September 18, 2010

MARAH

MARAH


1. Pengertian
Marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman
2. Rentang Respon Marah
Marah memiliki rentang respon dari adaptif ke maladaptif yaitu: asertif, frustrasi, pasif, agresif, dan amuk.
a. Asertif yaitu marah dengan mengungkapkan rasa tidak setuju tanpa menyinggung perasaan lawan bicara.
b. Frustrasi merupakan keadaan dimana ada stimulus yang bisa memancing kemarahan, namun marah dipendam dan tetap ada rasa jengkel dalam hati.
c. Pasien mampu marah namun masih mempertimbangkan banyak hal. Marah pasif merupakan perilaku yang tidak mampu marah dan merasa lemah. Keadaan ini bisa berlanjut ke depresi.
d. Marah agresif yaitu perilaku yang menyertai marah seperti kata-kata dengan nada tinggi, melotot, dan gigi dikatup.
e. Amuk yaitu marah yang disertai kehilangan kontrol. Amuk bisa mencederai diri sendiri dan orang lain.

3. Penyebab Marah
Marah dapat terjadi kerena kebutuhan yang tidak terpenuhi, hal-hal yang meninggung haraga diri, harapan-harapan individu yang tidak sesuai dengan kenyataan.
4. Tanda dan Gejala pasien Marah
Pasien dengan marah akan menampilkan sikap bermusuhan, nada suara tinggi dan keras, rahang terkatup, atau kadang diam dengan ekspresi tegang atau wajah terlihat tegang. Pasien juga dapat memperlihatkan sikap meremehkan orang lain, gelisah, mengancam, mengamuk, berbicara kotor dan kasar, atau memecahkan barang-barang di sekitarnya.
5. Hal-hal yang dapat menyebabkan kekambuhan penderita antara lain
a. Dari penderita sendiri
Kepatuhan pengobatan yang kurang, tipe kepribadian biasanya orang tertutup atau pendiam cenderung sulit mengungkapkan perasaannya, dan masalah yang dihadapi selama di rumah.
b. Keluarga dan lingkungan
Beberapa faktor keluarga dan lingkungan yang mempengaruhi kambuhnya penderita anatara lain: 1). Penolakan terhadap penderita gangguan jiwa seperti pengucilan, diejek dan tidak diterima; 2). Komunikasi tidak terbuka, tidak melibatkan penderita didalam pergaulan; 3). Kurang atau tidak memberikan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan penderita; 4). Kurang pengetahuan keluarga tentang pola perilaku penderita, penanganannya, dan pengawasan minum obat.
6. Manajemen marah
Pasien dengan marah dapat dibantu untuk mengontrol marah nonfarmakologik dan farmakologik.
Bantuan kontrol marah dapat dilakukan dengan:
a. Bina hubungan saling percaya dengan klien. Bila klien berada dilingkungan rumah, perlu kedekatan klien dengan orang yang menjadi role model bagi klien. Perhatian dan kasih sayang keluarga dan penghargaan sosial kepada klien dapat membantu klien mengontrol marah.
b. Batasi hal-hal yang mengakibatkan frustrasi bagi klien. Beri kegiatan positif untuk mengisi waktu penderita di rumah
c. Untuk klien dengan halusianasi, jangan dibiarkan sendirian, libatkan dalam kegiatan sehari-hari. Bila klien terlihat berbicara sendiri temani klien, ajak klien berbicara untuk mengalihkan perhatian dari halusinasi.
d. Bantu klien menyalurkan rasa marah secara tepat misalnya dengan memukul bantal setiap marah.
e. Jangan mengkritik pasien jika melakukan kesalahan.
f. Berikan pujian positif jika klien melakukan hal yang positif.
g. Jauhkan pasien dari keadaan yang menyebabkan pasien tidak berdaya dan tidak berarti.
h. Kontrol rutin ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pengobatan.
7. Manjemen halusinasi:
a. Pertahankan lingkungan yang aman
b. Amati tingkahlaku pasien yang menunjukkan tanda-tanda halusinasi
c. Berikan kesempatan pasien untuk mendiskusikan halusinasinya.
d. Temani klien dan ajak bicara untuk mengalihkan perhatian dari halusinasinya.
e. Libatkan klien dalam aktivitas baik fisik maupun kegiatan keagamaan.
f. Minum obat teratur.
Dalam program pengobatan perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Buat kesepakatan dengan pasien. Pasien mungkin jenuh dengan jumlah obat yang banyak, dan pengobtan yang berkepanjangan, atau efek pengobatan yang tidak menyenangkan.
2. Jelaskan manfaat pengobatan bagi pasien dan akibat menghentikan obat
3. Modifikasi pemberian obat, bersama saat makan buah atau sayuran
4. Hubungi tempat pelayanan kesehatan jika ada efek obat yang tidak menyenangkan
5. Berikan pujian pada pasien saat punya keinginan sendiri untuk minum obat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar