bersikap permisif terhadap seks bebas dan tidak juga menentangnya. Tidak ada jaminan bahwa kecenderungan berperilaku itu akan benar-benar ditampakan dalam bentuk perilaku yang sesuai apabila individu berada pada situasi yang termaksud (Azwar, 2008).
Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam mulai dari perasaan tertarik sampai berkencan, bercumbu dan bersenggama. Obyek seksualnya dapat orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Sebagian tingkah laku dari mereka tidak berdampak apa-apa, terutama jika tidak berakibat fisik atau sosial yang dapat ditimbulkannya. Pada sebagian remaja dampaknya bisa cukup serius seperti perasaan bersalah, depresi atau marah (Sarwono, 2004).
Ada empat faktor krusial yang menyebabkan adanya gambaran perilaku dan sikap seksual modern. Pertama adalah turunnya pengaruh agama pada perilaku seksual. Kedua, adalah pengesahan terhadap aborsi di negara-negara barat dan pertumbuhan angka aborsi yang begitu meningkat secara dramatis. Ketiga, penyebaran HIV/AIDS di berbagai negara memiliki dampak kuat pada kehidupan manusia, terutama remaja, yang menyebabkan perubahan penting pada kebijakan kesehatan masyarakat (publik) dan pendidikan sex. Keempat, tantangan massif telah diciptakan dalam tekhnologi reproduksi dan perkembangan kedepan (Goldman & Bradley, 2001).
Beberapa contoh perilaku seksual adalah masturbasi/onani yaitu tindakan melakukan rangsangan seksual terhadap diri sendiri, khususnya pada alat kelamin, bisa dengan atau tanpa alat bantu seksual, yang bertujuan untuk mencapai kenikamatan seksual atau orgasme. Petting/meeting adalah istilah gaul yang dipergunakan oleh remaja untuk melakukan usaha perangsangan seksual terhadap lawan jenisnya. Bisa berupa ciuman, dan rangsangan sentuh pada beberapa bagian sensitif pasangan. Istilah petting sendiri kebanyakan diartikan sebagai “pegang yang penting-penting”, untuk meeting diartikan “mijit yang penting-penting”. Oral seks yaitu melakukan rangsangan dengan mulut pada organ genitalia pasangannya. Anal seks adalah hubungan seksual dengan memasukkan penis kedalam anus (anal), biasanya pelaku anal seks adalah laki-laki yang mempunyai kelainan seksual, yaitu menyukai sesama jenis atau homoseksual. Dan yang terakhir adalah hubungan seksual atau coitus adalah masuknya penis kedalam vagina yang kemudian memberikan rangsangan sehingga keduanya mencapai orgasme.

C. Konsumsi Media Pornografi
1. Pengertian Media
Media adalah suatu saluran atau sistem komunikasi, informasi atau hiburan. Lebih khusus lagi, media massa merujuk pada alat-alat komunikasi yang dirancang untuk menjangkau sejumlah besar orang (Hernandez, 2007). Menurut kamus besar bahasa Indonesia, media adalah sarana, alat, sarana komunikasi bagi masyarakat bisa berupa koran, majalah, televisi, radio siaran, telephone, internet dan sebagainya yang terletak diantara dua pihak.
Katz, Gurevitch & haas (1973) cit. hernandez (2007),memandang media sebagai suatu alat yang digunakan oleh individu-individu untuk berhubungan (atau memutuskan hubungan) dengan yang lain. Para peneliti tersebut membuat daftar kebutuhan yang diambil dari literatur tentang fungsi-fungsi sosial dan psikologis media massa, yang secara garis besar yaitu berfungsi sebagai alat untuk memperoleh informasi, pengetahuan, pemahaman, untuk memperoleh pengalaman menyenangkan, meningkatkan rasa percaya diri, mempererat hubungan dengan keluarga, teman dan manusia lainnya , juga sebagai pelarian dan pengalihan.
Media massa mempunyai beberapa bentuk, baik itu yang hanya berupa gambar, tulisan, suara, atau perpaduan dari ketiga hal tadi. Bentuk-bentuknya itu antara lain koran, majalah, tabloid, televisi, radio dan internet. Pengertiannya pun berbeda-beda, walaupun secara sekilas bisa disimpulkan tetap sama. Seperti koran dan tabloid yang sama-sama dicetak sebagai media massa harian yang berisi berita terkini dengan berbagai topik. Ada juga majalah, media massa yang terbitnya berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik, pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui pembaca dan menurut waktu penerbitannya dibedakan menjadi mingguan, bulanan, dan sebagainya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008).
Televisi dan radio yang merupakan media elektronik yang menangkap siaran dari jarak jauh, untuk televisi dalam bentuk audio visual, dan untuk radio hanya frekuensi tinggi audio saja. Lebih khusus lagi ada internet, suatu bentuk jaringan yang menghubungkan komputer di berbagai belahan dunia dalam bentuk sistem operasi dan aplikasi yang berbeda untuk tujuan komunikasi.
2. Pengertian Pornografi
Ada beberapa definisi pornografi menurut para ahli, menurut Webster’s New World Dictionary (1970) cit. Hernandez (2007), kata pornografi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua suku-kata : Porne dan Graphien. Porne = a prostitute ; graphien = to write (dari kata benda graphe = a drawing, writing). Pornographos = writing about prostitus (tulisan atau penggambaran mengenai pelacur/pelacuran). Menurut HB.Jassin Pornografi adalah setiap tulisan atau gambar yang ditulis atau digambar dengan maksud sengaja untuk merangsang seksual. Pornografi membuat fantasi pembaca menjadi bersayap dan ngelayap ke daerah-daerah kelaminan yang menyebabkan syahwat berkobar-kobar. Menurut Mohammad Said, segala apa saja yang dengan sengaja disajikan dengan maksud untuk merangsang nafsu seks orang banyak. Pornografi adalah sesuatu yang berhubungan dengan persoalan-persoalan seksual yang tidak pantas diungkapkan secara terbuka kepada umum (Budiman cit. Lesmana, 1995).
Berdasarkan definisi di atas, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa batasan pornografi meliputi kemampuannya merangsang syahwat orang lain secara tidak wajar, sifatnya yang terbuka, sehingga bisa dijangkau oleh semua kalangan masyarakat, termasuk remaja dan anak-anak, unsur sex dalam pornografi semata-mata bersifat permainan, dan yang pasti mempunyai unsur kesengajaan untuk membangkitkan birahi.
Pornografi sendiri dibedakan menjadi dua bagian, yaitu Hard-core Pornography dan Soft-core Pornography (Lesmana,1995). Sedikit tentang perbedaan antara kedua istilah tersebut, karya-karya Hard-core Pornography menggambarkan adegan sex secara terbuka, explisit dan gamblang sekali. Terbuka dalam arti segalanya : pemeran telanjang bugil, organ sex mereka diekspos terlalu mencolok dan segala tekhnik permainan juga dipertujukan. Pada Soft-core Pornography, adegan sex tidak pernah diperlihatkan secara utuh, organ sex biasanya tidak diperlihatkan, juga tidak pernah ada variasi permainan.


3. Pengertian Media Pornografi
Media pornografi adalah segala bentuk media, dalam bentuk sarana, alat, sarana komunikasi yang isinya mengandung unsur pornografi. Media-media yang sudah dijelaskan diatas banyak yang bermuatan pornografi. Media-media untuk konsumsi pornografi berjumlah cukup banyak, hampir semua media massa melampirkan hal-hal berbau pornografi walau hanya secuil (Lesmana, 1995).
Beberapa contoh dari media pornografi adalah majalah; kebanyakan majalah-majalah kategori pornografi ini masuk dalam kelompok Soft-core Pornography. Tabloid; tabloid-tabloid berbau pornografi beredar bebas di masyarakat, siapapun bisa menemukannya terutama di pedagang asongan di sekitar lampu merah. Novel; novel-novel berbau pornografi sekarang ini kebanyakan adalah novel terjemahan dari luar negri, tidak susah mencarinya, karena toko buku resmi pun menjualnya. Komik ; komik Pornografi biasa disebut Hentai atau Hengtay. Kartu Remi; kartu remi adalah sekumpulan kartu seukuran tangan yang digunakan untuk permainan kartu. Kartu-kartu remi edisi pornografi biasanya bergambar wanita telanjang, dan biasanya hanya untuk koleksi. Televisi; televisi memang tidak sevulgar tayangan lainnya, tayangannya termasuk soft-core pornography. Blue Film; biasanya lebih tenar dengan sebutan Film Bokep.


D. Hubungan konsumsi media pornografi dengan kecenderungan berperilaku seksual
Remaja sama berhasratnya untuk menonton, mendengarkan, atau membaca. Begitu banyak remaja menggunakan media dan begitu banyak produk media menjangkau para remaja sehingga hubungan mereka telah menjadi hubungan dua arah. Anak-anak muda sangat dipengaruhi oleh muatan yang disediakan oleh media massa, disaat yang bersamaan media massa sangat dipengaruhi oleh apa yang diinginkan remaja (Hernandez, 2007).
Hubungan ini adalah suatu kombinasi antara tekhnologi dan perubahan sosial yang mendorong pada model perilaku dan sikap seksual baru di kalangan banyak (tidak semua) kelompok dan individu. Gambaran lebih jauh tentang perubahan nilai dan sikap seksual di masyarakat adalah tumbuhnya keterbukaan tentang seksualitas, khususnya di media (Reiss & Halstead, 2006). Pornografi tersedia dengan mudah, khususnya di video dan di internet, dan lebih diterima diberbagai kalangan (juga lebih mudah diakses oleh anak-anak). Seks, adalah kata tertinggi dalam daftar pencarian di internet (Goldman & Bradley, 2001).
Meningkatnya penghalusan (shopistication) pengetahuan seksual pada anak-anak dan remaja, dengan televisi khususnya, memudahkan akses anak dari rahasia yang harus dijaga orang dewasa dari mereka. Ketika pengakuan orang tua tentang “hilangnya masa kanak-kanak” terasa dilebih-lebihkan, ternyata saat ini dirasakan benar, karena anak-anak didorong untuk menampilkan diri mereka sebagai mahluk seksual di usia yang lebih dini (pada usia yang lebih lemah) (Postman, 1994).
Konsumsi media pornografi merupakan fenomena riil yang dapat dijumpai di setiap masyarakat, bagi remaja dampak yang terjadi setelah mereka menonton tayangan pornografi sangatlah wajar kalau mereka mendapat rangsangan seksual secara spontan (Lesmana, 1995).

E. Landasan Teori
Remaja adalah masa periode tertentu dari kehidupan manusia. Masa diantara masa anak-anak menuju kedewasaan. Istilah remaja dikenal dengan adolesence, yang berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa (Hurlock, 1980). Batasan usia remaja yang umum adalah 12-21 tahun.
Kecendrungan berperilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis (Sarwono, 2004). Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam mulai dari perasaan tertarik sampai berkencan, bercumbu dan bersenggama. Obyek seksualnya dapat orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri.
Media massa adalah alat-alat komunikasi yang dirancang untuk menjangkau sejumlah besar orang. Fungsinya adalah untuk memberikan informasi, pengetahuan, pemahaman dan pengalaman. Bisa juga untuk mempererat hubungan keluarga dan fungsi sebagai pelarian dan pengalihan (Hernandez, 2007).
Pornografi adalah setiap tulisan atau gambar yang ditulis atau digambar dengan maksud sengaja untuk merangsang seksual. Pornografi adalah segala apa saja yang dengan sengaja disajikan dengan maksud untuk merangsang nafsu seks orang banyak (Lesmana, 1995).
Konsumsi Media pornografi adalah penggunaan semua bentuk media, dalam bentuk sarana, alat, sarana komunikasi yang isinya mengandung unsur pornografi. Baik itu media cetak, media elektronik dan dalam bentuk mainan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar