November 23, 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PANKREATITIS KRONIK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PANKREATITIS KRONIK

A. PENGERTIAN
Pankreatitis kronik adalah kerusakan yang permanen dan progresif pada pankreas dimana jaringan yang normal diganti oleh jaringan fibrosis. Penyakit pankreatitis kronik dapat juga berkaitan dengan insufisiensi kronik dari hormon pankreas. (Phipps, dkk ; 1995 : 1378).
Pankreatitis kronik adalah kelaianan inflamasi yang ditandai oleh kehancuran anatomis dan fungsional yang progresif pada pankreas. (Brunner dan Suddarth; 2000 : 1348).

B. ETIOLOGI
 Penyebab utama pankreatitis kronik pada oranmg dewasa dalah alkoholisme.
 Pada anak – anak dihubungkan dengan styptic fibrosis.
 Penyebab lain : trauma, pembedahan lambung atau pankreasn neoplasma pada pankreas, duodenum serta malnutrisi protein dan kalor yang berat.

C. PATHOFISIOLOGI
Pathofisiologi pankreatitis kronik sama dengan pankreatitis akut. Namun lebih jelasnya dapat dilihat pada skema berikut :












































D. GEJALA KLINIS PANKREATITIS KRONIK
Nyeri terjadi pada kuadran kanan atau kiri atas, belakang dan sepanjang abdomen. Nyeri hebat dan menetap. Sedangkan tanda lain dapat dilihat pada skema diatas.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Leukositosis, bilirubin dan alkalifosfate tinggi jika ada obstruksi.
 Tes cairan bikarbonat.
 Tes bentiromide merupakan tes indirect terhadap sekresi kapasitas pankreas.
 Tes urine.
 X – ray.
 USG.
 CT – scan abdomen.
 ERCP.

F. MANAJEMEN MEDIK
Sama dengan manajemen medik pada pankreatitis akut, namun penanganan nyeri lebih diutamakan atau didahulukan. Therapinya meliputi :
1. Obat – obatan untuk menghilangkan nyeri : narkotik analgesik, jika therapi ini tidak berhasil maka dilakukan ERCP.
2. Obat – obatan yang digunakan adalah untuk menurunkan sekresi eksokrin pankreas : somastostatin, antibiotika prophylactic system, inhibitor phospholipase alfa, dan bisa juga dilakukan bilas peritoneal untuk menghilangkan toksin, kimia atau cegah komplikasi.
3. Infus dan cairan untuk mempertahankan cairan dalam tubuh.

G. MANAJEMEM KEPERAWATAN
Untuk pasien dengan pankreatitis kronik pengkajian sama seperti yang digambarkan pada pankreattitis akut. Dalam hal ini diagnosa keperatawan, kriteri evaluasi dan intervensinya sama. Tetapi untuk pasien dengan pankreatitis kronik mempunyai 4 diagnosa utama yang merupakan fokus dari doagnosa keperawatan. Fokus utama keperawatan pada pasien pankreatitis kronik adalah nyeri. Ini memerlukan pengontrolan nyeri yang adekuat dan pemberian analgesik merupakan pilihan utama. Sedangkan tindakan alternatif lainnnya adalah dilakukan relaksasi atau masase, hindari alkohol, dapat membantu mengontrol nyeri.

H. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
• Riwayat : mungkin mempunyai masalah penyalahgunaan alkohol atau penyakit batu empedu.
• Nyeri lokasi : klien mengeluh nyeri daerah epigastrik yang menyebar ke belakang, nyeri abdomen kuadran atas atau nyeri perut menyeluruh, yang menggambarkan nyeri menetap dan menembus. Derajat beratnya didapat dari distress yang ringan sampai nyeri berat kemungkinan mengeluh serangan nyeri setelah makan yang banyak (pankreatitis batu empedu) atau minum minuman kera (pankreatitis akibat alkohol). Dapat mengambil posisi duduk dan posisi bersandar ke depan untuk mengurangi nyeri, ekspresi wajah mungkin menunjukan nyeri serta gelisah.
• Gastrointestinal : mengeluh mual dan muntah, bunyi usus besar mungkin hipoaktif, abdomen membesar.
• TTV : demam, takikardia, takipnea, hipotensi.
• Balance cairan dan elektreolit : terjadi penurunan turgor kulit, oliguria, membran mukosa kering, pusing, lemah, bingung, kram di kaki dan tangan, hiponatremia, hipokalemia.

b. Diagnosa
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi pankreas.
DS : pasien mengeluh nyeri abdomen menetap bagian atas / umum dan menyebar ke belakang.
DO : ekspresi wajah menunjukan nyeri, duduk dan bersandar ke depan, abdomen terasa lembut.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d nausea, muntah, malabsorpsi.
DS : anoreksia rasa mual dan muntah.
DO : gambaran mukosa kering, kulit kering, keriput, rambut rontok, BAB dengan faeses bercampur lemak, lesu.
3. Inefektif koping individu b.d alkohol abuse
DS : pasien mengatakan selalu mengkonsumsi alkohol.
DO : kesulitan menyampaikan tujuan yang tepat, riwayat pemakai alkohol, menyangkal ada hubungan antara intake alkohol dengan penyakitnya.

c. Perencanaan
Tujuan
Dx. 1 : Pasien akan bebas dari nyeri dan merasa nyaman yang ditandai dengan pasien mengatakan nyeri dapat diatasi, ekspresi wajah tidak menunjukan nyeri, palapsi abdomen menunjukan tidak ada keluhan nyeri, pasien tidak membutuhkan analgesik.
Dx. 2 : Pasien akan mempertahankan pola nutrisi yang adsekuat yang ditandai dengan pasien menunjukan tidak ada mual muntah saat makan, tidak mengalami steatore, berat badan kembali normal.
dx. 3 : Pasien akan membentuk strategi yang efektif untuk koping stress dan penyakitnya yang ditandai dengan pasien dapat mengidentifikasi kebutuhannya dalam mengurangi konsumsi alkohol yang berlebihan.

d. Implementasi
DX. 1
 Monitor terhadap meningkatnya nyeri yang hebat dan respon terhadap analgesik.
R/ Nyeri yang hebat menunjukan adanya komplikasi.
 Beri analgesik seperti meperidine (demerol) sesuai order dan kebutuhan.
R/ Nyeri yang hebat memerlukan narkotik meperidine yang banyak mengandung morfin dimana menyebabkan spasme jaringan.
 Pertahankan status NPO sampai nyeri berkurang. Masukan selang NGT sesuai order, pertahnkan posisinya.
R/ Pemberian nutrisi per oral merangsang sekresi pankreatik yang menyebabkan injuri pada pankreatik. Suction NTG untuk mengurangi drainase gastrik ke dalam duodenum, mengurangi stimulus pada sekresi pankreatik.
 Beri somatostatin sesuai order.
R/ Somatostatin mengurangi sekresi pankreati dan membantu mengatasi injuri.

DX. 2
 Monitor BB pasien intake nutrisi dan indikator dari perubahan status nutrisi.
R/ Memberitahu secara tepat mengenai kurang nutrisi untuk mempermudah intervensi selanjutnya.
 Bila pasien kembali makan melalui mulut, kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet TKTP.
R/ Mempertahankan BB dan keseimbangan nitrogen positif dan meningkatkan kesehatan.
 Untuk pasien yang pankreatitis kronik observasi tanda insufisiensi eksokrin (misalnya penurunan BB, steatore).
R/ Pankreatitis kronik disebabkan oleh penurunan fungsi kelenjar eksokrin yang diakibatkan oleh penurunan produksi enzim.
 Beri enzim eksogenous pankreatik sesuai order.
R/ Enzim eksogenous dibutuhkan untuk pencernaan nutrisi bila penyakit mengganggu eksokrin pankreas.
 Monitor kadar glukosa darah, dan beri insulin sesuai order.
R/ Produksi insulin dapat berkurang pada pasien pankreatitis kronik, eksogenous insulin dibutuhkan untuk meningkatkan metabolisme glukosa dan mencegah gangguan metabolisme.
DX. 3
 Beri informasi tentang hubungan antara intake alkohol yang berlebihan dan pankreatitis.
R/ Pasien dapat membuat keputusan tentang intake alkohol yang terus menerus.
 Memberikan konseling.
R/ Pemberian konseling membantu pasien mengekspresikan perasaannya tentang identifikasi dan pokok persoalan, pertimbangkan pilihan yang ada hubungan dengan pokok persoalan.
 Rujuk pasien ke kelompok yang membantu memberi dukungan seperti anti alkohol.
R/ Partisipasi keluarga dapat membantu pasien mengurangi rasa terisolasi.

e. Evaluasi
 Pasien menunjukan tidak ada nyeri abdomen.
 Pasien dapat mempertahankan BB yang ideal.
 Pasien dapat menentukan strategi yang efektif untuk koping terhadap stressor dan penyakitnya.

I. PENDIDIKAN KESEHATAN
Jelaskan penyebab pankreatitis pada pasien dan tindakan untuk mengurangi resiko terserang kembali.
Tekankan pentingnya diet rendah lemak, menghindari makan makanan yang banyak dan menghindari alkohol.
Biarkan pasien dan keluarga untuk mendiskusikan masalah mereka serta berikan penyuluhan dukungan emosional.

PENUTUP

Kesimpulan
Pankreatitis kronik adalah kelainan inflamasi yang ditandai oleh kehancuran anatomi dan fungsional yang progresif pada pankreas.
Adapun penyebab yang menimbulkan terjadinya pankreatitis kronik : konsumsi alkohol yang berlebihan khususnya pada orang dewasa dan pada anak – anak dihubungkan dengan styptic fibrosis serta penyebab lainnya adalah trauma, pembedahan lambung taau pankreas, neoplasam pada pankreas, duodenum serta malnutrisi protein dan kalori yang berat. Inflamasi ini menyebabkan nyeri yang hebat di daerah abdomen bagian atas kiri atau kanan, belakang atau seluruh abdomen.
Untuk mengurangi nyeri dianjurkan kepada paisen dan keluarga pentingnya menghindari konsumsi alkohol serta makan lain yang oleh pasien sendiri dirasakan cenderung menimbulkan nyeri dan gangguan rasa nyaman pada abdomen.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth, 2000, “ Keperawatan Medikal Bedah “, EGC:Jakarta

Dorothy B. Daugty, 1997, “ Gastrointestinal Disorder “, Mosby Year Book : Toronto

Phipps, dkk, 1995, “ Medical surgical Nursing “, ed. 4 th , Mosby Year Book : Toronto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar