September 18, 2010

MALARIA

PENYAKIT MALARIA
By. HEROdes
a. Definisi dan Etiologi :
Penyakit malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium yang termasuk golongan protozoa melalui perantaran tusukan (gigitan) serangga nyamuk Anopheles. Penyakit malaria dapat ditularkan dari orang sakit kepada orang yang sehat melalui perantara gigitan nyamuk anopheles tersebut (Achmadi,2005).
Ada empat jenis parasit malaria (spesies Plasmodium) pada tubuh manusia :
1. Plasmodium Vivax penyebab malaria tertiana dengan demam terjadi setiap 48 jam atau setiap hari ke tiga, pada waktu siang atau sore. Masa inkubasi Plasmodium vivax antara 12 hingga 17 hari dan salah satu gejala adalah pembengkakan limpa atau splenomegali.
2. Plasmodium falsifarum penyebab malaria tropika, secara klinik berat dan dan dapat menimbulkan komplikasi berupa malaria cerebral dan fatal. Masa inkubasi sekitar 12 hari dengan gejala nyeri kepala, pegal linu, demam tidak begitu nyata, serta kadang menimbulkan gagal ginjal.
3. Plasmodium ovale, masa inkubasi 12 hingga 17 hari dengan gejala demam setiap 48 jam, relatif ringan dan sembuh sendiri.
4. Plasmodium malariae penyebab malaira quartana, menimbulkan demam setiap 72 jam biasanya tanpa gejala, dan ditemukan secara tidak sengaja dan malaria ini sering menimbulkan kekambuhan (Achmadi, 2005).
Seorang penderita dapat dihinggapi lebih dari satu jenis plasmodium; infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed infection) (Achmadi,2005).


b. Tanda dan gejala :
Secara umum seseorang akan mengalami gejala penyakit malaria seperti demam, pening, lemas, pucat (karena kurang darah), nyeri otot, chest pain, menggigil suhu bisa mencapai 40 °C terutama pada infeksi Plasmodium falciparum. Pada Infeski Plasmodium falciparum bahkan seringkali timbul adalah koma, mual, muntah. Komplikasi yang sering timbul adalah “splenomegali” pembesaran limpa, hypoglikemia, serta kegagalan ginjal.
1. Tahap demam menggigil atau stadium dingin (cold stage). Penderita akan merasakan dingin menggigil yang amat sangat,nadi cepat dan lemah, bibir dan jari-jemari kebiru-biruan pucat (cyanotik), kulit kering, pucat, kadang muntah. Pada anak-anak demam bisa menyebabkan kejang.
2. Tahap puncak demam Host stage yang berlangsung 2-6 jam, wajah memerah, kulit kering, nyeri kepala, denyut nadi keras, haus yang amat sangat terus-menerus, mual hingga muntah. Pada saat ini sebenarnya merupakan peristiwa pecahnya schizon matang menjadi merozoit-merozoit yang beramai-ramai memasuki aliran darah untuk menyerbu sel-sel darah merah.
3. Stadium berkeringat. Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali. Hal ini bisa berlangsung 2-4 jam.
Meskipun demikian, pada dasarnya gejala tersebut tidak dapat dijadikan rujukan secara mutlak, karena dalam kenyataannya gejala sangat bervariasi antar manusia dan antar plasmodium (Achmadi, 2005).
c. Pengobatan malaria :
Pengobatan yang diberikan adalah pengobatan radikal malaria dengan membunuh semua stadium parasit yang ada didalam tubuh manusia. Adapun tujuan pengobatan radikal untuk mendapat kesembuhan klinis dan parasitologik serta memutuskan rantai penularan.
1. Pengobatan malaria tanpa komplikasi:
Pengobatan Malaria Falsiparum:
Lini Pertama: Artesunat + Amodiaquin + Primakuin

Tabel 1.Pengobatan lini pertama malaria falsiparum menurut kelompok umur
Hari Jenis Obat Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-1bln 2-11bln 1-4th 5-9th 10-14th ≥15th
1 Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4
Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4
Primakuin - - ¾ 1½ 2 2-3
2 Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4
Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4
3 Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4
Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4

Lini kedua: Kina + Doksiklin + Primakuin
Tabel 2.Pengobatan lini kedua malaria falsiparum menurut kelompok umur
Hari Jenis Obat Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-11bln 1-4th 5-9th 10-14th ≥15th
1 Kina *) 3 x ½ 3 x 1 3 x 1½ 3 x (2-3)
Doksisiklin - - - 2 x 1**) 2 x 1***)
Primakuin - ¾ 1½ 2 2-3
2 Kina *) 3 x ½ 3 x 1 3 x 1½ 3 x (2-3)
Doksisiklin - - - 2 x 1**) 2 x 1***)
*) Dosis diberikan kg/bb
**) 2x 50 mg Doksisiklin
***) 2x 100 mg Doksisiklin



Tabel.3 Lini kedua: Kina + Tetrasiklin + Primakuin
Hari Jenis Obat Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-11bln 1-4th 5-9th 10-14th ≥15th
1 Kina *) 3 x ½ 3 x 1 3 x 1½ 3 x (2-3)
Tetrasiklin - - - *) 4 x 1**)
Primakuin - ¾ 1½ 2 2-3
2 Kina *) 3 x ½ 3 x 1 3 x 1½ 3 x (2-3)
Tetrasiklin - - - *) 4 x 1**)
*) Dosis diberikan kg/bb
**) 4x 250 mg Tetrasiklin

Pengobatan Malaria vivaks dan ovale

a.Lini Pertama: Klorokuin + Primakuin

Tabel 4. Pengobatan malaria vivaks dan ovale menurut kelompok umur
Hari Jenis Obat Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-1bln 2-11bln 1-4th 5-9th 10-14th ≥15th
1 Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4
Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1
2 Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4
Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1
3 Klorokuin 1/8 ¼ ½ 1 1½ 2
Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1
4-14 Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1







b.Lini kedua:
Pengobatan malaria vivaks resisten kloroquin: Kina + Primakuin

Tabel 5. Pengobatan malaria vivaks resisten klorokuin
Hari Jenis Obat Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-1bln 2-11bln 1-4th 5-9th 10-14th ≥15th
1-7 Kina *) *) 3 x ½ 3 x 1 3 x 1½ 3 x 3

1-14 Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1
.
*) Dosis diberikan kg/bb

c. Pengobatan malaria vivaks yang relaps (kambuh)
Tabel 6. Pengobatan malaria vivaks yang relaps (kambuh) menurut kelompok umur
Hari Jenis Obat Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-1bln 2-11bln 1-4th 5-9th 10-14th ≥15th
1 Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4
Primakuin - - ½ 1 1 ½ 2
2 Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4
Primakuin - - ½ 1 1 ½ 2
3 Klorokuin 1/8 ¼ ½ 1 1½ 2
Primakuin - - ½ 1 1 ½ 2

4-14 Primakuin - - ½ 1 1 ½ 2





Pengobatan malaria malariae:

Tabel 7. Pengobatan malaria malariae menurut kelompok umur
Hari Jenis Obat Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-1bln 2-11bln 1-4th 5-9th 10-14th ≥15th
1 Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4

2 Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4

3 Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4


2. Pengobatan malaria dengan komplikasi/berat:
a. Pengobatan simptomatik:
1. Diberikan antipiretik pada penderita untuk mencegah hipertermia.
2. Berikan antikonvulsan pada penderita dengan kejang.
b. Pemberian obat anti malaria:
Pilihan utama :
Derivat artemisinin parenteral :
1 Artesunat intravena atau intramuscular
2 Artemeter intramuscular
Obat alternatif malaria berat:
1. Kina Dihidroklorida Parenteral
(Ditjen PPM dan PL Depkes RI, 2006)


5. Epidemiologi penyakit malaria

Secara epidemiologis penyebaran malaria dipengaruhi oleh 3 faktor penting yang menimbulkan penyakit malaria dan distribusinya didalam masyarakat yaitu antara lain : Agent (vector), Host (manusia) dan Environment (lingkungan).
Dalam perspektif ketiga faktor diatas merupakan faktor penyebab terjadinya penyakit malaria bersifat sangat spesifik lokal, karena disamping tergantung ekosistem apakah persawahan, perkebunan, pantai, topografi, serta spasial lainnya, juga tergantung beraneka-ragam faktor kependudukan. Ketiga kelompok variabel berikut rinciannya adalah sebagai berikut :
a. Faktor berkenaan dengan nyamuk, baik karakteristik maupun bionomiknya. Diketahui bahwa di Indonesia ada 90 spesies nyamuk dan beberapa dianggap memiliki kemampuan untuk menjadi vector penular penyakit malaria. Masing – masing memiliki bionomik sendiri baik cara bertelur, tempat bertelur, perkembangan larva dan lain-lain. Di Indonesia spesies nyamuk yang telah dikenal memiliki kemampuan menginfeksi manusia antara lain : Anopheles Aconitus, Anopheles punctulatus, Anopheles farauti, Anopheles balabacensis, Anopheles barbirostris, Anopheles sundaicus, Anopheles maculatus dan lain-lain. Secara umum diantara nyamuk yang telah dikenal atau telah diidentifikasi sebagai penular malaria, ada yang suka darah binatang (zoofilik), ada yang suka darah manusia (anthropofilik). Kebiasaan nyamuk ini ada yang suka menggigit di luar rumah maupun didalam rumah dan waktu menggigit pada waktu sore hari atau malam hari ditempat yang teduh dan gelap.
b. Pada dasarnya setiap orang bisa terinfeksi oleh agent atau penyebab penyakit. Bagi Host ada juga beberapa faktor intrinsik yang dapat mempengaruhi kerentanan antara lain : usia, jenis kelamin, ras, sosial ekonomi, status perkawinan, riwayat penyakit, cara hereditas, keturunan, status gisi dan tingkat imunitas.

c. Lingkungan adalah lingkungan dimana manusia dan nyamuk berada. Faktor lingkungan tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut: 1).Lingkungan fisik : suhu udara, kelembaban udara, hujan, angin, sinar matahari, arus air. 2). Lingkungan kimiawi : bahwa kadar garam pada air payau sangat baik untuk tempat berkembangbiak beberapa jenis spesies seperti Anopheles sundaicus 3) Lingkungan biological : Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan jenis tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk, 4) Lingkungan sosial budaya : Faktor ini besar pengaruhnya dibanding faktor lainnya Kebiasaan untuk berada diluar rumah sampai larut malam dimana vektornya lebih bersifat eksofilik dan eksofagik akan memperbesar jumlah gigitan nyamuk, pengguna kelambu, kawat kasa pada ventilasi, pengguna repellent, yang intensitasnya berbeda sesuai dengan perbedaan status sosial masyarakat akan mempengaruhi angka kesakitan malaria. Faktor yang penting pula adalah pandangan atau persepsi masyarakat disuatu daerah terhadap penyakit malaria (Epidemiologi Malaria, Depkes RI, 2003)
Blum (1974) cit Notoatmodjo (1997), bahwa derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor : genetik, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan. Lingkungan merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap kesehatan masyarakat stelah perilaku masyarakat itu sendiri.

6. Pemberantasan dan pencegahan penyakit malaria
Kegiatan pemberantasan malaria sebenarnya ditujukan untuk memutuskan rantai penularan penyakit malaria. Pemutusan mata rantai penularan secara ringkas harus ditujukan kepada sasaran yang tepat antara lain :
a. Pemberantasan vector : dilakukan dengan cara membunuh nyamuk dewasa yaitu penyemprotan rumah, membunuh jentik nyamuk yaitu : kegiatan antilarva, serta menghilangkan atau mengurangi tempat perindukan.
b. Penemuan dan pengobatan penderita : mencari dan menemukan penderita sedini mungkin diperiksa darahnya dan mengobati penderita yang dinyatakan positif malaria..
c. Pencegahan terhadap vector atau gigitan nyamuk yaitu : mengurangi gigitan nyamuk dengan cara tidur memakai kelambu, tidak berada diluar rumah pada malam hari, mengolesi badan dengan obat anti nyamuk, memakai kawat kasa pada jendela, menjauhkan kandang ternak dari rumah, membersihkan sarang nyamuk, membersihkan semak-semak, kain-kain yang bergantung, didalam rumah tidak pengap dan gelap, menimbun genangan-genangan air (Dirjen PPM & PL, Depkes RI, 2004).

B. Landasan Teori
Dari tinjauan kepustakaan tersebut diatas diperoleh landasan teori sebagai berikut :
Penyakit malaria adalah penyakit menular yang dapat berpindah dari orang sakit kepada orang sehat dengan perantara gigitan nyamuk Anopheles. Secara epidemiologis penyebaran malaria dipengaruhi oleh 3 faktor penting yang menimbulkan penyakit malaria dan distribusinya didalam masyarakat yaitu antara lain : Agent (vector), Host (manusia) dan Environment (lingkungan).
Pengetahuan seseorang tentang malaria akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam menghindari kontak dengan vector. Persepsi yang erat hubungannya dengan pencegahan terhadap penularan malaria adalah kepekaan terhadap masalah malaria, kepekaan untuk mencurigai telah terjangkit malaria apabila mengalami sakit kepala/demam, keyakinan bahwa malaria adalah penyakit yang berat, dapat menimbulkan kematian, keyakinan bahwa penyakit malaria dapat dicegah dan diberantas, kepekaan untuk segera berobat bila mengalami gejala malaria, keyakinan dan keseriusan dalam mengkonsumsi obat anti malaria sesuai petunjuk.
Kebiasaan masyarakat yang erat hubungannya dengan pencegahan penularan malaria antara lain meliputi kebiasaan tidur diluar rumah, kebiasaan memakai kelambu, kebiasaan bekerja di kebun, kebiasaan keluar rumah/mengadakan kegiatan pada malam hari.
Program pencegahan dan pemberantasan malaria memerlukan partisipasi masyarakat. Tingkat sosial ekonomi masyarakat mendukung keberhasilan upaya pemberantasan malaria.


Daftar Pustaka

Achmadi,U.F; 2005.Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, Buku Kompas Jakarta.

Asenso, W.K, 1994. Socioeconomic factors in malaria control, World Health Forum, 15 : 265 – 268.

Badan Pusat Statistik Kab.TTU, 2006.Kabupaten Timor Tengah Utara dalam Angka, 2006.

Departemen Kesehatan RI, 2003. Epidemiologi Malaria, Depkes RI Ditjen PPM dan PL., Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 2004. Pedoman Survey Dinamika Penularan, Depkes RI Proyek IPM-4 Bantuan Global Fund, Jakarta

Departemen Kesehatan RI, 2006. Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di Indonesia, Depkes RI Dirjen PPM dan PL, Jakarta.

Dinas Kesehatan Kab.TTU, 2003. Analisa Situasi, Subdin P2P Kabupaten Timor Tengah Utara.

Dinas Kesehatan Kab.TTU, 2006. Profil Kesehatan, Subdin PIK Dinkes Kabupaten Timor Tengah Utara.

Hongvivatana, T., Leerapan, P., Chaiteeranuwatsiri, M., 1985. Knowledge Perception and Behavior of Malaria, Center for Health Policy Studies Mahidol University, Bangkok.

Ismael, S., Sastroasmoro, S. 1995. Dasar – Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FK-UI Jakarta.

Lemeshow, S., Hosmer,D.,W., Klar,J.,1997. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Nalim, S. 1989. Pemberantasan Holistik bagi Pemberantasan Vector Penyakit, Kumpulan Makalah Seminar Parasitologi Nasional V. Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Parasit Indonesia, Jakarta.

Notoatmodjo, 1993. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Andi Offset Yogyakarta.

Notoatmodjo, 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-Prinsip Dasar. Rineka Cipta Jakarta

Notoatmodjo, 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta Jakarta.

Notoatmodjo, 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta Jakarta.

Retnoningrum, D. 2008. Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Autisme dengan Tingkat Stres Ibu di SLB Autisme Yogyakarta. Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Unversitas Gadjah Mada. Skripsi.

Saepudin, M. 2001. Kajian Reseptivitas Lingkungan dan Vulnerabilitas Penduduk serta Kaitannya dengan Endemisitas Malaria pada tiga Dusun di Tiga Kecamatan Kab. Kulon Progo. Tesis S-2 FETP-IKM Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Santoso, S.S., 1989. Perilaku Manusia Mengenai Beberapa Aspek Penyakit Malaria, Kumpulan makalah seminar parasitologi nasional V. Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Parasit Indonesia Jakarta.

Sugiyono, 2007. Statistika Untuk Penelitian.. Alfabeta Bandung.

Supriyadi, 1993. Pendekatan Psikologis Dalam Pengukuran KAP di Bidang Kesehatan. Jakarta: Sosio Medika.


Thaharudin, 2003. Lingkungan Perumahan, Kondisi Fisik Rumah, Tingkat Pengetahuan, Perilaku Masyarakat dan Angka Kejadian Malaria di Kota Sabang. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Thesis.

Waluyo, H, 1995. Hubungan Faktor-Faktor Pengetahuan Persepsi dan Perilaku Penduduk dengan Kejadian Malaria di Kecamatan Kokap, Kulon Progo. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Thesis.

WHO, 1992. A Global Strategy for Malaria Control, WHO, Genewa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar