November 22, 2010

ASKEP CANCER CERVIX

Pengertian
Karsinoma serviks atau kanker serviks adalah tumor ganas paling sering ditemukan pada sistem reproduksi wanita. Kanker serviks merupakan penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya.

Etiologi
Sampai saat ini belum ada yang dapat memastikan penyebab langsung kanker serviks, namun ada beberapa faktor yang diduga berhubungan yakni :
• infeksi virus Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 atau tipe 18
• jarang ditemukan pada wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual
• wanita yang coitus pertama dialami pada usia amat muda (<16 tahun) • paritas yang tinggi • jarak persalinan terlampau dekat • hygiene seksual yang jelek • promiskuitas • jarang dijumpai pada masyarakat yang suaminya disunat (sirkumsisi) • wanita yang mempunyai kebiasaan merokok Klasifikasi Tingkat Kriteria 0 Karsinoma insitu (KIS) karsinoma intra epitel: membrana basalis masih utuh. I Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri. Ia Karsinoma mikro infasif; bila membrana basalis sudah rusak dan sel tumor sudah memasuki stroma tak > 3mm, dan sel tumor tidak terdapat dalam pembuluh limfa atau pembuluh darah.
Ib occ (Ib occult = Ib yang tersembunyi) secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma, tetapi pada pemeriksaan histologi, ternyata sel tumor telah mengadakan invasif stoma melebihi Ia.
Ib Secara klinis sudah diduga adanya tumor yang histologik menunjukkan invasi ke dalam stroma serviks uteri.
II Proses keganasan sudah keluar dari serviks dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan / ke parametrium, tetapi tidak sampai dinding panggul.
IIa Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari inviltrat tumor
IIb Penyebaran ke parametrium, uni/bilateral tetapi belum sampai dinding panggul.
III Penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul.
IIIa Penyebaran sampai ke 1/3 bagian distal vagina sedang ke parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.
IIIb Penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul (froozen pelvic) atau proses pada tingkat klinik I atau II, tetapi sudah ada gangguan faal ginjal.

Tingkat Kriteria
IV Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum dan atau kandung kemih (dibuktikan secara histologik), atau telah terjadi metastasis keluar panggul atau ke tempat-tempat yang jauh.
IVa Proses sudah keluar dari panggul kecil, atau sudah menginfiltrasi mukosa rektum dan/ kandung kemih.
IVb Telah terjadi penyebaran jauh.

Patologi
(Tolong buatkan ya....g sempat je....hehe...)

Manifestasi klinis
1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina.
2. Perdarahan setelah sanggama yang menjadi perdarahan yang abnormal.
3. Timbulnya perdarahan setelah menopause.
4. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan,berbau dan dapat bercampur dengan darah.
5. Anemia bila terjadi perdarahan kronis.
6. Nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah .
7. Pada stadium lanjut badan menjadi kurus kering karena kurang gizi.

Prognosis
• Stadium 0 : 100 % penderita akan sembuh.
• Stadium 1 :
Pada stadium Ia sebesar 95%. Untuk stadium Ib sebesar 70 sampai 90%.
• Stadium 2 :
Pada stadium IIa sebesar 70 - 90%. Untuk stadium IIb sebesar 60 sampai 65%.
• Stadium 3
Prognosisnya sekitar 30-50%
• Stadium 4
Prognosisnya sekitar 20-30%

Pemeriksaan Medis
1. Pap Smear Test
Pap smear test dilakukan mulai pertama kali melakukan hubungan seksual sampai mur 70 tahun jika dari hasil pemeriksaan sebelumnya tidak ada hasil test yang abnormal.
2. Kolposkopi
Pemeriksaan kolposkopi sebaiknya dilakukan antara hari ke-8 dan ke-13 siklus (lendir serviks jernih).

Diagnosis
Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologik dari jaringan yang diperoleh dengan melakukan biopsi.

Penatalaksanaan
• Pada tingkat klinik Ia, Penangan pada tingkat ini sama seperti pada tingkat klinis yakni bopsi kerucut (conebiopsy). Namun ostium uteri internum tidak boleh sampai rusak karena biopsi. Bila penderita sudah cukup tua atau sudah mempunyai anak, uterus tidak boleh ditinggalkan, agar tidak kambuh dapat dilakukan histerektomi sederhana (simple vaginal hysterectomy).
• Pada tingkat klinik Ib, Ib occ dan IIa dilakukan histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul. Pasca bedah biasanya dilanjutkan dengan penyinaran.
• Pada tingkat klinik IIb, III, IV tidak dibenarkan melakukan tindakan pembedahan dan segera dikirim ke pusat penanggulangan kanker.
• Pada tingkat klinik IVa dan IVb tindakan penyinaran hanya bersifat paliatif. Bilamana proses sudah jauh dan operasi tidak mungkin dilakukan maka dilakukan khemoterapi.

Pencegahan
Beberapa hal lain yang dapat dilakukan dalam usaha pencegahan terjadinya kanker serviks antara lain :
 Vaksin HPV
 Penggunaan kondom
 Sirkumsisi pada pria


Asuhan Keperawatan
Pengkajian
• Data Subjektif :
 Vaginal discharge (sekresi vagina) : mula-mula sekresi vagina encer seperti air yang kemudian menjadi kehitam-hitaman dan bau, bloody spotting terutama waktu melakukan coitus, intermittent metrorhagia, menstruasi yang banyak atau menstruasi yang panjang.
 Nyeri : pada pelvis, bokong, lumbal,abdomen, kaki dan nyeri waktu coitus.
 Eliminasi : konstipasi
 Keluhan umum : anoreksia, berat badan menurun, cepat lelah.
• Data Objektif :
 Serviks : pemeriksaan colposcopic menunjukkan erosi epithelium, nampak lesi, sekresi vagina yang bau, serviks membesar atau berbentuk seperti drum (barrel sahped), serviks teraba keras waktu palpasi.
 Eliminasi : hematuria atau perdarahan dari rektum. Pada pemeriksaan rektal akan teraba masa (tahap akhir).
 Abdomen : rigiditas (kekakuan) abdomen.
 Edema : edema terdapat pada sepanjang kaki, salah satu kaki bisa lebih besar.

Diagnosa
a). Nyeri berhubungan dengan proses desakan pada jaringan intra servikal.
b). Resiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan intraservikal.
c). Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nafsu makan.
d). Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan ancaman kematian.
e). Konstipasi berhubungan dengan perubahan diet, pengobatan.
f). Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kerontokan rambut, edema.
g). Disfungsi seksual berhubungan dengan nyeri pada saat melakukan coitus.

Intervensi
a). Nyeri berhubungan dengan proses desakan pada jaringan intra servikal.
NOC :
1). Pasien menunjukkan rasa nyeri dengan menggunakan skala nyeri (0-10).
2). Pasien mampu mengenali faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan mengurangi nyeri.
3). Pasien mampu menunjukkan secara verbal pengetahuan tentang cara alternatif untuk mengurangi nyeri.
4). Pasien mampu menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan.
NIC :
1). Bantu klien mengidentifikasi tingkat nyeri dengan menggunakan skala nyeri.
2). Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan/ durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri dan faktor presipitasinya.
3). Gunakan lembar alur nyeri untuk memantau pengurangan nyeri dari analgesik dan kemungkinan efek sampingnya.
4). Diskusikan kepada klien dan keluarga bahwa nyeri dapat dikontrol namun tidak dapat dihilangkan secara total.
5). Informasikan pada pasien tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, seberapa lama akan berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan.
6). Perbaiki salah persepsi tentang analgesik narkotik/ opioid (resiko ketergantungan atau overdosis).
7). Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi.
8). Laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil.

b). Resiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan intraservikal.
NOC :
a). Perdarahan intra servikal berkurang.
b). Pasien akan memiliki hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal.
NIC :
a). Pantau perdarahan (warna dan jumlah darah yang keluar).
b). Pantau hasil laboratorium (kadar Hb dan Ht).
c). Ajarkan pasien dan keluarga untuk segera melapor jika terjadi perdarahan.
d). Berikan terapi IV sesuai anjuran.
e). Atur ketersediaan produk darah untuk transfusi (jika diperlukan).
c). Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nafsu makan
NOC :
1). Pasien mampu mempertahankan berat badan dalam batas normal.
2). Pasien mengatan keinginan utnuk mengikuti diet.
3). Pasien mau mengkonsumsi makanan diet yang seimbang.
4). Pasien melaporkan keadekuatan tingkat energi.
NIC :
1). Identifikasi faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap hilangnya nafsu makan.
2). Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya.
3). Berikan makanan yang bergizi, tinggi kalori dan bervariasi yang dapat dipilih.
4). Tawarkan kudapan (misalnya minuman dan buah-buahan segar/ juice buah-buahan), bila memungkinkan.
5). Berikan umpan balik positif pada pasien yang menunjukkan peningkatan nafsu makan.
d). Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan ancaman kematian.
NOC :
Ansietas berkurang, dibuktikan dengan mampu mengontrol ansietas dan menggunakan koping.
NIC :
1). Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
2). Pantau tanda dan gejala ansietas (misalnya tanda vital, nafsu makan, pola tidur dan tingkat konsentrasi).
3). Identifikasi dan dukung strategi koping yang biasa digunakan oleh pasien.
4). Berikan informasi tentang penyakit dan prognosis pasien.
5). Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaannya pada orang yang penting bagi pasien.
6). Instruksikan pasien tentang penggunaan teknik relaksasi.
7). Dukung kebutuhan spiritual pasien.
e). Konstipasi berhubungan dengan perubahan diet, pengobatan
NOC :
Pasien melaporkan keluarnya feses dengan berkurangnya nyeri dan mengejan.
NIC :
1). Dapatkan data dasar tentang aktifitas, pengobatan dan program defekasi.
2). Ajarkan pada pasien tentang tentang efek diet (misalnya, cairan dan serat pada eliminasi).
3). Ajarkan kepada pasien dan keluargauntuk mempunyai catatan harian makanan.
4). Konsultasikan kepada ahli gizi untuk meningkatkan cairan dan serat dalam diet.
f). Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kerontokan rambut, edema.
NOC :
1). Gangguan citra tubuh berkurang yang ditunjukkan dengan citra tbuh yang positif.
2). Pasien dapat mengidentifikasi kekuatan personal
3). Pasien mengerti terhadap dampak dari situasi hubungan antara keberadaan personal dengan gaya hidup.
NIC :
1). Kaji dan dokumentasikan respon verbal dan non verbal pasien tentang tubuh pasien.
2). Identifikasi cara-cara untuk mengurangi dampak dari segala kesalahan penggambaran melalui berpakaian, rambut palsu atau kosmetik, sesuai dengan kebutuhan.
3). Bantu pasien/ keluarga untuk mengidentifikasi mekanisme koping dan kekuatan personal dan pengakuan keterbatasan.
g). Disfungsi seksual berhubungan dengan nyeri pada saat melakukan coitus.
NOC :
1). Pasien/ pasangan menunjukkan adanya keinginan untuk mendiskusikan perubahan pada fungsi seksual.
2). Pasien/ pasangan meminta informasi yang dibutuhkan tentang perubahan pada fungsi seksual.
NIC :
1). Berikan waktu dan privasi untuk membahas permasalahan seksual.
2). Diskusikan efek penyakit/ keadaan kesehatan terhadap seksualitas.
3). Diskusikan tentang pentingnya modifikasi dalam aktifitas seksual,jika diperlukan.
4). Ingatkan pasien dan pasangan akan ketidaknyamanan dalam melakukan aktifitas seksual.
5). Libatkan pasangan seksual dalam konseling sebanyak mungkin, jika diperlukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar