Senin, 22 November 2010

HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS KEBUTUHAN SPIRITUAL DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA YANG TINGGAL DI PANTI SOSIAL

1. Lanjut Usia
a. Batasan lanjut usia
Beberapa pendapat mengenai batasan usia lanjut, Nugroho, 2000 : menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) : usia pertengahan (middle age) yaitu usia antara 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) yaitu usia antara 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old) yaitu usia antara 75 sampai 90 tahun dan usia sangat tua (very old) yaitu usia di atas 90 tahun.
Sumiati Ahmad, 1998 cit Nugroho, 2000, merupakan guru besar Universitas Gadjah Mada pada fakultas kedokteran, membagi periodisasi biologis perkembangan manusia sebagai berikut: 0 – 1 tahun merupakan masa bayi, 1 – 6 tahun adalah masa pra sekolah, 6 – 10 tahun adalah masa sekolah, 10 – 20 tahun merupakan masa pubertas, 20 – 40 tahun adalah masa dewasa, 40 – 65 tahun adalah masa setengah umur (presenium) dan 65 tahun keatas merupakan masa lanjut usia (senium).
b. Perubahan yang terjadi pada lansia
Beberapa perubahan yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka yaitu :
1) Penurunan kondisi fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan pada orang lain. Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang (Zainudin, 2002).
Selanjutnya Mubarak, 2006 menegaskan perubahan kondisi fisik pada lansia dibagi menjadi dua: a) perubahan secara mikro perubahan yang terjadi dalam sel seperti: berkurangnya cairan dalam sel, berkurangnya besarnya sel, berkurangnya jumlah sel; b) perubahan secara makro atau perubahan yang jelas dapat diamati atau terlihat seperti: mengecilnya kelenjar mandibula, menipisnya discus intervertebralis, erosi pada permukaan sendi-sendi, terjadinya osteoporosis, otot-otot mengalami atropi, sering dijumpai adanya emphysema polmonum, presbiopi, adanya arteriosklerosis, menopouse pada wanita, adanya dementia senilis, kulit tidak elastis lagi, rambut memutih.
2) Perubahan aspek psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan prilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (kognitif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan (Zainudin, 2002).
Selain perubahan secara fisiologis, Mubarak, 2006 mengemukakan perubahan yang terjadi pada lanjut usia juga meliputi perubahan mental, perubahan psikososial dan perkembangan spiritual. Pada bidang mental atau psikis pada lanjut usia, perubahan dapat berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah curiga, bertambah pelit atau tamak bila memiliki sesuatu. Yang perlu dimengerti adalah sikap umum yang ditemukan pada hampir setiap lanjut usia, yakni keinginan berumur panjang, tenaganya sedapat mungkin dihemat, mengharapkan tetap diberi peranan dalam masyarakat. Ingin mempertahankan hak dan hartanya, serta ingin tetap berwibawa. Jika meninggal pun, mereka ingin meninggal secara terhormat dan masuk surga.

3) Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua, namun dalam kenyataan sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada poin tiga di atas (Mubarak, 2006).
Menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental setelah lansia sangat tergantung pada sikap mental individu dalam menghadapi masa pensiun. Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing individu, baik positif maupun negatif (Mubarak, 2006).
Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh gaji penuh. Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan terarah bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan assessment untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan yang jelas dan positif. Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta, cara membuka usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya (Zainudin, 2002).
Nilai seseorang sering diukur melalui produktivitas dan identitasnya dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila mengalami pensiun (purnatugas), seseorang akan mengalami kehilangan antara lain: a) kehilangan finansial (pendapatan berkurang); b) kehilangan status (dulu mempunyai jabatan/posisi yang cukup tinggi, lengkap dengan semua fasilitas); c) kehilangan teman/kenalan atau relasi; d) kehilangan pekerjaan/kegiatan; e) timbul kesepian akibat pengasingan dari lingkungan social; f) hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik (perubahan terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri) (Nugroho, 2008).
4) Perubahan dalam peran sosial di masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tidak berguna serta merengek-rengek dan menangis bila bertemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil (Zainudin, 2002).
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia yang mamiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangan sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar. Disinilah pentingnya ada panti werdha sebagai tempat untuk pemeliharaan dan perawatan bagi lansia di samping sebagai long stay rehabilitation yang tetap memelihara kehidupan bermasyarakat. Disisi lain perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa hidup dan kehidupan dalam lingkungan sosial Panti Werdha adalah lebih baik dari pada hidup sendirian dalam masyarakat sebagai seorang lansia (Zainudin, 2002).
c. Manusia atau lansia sebagai makhluk holistik
Menurut Asmadi, 2008, manusia sebagai makhluk holistik meliputi bio-psiko-sosial–spiritual–kultural. Ini menjadi prinsip keperawatan yang diberikan harus memperhatikan aspek tersebut. Klien atau lansia yang dirawat harus mendapatkan perhatian bukan hanya pada aspek biologis, tetapi juga aspek-aspek yang lain. Sebagai makhluk holistik, manusia utuh dilihat dari aspek jasmani dan rohani, unik, serta berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, terus-menerus menghadapi perubahan lingkungan dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan.
Manusia sebagai makhluk bio, bio berasal dari kata bios yang artinya hidup. Manusia sebagai makhluk psiko, psiko berasal dari kata psyche yang artinya jiwa, menurut Aristoteles, jiwa berarti kekuatan hidup. Jadi, manusia sebagai makhluk psiko, artinya manusia adalah makhluk yang berjiwa. Manusia sebagai makhluk sosial, sejak lahir manusia tumbuh dan berkembang memerlukan bantuan orang lain. Manusia sebagai makhluk spiritual, sebagai makhluk spiritual mempunyai hubungan dengan kekuatan di luar dirinya, hubungan dengan Tuhannya dan mempunyai keyakinan dalam hidupnya. Keyakinan yang dimiliki seseorang akan berpengaruh terhadap perilakunya. Misalnya, pada individu yang meyakini bahwa penyakit disebabkan oleh pengaruh “roh jahat”. Ketika seseorang sakit, upaya pertolongan pertama yang dilakukan adalah mendatangi dukun. Mengingat besarnya pengaruh keyakinan terhadap kehidupan seseorang, perawat harus memotivasi klien untuk senantiasa memelihara kesehatannya (Asmadi, 2008).
2. Aktivitas kebutuhan spiritual
a. Definisi aktivitas spiritual
Aktivitas menurut Nuswantari, 1998, adalah kualitas atau proses penggunaan energi untuk penyelesaian suatu efek sedangkan spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta (Hamid, 2000). Menurut Koezier & Wilkinson, 1993 cit Hamid, 2000, dimensi spiritual adalah upaya untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapat kekuatan ketika sedang menghadapi stres emosional, penyakit fisik atau kematian. kekuatan yang timbul diluar kekuatan manusia.
Aktivitas dan spiritual dari beberapa teori dapat disimpulkan bahwa aktivitas kebutuhan spiritual adalah kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan spiritual guna mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa demi mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf. Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi maka akan menimbulkan verbalisasi distress dan perubahan perilaku, jika kondisi ini tidak segera ditangani maka akan mengakibatkan Perasaan bersalah, rasa takut, depresi dan ansietas. Contoh aktivitas spiritual antara lain: melakukan hal-hal yang berhubungan dengan beribadah (berdoa, pergi ketempat beribadah, berpuasa, berdoa bersama atau pengajian, membaca kitab suci atau al’quran dan lain-lain)
b. Kebutuhan spiritual
Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan Tuhan. dapat disimpulkan kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf. (Hamid, 2000)
c. Karakteristik spiritualitas
Karakteristik spiritualitas yaitu : 1) hubungan dengan diri sendiri (kekuatan dalam atau self-reliance) meliputi: pengetahuan diri (siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya) dan sikap (percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan/masa depan, ketenangan pikiran, harmoni atau keselarasan dengan diri sendiri; 2) hubungan dengan alam (harmoni) meliputi: mengetahui tentang tanaman, pohon, margasatwa, iklim dan berkomunikasi dengan alam (bertanam, berjalan kaki), mengabadikan dan melindungi alam; 3) hubungan dengan orang lain (harmonis atau suportif) meliputi: berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik, mengasuh anak, orang tua dan orang sakit, serta meyakini kehidupan dan kematian (mengunjungi, melayat dll), dikatakan tidak harmonis apabila: konflik dengan orang lain, resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi; 4) hubungan dengan ketuhanan (agamais atau tidak agamais) meliputi: sembahyang atau berdoa atau meditasi, perlengkapan keagamaan dan bersatu dengan alam (Hamid, 2000).
Secara ringkas dapat dinyatakan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritualnya apabila mampu : 1) merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaannya di dunia/kehidupan; 2) mengembangkan arti penderitaan dan meyakini hikmah dari suatu kejadian atau penderitaan; 3) menjalin hubungan positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa percaya dan cinta; 4) membina integritas personal dan merasa diri berharga; 5) merasakan kehidupan yang terarah terlihat melalui harapan; 6) mengembangkan hubungan antar manusia yang positif (Hamid, 2000).
d. Perkembangan spiritual
Perkembangan spiritual usia pertengahan menurut Hamid, 2000 yaitu: lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk kegiatan agama dan berusaha untuk mengerti nilai-nilai agama yang diyakini oleh generasi muda.
Perasaan kehilangan karena pensiun dan tidak aktif serta menghadapi kematian orang lain (saudara, sahabat) menimbulkan rasa kesepian dan mawas diri. Perkembangan filosofis agama yang lebih matang sering dapat membantu orang tua untuk menghadapi kenyataan, berperan aktif dalam kehidupan dan merasa berharga serta lebih dapat menerima kematian sebagai sesuatu yang tidak dapat menerima kematian sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak atau dihindarkan (Hamid, 2000).
e. Manifestasi perubahan fungsi spiritual
Berbagai perilaku dan ekspresi yang dimanifestasikan lansia seharusnya diwaspadai oleh perawat, karena mungkin saja klien sedang mengalami masalah spiritual.
Hamid, 2000, klien atau lansia yang mengalami masalah spiritual dapat menimbulkan perubahan yaitu : verbalisasi distress, individu yang mengalami gangguan fungsi spiritual biasanya memverbalisasikan distres yang dialaminya atau mengekspresikan kebutuhan untuk mendapatkan bantuan. Misalnya seorang isteri mengatakan : “Saya merasa bersalah karena saya seharusnya mengetahui lebih awal bahwa suami saya mengalami serangan jantung.” Biasanya klien meminta perawat untuk berdoa bagi kesembuhannya atau memberitahukan kepada pemuka agama untuk mengunjunginya. perawat juga perlu peka terhadap keluhan klien tentang kematian atau merasa tidak berharga dan kehilangan arti hidup. kepekaan perawat sangat penting dalam menarik kesimpulan dari verbalisasi klien tentang distres yang dialami klien.
Perubahan perilaku merupakan manifestasi gangguan fungsi spiritual. Klien yang merasa cemas dengan hasil pemeriksaan atau menunjukkan kemarahan setelah mendengar hasil pemeriksaan mungkin saja sedang menderita distres spiritual. Ada yang bereaksi dengan perilaku mengintrospeksi diri dan mencari alasan terjadinya suatu situasi tersebut, namun ada yang bereaksi secara emosional dan mencari informasi serta dukungan dari keluarga atau teman. Perasaan bersalah, rasa takut, depresi dan ansietas mungkin menunjukkan perubahan fungsi spiritual (Hamid, 2000).
f. Perkembangan spiritual yang terjadi pada lanjut usia
Mubarak et.al, 2006, perkembangan spiritual yang terjadi pada lanjut usia antara lain: 1) agama/kepercayaan semakin terintegrasi dalam kehidupan; 2) lanjut usia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari.
Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Fowler : universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berfikir dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan keadilan.
3. Depresi
a. Definisi depresi
Depresi menurut Hawari, 2007, adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality Tasting Abilit atau RTA, masih baik), keperibadian tetap utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian atau spilintting of personality) perilaku dapat terganggu tetapi dalam batas-batas normal.
Stuart (2006), depresi atau melankolia adalah suatu kesedihan dan perasaan yang berkepanjangan atau abnormal. Dapat digunakan untuk menunjukkan berbagai fenomena, seperti tanda, gejala, sindrom, emosional, reaksi.
b. Gejala depresi
Gejala depresi menurut Safaria, 2005, adalah terdapat mood depresif seperti sedih, murung, kehilangan semangat, jatuh dalam kesedihan dan rasa rendah diri. bisa juga hilang minat atau rasa senang secara nyata dalam seluruh atau hampir semua aktivitas yang biasanya dilakukan dalam waktu senggang. Selama periode depresif terdapat paling sedikit tiga dari gejala-gejala berikut : 1) insomnia atau hipersomnia; 2) lesu atau keluhan kronik; 3) perasaan kurang mampu, rendah diri atau mencela diri sendiri; 4) berkurangnya efektivitas atau produktivitas; 5) berkurangnya konsentrasi, perhatian, atau kemampuan berpikir jernih; 6) menarik diri dari pergaulan sosial; 7) kehilangan minat atau kemampuan menikmati setiap aktivitas yang tadinya menyenangkan; 8) iritabilitas atau marah yang berlebihan; 9) tidak mampu menanggapi pujian atau penghargaan dengan perasaan senang; 10) kurang aktif atau kurang berbicara dari biasanya atau merasa lamban atau gelisah; 11) bersikap pesimistis terhadap masa depan, menyesali peristiwa masa lampau atau mengasihani diri sendiri; 12) mata berlinang atau menangis; 13) pikiran yang berulang tentang kematian atau bunuh diri.
Sedangkan menurut Maslim, 1998, gejala depresi dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1) Gejala utama depresi terdiri dari: afek depresi, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju meningkatkan keadaan mudah lelah (lelah yang nyata sesudah sedikit kerja) dan menurunnya aktivitas.
2) Gejala lainnya antara lain : konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri yang berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistik, gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan berkurang.
c. Derajat depresi
Derajat depresi menurut Maslim, 2002, dibagi menjadi 3 (tiga) tingkatan yaitu :
1) Depresi ringan terdiri dari: harus ada 2 atau 3 gejala utama depresi, ada 2 atau lebih gejala lain, lamanya episode sekitar 2 minggu.
2) Depresi sedang terdiri dari: harus ada 2 atau 3 gejala utama depresi, terdapat 2 atau 4 gejala lain, lamanya episode sekitar 2 minggu, menghadapi kesulitan yang nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan rumah tangga.
3) Depresi berat terdiri dari: semua 3 gejala depresi harus ada, minimal 4 gejala lainya, bila ada gejala penting yang mencolok, maka penderita tidak mampu untuk melapor secara rinci, episode minimal 2 minggu, penderita tidak mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga.
d. Faktor predisposisi dan presipitasi
Faktor predisposisi dan presipitasi terjadinya depresi menurut Stuart, 2006, antara lain :
1) Faktor predisposisi
a) Faktor genetik, mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan dan riwayat keluarga.
b) Teori agresi berbalik pada diri sendiri, mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.
c) Teori kehilangan menunjukkan adanya perpisaan yang bersifat traumatis dengan orang yang sangat dicintai.
d) Teori kepribadian menggambarkan bagaimana diri yang negative dan harga diri yang rendah mempengaruhi kepercayaan dan penilaian stressor.
e) Teori kognitif mengemukakan bahwa depresi adalah masalah kognitif yang didominasi oleh penilaian negative terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan.
f) Model ketidak berdayaan yang dipelajari mengemukakan bahwa bukan trauma yang menghasilkan depresi, tetapi keyakinan individu akan ketidakmampuannya mengontrol kehidupannya. Oleh karena itu, individu tidak berupaya mengembangkan respon yang adaptif.
g) Model perilaku bersalah dari pengalaman belajar di masa lalu, depresi dianggap terjadi karena kurangnya reinforcement positif selama berinteraksi dengan lingkungan.
h) Model biologi menggambarkan perubahan kimiawi di dalam tubuh yang terjadi pada keadaan depresi, termasuk defisiensi dari ketokolamin, tidak berfungsinya endokrin, hipersekresi kortisol.
2) Faktor presipitasi
a) Kehilangan kasih sayang yang nyata, termasuk kehilangan cinta, seseorang, fungsi tubuh, status atau harga diri.
b) Kejadian penting dalam kehidupan sering kali dilaporkan sebagai keadaan yang mendahului depresi dan mempunyai dampak pada masalah saat ini dan kemampuan individu untuk menyelesaikan masalahnya.
c) Banyaknya peran dan konflik peran dilaporkan mempengaruhi berkembangnya depresi, terutama pada wanita.
d) Sumber koping termasuk status sosial ekonomi, keluarga, hubunhan interpersonal dan organisasi kemasyarakatan.
e) Perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma dan ketidakseimbangan metabolisme dapat menimbulkan gangguan alam perasaan. khususnya obat-obatan anti hipertensi dan penggunaan zat adiktif.
e. Skala pengkajian depresi pada lansia
Skala depresi geriatrik bentuk singkat adalah 15 pertanyaan dari 30 pertanyaan, skala depresi geriatrik merupakan instrumen tepat yang disusun secara khusus untuk digunakan pada lansia untuk menentukan depresi. Jawaban pertanyaan sesuai indikasi dinilai poin 1. Nilai 5 atau lebih dapat menandakan depresi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar