Mei 04, 2010

LANSIA


A. Pengertian
Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari secara khusus mengenai faktor-faktor yang menyangkur Lanjut Usia.
(Nugroho Wahyudi, 1992)

Gerontik adalah ilmu yang mempelajari, membahas, meneliti segala bidang masalah Lanjut Usia, bukan saja mengenai kesehatan namun juga menyangkut sosial kesejahteraan, pemukiman, lingkungan hidup, pendidikan, perundang-undangan.
(Josaputra, 1987)

B. Batasan atau Pembagian Lanjut Usia

Adapun beberapa pendapat mengenai pembagian atau batasan-batasan Lanjut Usia, yakni:

1. Menurut WHO
Lanjut Usia meliputi:
a. Middle Age : 45-59 tahun
b. Elderly : 60-70 tahun
c. Old : 75-90 tahun
d. Very Old : Di atas 90 tahun
2. Menurut Prof. DR. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad
Perkembangan manusia dibagi sebagai berikut:
a. Masa Bayi : 0-1 tahun
b. Masa Pra sekolah : 1-6 tahun
c. Masa Sekolah : 6-10 tahun
d. Masa Pubertas : 10-20 tahun
e. Masa Dewasa : 20-40 tahun
f. Masa Setengah Umur : 40-65 tahun
g. Masa Lanjut Usia : 65 tahun ke atas
3. Menurut Dra. Ny. Josmasdani
a. Fase Inventus : 25-40 tahun
b. Fase Verilitas : 40-50 tahun
c. Fase Prasenium : 55-65 tahun
d. Fase Senium : 65 tahun ke atas
4. Menurut Prof. DR. Koesoemato Setyonegoro
a. Elderly Adulhood : 18/20-25 tahun
b. Middle Years : 25-60/65 tahun
c. Geriatric Age : Di atas 65/70 tahun
d. Young Old : 70-75 tahun
e. Old : 75-80 tahun
f. Very Old : Di atas 80 tahun
5. Menurut UU No. IV. Tahun 1965 Pasal 1
Menyatakan bahwa seseorang dapat dikatakan Lanjut Usia setelah mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain.

C. Teori-teori Proses Menua
Adapun teori-teori menua, yaitu:
1. Teori-teori Biologis
a. Secara keturunan dan atau mutasi, setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.Contohnya, mutasi daripada sel-sel kelamin.
b. Pemakaian dan merusak, kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah.
c. Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh, yang disebut teori Akumlasi dari produk sisa
d. Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan.
e. Tidak ada perlindungan terhadap: Radiasi, Penyakit dan Kekurangan Gizi.
f. Reaksi dari kekebalan sendiri. Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus, ada jaringan tubuh tertentu tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
2. Teori-teori Kejiwaan Sosial
a. Aktivitas dan kegiatan:
o Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung.
o Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari Lanjut Usia.
b. Kepribadian berlanjut
o Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada Lanjut Usia.
c. Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran individu dengan individu lainnya.

D. Mitos-mitos Lansia dan Kenyataannya
Menurut Sheiera Saul (1974) :
1. Mitos Kedamaian dan Ketenangan
Lanjut Usia dapat santai menikmati hasil kerja dan jerih payahnya di masa muda dan dewasanya, badai dan berbagai goncangan kehidupan seakan-akan sudah berhasil dilewati.
Kenyataannya:
a. Sering ditemui stress karena kemiskinan dan berbagai keluhan serta penderitaan karena penyakit.
b. Depresi.
c. Kekhawatiran.
d. Paranoid.
e. Masalah psikotik
2. Mitos Konservatisme dan Kemunduran
Pandangan bahwa Lanjut Usia pada umumnya:
a. Konservatif
b. Tidak kreatif
c. Menolak inovasi
d. Berorientasi ke masa silam
e. Merindukan masa lalu
f. Kembali ke masa anak-anak
g. Susah berubah
h. Keras kepala
i. Cerewet
Kenyataannya:
Tidak semua Lansia bersikap dan berpikir demikian.
3. Mitos Berpenyakitan
Lansia dipandang sebagai masa degenerasi biologis yang disertai dengan berbagai penderitaan akibat bermacam penyakit yang menyertai proses menua (Lansia merupakan masa berpenyakitan dan kemunduran).
Kenyataannya:
a. Memang proses penuaan disertai menurunnya daya tahan tubuh dan metabolisme sehingga rawan terhadap penyakit.
b. Tetapi banyak penyakit masa sekarang dapat dikontrol dan diobati.
4. Mitos Senilitas
Lansia dipandang sebagai masa pikun yang disebabkan oleh kerusakkan tertentu dari otak.
Kenyataannya:
Tidak semua Lansia dalam proses penuaannya diiringi dengan kerusakan bagian otak (banyak yang masih sehat dan segar)
5. Mitos Seksualitas
Menunjukkan bahwa kehidupan seks pada lansia normal saja. Memang frekuensi hubungan seksual menurun sejalan meningkatnya usia, tetapi masih tetap tinggi.
6. Mitos Ketidakproduktifan
Lansia dipandang sebagai usia tidak produktif.
Kenyataannya:
Tidak demikian, banyak Lansia yang mencapai kematangan, kemantapan dan produktifitas mental dan material pada Lanjut Usia.

E. Penurunan-penurunan dari Sistem-sistem yang Terjadi pada Lansia
Penurunan-penurunan itu meliputi:
1. Sistem Persyarafan
a. Cepatnya menurun hubungan persyarafan.
b. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stress.
c. Mengecilnya syaraf panca indra: Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf penciuman dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
2. Sistem Pendengaran
a. Presbiakusis (gangguan pada pendengaran): Hilangnya kemampuan atau daya pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata.
b. Membran tympani menjadi atrofi, menyebabkan otosklerosis.
c. Terjadi pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya keratin.
3. Sistem Penglihatan
a. Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
b. Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
c. Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa)
d. Meningkatnya ambang penangkap sinar: Daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat susah melihat dalam cahaya gelap.
e. Hilangnya daya akomodasi.
f. Menurunnya lapangan pandang: Berkurangnya luas pandangan.
g. Menurunnya daya membedakan warna biru dan hijau pada skala.
4. Sistem Kardiovaskuler
a. Katup jantung menebal dan menjadi kaku
b. Kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
c. Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
d. Tekanan darah meninggi, diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer.
5. Sistem Respirasi
a. Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
b. Menurunnya aktivitas dari silia.
c. Alveoli ukurannya menebal dari biasa dan jumlahnya berkurang.
d. O2 pada arteri menurun menjadi 755 mmHg.
e. CO2 pada arteri tidak berganti.
f. Kemampuan untuk batuk berkurang.
g. Paru-paru kehilangan elastisitas: Kapasitas residu meningkat, menarik napas lebih berat, kapasitas pernapasan maksimum menurun dan kedalaman bernapas menurun.
6. Sistem Gastrointestinal
a. Kehilangan gigi.
b. Indera pengecap menurun.
c. Oesophagus melebar.
d. Lambung; rasa lapar menurun, asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun.
e. Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
f. Fungsi absorpsi melemah.
g. Liver (hati): Makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.
7. Sistem Genito Urinaria
a. Ginjal: Mengecil dan nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menjadi menurun sampai 50%, penyaringan di glomerulo menurun sampai 50%, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengonsentrasi urin, berat jenis urin menurun, nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.
b. Vesika Urinaria: Otot-otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air seni meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria Lanjut Usia, sehingga menyababkan retensi urine.
c. Pembesaran prostat.
d. Atrofi vulva.
e. Vagina: Selaput lendir menjadi kering, elastisitas jaringan menurun, permukaannya menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali, terjadi perubahan-perubahan warna.
f. Daya Seksual: Frekuensi sexual intercourse cenderung menurun secara bertahap tiap tahun tetapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua.
8. Sistem Endokrin
a. Produksi hamper dari semua hormone menurun.
b. Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah.
c. Pituitari: Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya di dalam pembuluh darah, berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
d. Menurunnya aktifitas tiroid: Menurunnya BMR (Basal Metabolik Rate), menurunnya daya pertukaran zat.
e. Menurunnya produksi aldosteron.
f. Menurunnya sekresi hormone kelamin: Progesteron, Estrogen, Testosteron.
9. Sistem Kulit
a. Kulit mengkerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
b. Kulit kapala dan rambut menipis, berwarna kelabu.
c. Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
d. Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan vaskularisasi.
e. Kuku manjadi keras dan rapuh.
f. Kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk.
g. Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.
10. Sistem Muskuluskletal
a. Tulang kehilangan density dan makin rapuh.
b. Kifosis.
c. Pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan terbatas.
d. Discusintervertebralis menipis dan menjadi pendek.
e. Tendon mengkerut dan mengalami sklerosis.
f. Atrofi seranut otot, sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otot-otot menjadi kram dan menjadi tremor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar